30 Hari Menjemput Jodoh

30 Hari Menjemput Jodoh
Tere Liye(Demi kamu)


__ADS_3

"Bundaku itu manusia Ki, dia bisa saja salah memilih. Kamu tahu, setiap hari bukan semakin ikhlas yang aku rasa, tapi aku semakin menyesal. Kalaupun itu bukan kamu, setidaknya seorang wanita yang peduli, sedikit saja padaku" suaranya bergetar.


"Maaf, saya hanya tidak ingin melukai siapapun" Kina berjalan cepat, mendahului Okky. Okky terdiam ditempatnya.


Kina tidak tega melihat wajah Okky yang memang terlihat kelelahan. Dia menjauh bukan karena ingin, tapi tadi pagi saat tak sengaja bertemu, Ibu Suri memintanya untuk menjauhi Okky. Ibu Suri memohon agar Kina tak menggagalkan perjodohan Okky lagi. Padahal dia tak pernah melakukannya. Karena tak ingin hubungan ibu dan anak itu semakin memburuk, Kina memutuskan untuk menjauhi Okky. Hubungan mereka hanya sebatas atasan dan bawahan saja.


Okky mengusap wajahnya berkali kali, kesedihan hatinya semakin bertambah. Rasanya semakin berat saja. Satu satunya orang yang selama ini mendukungnya, merawatnya, memperhatikannya walaupun secara profesional sebagai sekretaris, kini menjauhinya.


Okky berjongkok dijalanan sepi itu, rasa ingin menyerah lagi lagi menyusup di hatinya. Wajah Bunda dan Okta berputar putar di kepalanya. Seseorang berdiri, menatapnya dengan iba.


"Pak, ayo pulang, sudah malam" Okky hanya menggeleng, tak mau menatap Kina. Kina menarik tangannya agar berdiri, Okky tak bergeming.


"AYO PULANG, jangan seperti anak kecil!" bentaknya dengan berurai air mata. Lalu berjongkok di depan Okky, menggoyangkan lengan Okky. "Kamu nggak boleh begini, aku nggak mau lihat kamu lemah begini. Mana Okky yang aku kenal, aku mau Okky yang dulu. Jangan buat aku sedih, aku nggak bisa berbuat apa apa " Kina berbicara sambil terisak isak. "Aku mohon…kuatlah!" imbuhnya dengan lirih. Dia bicara non formal, sebagai Kina. Bukan sebagai pegawai Okky.


Okky menangkup wajah Kina dan menghapus air matanya. "Maaf, aku akan kuat, demi kamu aku akan kuat. Aku janji. Aku akan jauhi kamu, aku nggak akan ganggu kamu lagi. Semua demi kamu. Tapi jangan suruh aku menghapus perasaan ini, biar Allah yang menghapusnya. Ya!" ucapnya lirih. "Kamu mantan sehari terbaikku" imbuhnya, bibirnya tersenyum hambar.


Kina diam, hanya menatap wajah Okky. Dia dapat melihat dengan jelas, ada luka yang teramat dalam dari sorot mata pria itu. Tapi dia bisa apa, dia hanya bisa berdoa agar laki laki baik itu mendapatkan kebahagiaan suatu hari nanti.


Dari kejauhan, Dinda sudah sesenggukan menyaksikan drama keduanya. Dia tak menyangka, atasannya yang tampan, kaya dan cool bisa serapuh itu. Dia telah salah menilai Okky.


Okky berdiri, begitu juga Kina. "Kamu kembalilah dulu, nanti saya menyusul" kata Okky


"Tapi, pak…"


Belum selesai Kina bicara, Okky sudah berbalik dan melangkahkan kakinya kearah masjid. Kina menatap punggung kokoh itu dengan Iba. Kina berbalik dan melihat Dinda sedang menatapnya dengan sendu.


"Din, kamu disitu?" tanya Kina sambil menghampiri Dinda yang masih sesenggukan.


"Ya, maaf mbak, aku nggak sengaja, tadi lagi balas chat. Aku nggak ada niat nguping"


"Ya… tolong rahasiakan ini. Ya?!"

__ADS_1


"Iya mbak, aku janji" Dinda memeluk Kina dengan erat.


Kina membalas pelukan dinda, "Kenapa kamu nangis?" tanyanya.


Dinda melepaskan pelukan. Kini keduanya berjalan beriringan. Dinda menggandeng lengan Kina dengan manja. "Aku minta maaf mbak, aku udah salah menilai pak Okky. Kukira dia laki laki nggak bener, deketin mbak Kina tapi mau nikah sama cewek lain. Aku nggak nyangka, pak Okky sangat mencintai mbak Kina. Pasti batinnya begitu terluka sekarang. Apa mbak Kina nggak mau berjuang bersama?"


Kina menggeleng lemah, "Restu ibu, restu Allah" Dinda menatap Kina dari samping. Akhirnya dia tahu masalah utama Kina dan Okky, restu dan perjodohan.


"Mbak Kina cinta nggak sama pak Okky?"


"Belum, seperti yang aku bilang, aku nggak akan memcintai siapapun sebelum ada ikatan yang halal. Coba bayangkan, sehancur apa aku, kalau aku sedang di kendalikan perasaanku sendiri saat ini. Pak Okky hampir sempurna sebagai laki laki, jika saja aku nggak membentengi hatiku, mungkin aku sudah jatuh hati padanya sejak lama.


Dia itu berbeda dari yang kalian kenal. Kalau kalian tahu sifat aslinya, aku jamin kalian akan kagum padanya. Beliau memang cuek dan cool dengan orang orang yang tidak dekat dengannya. Tapi hangat, penyanyang, perhatian, dermawan seperti namanya dan humoris dengan orang orang terdekatnya" tutur Kina sambil mengingat betapa baik dan perhatiannya laki laki itu padanya dan orang orang disekitarnya.


"Wah…kalau aku diposisi mbak Kina, sudah terokky okky pasti. Dia cuek begitu aja aku udah terpesona kok.hihi… " Dinda meringis.


Keduanya akhirnya sampai dirumah Ali lagi. Mereka langsung menuju kamar mandi untuk cuci muka. Tak boleh sampai ada yang tahu mereka menangis dijalan.


"emmm…anu, tadi itu, ngobrol dijalan sama bapak bapak " jawab Dinda berbohong.


Ali merasa curiga, pasti ada sesuatu yang terjadi dijalan tadi. Tapi dia menahan diri untuk tidak penasaran. Apalagi melihat Kina yang diam saja, wajahnya juga murung. Semakin menguatkan kecurigaan Ali.


Kina pamit pulang lebih dulu, dengan alasan sudah mengantuk. Yang lain masih disana, menghabiskan sisa sisa camilan yang masih banyak. Satu jam kemudian, Okky kembali dengan wajah tak kalah murung dari Kina. Lalu berpamitan juga dengan alasan yang sama dengan Kina.


Lagi lagi syafa buka suara, "Huhh…doa dan takdir sedang bertarung dilangit" Syafa menatap langit malan dari pintu yang terbuka lebar


"Yang menang siapa dek?" tanya dinda begitu antusias. Mila dan Nila ikut mendekat, walaupun tak mengerti apa yang sedang dibicarakan.


Syafa mengetuk ngetuk keningnya dengan telunjuk. "Lauhul mahfudz, benar ya umi, namanya itu?" tanya Syafa pada uminya yang sedang menyandarkan punggung disofa sambil berdzikir itu.


"Iya nak" jawab uminya singkat. Syafa mengangguk lalu bermain dengan teddy pemberian Okky lagi.

__ADS_1


Dinda mendengus, lagi lagi Syafa setengah setengah dalam memberi informasi.


……


Okky pulang kerumah bundanya. Setelah mandi dan berganti baju, dia duduk di ruang keluarga sendirian. Semua orang entah kemana, tak ada yang peduli padanya.


Bunda yang hendak meminta teh hangat pada asisten rumah tangganya, menghampiri Okky setelah melihat anaknya duduk melamun sendirian.


"Okky, baru pulang kamu? Lembur lagi?" tanya Ibu Suri, tapi nadanya menyindir.


"Ya…Bunda"


"Besok libur ngantorkan? Ingat, jangan… "


"Jangan lupa besok fitting baju pengantin ke butik kakaknya Ammar, jam sepuluh. Jangan lupa jemput Erika dulu jam delapan. Ajak dia kencan biar kami makin dekat. Belikan dia sesuatu, sebagai bentuk perhatian aku sebagai calon suaminya"


"Ehm…bagus kalau kamu tidak lupa"


"Bagaimana aku lupa, kalau bunda mengingatkan berkali kali. Lewat chat, telfon, voice note. Lalu apa pesan bunda pada Erika?"


Ibu Suri mengernyit, "Ya nggak ada, memang bunda harus kasih pesan apa buat Erika?" jawabnya sedikit bingung dengan pertanyaan Okky.


"Jadi bunda tidak masalah kalau anak bunda yang menderita, tidak diperhatikan, tidak disayangi? Yang penting anak orang bahagia, begitu?"


"Kamu kenapa sih? aneh banget"


"Aku nggak apa-apa. Aku tidur dulu bun, selamat malam" Okky meniggalkan Bundanya, dia lelah, lelah fisik dan lelah jiwa.


"Kenapa lagi tu anak, semakin hari semakin dingin, semakin aneh" gerutu Ibu Suri menatap punggung anaknya yang semakin menjauh itu.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2