
Okky benar-benar tak menunjukkan batang hidungnya dihari yang seharusnya jadi hari paling bersejarah dalam hidupnya. Hari pernikahannya sendiri.
Ibu Suri sudah pasrah menerima kekacauan yang terjadi. Dia bisa apa, jika kedua calon pengantin seperti hilang ditelan lumpur hidup. Erika sama sekali tak mau merespon pesan bahkan panggilan dari ibu Suri. Begitu juga dengan kedua orang tua Erika, mamanya Erika bahkan memblokir nomor ibu Suri.
Ibu Suri sungguh penasaran, apa yang terjadi sebenarnya. Kenapa semua orang seolah menghindari dirinya. Ibu Suri sesungguhnya sadar, dirinya juga punya adil dalam kekacauan ini. Dia terlalu terburu-buru dalam memutuskan pernikahan ini. Harusnya dia memberi kesempatan pada Okky dan Erika untuk saling mengenal. Ibu Suri terlalu naif saat itu, dia mengira ungkapan cinta pandangan pertama dari Erika, sudah cukup jadi bekal untuknya memutuskan pernikahan yang akhirnya berantakan ini.
Saat itu fikirannya hanya satu, menjauhkan Kina dan mendapatkan menantu yang terbaik untuk anaknya, terbaik menurutnya. Tanpa peduli perasaan anaknya. Ibu Suri sebenarnya menyukai Kina, bahkan ide memaksa menikahkan Kina dan Okky sebenarnya bukan gertakan belaka. Namun, rasa kecewanya pada Kina yang menggagalkan perjodohan Okky dan Dela, membutakan mata hatinya. Padahal jika difikir-fikir, Kina justru menyelamatkan banyak orang.
Ibu Suri duduk di sofa ruang keluarga dengan wajah muram. Mbak Surti sedang memijit bahu dan tengkuknya yang terasa berat.
"Sur, saya dosa apa ya, kok sampe nasib saya begini. Saya ini cuma pengen lihat anak laki-laki saya menikah dan bahagia" keluhnya.
"Ibu nggak salah apa-apa, tapi ini memang takdir yang harus ibu jalani. Semua pasti ada hikmahnya. Ibu yang sabar" ucap mbak Surti. Tangannya masih menari-nari dibahu majikannya.
"Menurut kamu Erika itu cocok nggak sih sama Okky?"
Surti diam, berfikir sejenak, "Cocok dilihat kalau tidak nyaman juga tidak enak dijalani bu. Cantik bukan jaminan kebahagiaan seseorang. Kalau semua laki-laki maunya yang cantik, saya nggak bakalan beranak pinak seperti sekarang dong Bu.hehe" jawab Surti dengan cengengesan. Dia sadar akan wajahnya yang jauh dari kata cantik itu.
"Isshh…kamu ini. Sebelah sini sur, agak keras mijitnya" ibu Suri menunjuk bahu sebelah kirinya.
"Eh, Sur……Kalau suruh pilih antara Kina dan Erika, kamu pilih siapa sur?" tanya ibu Suri tiba-tiba, entah apa motivasinya.
"Kinalah bu" Surti menjawab dengan lantang dan cepat.
Kina banyak berjasa buat hidup saya bu. Mbak Erika, cantik doang.hihi… imbuh Surti, tapi hanya dalam hati.
"Iyalah kamu pilih dia, orang kamu dan mbok Rah deket banget sama anak itu" ucap Ibu Suri dengan ketus.
__ADS_1
Lah, dia nanya, dijawab, malah sewot. umpat Surti dalam hati. Kini bibirnya sedang manyun-manyun, miring kekanan, miring kekiri. Okta yang sedang berjalan kearah mereka, dapat melihat wajah mengejek Surti dengan jelas. Okta menyipitkan matanya, sambil tersenyum aneh kearah Surti. Wanita beranak empat itu jadi salah tingkah, ketahuan mencibir dibelakang majikannya. Surti mengangkat kedua jarinya, membentuk huruf V sambil cengengesan. Okta tak mampu menahan lagi, ibu hamil itu terbahak, hingga perutnya kram. Ibu Suri menatap anak perempuannya dengan wajah bingung.
…
Kina yang bosan sedang mengobrak-abrik grup chat karyawan PT. Nice Food yang sedari tadi ramai dan berisik itu. Sedetik kemudian matanya membola, pandangannya teralih pada laki-laki yang sedang tidur disofa, diruang rawatnya.
"Astagfirullahaladzim…bisa-bisanya dia enak-enakan tidur. Padahal orang-orang lagi heboh ngomongin dia. Kok aku bisa lupa kalau hari ini harusnya hari pernikahan pak Okky. Kalau orangnya ada disini, berarti pernikahannya batal dong?" Kina berbicara sendiri. Saat ini karyawan sedang heboh membahas hilangnya bos mereka dan kemungkinan batalnya pernikahannya.
"Ya batallah, masak ya batal dong" jawab Okky dengan mata terpejam
Kina sedikit terperanjat. "Issh…bapak ngagetin saya" ia mengelus dada.
"Pak…bagaimana dengan Ibu, kalau bapak membatalkan pernikahan ini? Beliau pasti sedih sekali. Sebaiknya bapak pulang dan melihat keadaan ibu dulu. Saya khawatir kalau hal ini akan mengganggu kesehatan Ibu, pak"
"Tenang! Ammar pasti kasih kabar kalau ada apa-apa. Sejauh ini semuanya terpantau kondusif. Ya…meskipun kata Ammar, bunda agak murung, tapi Bunda baik-baik saja" jawabnya tanpa berniat membuka mata.
Okky membuka mata dan mengubah posisinya menjadi duduk. "Nanti saya pasti pulang, saya akan jelaskan semuanya pada bunda. Selama ini saya menyimpan rapat-rapat sikap arogan Erika pada saya, berharap gadis itu akan berubah. Saya sudah berusaha mengambil hatinya, memperlakukannya dengan baik, menuruti semua kemauannya. Tapi nggak ada perubahan sedikitpun, Erika tetaplah Erika. Wanita arogan dan cuek."
"Jika bapak memang tidak berkenan dengan perangai ibu Erika, harusnya bapak katakan pada Ibu Suri secara jujur. Jangan menyembunyikan seperti ini"
Okky menghela nafas, "Masalahnya, sikap dia didepan saya dan didepan bunda itu sungguh bertolak belakang. Saat bersama saya, dia akan jadi macan betina yang ganas, tapi saat bersama bunda, dia akan jadi kucing rumahan yang imut. Huhh…" keluhnya.
"Serius pak?"
Okky mengangguk, "Saya sudah banyak menelan kekecewaan terhadap Erika. Semakin mendekati hari pernikahan, seolah Tuhan membuka semua aibya didepan saya dengan cara-cara yang tak terduga"
"Mulai dari bertemu temannya yang membeberkan fakta, Erika pernah tinggal seatap dengan pacar bulenya dijerman. Padahal orang tuanya bilang, kalau anaknya ini buta soal asmara makanya cuek kalau sama laki-laki. huh…omong kosong. Dan parahnya…tiga hari lalu, saat saya tanya berapa mahar yang dia inginkan. Dia minta seratus ribu dolar "
__ADS_1
Mata Kina melotot, mulutnya pun mengaga saking kagetnya. "Seratus ribu…dolar?" tanyanya sedikit tak yakin dengan apa yang dia dengar tadi.
"Ya, dengan tujuan ingin viral, ingin menyaingi artis yang kata dia maharnya 72 ribu dolar. Saya sudah jelaskan, kondisi perusahaan sedang tidak baik, saya tidak bisa memenuhi keinginannya. Eh…dia nggak mau tahu. Dia malah ngancam mau batalin pernikahan. Jadi kalau beneran batal bukan sepenuhnya salah saya dong. Itukan doa Erika sendiri" curhatnya dengan wajah yang tidak ada sedih-sedihnya, seperti orang yang gagal menikah.
"Jadi selama ini bapak tersiksa dengan perjodohan ini?"
"Bisa dibilang begitu. Ditengah perusahaan yang sedang kacau, saya juga harus menuruti segala tingkah arogan Erika demi mengambil hatinya. Saya sudah berusaha, Allah yang menentukan. Bukan begitu?" Kina hanya mengangguk sebagai jawaban. Tak tahu harus berkomentar bagaimana lagi.
"Oh iya…dua maling yang saya tabrak kemarin bagaimana pak?"
"Ah iya, jadi semalam Ali sudah dapat kabar dari pihak kepolisian. Menurut informasi, mereka sudah mengincar saya dan berniat melakukan perampokan sebagai peringatan awal aksi balas dendam yang sedang mereka rencanakan"
"Hah…balas dendam?" lagi-lagi Kina tak bisa untuk tidak terkejut.
"Iya, kamu tahu, salah satu dari mereka siapa?" Kina menggeleng, dia menatap Okky cukup lama. Namun, bosnya itu malah seperti senagaja menggantung kata-katanya.
"Siapa sih, bikin penasaran aja" gumamnya, sedikit kesal. Okky tertawa melihat wajah kesal Kina.
"Kakaknya Mika, dia nggak terima adiknya saya jebloskan ke penjara"
"Serius?"
"Dua rius sinatriya"
"Dariussss ppakkkkkk……"
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1