30 Hari Menjemput Jodoh

30 Hari Menjemput Jodoh
Hantu bermata besar


__ADS_3

Ali dan Dinda datang dengan menenteng makanan untuk rekan rekannya, bonus dari bos besar yang sedang bahagia. Cinta itu lucu, seorang Okky rela menukar sebotol minuman pahit dengan berkotak kotak nasi ayam goreng dengan perasaan bahagia. aneh ya?


Melihat Ali, Kina langsung menghampirinya dan menariknya, sedikit menjauh dari yang lain. "Bang, ngapain tadi makanan sama minumannya dikasihin disini sih?" tanya Kina dengan suara berbisik.


"Ceritanya panjang"


"Panjang mana sama bulu mata bang Ali?" tanya Kina dengan kesal


Ali reflek menyentuh bulu matanya. "Tadi itu pak Okky salah paham, dia kira makanan dan minuman itu buat aku. Terus…"


"Ihhh…kan tadi Kina sudah chat bang Ali, nitip obat buat Pak Okky, aku taruh dimeja. Gitu!" Kina memotong ucapan Ali.


"Masak sih?"


"Masak sih, hiiiss…" Cibir Kina, mengulang pertanyaan Ali dengan bibir manyun.


Ali menengok ponselnya, dan benar ada chat dari Kina yang belum sempat dilihatnya. Ali menghela nafas, bisa bisanya dia kegeeran pada Kina. Untung saja tadi tidak ada yang melihatnya senyum senyum sendiri.


……


Sabtu sore, sepulang kerja, Kina berdandan rapi untuk menghadiri pesta pernikahan Dela dan Bagas yang digelar sederhana di panti asuhan, sekaligus tempat tinggal Dela. Rencananya dia akan mengajak Almeera, tapi gadis bercadar itu ternyata harus mengajar menggantikan salah satu ustadzah yang sedang dirawat dirumah sakit. Padahal Almeera sudah bersemangat untuk bertemu dengan adik adik penghuni panti.


Kina pernah sekali mengajak Almeera berkunjung kepanti asuhan, dan Almeera senang sekali bisa dekat dengan adik adik panti asuhan yang polos dan lucu.


Akhirnya Kina berangkat sendiri kepesta pernikahan Dela, dia mengendarai motornya dan melaju dijalan dengan santai. Sesampainya ditempat acara, Kina langsung disambut Tasya. Seperti biasa, gadis itu akan menyambutnya dan menanyakan keberadaan Okky satu pada Oki dua.


"Kakakkkk…" Tasya memeluk Kina yang berjongkok. Matanya sibuk mencari cari seseorang dibelakang sana. Gadis yang memakai rok tutu berwarna biru langit itu terlihat kecewa.


Kina melepas pelukan dan menatap wajah murung Tasya. "Kenapa, nggak suka ya kakak datang? Kakak pulang aja deh" kata Kina, pura pura ngambek.


Tasya panik, "Enggak…enggak…. Kok kakak Okky catu nggak pelnah datang kecini lagi?" tuturnya semakin terlihat sedih.

__ADS_1


Kina merapikan poni tasya denga jari jarinya. "Insya Allah nanti datang, cuma nggak bareng sama kaka Oki dua. Jangan sedih dong" ujar Kina agar Tasya tak bersedih lagi. Dia yakin Okky akan datang, mungkin bersama Ibu Suri. Karena bu Laras, teman lama Ibu Suri.


"Apa kakak Okky catu udah nggak cayang taca cama temen temen lagi?" tanya Tasya dengan raut wajah cemberut.


"Huuus…kata siapa, kakak Okky satu sayang kok, cuma…lagi sibuk kerja. Orang dewasa memang begitu, nanti kalau tasya dewasa, tasya pasti ngerti. Jangan cemberut dong, kan ini hari bahagia kakak Dela sama kakak Bagas. Ya!" Tasya tersenyum lebar lalu mengangguk dengan semangat. Mereka berjalan dengan bergandengan tangan.


Kina membantu Bu Laras yang kewalahan dengan penghuni panti yang masih kecil, mereka berlari kesana kesini tak kenal lelah. Dela dan Bagas tentu tak bisa membantu, mereka sibuk menyapa tamu yang hadir.


Anak anak berkumpul di samping kursi pelaminan sederhana, mereka mengelilingi Kina yang sedang bercerita. Camilan dan minuman sengaja di siapkan Kina disana, agar anak anak tak hilir mudik mengambil ditempatnya.


Okky datang dengan Erika, menggantikan Ibu Suri yang katanya kelelahan. Padahal Ibu Suri sengaja menyuruh keduanya datang kesana, untuk pamer pada bu Laras, calon menantunya lebih cantik dari Dela. Padahal Bu Laras tak peduli.


Mata Okky menangkap visual Kina yang sedang tertawa tawa gembira dengan anak anak disekelilingnya. Gadis yang memakai gamis dan pasmina warna ungu tua itu terlihat semakin cantik di matanya. Okky menunduk saat merasakan ujung kemejanya ditarik tarik.


"Tasya!" Pekiknya dengan wajah gembira. Lalu mengangkat tubuh siswi Tk A itu, memeluknya


"Kakak Okky catu, Jahat…" rengeknya, tangannya melingkari leher Okky dengan erat.


"Taca kangen……kecana yuk. Cama kakak Oki dua " Bibir yang dipoles lipstik merah jambu dan agak belepotan itu tersenyum manis.


"Mas…" Erika mengesah, dia kesal merasa dicueki. "Aku mau duduk!" ucapnya dengan bersungut sungut. Tasya yang takut, menyembunyikan wajahnya dibalik wajah Okky.


"Iya, maaf ya. Tasya ini…"


"Aku nggak nanya soal dia ya. Anak kecil ngrecokin aja ih…" Erika berkata dengan intonasi tinggi dan mata melotot.


Bibir Tasya bergetar, air mata sudah memupuk dan siap tumpah. Dia merosot dari gendongan Okky, berlari menghampiri Kina dan menubruknya. Tangisnya pecah dipelukan Kina, Kina menatap Okky dan Erika sekilas. Dia bingung, kenapa Tasya tiba tiba menangis. Tapi dia tak mau su'udzon. Lebih baik menenangkan Tasya dari pada sibuk mencari cari siapa yang bersalah.


Okky menatap Erika dengan sorot mata kecewa, "Astaghfirullahaladzim…" gumamnya. Dia mengusap wajah dengan kasar.


Erika salah tingkah, dia memang bukan tipe penyuka anak anak. Tapi tak seharusnya bersikap galak, tapi sindrom 'Tuan Putri' dalam dirinya sudah mendarah daging, dia tak bisa berbasa basi sedikit saja walaupun dengan anak kecil.

__ADS_1


Okky melenggang, Erika buru buru menyusul dan langsung menggandeng lengannya. Diam diam Okky menghela nafas berkali kali, untuk meredakan emosinya. Okky menghampiri Dela dan Bagas yang sedang berdiri menyapa para tamu. Dela melongo saat melihat Okky menggandeng seorang wanita cantik.


"Dela, Bagas, selamat menempuh hidup baru. Semoga lekas diberi momongan. Aamiin…" tuturnya, kemudian dia menyalami tangan Bagas.


"Aamiin… terima kasih pak, senang sekali bapak berkenan hadir" Bagas menggoyangkan lengannya yang digandeng istrinya, yang terlihat sedang berfikir itu.


Dela terperanjat, "Eh…iya, terima kasih pak Okky dan mbak, sudah berkenan hadir" Dela menyalami Okky dan Erika bergantian.


"Kenalkan ini Erika"


"Erika…calon istrinya Okky" tuturnya dengan nada bicara khas Erika, yang terdengar angkuh.


Bagas dan Dela mempersilahkan Okky dan Erika untuk menikmati hidangan yang disediakan. Erika duduk dengan melipat tangannya di dada. Tak ada satupun hidangan yang dia inginkan. Dia memilih bermain ponsel, membuka sosial media miliknya, sembari menunggu Okky yang sedang mencicipi makanan dan bercengkrama dengan beberapa donatur panti yang turut hadir.


Okky mengambil kesempatan untuk mendekati kina yang masih membujuk Tasya, dibantu oleh Bu Laras. Tasya sudah tenang, hanya masih cemberut saja.


"Ki, Bu Laras, saya minta maaf ya" ucapnya lirih, dia benar benar merasa bersalah. Salah membawa gandengan.


Bu Laras tersenyum, "Nggak pa-pa nak Okky, maklum anak kecil. Mungkin tasya sudah capek, jadi ngambek deh." Bu Laras mengelus kepala Tasya dengan sayang.


"Taca nggak capek…Taca nggak cuka cama embak yang cantik tadi, matanya gede, celem. Kayak…hantu" Tasya berbicara sambil memelintir ujung pasmina Kina. Dia tak mau menatap Okky.


"Husss…nggak boleh gitu" ucap Kina dengan lembut.


"Kakak Okky cowok, kapan nikah sama kakak Oki cewek. Kayak Kakak Dela sama kakak Bagas" Tanya salah satu anak panti. Membuat Kina mendelik.


"Hmm…kamu ini, pertanyaannya ada ada aja" sahut Kina.


"Kakak Okky satu dan dua kan cuma teman, beda sama kakak Dela dan kakak Bagas" imbuhnya.


"Syama…kan kakak Okky syatu dan dua juga cewek syama cowok, kayak Kakak Dela dan kakak Bagas" jawab salah satu anak laki laki yang hampir seumuran dengan Tasya. Kina menggaruk pipinya.

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2