
Ibu Suri yang terlanjur kesal, memilih mendatangi Okky kekantor. Saat sampai dikantor, ia malah mendapat laporan dari satpam yang sedang membawakan barang barangnya. Soal keributan tadi pagi, Kina menjadi korban dan Okky membawanya kerumah sakit.
Ibu Suri mendengus, ia kesal, lagi lagi anaknya harus mengurusi mantan sekretarisnya. Kina lagi, Kina lagi. Ibu Suri menganggap Okky lebih mementingkan Kina dari pada pernikahannya sendiri.
Ali yang sedang sibuk mengirim email, kekantor kantor cabang, terkejut mendengar suara ketukan high heels yang begitu nyaring. Ibu Suri berjalan dengan sedikit menghentak hentak karena sedang kesal. Ali berdiri, membungkukkan sedikit badannya.
Tak menghiraukan keberadaan Ali, Ibu suri melenggang, menuju ruang kerja Okky dan membuka pintu dengan kasar. Okky yang terkejut langsung mendongak, sekilas ia melihat Ali yang menatap kearahnya dengan cemas. Pasti sekretaris barunya itu khawatir melihat Ibu Suri datang dengan wajah garang.
"Bun…"
"Bagus ya, pernikahan sendiri nggak kamu urusin, malah sibuk ngurusin mantan sekretaris kamu itu" Ibu suri menunjuk nunjuk wajah anaknya dengan kesal.
"Bunda sudah dengar keributan tadi pagi. Okky ini pemilik perusahaan bun, dan Kina terluka saat berada diperusahaan. Apa salah kalau aku berusaha bertanggung jawab pada pegawaiku?" kata Okky dengan nada bicara sehalus mungkin, berharap Ibunya akan mengerti.
"Memang di kantor ini cuma ada kamu, dia bisa kan kerumah sakit diantar yang lain. Disuruh meeting sama WO, alasan sibuk terus. Bohong kan kamu? "
"Aku nggak bohong bun. Perusahaan lagi banyak masalah, aku lagi pusing" keluhnya. Kepalanya mulai berdenyut.
"Alasan!" cibir Ibu. Semua yang berhubungan dengan Kina, selalu salah dimatanya saat ini. Padahal dulu, dia sering sekali merepotkan Kina dengan hal hal sepele. Seperti membeli kue, saat ada acara dirumahnya. Ibu Suri selalu suka rekomendasi dari Kina, hampir dalam semua hal.
"Besok kamu harus luangkan waktu, kalian harus fitting baju, di butik kakaknya Ammar. Bunda sudah bikin janji, jangan coba coba mangkir"
"Iya bunda, maaf" ucap Okky lirih. Sudah tak ada tenaga lagi untuk berdebat. Kepalanya semakin berdenyut jika dia terus terusan bicara.
……
Setelah Ibu Suri pergi, Ali masuk ke ruangan Okky. Melaporkan semua email sudah dibalas dan meeting akan dilakukan lusa, di kantor. Okky sudah memberi tahukan apa saja yang harus disiapkan Ali, dia juga memberi tahu kalau besok tidak ke kantor.
"Besok kalau ada apa apa, kamu hubungi saya saja ya, saya harus fitting baju, nggak bisa ngantor"
"Siap pak, em…bapak beneran mau nikah sama mbak yang kemarin?" tanya Ali ragu ragu. Melihat wajah sendu atasannya, Ali yakin ada sesuatu yang tak beres.
"Iya, cantik nggak menurut kamu?" tanya Okky, ia tersenyum mengejek, mengejek dirinya sendiri.
__ADS_1
"Cantik, cantik banget malahan"
"Kalau kamu dijodohin sama cewek seperti Erika, kira kira kamu mau nggak?" tanya Okky lagi.
"Tergantung pak, tapi saya lebih suka melihat perempuan dari kepribadiannya, dari pada fisiknya. Cantik saja tidak menjamin kebahagiaan, pak"
"Saya setuju"
"Tapi siapa tahu mbak Erika cantik luar dalam pak" kata Ali, mencoba menghibur atasannya. Dia mulai paham, permasalahan yang sedang dihadapi bosnya. Sepertinya bosnya terpaksa menerima perjodohan.
"Luar dalam apanya" gerutu Okky, tapi Ali bisa mendengar dan sedikit demi sedikit bisa menarik benang merah, problematika yang sedang dihadapi Okky. Ali memang pria super peka, walaupun seseorang curhat sepotong sepotong, dia tetap bisa mengetahui permasalahan orang tersebut.
"Emm… pak. Nanti saya boleh pulang tepat waktu?" tanya Ali ragu ragu
"Boleh, saya juga mau pulang, kepala saya sakit banget. Biasanya Kina punya ramuan kalau saya lagi pusing begini" Okky memijat pangkal hidungnya. "Ada janji, tumben nanya gitu?"
"Iya pak, Adik saya ulang tahun. Setiap ulang tahun adik saya, Tim marketing diundang kerumah sama umi saya. Perayaan kecil-kecilan"
Okky mengusap dagunya, terlihat berfikir, " Saya boleh ikut nggak?" tanyanya kemudian. Ali melongo beberapa saat, dia hanya bisa mengangguk sebagai jawaban.
……
"Silahkan masuk pak" Kata Ali yang tadi datang bersamaan dengan Okky.
Keduanya mampir ketoko mainan, membeli sesuatu untuk yang sedang berulang tahun. Ali sudah menceritakan pada Okky, kalau adik perempuannya yang saat ini berulang tahun ke lima belas, berkebutuhan khusus, jadi dia masih menyukai boneka dan mainan layaknya anak kecil. Okky membelikan boneka Teddy yang lumayan besar.
Dinda yang duduk di sofa single langsung melompat ke sofa panjang, disebelah Mila dan Nila. Memberi tempat untuk atasan mereka duduk. Ketiganya duduk berhimpitan dengan gugup.
Kina berjongkok didepan meja, meletakkan minuman yang dia bawa satu persatu, "Minum dulu pak…, mau ikutan ulang tahun juga?" tanya Kina, menatap Okky sekilas.
Okky mendengus, "Iyalah, memang kamu saja yang boleh ikutan" jawab Okky ketus. Entah kenapa, hatinya panas melihat Kina dirumah Ali, menyediakan minuman, seolah Kina bagian dari keluarga itu.
"Hem…lagi dapet!" gumam Kina, Ketiga gadis yang duduk berhimpitan tadi menahan tawa mendengar candaan kina,mereka saling sikut.
__ADS_1
"Itu, yang tadi nolongin kamu, siapa namanya ki?" tanya Okky, menunjuk Dinda.
Dinda berdiri dengan tegap, "Saya Adinda pak" jawabnya dengan suara lantang.
"Terima kasih ya, kamu sudah menolong Kina. Kamu luar biasa, latihan sumo dimana?"
"Karate Pak!" bentaknya, lalu menutup mulutnya yang los dol itu. "Maaf pak, jangan pecat saya"
"Nggak…, paling saya rolling ke bagian keamanan" canda Okky. Dinda meringis kaku, yang lain cekikikan.
Tak lama Ibu Siti, uminya Ali, keluar dengan Syafa, adik Ali yang sedang berulang tahun. Bu Siti menangkupkan kedua telapak tangan didada saat melihat Okky. Okky berdiri dan melakukan hal yang sama.
"Ini, bukannya Bapak yang punya perusahaan ya? Siapa kemarin namanya, umi lupa" tanya umi pada Kina.
"Pak Okky dermawan um" Dinda yang menjawab.
"Iya…pak Okky, maaf ya pak, saya suka lupa, selamat datang dirumah sederhana kami. Saya tersanjung sekali, bapak turut hadir di acara syukuran Syafa. Terima kasih pak Okky"
"Sama sama Ibu, kebetulan saya sedang ada waktu luang"
"Pak, itu teddynya buat syafa?" tanya Kina, jarinya menunjuk boneka teddy bear besar yang ada disamping pintu utama.
"Iya, itu buat syafa. Selamat ulang tahun ya"
"Terima kasih om" ucap syafa dengan girang, bertepuk tangan kecil, lalu memeluk boneka yang di angsurkan Kina padanya.
"Pffftttt......." Dinda menahan tawa, begitu juga dengan Nila dan Mila. Mereka geli mendengar bosnya dipanggil Om.
"Jangan panggil om, panggil Pak Okky, beliau ini bosnya abang kamu" kata Umi sambil mengusap kepala Syafa. Syafa mengangguk, menatap Okky lalu tersenyum lebar. Ada rasa bahagia yang menyusup di hati Okky melihat senyum tulus gadis remaja berkebutuhan khusus itu.
"Assalamu'alaikum…" satria mengucap salam dengan suara keras. Dia datang bersama kevin. "Syafaaaa…hap…py…" satria terdiam saat melihat Okky disana. Padahal tadi sudah semangat akan mengeluarkan suara emasnya, dengan menyanyikan lagu happy birthday to you, untuk syafa.
"Lanjut sat…!" kata Kina, menggoda Satria.
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻