30 Hari Menjemput Jodoh

30 Hari Menjemput Jodoh
Nonton pertandingan gulat


__ADS_3

Okky dengan berat hati menemani Erika jalan jalan ke mall setelah makan siang. Padahal dirinya sedang dipusingkan masalah perusahaan. Sebenarnya jalan jalan dan makan siang yang dicetuskan Erika hanyalah modus belaka. Dirinya ingin dibelikan sepatu branded keluaran terbaru.


"Mas…itu sepatunya bagus deh" pura-puranya. Padahal kemarin dia sudah melihat dan merencanakan agar Okky yang membeli sepatu itu untuknya.


"Iya bagus," jawab Okky melirik sepatu sekilas, tangannya sibuk memegang ponsel.


"Beli ya mas, buat seserahan" pintanya. Kali ini nada bicaranya sangat berbeda. Begitu manja dan halus, tidak ada keangkuhan yang biasa dia tampilkan.


"Kan kemarin sudah, sandal, merk itu jugakan?"


"Ihh…beda mas, itu sandal, ini sepatu. Aku minta begini juga buat kamu lho, nanti pasti orang-orang bakalan muji kamu karena seserahan dari kamu mewah dan lengkap" rayu Erika.


"Aku itu nggak gila pujian, nikah yang penting itu ijab qobulnya, bukan seserahannya. Lagian yang kemarin udah banyak banget lho Er" kata Okky mengingatkan.


"Pelit banget sih" cibirnya.


"Erika?" panggil seorang wanita yang tak kalah cantik dari Erika, dengan rambut keungu-unguan.


"Dapat mangsa baru lo? Wah sekarang mainnya lokal. Udah bosen sama bule, atau yang ini lebih gede?……kasih duitnya" ucap wanita itu dengan suara keras. Hingga menarik perhatian pengunjung lain.


Erika menggeram, "Apaan sih, nggak usah sok akrab deh" bentak Erika merasa tak suka dengan kata kata wanita itu.


Wanita cantik itu bersedekap, "Santai kali Er. Apa perlu aku ceritain ke mas ini soal pacar kamu yang bule jerman itu, hasil rampasan kamu dari aku. Biar dia nggak kaget kalau nanti pas malam pertama, tahu kamu udah nggak virgin" cibirnya, bibir seksinya tersenyum miring. Okky melongo mendengar kalimat vulgar wanita itu. Muncul pertanyaan dibenaknya, Benarkah semua itu?


"Diem! Dia bohong mas, nggak usah didengerin"


"Tinggal bareng setahun nggak ngapa ngapain kayaknya mustahil deh"


"Brengsek, pergi lo dari sini!" emosi Erika mulai memuncak.


Erika tak terima, merasa dikuliti didepan umum. Erika Menyerang mantan pacar, dari mantannya dengan brutal. Keduanya saling jambak, tendang dan pukul. Sama sama ganas! Okky yang pusing memilih menepi tanpa berniat memisahkan keduanya.


Dua satpam mall tergopoh gopoh, setelah mendapat laporan dari pengunjung lain. Manager mall ikut turun tangan, keduanyapun diamankan. Tampilan rambut mereka, kini mirip permen kapas yang digulung gulung.


Setelah diminta membuat surat perjanjian damai, keduanya diijinkan pulang oleh manajemen mall. Untungnya kasus tidak sampai dikantor polisi.


Okky menunggu sambil tidur di mobilnya. Dia terperanjat saat kaca mobil digedor gedor dengan keras. Wajah bersungut-sungut Erika jadi pemandangan paling tidak enak dilihat saat dia membuka mata.

__ADS_1


"Udah?" tanya Okky dengan santai, begitu Erika masuk mobil.


"Tega kamu mas, kenapa kamu nggak bantuin aku sih? Lihat ni, aku jadi luka-luka begini" Erika menunjukkan bekas cakaran dan lebam di tubuhnya, terutama bagian tangan dan wajah.


"Maksud kamu, aku harus berantem sama cewek, gitu? Kamu fikir aku ini laki laki macam apa?"


"Nggak mau tahu, pokoknya ini salah kamu"


Okky memutar bola matanya, dia sungguh jengah dengan sikap Erika. "Terserah, aku capek. Kamu itu sudah dewasa tapi kaya anak kecil. Kamu tahu, perusahaanku lagi carut marut, harusnya aku nggak keluyuran di jam kerja seperti ini. Jauh-jauh ke mall cuma lihat pertandingan gulat, buang-buang waktu" ujarnya, kesabarannya mulai habis seiring sakit dikepalanya yang semakin berdenyut.


"Kamu kan bos, nggak perlulah mikirin jam kerja" sanggahnya. Tak mau disalahkan karena sudah membuang waktu calon suaminya.


"Justru karena aku bosnya, harusnya aku siap siaga untuk perusahaan saat ini. Udahlah, kamu nggak akan ngerti karena kamu memang nggak mau ngerti. Nambahin pusing aja"


Okky melajukan mobilnya, mengantarkan Erika dan menurunkannya didepan rumah. Persis seperti saat dia sakit perut. Lalu memilih kembali kekantor.


Sudah pukul lima, karyawan kantor sudah kembali kerumah masing masing, hanya ada beberapa orang yang masih disana. Okky mengernyit saat melihat motor Kina masih terparkir, tapi tak ada helm disana.


"Pak, itu motor kok masih disitu, yang punya belum pulang apa?" tanya Okky pada satpam yang berjaga


"Oh, motornya mbak Kina, sekretaris bapak? Orangnya sudah pulang sejak siang pak, katanya punggungnya sakit"


"Diantar mbak Dinda yang jago karate itu lho pak"


"Oh, oke. terima kasih pak"


Okky menelpon Ali untuk menanyakan kebenaran informasi mengenai sakitnya Kina, dia curiga, jangan jangan sakitnya Kina karena tadi punggungnya menabrak pintu lift.


"Assalmu'alaikum Li, "


"Wa'alaikum salam pak, ada yang bisa saya bantu?"


"Kamu tahu Kina sakit?"


"Tahu pak, saya tadi dengar dari Satria dan dinda. Dinda yang mengantar pulang dan berobat"


"Oke, makasih ya Li"

__ADS_1


"Sama sama pak"


"Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumsalam"


Okky mencoba menghubungi nomor Kina, tapi tak ada jawaban. Mengiriminya pesan juga tak ada balasan, terbacapun tidak. Karena merasa khawatir, Okky menghubungi Ali lagi untuk meminta nomor ponsel Dinda. Ternyata Dinda juga tak menjawab panggilan dan membalas pesan.


Tak tahan dengan rasa khawatirnya sendiri, Okky menjemput Ali untuk mengantar kerumah Dinda, karena keduanya tak tahu rumah baru Kina. Dinda orang yang tadi mengantar Kina pulang, hanya dia satu satunya harapan Okky saat ini.


Sesampainya dirumah Dinda, mereka malah dikejutkan dengan Dinda yang pingsan didalam kamarnya. Ibunya Dinda sedang kebingungan sendiri.


Mau tak mau keduanya menolong Dinda terlebih dahulu dan melupakan masalah mencari Kina. Mereka mengantar Dinda kerumah sakit terdekat, kata Ibunya sudah sepuluh menit, tapi Dinda tak kunjung siuman.


Setelah Dinda siuman, Okky mengurungkan niatnya menanyai Dinda, melihat mata sembab dan tatapan kosong gadis itu. Okky yakin, gadis itu sedang ada masalah.


Okky meminjamkan mobilnya agar dibawa Ali untuk mengantar Dinda dan Ibunya pulang. Dia memilih mencari masjid dan menunaikan ibadah shalat maghrib disana.


Lagi-lagi Kina mengalihkan dunianya. Dia melupakan semua yang dialaminya hari ini karena mengkhawatirkan kondisi Kina. Bahkan dia lupa sakit kepala yang sedari tadi dikeluhkannya.


Okky duduk bersila dengan tatapan hampa diteras masjid. Ia mengabaikan orang orang yang berlalu lalang. Fikirannya benar benar kacau karena belum mengetahui kondisi Kina. Apalagi gadis itu tak bisa dihubungi sampai saat ini.


"Assalamu'alaikum warrahmatullah" sapa seorang pria paruh baya yang terlihat sangat berwibawa dengan baju serba putihnya.


Okky terperanjat, "Wa'alaikum salam warrahmatullah, pak Kiyai…" jawabnya.


"Ini benar mas Okky, yang pernah berkunjung kerumah saya itu kan?" tanya Kiyai Abdullah.


"Betul pak…" jawab Okky dengan kikuk. Dia merasa sungkan, tiba-tiba teringat masalah perjodohan yang dia batalkan sendiri.


"Kok nggak pernah mampir lagi, padahal mbak Kina sering kepondok lho. Katanya, main sambil belajar"


"Ngomong-ngomong, kok pak Kiyai bisa shalat disini. Pantas saja suara imamnya Masya Allah sekali, ternyata pak Kiyai" puji Okky dengan tulus. Tadi dia memang sangat menikmati bacaan surat surat pendek saat shalat berjamaah.


"Alhamdulillah…mas Okky ini bisa aja bikin kepala saya besar, nanti ngegelinding ini" Keduanya tertawa. "Saya tadi habis nengokin teman lama dirumah sakit" Okky mengangguk, lalu diam, menatap Kiyai Abdullah dari samping.


"Kenapa mas, kok lihatin saya begitu. Jadi deg-degan saya" canda Kiyai Abdullah.

__ADS_1


Okky tersenyum, "Pak Kiyai ini bisa aja bikin orang ketawa" hening sejenak. "Emmm…pak…saya boleh nanya nggak?" ucapnya ragu ragu.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2