30 Hari Menjemput Jodoh

30 Hari Menjemput Jodoh
Sang pelindung


__ADS_3

Menatap langit malam yang gelap, menikmati dinginnya udara. Okky termenung di dalam kamarnya, membuka lebar lebar jendela, mencari kedamaian dikesunyian malam.


Merenungkan ketidak beruntungannya. Semakin tua, bundanya semakin kekanak kanakan. Memaksa semua yang dia inginkan pada Okky, tanpa peduli lagi perasaan Okky. Okky sudah mengorbankan segalanya, masa remajanya, waktunya, raganya, jiwanya dan sekarang dia juga harus mengorbankan perasaannya.


Ingin mengeluh, tapi tak ada tempat. Setelah ayahnya meninggal, dia selalu dituntut untuk kuat dan tegar dalam menghadapi kehidupan. Jika dia lemah, bagaimana nasib ibu dan adiknya. Harta yang ditinggalkan Ayahnya memang banyak, tapi kalau dia hanya diam, maka perusahaan dan seluruh aset yang mereka miliki bisa hancur dalam sekejap.


"Kenapa aku selalu ditakdirkan untuk melindungi, melindungi Bunda, melindungi Okta, melindungi perusahaan, dan sekarang aku harus melindungi kamu. Melindungi kebahagiaan kamu" tanyannya pada diri sendiri. Memejamkan matanya menikmati dinginnya angin malam yang menerpa wajah tampannya.


……


Okky menatap selembar CV dan foto ukuran 4R, yang diberikan Bundanya pagi tadi saat akan berangkat kekantor. Membaca biodatanya saja sudah membuatnya ingin menolak gadis itu. Tapi ibunya pasti akan memarahi Kina, kalau dia tak datang menemui sang gadis.


"Selamat pagi pak" sapa Kina yang melongokkan kepala di pintu.


"Pagi, masuk!" jawabnya datar


Kina masuk dan duduk dihadapan Okky, melirik kertas yang baru saja diletakkan bosnya dengan kasar. Memperhatikan wajah bosnya, sepertinya moodnya sedang buruk akhir akhir ini.


"Lihatlah ki, Bunda menyuruhku menikahi anak ingusan" matanya melirik kertas dan foto diatas meja, mengesah berkali kali.


Kina memutar kertas dan membaca biodata, memperhatikan fotonya, lalu menghela nafas. Setelah anak kiyai yang begitu sempurna sebagai muslimah, sekarang mereka harus menemui gadis remaja yang bulan kemarin baru genap tujuh belas tahun.


Okky memejamkan matanya, dia memang bersedia dijodohkan oleh bundanya, tapi harusnya, bundanya tidak mengirimkan sembarangan gadis untuknya. Dia tak mau disangka pedofil.


"Ki, boleh nggak saya jadi anak durhaka?"


"Jangan dong pak, saya tidak mau bapak masuk neraka. Bapak kan orang baik"


"Kamu sayang sama saya ya ki, sampai mikirin akhirat saya"


"Iya, bapak sudah saya anggap bapak sendiri" Kina terbahak dengan candaanya sendiri. Okky tersenyum, matanya tak lepas dari wajah sekretarisnya.


Kemarin dia baru saja melihat sisi lain Kina, yang tak pernah gadis itu tunjukkan selama Okky mengenalnya. Bahkan Okky sering meledek Kina, dengan memanggilnya emoticon senyum. Karena gadis dua puluh tiga tahun itu memang murah senyum pada siapapun.

__ADS_1


Tepat pukul lima sore, mereka keluar dari gedung kantor bersama sama. Saat diparkiran mereka bertemu dengan Ali, sang kapten tim pemasaran, idola gadis gadis kantor.


"Ki, ada Ali tuh!" menunjuk Ali yang sedang memakai helm di parkiran motor.


Kina mengernyit, "Lha terus, saya harus bagaimana pak?" pura pura tak paham maksud atasannya.


"Ya disapa apa disayang gitu" jawabnya sambil terkekeh


"Hemm…"


Ali yang melajukan motor maticnya, berhenti sejenak saat melihat bos besar dan sekertaris imutnya sedang menatapnya.


"Selamat sore Pak Okky, mbak Kina, mau pulang juga?" sapa Ali dengan sopan, memutar kunci motor untuk mematikan mesinnya.


"Iya Al, kamu sendirian aja?" tanya Okky. Kina menatap Okky dengan malas, dia tahu bosnya pasti akan menjahilinya.


"Iya pak, ada yang bisa saya bantu?" jawab Ali dengan wajah serius.


"Jangan didengerin bang Ali, silahkan jalan…jalan bang!"


Ali terlihat bingung, hampir saja dia garuk garuk kepala, tapi tidak akan bisa karena sudah memakai helm. "Yasudah, saya duluan ya Pak, Mbak, Assalamu'alaikum" Ali melajukan motornya lagi.


"Wa'alaikum salam" jawab keduanya kompak, Okky menahan senyumnya, dia yakin setelah ini Kina akan mengomel.


Satu, dua dan tiga. Kina memutar tubuhnya menghadap Okky dan…


"Pak Okky, bang Ali itu orangnya agak kaku, kaya kanebo kejemur, nggak bisa bercanda dan basa basi. Jangan diulangi lagi ya!" katanya dengan kesal.


Okky tertawa, mendengar penuturan Kina. "Masak sih?" tanyanya, Kina mengangguk dengan mantap sebagai jawaban.


Setelah membelah jalanan yang cukup macet karena jam pulang kantor, mereka akhirnya sampai di sebuah Cafe kekinian. Okky mengedarkan pandangan, dia kurang suka datang ketempat seperti ini. Tempat dimana banyak anak anak muda membuang buang waktu mereka dengan nongkrong bersama teman temannya, heboh berfoto disetiap sudut yang mereka anggap menarik.


"Haduh Ki, ketemu sama bocah ingusan, ditempat beginian pula" keluhnya semakin tak bersemangat.

__ADS_1


"Sabar pak, kita masuk dulu, tadi kata Ibu Suri mbak Siska menunggu di meja nomor sepuluh "


Bertanya pada seorang pelayan cafe yang menghampiri keduanya, mereka terbelalak saat melihat meja yang ditunjukkan pelayan tadi. Okky benar benar ingin menepuk jidat, jidat Bundanya, tapi takut dikutuk jadi ikan pari.


"Apa apaan ini ki, Astaga Bundaaa…" ucapnya dengan kesal dan bertolak pinggang.


"Kita kesana dulu yuk pak, biar saya yang hadapi mereka"


"Kamu yakin? Tapi saya malas"


"Yakin, kita selesaikan hari ini juga. Bapak ingin membatalkan perjodohan dengan mbak Siska kan?" Okky mengangguk dengan pasti, mana mau dia menikahi gadis ingusan yang baru saja lulus SMA. "Makanya biar tidak menggantung, kita selesaikan sekarang juga"


"Iya ajalah, pusing saya ki"


Kina melangkah dengan pasti ke meja panjang bernomor sepuluh, berisi segerombolan remaja laki laki dan perempuan. Okky mengekori dengan malas dari belakang.


"Hai, semua…Assalamu'alaikum" sapa Kina ramah, semua yang dimeja nomor sepuluh menatapnya.


"Wa'alaikum salam" jawab semua dengan suara keras dan semangat khas anak muda.


"Siapa diantara kalian yang bernama siska?" Kina menatap satu persatu sambil menghitung penghuni meja, ada empat cowok dan empat cewek. Sudah dipastikan mereka berpasang pasangan.


Seorang gadis yang paling cantik disana mengangkat tangan, "Saya siska, itu yang dibelakang mbak, Okky anaknya Tante Suri ya?" Okky mendelik, bisa bisanya anak ingusan itu memanggil namanya tanpa embel embel mas, kak ,atau apalah.


"Iya beliau Bapak Okky dermawan, putra Ibu Suri. Perkenalkan nama saya Kina, saya sekretaris Pak Okky" Siska menatap Kina cukup lama dan mengangguk angguk, Kina hanya tersenyum "Boleh kami duduk?" tanyanya dengan ramah.


"Boleh kak, sini, duduk sini, sebelah saya" ucap salah satu teman laki laki Siska, menepuk nepuk kursi kayu disebelahnya. Wanita disampingnya melotot. Lalu berbisik bisik, entah berbicara apa, tapi dari wajahnya jelas terlihat sedang merajuk.


Okky baru saja menarik kursi paling ujung, disebelah Kina. Tiba tiba laki laki yang duduk disamping siska, tepat dihadapan Okky, berdiri dan terlihat murka. Menatap Okky dengan tajam, Okky duduk dan menyilangkan tangannya di dada. Balas menatap remaja laki laki itu dengan tajam. Bahkan ia menampilkan aura bos besar yang sedang mengintimidasi anak buahnya yang bermasalah.


Siska panik, berusaha menenangkan laki laki itu, menarik tangannya untuk duduk. Kina hanya memperhatikan. Dia sedang menunggu momen yang pas untuk memulai pembicaraan yang lebih serius. Dia sadar, yang dihadapi saat ini segerombolan remaja yang masih labil, yang selalu ingin menunjukkan kehebatan mereka tanpa tahu benar atau salah. Kina tak mau gegabah dan semua berakhir tidak baik. Pasti Ibu Suri akan menyalahkan Okky. Dia tak mau itu terjadi.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2