
Hari ini, Kina kembali bekerja dengan tubuh yang sudah segar. Sakit dipunggungnya memang masih ada, tapi tak separah beberapa hari lalu.
Terpaksa, dirinya harus bermanja, minta di jemput babang ojol, karena motornya masih di parkiran kantor. Kina turun dipinggir jalan, sengaja ingin berjalan kaki sedikit, untuk berolah raga.
Saat tengah menyapa dan sedikit basa basi dengan satpam yang bertugas menyebrangkan jalan untuk para karyawan, klakson mobil yang begitu nyaring memekakkan telinga, membuat ia dan pak satpam terperanjat. Ternyata bos besar, datang dengan wajah tak sedap dipandang mata.
Kina dan pak satpam mengangguk sebagai sapaan, Okky yang membuka jendela bagian kemudi diam saja, melirikpun tidak. Kina hanya bisa menghela nafas.
"Mbak Kinaaaa……" teriak Dinda, saat melihat Kina diambang pintu ruangan divisi marketing. Dinda menghambur kepelukan Kina. Kina yang tak siap, terdorong dan terbentur kusen pintu.
"Aaww…ssshhh…" rintihnya, merasakan nyeri dipunggung.
Dinda mengusap punggung Kina dengan lembut. "Mbak maaf, aku nggak…" kata katanya terpotong, saat suara bentakan terdengar nyaring ditelinga mereka.
"Kamu bisa nggak, nggak usah sembrono. Sudah tahu temannya baru sembuh main tubruk saja. Kalau ada apa-apa sama dia, kamu mau tanggung jawab? Ini kantor, bukan tempat bermain, jaga sikap kamu!" bentak Okky dengan berapi-api. Semua terkejut, tak pernah sebelumnya Okky berucap dengan begitu garang, apalagi pada karyawan wanita.
"Pak…istighfar! Astaghfirullahaladzim" Kina mengingatkan. Okky buru-buru menarik nafas dalam-dalam, menetralkan emosi didadanya. Dia beristighfar dalam hati.
"Ma…maaf pak, maaf mbak Kina" ucap Dinda dengan mata berkaca-kaca dan wajah tertunduk. Malu dan takut, bercampur menjadi satu. Kina menggenggam tangannya dan menarikya masuk, saat Okky sudah melenggang tanpa sepatah katapun.
"Jaga sikap deh Din" kata Mila
"Kamu sih Din, grasak grusuk" tambah Satria
"Seenggaknya tunggu mbak Kina masuk dulu kalau mau peluk peluk, aku kan juga mau" imbuh Kevin, modus.
"Efek galau tak berkesudahan. Cinta…deritanya sungguh tiada akhir" Nila mendramatisir keadaan.
"Sudah…nggak usah saling menyalahkan. Aku nggak apa-apa kok" Kina memperhatikan wajah Dinda, dan menarik dagunya. "Kamu nangis gara gara dibentak pak Okky? Dia lagi banyak masalah, jangan kamu ambil hati ya. Mungkin dia khilaf" ujarnya dengan senyuman.
"Dia juga lagi banyak masalah mbak" Satria menimpali dari balik meja kerjanya.
Sebenarnya teman satu tim Dinda, mulai kesal karena Dinda masih saja bergalau ria, padahal kejadian dia putus dan gagal nikah sudah terjadi beberapa hari lalu. Mereka bukan tak simpati pada Dinda, hanya saja, rasanya kurang bijaksana menunjukkan kegalauannya dikantor. Pekerjaan Dinda juga jadi berantakan karena tak fokus.
"Mau cerita?" tanya Kina. Dinda malah sesenggukan, Kina menarik Dinda keruangan kapten tim dan mengajaknya duduk. "Kenapa?" tanya Kina. Tangannya mengelus lengan Dinda dengan lembut.
"Aku gagal kawin mbak…haaaa…hik…hik…" nangis lagi.
__ADS_1
"Nikah!!" Kina membenarkan ucapan Dinda. "Masalahnya apa?"
"Dia…dia…hamilin cewek lain. Huuaa……aku nggak nyangka, laki laki yang aku banggain sepanjang waktu selama beberapa tahun ini, ternyata brengsek!" selama berpacaran dengan sang kekasih yang bernama Bima, Dinda memang kerap memuji dan membangga-banggakan kekasih, teman sekolah, sekaligus tetangganya itu.
"Tapi kamu nggak hamilkan, masih utuh kan?"
"Apanya yang utuh?" tanya Dinda kebingungan
"Selaput darahnya" jawab Kina dengan santai.
Mata Dinda membola, "Ihhhhh…mbak Kina, masihlah…Mbak Kina kira aku ini cewek apaan?!" rengeknya
"Tapi bibirnya udah enggak perawan" ledek Kina, bermaksud menggoda Dinda.
"Mbak Kiiinaaa…" Dinda merengek, dia malu, apa yang diucapkan Kina tepat sekali.
"Din, harusnya kamu bersyukur, Allah menunjukkan siapa laki laki itu sebelum kalian menikah. Bayangin aja, kalian udah nikah, tiba tiba ada cewek dengan perut buncit minta pertanggung jawaban suami kamu. Pasti lebih sakit dan malu, kan Din?"
"Ya…ya…iya. Kenapa nggak bisa nggak usah selingkuh aja gitu?" keluhnya dengan wajah cemberut.
"Tapi sakittttt……" Dinda menepuk dadanya.
"Anggap saja sakit itu sebagai penggugur dosa yang kamu timbun selama pacaran sama dia"
"Jadi ingat kata-kata mbak Kina soal mengendalikan perasaan atau dikendalikan perasaan. Dan, aku merasa bodoh sekarang, memilih dikendalikan perasaan. Waktu itu aku fikir, kata-kata mbak Kina hanya omong kosong karena mbak Kina jomblo akut, ternyata aku yang salah. "
Kina mendelik, "Jomblo akut gundulmu!" umpat Kina
Dinda nyengir, "Yakan mbak Kina nggak pernah pacaran"
"Pernah, sehari doang tapi. Itupun dipaksa"
"Pasti pak Okky…ya kan?"
"Sok tahu!"
Sementara itu, Okky mengusap wajahnya berkali-kali. Dia menyesal telah membentak Dinda, apalagi didepan Kina. Dia takut, Kina akan berfikir, kalau dia bos arogan sekarang.
__ADS_1
Tapi, rasa khswatir saat melihat wajah kesakitan Kina. Seolah menghilangkan sedikit kewarasannya, spontan emosinya meluap. Apalagi, didepan tadi dia sudah dibuat kesal melihat Kina beramah tamah dengan satpam muda.
Dia iri, dia juga ingin berbincang dan menatap senyum Kina lagi, seperti dulu. Dia rindu semua candaan dan cerita cerita tidak penting gadis itu. Tapi, dia sudah berjanji pada bunda untuk tak dekat-dekat Kina lagi. Dia tak mau membuat bundanya cemburu lagi. Lagi pula, jika dia masih sering mengobrol dengan gadis itu, perasaannya pasti semakin sulit dia hilangkan. Dia tak mau itu, punya perasaan terhadap wanita lain, disaat dirinya sudah menikah.
Pintu diketuk, Okky mendesah kasar saat melihat siapa yang datang dari balik dinding kaca. Kina, wanita yang membuatnya galau sejak datang, malah menemuinya.
"Masuk!"
"Selamat pagi pak" sapa Kina ramah.
"Hmm…"
"Saya mau meminta tanda tangan untuk berkas ini, karena tidak ada sekretaris jadi saya langsung ke pak Okky." Kina menyodorkan sebendel dokumen tak terlalu tebal.
"Maaf kalau saya salah, saya hanya …" imbuhnya, karena melihat wajah masam Okky.
"Kamu tidak salah, mulai sekarang semua pekerjaan langsung saya tangani sendiri. Saya tidak ada sekretaris lagi" potong Okky.
"Baik pak, saya mengerti"
Okky menandatangani setiap lembar, mengeceknya terlebih dahulu. Wajahnya terlihat kaku dan dingin. Kina jadi enggan untuk bertanya atau sekedar mengajak berdiskusi ringan mengenai perusahaan.
"Sudah" Okky meletakkan bolpoin dan mendorong pelang kertas dihadapannya.
"Terima kasih pak, saya permisi" Kina berdiri setelah merapikan kertas sejenak.
"Kina…emm…" Kina memandang Okky, menunggu kata apa yang akan keluar dari mulut bosnya. "Lain kali, tolong handphone jangan sampai ketinggalan. Bagaimana jika saya ingin menghubungi kamu. Masalah perkerjaan!"
"Maaf pak, kemarin benar-benar buru-buru. Saya tidak sengaja meninggalkannya di kantor. Apa bapak menghubungi saya? "
puluhan kali Kinaaaa…teriak Okky dalam hati.
"Emm…tidak. Kan seumpama" bohongnya
"Oh…baik, saya minta maaf. Kalau begitu saya permisi" Okky hanya mengangguk sekilas, dia baru berani menatap Kina setelah mantan seharinya itu balik badan dan berjalan keluar.
Wajah Okky mendadak sendu, ingin sekali bertanya keadaan Kina. Dia sudah melihat rekaman CCTV saat kejadian, dan dia semakin kecewa pada sikap arogan Erika. Okky merasa bersalah, lagi lagi Kina harus terlibat dalam masalahnya. Apa tak cukup bundanya saja yang salah paham dan membenci Kina, kenapa Erika jadi ikut ikutan.
__ADS_1