
"ehem…bisa duduk dulu?" kata Kina yang mulai jengah dengan drama tatap tatapan yang sudah berlangsung lima menit. "Pak Okky, mas…hamba Allah, sudahi tatap tatapannya, saya takut kalian saling jatuh cinta" kata Kina, mencoba mencairkan suasana.
Benar saja, tawapun pecah di meja nomor sepuluh itu. Tapi tidak dengan Okky dan laki laki yang disinyalir pacar Siska, keduanya kompak menatap Kina dengan kesal. Kina hanya mengangkat bahu dengan cuek.
Kina berdiri, menepuk tangannya beberapa kali, meminta perhatian dari semuanya. "Tenang…semuanya tenang, saya harap tidak ada yang memakai otot, tarik nafas … hembuskan!" tanpa sadar semua yang ada di meja itu mengikuti instruksi Kina. "Sekarang dengarkan saya berbicara, untuk yang tidak ada kepentingan, saya harap diam, jangan berbicara apapun. Mengerti semua?" kina mengedarkan pandangan ke para penghuni meja.
Semua mengangguk patuh, "Mengerti…" jawab semua dengan serempak.
"Bagus, baiklah…"
Remaja laki laki yang duduk diujung meja, disisi yang lain mengangkat tangan tinggi tinggi. "Bagaimana kami akan diam, kalau perut kami kosong, tenggorokan juga kering" keluhnya. Mengusap usap perut kurusnya dengan wajah melas. Okky ingin sekali melempar wajahnya dengan sepatu. Tapi urung, karena harga sepatunya cukup mahal.
"Bilang saja minta makan, pacaran nggak modal, makan itu cinta!" cibir Okky. Semua remaja di meja itu menatap Okky dengan tajam, Kina menggaruk pipinya.
"Tenang, tenang, kalian harus sopan dengan beliau, beliau lebih tua dari kalian. Baik, kita pesan makanan dan minuman dulu. Mbak, mas!" Kina melambaikan tangan pada dua orang pelayan yang sedang mengobrol tak jauh dari meja mereka. Sepertinya memang menunggu mereka siap memesan.
Mata Okky membulat, menatap hamparan makanan dan minuman yang memenuhi meja panjang itu. Jika di jumlah mereka ada sepuluh orang, tapi makanan dan minuman yang dipesan seperti ada dua puluh orang disana. Berbagai macam jus dan makanan berat serta camilan. Perasaan Okky tak enak.
"Oke, yang lain silahkan makan, mbak siska dan mas… hamba Allah, mari kita bicara" kata Kina dengan sopan.
"Nama saya Leonardo kak, panggil saja Leo"
"Oh, oke…mas Leonardo de caprio ini, pacarnya mbak Siska kohl? Benar begitu?" tanya Kina, kedua pasangan muda mudi itu mengangguk.
"Kina, jangan bercanda terus, saya sudah muak disini. Begini, intinya saya ingin membatalkan perjodohan ini, bilang saja sama mama kamu, kalau kamu sudah punya pacar dan menolak dijodohkan dengan saya dan saya juga menolak dijodohkan dengan kamu, karena alasan usia. Oke?" kata Okky tanpa basa basi.
"Oke, saya lega, ternyata om juga menolak perjodohan ini. Saya masih ingin kuliah, saya belum siap menikah" kata Siska
__ADS_1
Okky kesal, dia memang tak suka dipanggil nama saja oleh Siska, tapi tak mau dipanggil om juga. "Kamu bilang ingin kuliah, belum siap nikah. Tapi kamu pacaran, mikir nggak sih?" kata Okky dengan ketus.
"Hey, anda bisa lebih lembut tidak dengan perempuan?" protes Leo
"Kamu pikir saya kapas, lembut?" tersenyum mengejek.
"jadi, deal ya mbak siska, kita sepakat membatalkan perjodohan ini?" Kina memastikan agar tak ada kesalah pahaman. Lagi lagi Siska mengangguk dengan mantap.
"Tapi kalau kak Kina mau dijodohkan sama saya, saya bersedia kok" tiba tiba remaja laki laki yang duduk disebelah Kina berbicara.
"Heh, belum pernah dipukul orang gila ya kamu?" tanya Okky dengan bersungut sungut, lalu menunjuk laki laki disamping siska " Kamu…iya kamu, pukul dia!" perintahnya.
"Wah, dasar om om sialan!" kata remaja laki laki yang ditunjuk Okky
Kina menepuk keningnya, "Sudah…sudah, pak Okky jaga emosi anda, mereka itu masih remaja, masih labil" Kina reflek mengelus punggung bosnya.
"Om, kenapa tidak menikahi kak Kina saja, kalian cocok. Sepertinya om Ini juga suka dengan kak Kina" kata Siska. Kina melirik Okky yang duduk disebelahnya. Okky pura pura menatap langit langit cafe, mencari cicak yang diam diam merayap.
Feeling Okky sepertinya tepat, dia harus membayar semua makanan yang terhidang di meja nomor sepuluh tadi sebelum meninggalkan Cafe. Padahal dirinya tak menikmati apapun disana. Demi membatalkan perjodohan dengan bocah ingusan, dia harus mengeluarkan uang hampir satu juta rupiah.
Dalam hatinya dia berkata, akan mengingat wajah remaja remaja yang ada di meja tadi dan akan memblack list mereka jika suatu saat melamar di perusahaannya. Okky merasa, etika para remaja itu kurang baik.
Okky memutuskan pulang kerumahnya sendiri setelah mengantar Kina, dia benar benar lelah, rasanya tak ingin lagi menuruti keinginan Bunda. Dia ingin menyerah, dia ingin mengalir seperti air. Tapi bunda tak mungkin diam saja setelah perjodohan kedua gagal lagi.
Okky memilih tidur, menanti kejutan apa lagi yang akan dia dapat dari bundanya esok pagi. Untung saja perusahaan sedang tidak ada kendala apapun, jadi dia bisa mengikuti permainan bundanya.
"Bunda, bonekamu lelah, bonekamu ini ingin tidur. Berikan aku kejutan besok pagi. Aku seutuhnya milikmu Bunda, lakukan apapun yang bunda mau" Okky bermonolog, dadanya terasa sesak.
__ADS_1
Dia ingat kata Kina, sampai kapanpun, anak laki laki itu milik ibunya. Sedangkan anak perempuan, setelah menikah menjadi milik suaminya.
"Aku milik bunda, aku harus menurut semua yang bunda katakan, benar begitu kan? iya benar begitu" dia bertanya dan menjawab pertanyaanya sendiri. Menatap langit langit kamarnya, lalu memejamkan mata, memasuki alam mimpi.
Sementara itu, bunda yang baru saja menerima kabar batalnya perjodohan anaknya dan Siska, anak sahabatnya, segera menghubungi sahabatnya yang lain. Mereka sempat membicarakan ingin menjodohkan anak anak mereka saat bertemu kemarin.
Ibu Suri tersenyum melihat data diri beserta foto seorang gadis yang baru saja diterimanya lewat aplikasi chat. Tanpa pikir panjang segera meneruskan data diri dan foto itu ke kontak Okky.
Okky sudah terlelap dalam lelahnya, bunyi notifikasi ponselnya sudah tak terdengar lagi ditelinganya.
Okta,adik satu satunya Okky, sedang bercengkrama dengan suaminya yang baru pulang dari luar kota, membicarakan masalah perjodohan kakaknya. Sambil saling memeluk di ranjang.
"Harusnya kalian itu jangan menekan Kak Okky soal jodoh, biarkan dia memilih, coba bicarakan dengan bunda" Ammar, suami Okta sedang memberi nasehat. Istrinya tadi cerita tentang perjodohan Okky dan ancaman Bunda akan menikahkan Okky dengan Kina.
"Tapi bunda begitu karena Kak Okky sudah kelewat umur untuk menikah yang" kata Okta
"Menikah itu bukan karena umur, sayang. Pernikahan bukan ajang perlombaan apalagi coba coba. Pernikahan itu tanggung jawabnya sama Allah loh" ucap Ammar sambil mengusap punggung ibu hamil yang katanya pegal itu.
"Iya sih, awal awal kita menikah memang rasanya ada saja masalah. Untung kamu sabar menghadapi aku, makasih ya sayang" Okta mengeratkan pelukannya. Menciumi tubuh suaminya yang terjangkau wajahnya.
"Iya, ingat ya, kamu jangan ikut ikutan menekan kak Okky soal jodoh. Kalau bisa kasih tau bunda baik baik, agar fikirannya bisa terbuka. Kasihan Kak Okky, pengorbanan kak Okky untuk kalian itu besar sekali lho"
"Iya sayang, bobok yuk, baby juga bobok ya" Okta merebahkan tubuhnya.
Ammar mencium pipi istrinya, "Selamat malam mama, selamat malam baby" lalu mencium perut istrinya dan ikut merebahkan tubuhnya.
......🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻......
__ADS_1