
Mata Okky terbelalak melihat harga yang tertera di nota, harganya berkali kali lipat lebih mahal dari yang kemarin dipilih Erika.
"Ini…serius tante, harganya segini? Astaghfirullahaladzim…" tanya Okky dengan wajah tegang, ia mengusap wajahnya.
"Kenapa sih mas?" Erika cemberut mendengar ucapan Okky.
"Itu cincin berlian limited edition, memang mahal sekali harganya" ujar Margaret
"Bunda sudah tahu cincin ini?"
"Sudah, kemarin tante posting di strory WA dan Bunda kamu suka. Katanya Erika juga suka, jadi mereka sepakat ganti yang ini. Benar begitu kan, Erika?"
"Iya…ada masalah mas? Silahkan protes sama Bunda kamu" kata Erika dengan ketus. Dia malu karena Okky seperti mempermasalahkan harga cincin itu.
"Enggak ada, nanti aku transfer uangnya ya tante. Kalau sudah bisa diambil, kabarin saja. Ayo pulang!"
"Iya…sebentar ih, aku balas komen dulu" Kata Erika. Tangannya sibuk bermain ponsel, Okky menunggunya beberapa menit. Lalu berjalan menuju parkiran lebih dulu karena perutnya mulai bergejolak.
……
Setelah menurunkan Erika di depan rumahnya, Okky buru buru pergi. Perutnya sudah tak bisa diajak kompromi lagi. Rasa mual dan perih sudah mendominasi.
Erika yang kesal karena diturunkan begitu saja didepan rumah, bahkan tak jadi dibelanjakan ke Mall. Langsung melapor ke Ibu Suri, dengan bumbu-bumbu tambahan pastinya, agar terlihat lebih mendramatisir situasi.
Ditempat lain, Okky yang sudah tak tahan. Menghentikan mobilnya dijalanan sepi. Dia memuntahkan isi perutnya hingga lemas. Setelah muntah perutnya semakin perih, kepalanya pusing. Dia menghubungi nomor Kina dan untungnya langsung diangkat oleh gadis itu.
"Assalamu'alaikum…Pak…Pak Okky" tanyanya karena tak kunjung ada jawaban salam. "Pak Okky, hallo, bapak kenapa?" Kina panik.
"Tolong saya Ki…saya…hahhh.....hahh......" nafas Okky terengah engah, menahan sakit yang mulai menjalar disekujur tubuhnya.
"Bapak dimana, bisa bapak jelaskan. Saya akan segera kesana"
__ADS_1
"Saya ada di dekat toko Amanah, dibelakang…bangunan toko. Ssshhh…… " Okky merintih. Membuat Kina semakin panik.
Kina bergegas mengambil tasnya dan berlari menuju parkiran. Tim marketing yang lain hanya saling pandang dengan wajah cemas. Mereka mendengar pembicaraan Okky dan Kina ditelfon. Mereka khawatir terjadi sesuatu pada bosnya.
Kina melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Untungnya belum jam pulang kantor, jadi jalanan tidak macet. Berputar putar disekitar toko Amanah, Kina melihat mobil Okky terparkir dipinggir jalan.
Kina mengintip kaca di bagian samping kemudi dan mengetuknya beberapa kali, "Pak…pak Okky, ini kina pak" Kina menarik pegangan pintu, ternyata tak dikunci. Dia berjongkok untuk melihat kondisi Okky. "Pak, bapak kenapa?" tanyanya dengan Panik. Apalagi wajah Okky sudah terlihat pucat pasi.
"Kina, cepat juga kamu datangnya" Okky tersenyum lemah. "Perut saya sakit" keluhnya dengan suara sangat pelan.
"Bapak makan pedas?"
"Iya, karena saya nggak suka dibilang nggak jantan gara gara nggak doyan pedas"
"Bapak gila, makan pedas nggak ada hubungannya dengan jantan atau nggaknya seorang laki laki. Ayo kerumah sakit!"
"Makasih Kina, kamu masih yang paling peduli sama saya"
Kina membonceng Okky dengan motornya, karena dia tak bisa menyetir mobil. Okky menyandarkan tubuhnya dipunggung Kina dan memeluk kina dengan erat. Karena situasi darurat jadi Kina tidak bisa protes.
Sesampainya dirumah sakit, Okky langsung ditangani dokter yang berjaga. Dokter meminta Okky agar dirawat untuk beberapa hari. Dia benar benar terlihat lemas dan kesakitan. Dia memang di larang makan pedas oleh dokter sejak kecil, lambungnya sangat sensitif dengan segala macam cabai dan keturunannya.
Ali dan Satria datang dengan tergopoh gopoh setelah Kina menghubunginya. "Kin, Pak Okky kenapa, kok bisa sampai begini?" tanya Ali setelah dipersilahkan masuk keruang rawat Okky dan melihat kondisi atasannya yang begitu lemah.
"Nggak pa-pa bang, dia cuma pengen menguji kehebatannya saja" jawab Kina, penuh dengan sindiran.
Okky tertawa, "Ternyata gagal, untung masih ada malaikat penolong" candanya. Membuat Kina semakin kesal.
"Bang Ali sama Satria, tolong ambil mobil Bapak ini ya, aku kirim lokasinya" Kina mengirim titik lokasi mobil Okky ke WA Ali. "Sudah…jual aja mobilnya, lumayan buat kita makan makan bareng"
Okky tertawa lagi, "Jual aja, dirumah masih ada kok, mobil mobilan calon anaknya Okta"
__ADS_1
"Nih bang Ali kuncinya, sana sat, cariin penadah. Bapak ini kan kaya, sampe bayi belum lahir aja udah dibeliin mobil mobilan" kata Kina dengan kesal.
"Mbak Kina bercandanya serem ih, Bos lho itu" Satria mengingatkan Kina. Kina hanya berdecak, dia terlalu kesal pada Okky. Bisa bisanya bosnya nekat makan pedas, hanya karena ingin dianggap jantan. Padahal ayam jantan makan beras tetap akan di sebut ayam jantan, nggak mungkin tiba tiba dianggap ayam betina.
"Iya, Kina tu emang nggak sopan sama saya. Untung sudah saya ganti sama Ali"
Kina melirik Okky dengan sinis, "Oh, gitu. Yaudah, bang Ali yang disini, saya pulang sama Satria" ucapnya, tegas.
"Jangan!! Bercanda, ngambek terus dari tadi. Saya ini lagi sakit Kinaaaa…" rengeknya. Hingga membuat satria tak habis fikir, atasannya ternyata sangat manja pada Kina, dia merasa semakin curiga pada kedua orang itu.
Ali dan Satria bergegas ke lokasi mobil Okky, mereka akan membawa mobil itu kekantor, sesuai permintaan Okky.
Kina sedang shalat di mushala rumah sakit, dia tak diijinkan kembali kekantor oleh Okky. Okky sedang mencuri kesempatan dalam kesusahannya sendiri, dia akan memanfaatkan momen ini untuk berduaan dengan Kina.
Kina kembali keruang perawatan dengan camilan dan air mineral. Okky terlihat sedang tidur. Kina menghela nafas berkali kali melihat kondisi Okky. Jadi benar yang dikatakan pria itu, kalau Erika sama sekali tak peduli dan perhatian padanya. Lalu rumah tangga seperti apa yang akan dijalani Okky nantinya .
Kina menepis fikiran buruknya, dia berusaha positif thinking. Mungkin saja semua terjadi karena keduanya belum saling mengenal dengan baik. Mungkin Erika tak sengaja membuat Okky makan makanan pedas. Begitulah Kina, selalu berusaha berprasangka baik dalam situasi apapun.
Okky membuka matanya dan melihat Kina sedang melamun. Dia menggenggam tangan Kina yang duduk dikursi, disamping tempat tidurnya.
Kina tersentak, saat merasakan tangannya digenggam. "Bapak sudah bangun? Bagaiman keadaan bapak, sudah lebih baik?"
"Iya, karena ada kamu"
"Em…apa Bapak tidak ingin menghubungi keluarga bapak? Saya takut mereka mencari cari bapak"
"Enggak… kalau Okta atau Ammar tahu saya masuk rumah sakit, pasti mereka akan memberi tahu Bunda. Kalu Bunda kesini, pasti kamu akan pergi. Nggak mau!"
"Hedeehh…kaya anak kecil aja"
"Biarin…kamu sudah makan?" Kina tak menjawab, tapi menunjuk sekantong camilan yang dia letakkan di sofa. Okky tersenyum, itu tandanya Kina sudah persiapan akan menungguinya selama dirawat. Hatinya sedang ber 'Yes Yes' ria.
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻