30 Hari Menjemput Jodoh

30 Hari Menjemput Jodoh
Diserang Lagi


__ADS_3

"Masih punya muka kamu, datang kekantor saya. Puas kamu, sudah mengusik keluarga saya? Hah!! Puas kamu?!" bentak ibu Suri, seperti menyalurkan semua emosinya yang sudah tertahan sejak lama.


"Maaf ibu, mari kita bicarakan diruang divisi kami. Tidak enak---"


"Diam!" bentak ibu Suri, memotong kata-kata Ali.


Ibu Suri bertolak pinggang, "Sudah puas kamu, berhasil menjadi nyonya dikantor ini?" tanyanya, lalu perlahan melangkah, mendekati Kina yang kini dipeluk erat Dinda dari belakang. Ali berusaha menghalau dari depan. "Minggir kamu!" ibu Suri menatap Ali dengan tajam, sengaja menyenggolkan lengannya.


"Maaf ibu, sepertinya ada kesalah pahaman diantara kita" ucap Kina, berusaha setenang mungkin.


Okky berlari secepat mungkin, saat melihat keributan yang dibuat ibunya, "Bunda! Aduh, jangan bikin ribut dikantor"


"Kamu lihat, anak yang saya lahirkan dan saya besarkan, rela menghianati saya, demi wanita seperti kamu" ibu Suri berusaha memukul Kina dengan tas tangan yang ditentengnya. Dinda menghalau dengan lengannya berkali-kali. "Lepas, minggir atau saya pecat kamu!" hardiknya, menunjuk Dinda dengan tasnya.


"Lepas Din!" bisik Kina, ia tak mau Dinda terlibat dalam masalahnya.


"Enggak mbak" Kina menarik tangan Dinda yang melingkar didadanya. Dinda melepasnya dengan terpaksa, lalu mundur selangkah.


Okky berdiri diantara ibunya dan Kina, "Bunda, aku bisa jelaskan semuanya. Bunda boleh marah, benci, mengutuk, aku pantas menerima semuanya. Tapi Kina enggak, dia nggak ngelakuin kesalahan apapun"


Mendengar anaknya terus membela Kina, emosi Ibu Suri memuncak. Dia merangsek maju, menubruk tubuh Okky dan hendak memukul Kina dengan tasnya lagi. Dinda sudah siap siaga di belakang Kina, begitu juga dengan Ali. Merasa tak bisa menjangkau tubuh Kina dengan tasnya, ibu Suri melepas kedua sepatunya.


"Dasar perempuan nggak tahu diri, kamu nggak akan pernah pantas masuk kekeluarga saya yang terhormat" ibu Suri melempar kedua sepatunya sekuat tenaga, namun hanya satu yang mengenai Kina. Mendarat di kening Kina tepat dibagian heelsnya yang cukup runcing dan keras, darah menetes, meluncur melewati hidung Kina. Kepala Kina kini terasa berdenyut.


Tak menyerah begitu saja, ibu Suri memerintah seorang karyawati yang sedari tadi menontoni mereka untuk mengambil ember didekat meja resepsionis.


"Kamu, ambilkan saya itu!" karyawati bername tag Rima itu bergegas mengangkat ember berisi air bekas mengelap kaca dan menyodorkan pada ibu Suri.


Byyyurrr…


Okky mendekap tubuh Kina agar terlindung dari siraman air kotor. Kini baju bagian belakang Okky basah kuyup. Semua terdiam, tak ada yang berani bersuara, tapi mata mereka seperti tak ikhlas untuk tidak menonton drama keluarga pemilik perusahaan.

__ADS_1


Okky baru menyadari, Kina terluka, saat melihat darah yang menetes diwajah Kina. Meskipun tidak banyak, tapi siapapun yang melihat pasti akan meringis. Okky juga bisa melihat wajah Kina yang pucat dan tangannya gemetaran.


"BUNDA!" pekiknya, ikut tersulut emosi.


Kina menarik kemaja bagian belakang Okky, dan menggeleng saat Okky menatapnya. Seolah berkata, jangan bentak ibu, pak! seperti yang sering dia katakan saat Okky marah pada ibunya.


"Dinda, Ali, bawa Kina keatas. Obati lukanya" tanpa babibu, Dinda langsung memapah tubuh gemetar Kina, diikuti Ali dibelakangnya.


Okky berbalik, "Bunda pulang dulu, kita selesaikan dirumah" Okky memeluk tubuh bundanya dari belakang, sedikit mendorongnya, memaksanya kembali kemobil. Ibu Suri diam saja, tapi kemarahannya masih jelas terlihat.


Okky membuka pintu bagian belakang mobil ibu Suri, "Pak, antar bunda pulang" perintahnya pada supir pribadi ibu Suri yang sedari tadi berdiri didepan mobil.


"Siap mas!"


"Bunda, maaf, aku akan segara pulang. Aku minta maaf" ucapnya, lalu menutup pintu mobil.


……


Ketiga gadis itu meringis-ringis, seolah mereka bisa merasakan luka di wajah Kina. Padahal Kina diam saja, tidak menampilkan ekspresi kesakitan sedikitpun. Luka sudah bersih dan sudah ditempel plester.


"Mbak Kina sabar ya, kami akan selalu ada buat mbak Kina. Kita semua keluarga disini" ucap Dinda, berusaha menenangkan Kina.


"Makasih"


"Kina, sebaiknya kamu pulang saja, biar Dinda yang antar. Pakai motorku aja din" usul Ali. Lalu menyodorkan kunci motor pada Dinda.


"Iya mbak Kin, ayo-ayo, wajah mbak Kina pucat banget" Dinda menggendong ransel Kina dipunggungnya, bersiap memapah Kina.


Okky datang dengan nafas tersengal-sengal, sepertinya dia berlari setelah keluar dari lift. "Kina, gimana luka kamu?" tanyanya. Ada rasa cemas dan bersalah yang menjalari hatinya.


"Sudah diobati pak. Maaf pak, bagaimana kalau saya antarkan mbak Kina pulang saja, wajahnya pucat sekali" sela Dinda, melihat Kina yang sepertinya sedang tak mau buka suara.

__ADS_1


"Iya, pulang kerumah saya ya Ki. Nanti saya telfon mbak Nur buat nemenin kamu" Kina hanya mengangguk lemah sebagai jawaban.


"Dinda, saya kirim titik lokasi rumah saya ke WA Kamu ya"


"Iya pak. Ayo mbak Kin"


"Din, hati-hati bawa motornya, jangan ngebut!" pesan Okky sebelum Dinda dan Kina melangkah keluar ruangan.


……


Ketegangan kembali menyelimuti kediaman ibu Suri. Semua sudah berkumpul diruang keluarga, untuk mendengarkan penjelasan Okky.


Tadi, setelah memastikan Kina baik-baik saja dan pulang diantar Dinda. Okky langsung meluncur kerumah ibunya, dengan pakaian basah kuyup dibagian belakang.


Okky mendorong pelan sebuah laptop kehadapan ibunya. "Silahkan bunda lihat ini"


Itu adalah rekaman CCTV di depan toko perhiasan margaret, saat Erika merampas paper bag berisi cincin pernikahan mereka, lalu dua perampok yang dengan sigap mengambil cincin itu. Rekaman berlanjut, hingga Kina melajukan kendaraannya, mengejar dua rampok. Sayangnya, kejadian saat Kina menabrak motor para perampok sudah jauh dari toko perhiasan, jadi tidak terekam.


"Tapi, kata Erika kamu bertengkar dengan Kina dan meninggalkannya dipinggir jalan untuk mengejar Kina?"


"Bunda memang lebih percaya orang lain dari pada anak sendiri. Apa bunda lihat aku dan Kina berantem di video itu?"


"Lalu, kenapa kamu menghilang berhari-hari? Kalian menikah siri dibelakang bunda kan?"


"Pasti kata Erika lagi. Kina menabrak motor kedua rampok tadi untuk menghentikan mereka" Okky menceritakan apa yang terjadi secara lengkap, dan kondisi Kina hingga hari ini.


Ibu Suri menelan ludah saat tahu, kepala Kina yang dilemparnya hingga berdarah tadi, baru saja pulih dari gegar otak.


Rasa bersalah dan penyesalan kini mendominasi hati ibu Suri. Fakta bahwa kedua orang yang dikira rampok musiman, ternyata sengaja mengincar nayawa Okky, karena ingin membalaskan dendam adiknya yang berulah diperusahaan mereka dan berakhir dijebloskan dipenjara, semakin memperbesar rasa bersalah ibu Suri. Dia sudah melukai orang yang mati-matian melindungi anaknya, hingga rela menderita banyak luka ditubuhnya. Mata ibu Suri berkaca-kaca saat melihat kondisi Kina setelah kecelakaan, fotonya diambil oleh pihak kepolisian saat pertama kali mereka tiba dirumah sakit.


...Sabar sesaat saja di saat marah akan menyelamatkan kita dari ribuan penyesalan...

__ADS_1


__ADS_2