
"Bunda nggak mau kamu menikah sama Kina.Ti…tik!"
"Tapi aku mencintai Kina Bunda" Ibu Suri melotot, dia terkejut mendengar pengakuan anaknya.
"Tapi Bunda nggak mau punya menantu seperti Kina, dia itu licik" nada bicaranya mulai meninggi.
Okky mendesah kasar, "Licik dari mana sih Bun, memang dia ngapain sampai Bunda bilang begitu"
"Pokoknya Bunda nggak suka ya nggak suka. Erika jauh lebih baik dari pada sekretaris kamu itu"
Okky berlutut didepan bundanya yang sedang duduk, mengenggam kedua tangannya. "Bun, tolong ijinkan Okky menentukan jalan hidup Okky, kali ini saja. Aku mohon…" pinta Okky dengan lembut, berusaha meluluhkan hati bundanya yang sekeras baja itu.
"Nggak!" bentak bunda lalu memalingkan muka.
Okky meletakkan keningnya dipangkuan Ibu Suri. "Pliss…Bunda, selama ini Okky sudah menyerahkan hidup ini untuk Bunda, sekali saja Bunda. Ijinkan aku memilih pendamping hidupku sendiri. Erika baik, Kina juga baik. Tapi aku mencintai Kina, bukan Erika" pintanya dengan sepenuh hati.
"Bunda nggak mau, pokoknya kamu harus menikahi Erika. Jangan buat perjuangan Bunda sia sia. Bunda ingin yang terbaik buat anak bunda, demi kebahagiaan kamu juga"
"Apa bunda pernah bertanya, aku bahagia atau tidak?" tanyanya dengan suara bergetar, Ibu Suri diam, tak mau memandang wajah anaknya.
Okta sudah berlinang air mata, dari lantai dua, ia melihat kakaknya memohon mohon untuk sesuatu yang memang seharusnya jadi haknya untuk menentukan. Sejak awal, dia sudah tahu kakaknya menyayangi Kina, hanya saja Okky tidak menyadarinya.
Okky berkuasa, bergelimang harta, tapi dia bukan anak durhaka. Tanpa restu dari Bunda, ia tak akan berani melangkah. Baginya, restu ibu restu Allah, maka murkanya ibu murkanya Allah juga. Kini dirinya seakan berdiri dipersimpangan jalan, dikanan ada Kina dan dikiri ada Bundanya dengan erika. Jika dia memilih kekanan, maka bunda akan terluka. Jika dia memilih kekiri, maka dia yang akan terluka.
……
...Dan bahwasanya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis...
...Surah An-najm ayat 43...
Menangis, dia ingin sekali melakukan itu. Bukan dia lemah, hanya saja dia manusia, dianugerahi perasaan oleh sang pencipta. Dan, itu baru saja dilakukannya, diatas sajadah.
Okky merasa hina, saat dia bahagia, dia seolah lupa pada Tuhannya. Tapi, saat dia sedang susah dia datang pada Tuhannya. Sesungguhnya, Allah sedang rindu padanya.
Menatap langit malam yang gelap, Okky meratapi nasibnya. Masalah perusahaan yang kacau saja belum selesai, sekarang dia harus menambah beban fikiran dengan paksaan Bunda untuk menikahi wanita yang tak dicintainya.
__ADS_1
Tepukan dibahu, menyadarkannya dari lamunan. Ammar tersenyum dan duduk disampingnya.
"Aku sudah dengar semua dari Okta. Mas Okky sudah menyampaikan niat baik mas pada Kina?"
Okky menggeleng lemah, "Belum…belum ada waktu yang pas. Kamu tahukan, kami disibukkan dengan masalah yang ada di pabrik beberapa minggu ini. Perusahaan benar benar kacau" keluhnya
"Bagaimana kalau mas Okky sampaikan dulu pada Kina, lalu kita buat rapat keluarga untuk membahas masalah ini. Aku dan Okta akan bantu bicara sama Bunda"
"Begitu ya? tapi aku takut ditolak" Okky menunduk, menatap rerumputan dibawah sana.
"Serahkan semua sama yang diatas"
"Oke…besok akan aku sampaikan niat baikku pada Kina"
"Semangat ya mas, kami mendukungmu" kata Ammar, memberi semangat pada kakak iparnya. Okky merasa senang,karena ada yang mendukungnya.
……
Kina tersenyum menyambut kedatangan Okky. Okky diam saja, hanya menatap wajah Kina, lama. Dia sedang mengumpulkan kekuatan, untuk menghadapi takdirnya.
"Baik pak"
Mereka duduk berdampingan di sofa panjang. Kina yang tak paham situasi, merasa tegang, dia takut terjadi hal buruk pada perusahaan. Okky memutar tubuhnya, menghadap Kina, meraih tangan Kina dengan lembut. Kina tak berani menoleh, hanya melirik sedikit lewat ekor matanya.
"Ki…apa kamu sudah siap menikah?"
"Eee…kenapa tiba tiba bapak bertanya seperti itu?" tanya Kina dengan gugup.
Okky menarik nafas dalam dalam, jantungnya berdegup kencang. "Kamu mau nggak menikah sama saya?" tanyanya dengan wajah serius.
Kina mengernyit, "Pak Okky jangan bercanda ya, bercanda tentang pernikahan dengan seorang perempuan bukan hal yang sopan lho pak" kata Kina sedikit kesal.
Dia takut Okky hanya main main mengajaknya menikah. Bagaimanapun Kina hanya wanita biasa, dia sadar tak cukup pantas mendampingi Okky yang sempurna dimatanya. Status sosial mereka juga sangat berbeda.
"Apa wajah saya kelihatan bercanda?" tanya Okky ikut kesal dengan kekesalan Kina.
__ADS_1
"ehem…tidak pak, maaf, saya hanya terlalu terkejut. Saya minta maaf" ucapnya lirih, merasa bersalah.
"Lalu, apa jawaban kamu?"
"Apa Ibu Suri tahu, tentang hal ini? Bagaimana dengan wanita cantik yang kemarin?"
"Saya sudah bilang, saya tidak suka sama dia. Apalagi setelah mengobrol, kami sungguh hidup di dunia yang berbeda"
"Maaf pak sebelumnya, saya tidak tahu harus bilang apa. Seperti yang pernah saya katakan, saya tidak akan menyerahkan cinta saya kepada laki laki manapun, sebelum ada hubungan yang halal. Pak Okky baik, saya senang sekarang bapak mulai rajin beribadah. Saya juga bukan wanita sholeha, berhijab saja saya masih ragu, tapi saya ingin berhijrah bersama dengan pasangan halal saya. Saya akan mempertimbangkan niat baik bapak, dengan satu syarat"
"Apa syaratnya?"
"Ibu Suri sudah tahu hal ini, dan beliau merestui apa yang bapak rencanakan"
Okky menunduk, tangannya meremat tangan Kina yang sedari tadi tak lepas dari genggamannya. Menghirup oksigen banyak banyak, sampai disini saja dia sudah bisa menebak apa yang akan terjadi. Kina menepuk pundak Okky dengan lembut, tersenyum saat pria itu menatapnya.
"Jangan risau, Allah akan memberikan apa yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan"
"Seumur hidup saya, belum pernah mencintai siapapun selain keluarga saya, ternyata rasanya sesakit ini" Okky tertawa hambar, menertawakan dirinya sendiri.
Okky memutar tubuh Kina, agar menghadapnya. Lalu menempelkan telapak tangannya kebibir Kina, memandang mata gadis itu penuh cinta. Kina balas menatapnya, wajahnya terlihat bingung.
"Aku mencintaimu, apapun yang akan terjadi, aku akan tetap mencintaimu" Okky mencium tangannya yang masih menempel dibibir Kina, hingga dahi dan hidung mereka bersentuhan. Kina membulatkan mata, mengerjapkannya berkali kali. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
Setelah cukup lama, Okky memundurkan wajahnya dan menarik tangannya dari bibir Kina. Ia menjatuhkan keningnya dibahu kiri Kina, tangan kirinya masih menggenggam tangan kiri Kina.
Bahunya bergetar, Kina merasakan sesuatu yang basah menetes ditangannya. Ya, atasannya menangis dibahunya. Kina menepuk nepuk pundak kokoh, tempat bersandar banyak orang itu. Ibu Suri, Okta dan semua karyawan PT. Nice Food, termasuk dirinya. Kini bahu itu sedang rapuh.
Hati Kina ikut nyeri melihat orang yang biasanya kuat dalam kondisi apapun itu, tiba tiba lemah karena dirinya. Sungguh, tak ada niat sedikitpun melukai hati pria baik itu. Justru Kina tak ingin egois, menerima pinangan Okky hanya akan membuat hubungan Okky dan Ibunya berantakan.
"Maafkan saya pak, mari kita bicarakan ini baik-baik dengan ibu Suri. Semua salah saya, saya yang membuat beliau marah dan membenci saya" katanya lembut, tangannya masih menepuk nepuk bahu Okky.
Brakkk…!!!
Pintu ruangan direktur utama di dorong dengan kasar. Okky dan Kina terkejut melihat siapa yang datang dengan wajah merah padam itu.
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻