
"Kakak Okky satu dan dua kan cuma teman, beda sama kakak Dela dan kakak Bagas" kata Kina, mencoba memberi pengertian pada anak anak.
"Syama…kan kakak Okky syatu dan dua juga cewek syama cowok, kayak Kakak Dela dan kakak Bagas" jawab salah satu anak laki laki yang hampir seumuran dengan Tasya. Kina menggaruk pipinya.
"Haduh, mumet!" gerutu Kina sambil menempelkan telapak tangan dikeningnya.
Bu laras tertawa pelan melihat wajah Kina yang kebingungan. "Anak-anak, kakak Oki satu dan dua…" belum juga selesai bicara, Tasya sudah menyela.
"Temen-temen kata olang-olang, doa anak yatim piatu itu manjul…Yuk baleng-baleng kita beldoa, cupaya…kakak…Oki catu cama dua…bica nikah. Kaya kakak Dela cama kakak Bagas" tutur Tasya mengompori teman-temannya.
Tujuh anak yang sedari tadi mengelilingi Kina, menengadahkan tangan, bibir mereka merapalkan sesuatu yang tak terdengar telinga siapapun. Lucunya, semua mengucap Aamiin, dan mengusap wajah mereka bersamaan.
Dela dan Bagas yang sedang duduk dipelaminan, tertawa melihat tingkah adik adik mereka dan turut berucap Aamiin, meskipun tak tahu doa macam apa yang dipanjatkan anak anak untuk Kina dan Okky.
Bu Laras tersenyum, namun dalam hati turut mengaminkan. Okky? tentu saja, mengaminkan dengan sepenuh hati, dari lubuk hati terdalam.
Kina tertawa, "Bisa aja nih bocah, tasya jangan kompor kamu ya!" Kina mencubit pipi Tasya dengan gemas. Tasya malah tersenyum lebar.
"MAS!!" pekik Erika yang emosi sedari tadi dilupakan oleh Okky. Dia bertambah kesal saat mendengar anak-anak kecil itu berharap, Okky akan menikah dengan gadis berhijab itu.
"Eh…kalian jangan sembarangan ya, dia ini calon suami saya. Mau jadi pelakor kamu!?" tanyanya pada Kina dengan mata melotot tajam.
"Hantu……" jerit anak anak serempak, lalu menghambur memeluk Kina, ada juga yang memeluk bu Laras dan menenggelankan wajah mereka.
Bu Laras dan Kina meringis, merasa tak enak pada Erika, tapi namanya juga anak anak, kadang tidak bisa di atur. Ya, seperti ini contohnya, mengatai orang hantu sembarangan.
"Erika, mereka ini cuma anak-anak, tolong jangan galak galak. Lihat, mereka takut sama kamu" Okky mengingatkan dengan halus.
Erika melengos, tak menghiraukan kata kata Okky. Dia melenggang begitu saja tanpa pamit. Okky mengucap salam, lalu buru buru menyusul Erika. Dia merasa bersalah, sudah melupakan Erika dan malah asik sendiri. Tapi, dimana ada Kina, seolah disitulah dunianya berada. Perhatiannya seakan tertarik seluruhnya kesana.
……
Erika diam tak bersuara, wajahnya terlihat cemberut. Okky mencoba mencairkan suasan dengan menceritakan apa yang dilihatnya di jalanan. Sayangnya, Erika terlanjur kesal, dia tak menggubris sedikitpun.
__ADS_1
"Er, kamu laper nggak, makan yuk. Tadi kamu nggak makan apa apa kan disana" tanya Okky, penuh perhatian. Dia sudah berjanji akan menerima dan memperlakukan Erika sebagai calon istrinya dengan ikhlas.
Pernikahan mereka tinggal dua minggu lagi, bahkan persiapannya sangat lancar. Okky berfikir, mungkin inilah takdir yang harus dijalaninya. Terus terusan meratapi takdirnya hanya akan membuat hatinya semakin terluka.
"Nggak ada yang bisa dimakan kok" jawab Erika tanpa menoleh sedikitpun.
"Kamu jangan begitu, kan dari awal aku sudah bilang, acaranya sederhana. Kalau memang kamu tidak suka dengan apa yang mereka hidangkan, nggak usah dimakan, tapi…nggak perlu mencibir juga." tutur Okky menasehati
"Terserah! Emang nggak layak makan semua" Erika memalingkan muka menatap jalanan disampingnya.
"Astaghfirullahaladzim" gumam Okky, lirih.
...Barang siapa memperbanyak istighfar, maka akan diberi kelapangan dalam setiap kesusahan dan jalan keluar dari kesempitan. Dan dianugerahi rezeki dari jalan yang tiada disangka-sangka.”...
...(HR. Abu Dawud dan Nasa’i)...
……
Okky menatap ponselnya yang penuh dengan foto Kina. Ya, diam diam dirinya sering mencuri kesempatan untuk mengabadikan wajah manis Kina di ponselnya. Saat gadis itu tertawa, diam, serius, bahkan saat sedang menyuap makanan pun ada. Gadis itu nampak lucu dengan mulut terbuka.
Dia menatap hampa, undangan ditangan kirinya. Sample undangan sudah jadi, beberapa hari lagi akan dicetak dan akan disebar. Kurang dari dua minggu, pernikahan akan dilaksanakan. Persiapan sudah mencapai 75%.
Tok
Tok
Tok
"Okky, sudah tidur?" terdengar suara Ibu Suri dari balik pintu.
"Belum Bun, sebentar" Okky buru buru menyeka sudut matanya yang berair dan mengusap wajahnya. Membuka pintu dan tersenyum manis. "Kenapa bun…bunda belum tidur?" tanyanya, seraya menyuguhkan senyum palsu.
"Belum…Kamu lagi apa, kok dikamar terus, sekarang jarang ikutan ngumpul diruang keluarga. Apa nggak kangen ngobrol ngobrol sama Bunda?"
__ADS_1
"Maaf…yuk turun, kita ngobrol ngobrol"
Okky merangkul bahu Ibu Suri dan berjalan beriringan menuruni tangga. Tapi fikirannya melayang entah kemana. Okta dan Ammar menoleh saat mendengar suara langkah kaki.
"Kak, kok sekarang dikamar terus, sibuk apa sih?" tanya Okta.
Okky menoleh sekilas, "Nggak ada" jawabnya. Lalu mendudukkan Ibunya dan dia duduk disampingnya. Melamun lagi.
Okta menatap suaminya dan memberi kode untuk mengajak ngobrol kakaknya yang akhir akhir ini irit bicara dan banyak melamun.
"Mas, undangannya gimana, ada yang mau direvisi nggak?" tanya Ammar. Okky menyerahkan masalah undangan pada percetakan milik Ammar.
"Aman…"
"Beneran sudah kamu cek? Jangan sampai nama mempelai perempuannya jadi meriam belina ya, Ki" canda ibu Suri, mencoba memancing anaknya. Biasanya Okky akan menimpali dengan lelucon yang tak kalah menggelikan. Sayangnya dia hanya tersenyum, lalu menatap layar televisi lagi, sambil melamun.
"Ki…" Bunda menepuk paha Okky
"Ya…"
"Kamu nggak bahagia ya?"
"Hmm…bahagia kok bunda, selama bunda bahagia, Okky juga bahagia. Karena kunci kebahagiaan Okky ada didiri bunda"
Okta menegakkan tubuhnya, "Kakak nggak usah bohong, katakan aja apa yang kakak rasakan. Jujur kak! Aku capek lihat sandiwara kakak" Dia menepis tangan Ammar yang memegang pergelangan tangannya. "Kakak punya uang, kakak punya jabatan. Kenapa kakak nggak berbuat semau kakak saja, jangan terus terusan hidup seperti boneka. Nggak ada salahnya mencari kebahagiaan sendiri. Jangan naif kak, kakak bukan malaikat, kakak manusia, tanyakan sama hati kakak. Atau mungkin hati kakak sudah kakak anggap mati?" tutur Okta dengan emosi.
"Sabar mama, kasihan baby…" Ammar memeluk istrinya dari belakang dan mengelus perutnya.
"Ta…"
"Berhenti bohongin diri kakak!" Okta berdiri dan melenggang dengan menangis. Ammar buru buru menyusul, untuk menenangkan istrinya yang memang lebih sensitif semenjak hamil.
Ibu Suri menatap Okky yang tertunduk, lalu mengusap kepalannya, "Maafin Bunda ya…" tuturnya, lalu menatap anak sulungnya dengan mata berkaca kaca.
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻