
Okky memutuskan menginap dikantor karena banyak sekali pekerjaan yang harus dia selesaikan, setelah tiga minggu meninggalkan kantor. Tadi sore, Kina menelfonnya, meminta ijin untuk kembali bekerja. Gadis 23 tahun itu mulai bosan berdiam diri. Okky menyetujuinya dan mengembalikan jabatan Kina sebagai sekretarisnya, tentu saja agar dirinya lebih mudah mengawasi Kina dan menjauhkan Kina dari karyawan lain yang siap menyerangnya dengan tuduhan-tuduhan tak berdasar.
Okky bukannya tak tahu gosip tentang dirinya dan Kina yang beredar dikantor. Hanya saja dia terlalu malas meladeni hal-hal.seperti itu, selama itu hanya berupa gunjingan-gunjingan, dia akan diam saja. Tak mungkin menutup mulut semua orang, kita hanya punya dua tangan, lebih baik gunakan untuk menutup kedua telinga kita.
……
Pagi-pagi sekali Okky pulang kerumahnya untuk mandi dan beganti pakaian, serta menjemput Kina. Gadis itu tak punya kendaraan sekarang, motornya rusak parah karena insiden malam itu.
Kina sedang mematut penampilannya dicermin, saat suara ketukan terdengar dipintu kamar yang ia huni.
"Ya, sebentar mbak Nur"
Saat pintu terbuka, rupanya bukan mbak Nur, tapi Okky yang sudah rapi dan wangi yang berdiri dibalik pintu.
"Pak Okky, kapan datang?"
"Jam enam tadi, ambil baju. Semalam nginep dikantor, kerjaan kayak nggak ada habisnya" Kina hanya ber O tanpa suara.
"Sarapan yuk, udah siap" ajaknya.
"Iya pak, sebentar saya ambil tas, biar nanti sekalian berangkat"
Kina berjalan pelan menuju ranjang, tempat tasnya tergeletak. Semua yang dipakainya saat ini, baju baru pemberian Okky, kecuali tas yang baru saja diambilnya. Okky tak memberinya ijin pulang kerumah untuk mengambil barang-barang, pria itu malah membelikan semua perlengkapan baru yang Kina butuhkan. Kina bukan tipe wanita gila merek, prinsipnya dalam memilih sesuatu, terutama baju, kenyamanan nomor satu. Jadi Okky tak perlu menguras tabungannya hanya untuk membelikan perlengkapan dan pakaian untuk sekretarisnya. Mungkin harga satu potong baju Okky, setara dengan tiga potong baju Kina.
"Lho, kok pak Okky masih disini?" tanya Kina, saat melihat Okky masih berdiri diambang pintu kamar.
"Nungguin kamu, siapa tahu butuh bahu untuk bersandar"
"Saya butuhnya lengan pak bukan bahu"
"Nih!" Okky menyodorkan lengan kanannya dan langsung digenggam oleh Kina sebagai penopang.
Mbak Nur yang melihat keduanya berjalan beriringan, jadi senyum-senyum sendiri. "Cocok pak" ucapnya.
Okky tersenyum lebar, "Tuh Ki, kata mbak Nur kita cocok" ucapnya, sambil menarik kursi untuk diduduki Kina.
__ADS_1
"Kaya anak yang lagi nuntun ibunya yang asam urat, gitu kan mbak Nur?" canda Kina.
"Eh, bukan gitu. Kaya penganten baru mbak Kina" Kina hanya tersenyum, menanggapi candaan mbak Nur.
……
Ibu Suri, Ammar dan Okta sedang sarapan bersama, sebelum menjalankan aktifitas masing-masing. Ibu Suri berkali-kali ingin bertanya perihal kepulangan Okky pada Okta, tapi ia ragu, gengsi lebih tepatnya. Tapi ia juga penasaran, kenapa anaknya belum juga terlihat batang hidungnya di meja makan.
"Ta!"
"Hmmmm…"
"Kakak kamu jadi pulang?"
"Enggak" terlihat guratan kekecewaan diwajah ibu Suri mendengar jawaban Okta.
"Dia nginep dikantor bun, kerjaannya banyak banget. Kemarin Ammar main kekantor"
"Jadi, dia udah ngantor lagi? " tanya ibu Suri pada Ammar.
Okta menatap bundanya dengan mata menyipit, "Kangen ya? Samperin gih, kasian, anaknya lagi sibuk cari uang buat beli tas kulit buaya darat buat bundanya"
Ibu Suri mencibir, Ammar hanya geleng-geleng kepala. Sepertinya suasana rumah berangsur normal. Tidak begitu tegang, seperti beberapa minggu lalu. Tinggal menunggu Okky kembali kerumah saja, dan semua akan pulih. Ammar rindu, rindu dengan kehebohan keluarga itu. Rindu dengan candaan Okta dan Okky saat mereka berkumpul untuk sekedar menonton tv sambil mengobrol. Keluarga kandung Ammar, semuanya pendiam dan kalem seperti dirinya, jadi dia sangat menikmati kegaduhan dirumah mertuanya.
……
Okky baru saja memarkirkan mobilnya, diparkiran khusus untuknya. Saat melirik gadis disebelahnya, ia bisa melihat ada kegalauan diwajah gadis itu.
"Mikirin apa?" tanya Okky pada Kina.
"Cara jalan sampai pintu lift"
Okky tertawa, "Kirain mikirin apa, ya kayak tadi aja, pegangan tangan saya"
Kina menatap lengan kiri Okky, lalu berfikir sejenak. "Jangan deh, saya jalan sendiri saja pelan-pelan" ucapnya kemudian.
__ADS_1
"Yakin bisa?" Kina mengangguk dengan mantap.
Baru saja turun dari mobil Okky, beberapa pasang mata sudah menatapnya dengan tajam. Tapi ada juga yang melihatnya biasa saja, bahkan ada yang menyapanya dengan ramah. Ya, setiap orang akan menunjukkan reaksi berbeda saat mendengar sebuah berita.
Mata Kina menangkap sosok Dinda yang baru saja turun dari boncengan motor Ali. "Dinda!" panggilnya, sambil melambaikan tangan.
Dinda buru-buru menyerahkan helmnya pada Ali dan berlari menghampiri Kina. "Mbak Kinaaa" menubruk tubuh Kina hingga terhuyung. Untung saja tertahan body mobil. Kina memekik tertahan, punggungnya lumayan nyeri.
Okky yang berdiri disisi mobil yang lain, menatap Dinda dengan kesal. "Kamu lagi, kalau sampai Kina kenapa-kenapa saya minta pertanggung jawaban. Main tubruk aja" omelnya, persis seperti bapak-bapak menjaga anaknya.
Dinda tersenyum kaku. Kayanya tadi nggak ada dia deh. Berasa hak milik si bapak. protes Dinda dalam hati.
"Maaf pak, saya cuma terlalu bahagia"
Setelah memarkirkan kendaraannya dengan benar, Ali ikut menghampiri Kina. "Kina, sehat?"
"Alhamdulillah bang" jawab Kina dengan senyum mengembang.
"Alhamdulillah, saya cuma mau bilang, tutup telinga kamu rapat-rapat. Kamu punya kami, jika ingin mengeluh atau meminta bantuan"
"Makasih bang, makasih Dinda. Semoga kalian jodoh" ucapnya lalu tertawa pelan.
Dinda melotot tajam, "Lah, kok larinya kesana. Semoga naik ga--ji--eh bercanda pak, maaf" dia lupa lagi, kalau ada pemilik perusahaan berdiri tak jauh dari mereka.
Okky tak menanggapi ucapan Dinda, "Ki, kamu duluan aja, bareng si Dina itu" Okky menunjuk Dinda dengan dagunya, "Saya mau ambil barang-barang dulu dijok belakang"
"Dinda pak!!" protes Dinda dengan suara keras menggelegar. Kina tertawa tanpa suara sambil menutup telinga yang berdengung.
"Nggak taulah, pokoknya kamu" jawab Okky tanpa dosa. Dinda langsung cemberut. Kina semakin terbahak melihat ekspresi wajah Dinda. Andaikan yang berkata bukan Okky, pasti sudah mendapat amukan dan tendangan dikaki dari Dinda.
Ali mengiringi Kina dan Dinda dari belakang. Dinda terus mengajak Kina berbicara, membahas apapun yang terlintas diotaknya, yang penting bisa mengalihkan Kina dari tatapan tajam dan bisik-bisik beberapa rekan kerja yang berpapasan dengan mereka.
"KINA!" suara penuh amarah yang begitu familiar ditelinga Kina, menggema diseluruh sudut lobi kantor. Mengalihkan perhatian semua orang kesumber suara. Kina, Dinda dan Ali menoleh dan melihat Ibu Suri, yang sedang menatap Kina dengan tajam, seolah ingin menusuknya dengan tatapan mata tua yang dipenuhi kilat amarah itu.
"Masih punya muka kamu, datang kekantor saya. Puas kamu, sudah merusak kehidupan anak saya? Hah!! Puas kamu?!" bentaknya, seperti menyalurkan semua emosinya yang sudah tertahan sejak lama.
__ADS_1