
Setelah berdebat mengenai mahar, Erika dan Okky sama sama tak saling menghubungi. Padahal pernikahan tinggal dua hari lagi.
Saat sedang sibuk dimeja kerjanya, Handphone Okky bergetar. Nama Margaret lah yang muncul dilayar benda pipih itu.
"Hallo tante"
"Hai Ki, lagi sibuk nggak?"
"Ya Biasalah tan, lagi pacaran. Sama komputer" terdengar gelak tawa Margaret di seberang sana.
"Kamu ini ada ada aja. Tante cuma mau ngabarin, cincin pernikahannya sudah jadi. Nanti malam bisa diambil"
"Oh, gitu…oke deh tan. Nanti aku kesana jam 7an deh. Makasih ya tan"
"Sama-sama. Sampai ketemu nanti malam ya" tut…panggilan berakhir.
Okky menarik nafas dalam dalam. Dua hari lagi dia akan menikah. Tapi hubungannya dengan calon istri semakin buruk. Okky tak mampu membayangkan akan seperti apa rumah tangganya nanti.
Dia mencoba untuk tak berputus asa. Okky memilih memasrahkan hidupnya secara penuh pada sang khalik. Dia berdoa, agar diberikan yang terbaik untuk semuanya. Tanpa menyakiti siapapun.
……
Okky berjalan menuju kantin perusahaan. Selama memimpin perusahaan, baru kali ini dirinya menginjakkan kaki ke kantin perusahaan. Dia ingin menikmati secangkir teh hangat, sambil meregangkat ototnya dengan sedikit berjalan-jalan, meskipun hanya berjalan dari ruangannya kekantin. Sepanjang perjalanan, para pegawai menyapanya dengan senyum karir. Seperti biasa dia hanya mengangguk sekilas dengan wajah coolnya.
"Kena karma kan kamu akhirnya, gimana rasanya dilabrak sama calon istri orang?" Hardik Rima pada Kina yang sedang meniup soto panas. Mau tak mau Kina yang merasa terganggu, menghentikan acara makan siangnya.
__ADS_1
Kina melipat tangannya didada dan menyilangkan kakinya. Dia balas menatap Jihan dengan tajam. "Mbak bisa nggak biarkan saya makan dengan tenang?" ucapnya berusaha setenang mungkin.
"Eh, Kin…mending kamu lepas deh penutup kepala kamu itu, kamu cuma menodai jilbab dengan kelakuan kamu. Yang kamu pakai itu nggak pantas disebut hijab, itu cuma kain penutup kebusukan kamu" imbuh Mutia dengan nada sinis.
Mutia dan Rima, dua pesaing Kina saat memperebutkan jabatan sekretaris direktur utama. Keduanya sama denga Mika dan Jihan, menyimpan dendam pada Kina karena merasa tersaingi. Mereka berasumsi, Kina menghalalkan segala cara untuk mendapat posisi itu. Semua sebenarnya ulah Mika yang kini mendekam dirutan wanita pasca mengamuk dikantor waktu itu. Mika menyebarkan gosip bahwa Kina dan Okky sering melakukan hal tak senonoh baik dikantor maupun diluar. Bahkan wanita itu dengan beraninya, mengaku pernah memergokinya dengan mata kepala sendiri. Tentu semua hanya fiktif belaka.
"Memang saya melakukan apa? Silahkan buktikan kalau memang saya nggak bener. Saya tunggu!" tantang Kina.
Rima tertawa mengejek. "Sialan nih cewek, nantangin kayaknya. Nggak ada takut takutnya, bangga lo jadi pemuas ***** si bos" Semua mata memandang kearah mereka, karena Rima berkata dengan suara lantang. Hingga menggema diruangan tersebut.
"Saya nggak merasa melakukan apa yang mbak mbak sekalian tuduhkan, buat apa saya takut. Ayo sana pergi, jangan buang waktu saya"
Rima dan Mutia menggeram, bisa bisanya Kina menantang mereka. Mereka merasa tidak dihormati sebagai karyawan yang lebih senior. Rima menarik mangkok berisi soto ayam panas milik Kina dan hendak menyiramkan pada gadis 23 tahun itu.
"Ehem…" Okky menatap keduanya dengan tatapan tajam. Dia berdiri berjarak beberapa meter dari ketiga wanita yang sedang bersitegang itu. Mutia dan Rima gelagapan. Rima cepat cepat menaruh mangkuk.
"Bisa kalian ulangi kata-kata kalian?" tidak ada bentakan disetiap kalimatnya, namun penuh penekanan. Mika dan Rima gemetaran. Mereka tak menyangka bosnya menginjakkan kaki ke kantin karyawan. Keduanya tertunduk dengan meremas tangan satu sama lain.
"Ma…maaf pak" ucap Rima, terbata.
"Memang kamu salah apa, kenapa tiba-tiba minta maaf ke saya?" sarkas Okky.
"Maaf pak Okky, baiknya kita hentikan keributan ini" Kina sadar, mereka jadi tontonan menarik untuk karyawan yang lain.
"Apa kalian tidak ingin meminta maaf pada seseorang?" sindir Okky lagi. Rima dan Mutia paham betul apa maksud Okky. Mereka menatap Kina.
__ADS_1
"Kina, maafkan kami" mereka berucap kompak, seolah ada yang mengkomando.
Okky menaikkan satu alisnya, "Hanya begitu?" tanyanya.
"Sudah pak, cukup…… Saya maafkan, semoga kita tidak saling menghardik dan memfitnah seperti ini lagi ya" pinta Kina dengan lembut.
"Kami permisi pak Okky" Rima dan Mutia buru-buru pergi, mereka tak mau karir mereka berakhir. Cicilan masih panjang. Walaupun dalam hati mengumpat, lebih baik mereka pura-pura minta maaf pada Kina.
"Tolong pesankan saya teh hangat dan antar keruangan saya" Okky memberikan selembar uang bergambar soekarno-hatta pada Kina. "Terima kasih" ucapnya. Lalu berbalik dan kembali keruangannya.
Kina menatap punggung atasannya itu. Beberapa hari tak saling menyapa, wajah bosnya terlihat cukup berbeda. Cara bicaranya pun tak sama. Sepertinya pria itu menyimpan banyak beban menjelang hari bahagianya.
Ingin sekali mendengarkan curhatan bosnya, tapi apalah daya, hubungan mereka berbeda sekarang. Cinta yang tumbuh dihati laki laki berusia 33 tahun itu, justru menjadi jurang pemisah diantara keduanya. Hubungan baik dan hangat sebagai bos dan sekretaris seolah ternodai. Bukankah seharusnya cinta itu menyatukan, tapi kenapa cinta justru memisahkan mereka.
Kina mengembalikan kesadarannya, dia bergegas memesan teh hangat dan membawanya keruang direktur utama. Ada yang menggelitik di benaknya. Kenapa bosnya tidak memesan teh pada Office boy atau Office girl yang sedang bertugas saja, kenapa juga beliau harus repot-repot pergi kekantin sendirian.
Mungkin galau bisa membuat kita melupakan beberapa hal, entahlah. gumam Kina dalam benaknya.
Okky duduk manis di meja kerjanya, menunggu pesanan teh hangatnya yang akan diantar mantan sekretarisnya. Dia sedang merutuki dirinya sendiri. Dia baru ingat bisa memesan teh hangat hanya dengan menekan satu tombol melalui pesawat telepon yang ada dimeja kerjanya.
Aduh…semoga saja Kina nggak berfikiran macam macam. Kaya modus nggak sih aku cari cari teh anget sampe kekantin. Bisa bisanya lupa kalau ada pantry dikantor ini. Bego…bego…bego… Umpatnya dalam hati, untuk dirinya sendiri.
Wajar sebenarnya kalau Okky lupa, selama ini, semua kebutuhannya dikantor selalu dihandle sekretaris. Dari pekerjaan hingga kebutuhan pribadi seperti makan dan minum, selama bekerja. Tiba-tiba harus mandiri, mungkin dia masih belum terbiasa.
Suara ketukan pintu membuat hatinya bergemuruh luar biasa. Dia membayangkan Kina yang sedang memegang cup berisi teh hangat sedang berdiri didepan pintu. Sialnya, tirai dinding kaca dia tutup rapat. Padahal ingin sekali melongok sedikit saja, untuk melihat ekspresi Kina dibalik pintu. Bingung, harus bersikap bagaimana pada gadis itu.
__ADS_1
Ingin cuek seperti yang dilakukannya akhir-akhir ini, tapi hatinya memberontak. Ingin sekali menanyakan keadaannya, setelah kejadian tadi. Tarik, hembuskan! Okky mengulangi kegiatan itu beberapa kali. Hingga suara ketukan pintu terdengar lagi.
"Masuk!" titahnya dengan gaya cool. Bertolak belakang dengan hatinya yang gelisah. Okky berdecak setelah melihat wajah siapa yang nampak dari balik pintu.