30 Hari Menjemput Jodoh

30 Hari Menjemput Jodoh
Sindrom Tuan Putri


__ADS_3

Okky sampai dirumah Erika tepat pukul delapan pagi. Dia disambut dengan baik oleh kedua orang tua Erika yang kebetulan ada dirumah. Sambil menunggu Erika bersiap siap, Okky mengobrol dengan kedua calon mertuanya.


"Jadi kamu pegang perusahaan almarhum ayah kamu sejak masih kuliah?" tanya papa erika


"Betul om, karena adik adik ayah dan Bunda punya kesibukan masing masing, jadi tidak ada yang bisa membantu mengelola. Mereka hanya membimbing saya saja" jawab Okky dengan sopan. Papa Erika terlihat mengangguk anggukkan kepala.


"Wah…hebat ya pah calon mantu kita?" puji Mama Erika dengan wajah bangga.


"Terima kasih tante"


"Tapi kamu tidak sedang punya wanita lain kan sekarang? em…maksud om, kamu kan ganteng dan mapan, masak iya nggak ada yang naksir?"


"Saya tidak sedang berhubungan dengan siapapun om" kata Okky. Tak mungkin dia berkata sedang mencintai wanita lain, dia hanya menjawab secara aman saja. Karena dirinya dan wanita yang dia cintai memang tak ada ikatan apapun.


"Erika itu istimewa buat kami, dia itu sangat berharga, makanya kami jaga dia. Kami juga tidak pernah ijinkan dia pacaran atau dekat dekat dengan laki laki nggak jelas. Erika itu manja, jangan kaget ya kalau dia agak cuek sama kamu" kata mama Erika.


"Iya tante"


"Om berharap, jika kalian sudah menikah nanti. Kamu bisa memberikan kehidupan seperti yang kami berikan. Saya setuju dengan perjodohan ini, keran saya rasa kamu laki laki yang tepat, yang bisa memenuhi semua kebutuhan anak saya kelak"


"Insya Allah om" lagi lagi hatinya tercubit. Secara tidak langsung, orang tua Erika menerimanya sebagai menantu bukan karena dia sebagai Okky. Tapi dia sebagai pengusaha kaya yang bisa menjamin kehidupan anaknya.


"Oh iya, kemarin tante sudah bilang bunda kamu. Cincin yang kemarin dipilih Erika diganti model lain. Nanti kalian sekalian ke toko perhiasan lagi ya, buat mastiin"


"Iya tante"


Setelah menunggu hingga satu jam, Erika keluar dengan penampilan bak model papan atas. Semua serba bermerk dan mewah. Okky hanya menghela nafas, kenapa harus seheboh itu hanya untuk fitting baju. Dia juga kesal karena harus menunggu lama, padahal dirinya sudah berusaha tepat waktu.


Erika dirumah dan di luar ternyata sangat berbeda. Tadi, saat dirumahnya, Erika bicara dengan nada lembut dan banyak tersenyum. Dia juga seperti memperlihatkan perhatiannya pada Okky, sampai Okky berfikir, gadis itu sudah berubah.


Ternyata dia salah, setelah keluar rumah. Dia menampilkan wajah angkuhnya, nada bicaranya juga seperti perintah. Tak ada perhatian dan senyuman lagi.


"Aku hanya ingin jujur didepan kamu sebagai calon suamiku, supaya nantinya kamu nggak kaget saat kita sudah hidup bersama sama. Karena aku paling nggak suka disuruh berubah" begitulah penuturan Erika, dia menjelaskan sendiri sikapnya tanpa Okky bertanya. Okky hanya mengangguk sebagai jawaban. Dia bisa apa selain ikhlas menerima, bagaimanapun sikap calon istrinya itu.

__ADS_1


Sesampainya dibutik, Okky semakin malu saat Erika membentak pegawai butik yang dianggapnya lelet. Padahal itu butik milik kakaknya Ammar, mau ditaruh dimana muka Okky setelah ini.


"Maaf, bisa saya bantu?" tanya seorang wanita berhijab dengan suara lemah lembut.


"Aduh…yang pakaiannya nggak ribet aja lelet, apalagi yang bajunya ribet kaya kamu" dia menatap sinis pada wanita yang memakai gamis itu.


Okky mendelik, "Erika, tolong jaga bicara kamu. Dia ini pemilik butik, dia kakak dari suami Okta" dia berusaha berbicara sehalus mungkin. Padahal hatinya sudah menggeram, kesal dan malu bercampur disana.


"Oh…maaf ya!" ucap Erika dengan wajah tidak merasa bersalah sama sekali.


"Eh…Mas Okky ternyata, maaf saya tidak mengenali. Sudah lama nggak ketemu"


"Nggak pa-pa Mbak Rum, kita sama sama sibuk"


"Ini calon istri kamu? Cantik banget, kenalkan saya Rumaisa. Kakak iparnya Okta" ucapnya dengan ramah dan lemah lembut. Mengulurkan tangannya kearah Erika.


Erika menyalaminya sekilas, "Erika…ini kalau gaunnya bagian atasnya dirubah bisa nggak ya mbak, saya mau bagian pundaknya lebih lebar" ujarnya tanpa basa basi.


"Bisa, untuk gaun pengantin modern biasanya yang mengerjakan pegawai saya, saya khusus untuk gaun muslimah. Tapi berhubung ini permintaan spesial dari Bunda Suri, jadi akan saya kerjakan sendiri. Mbak Erika bisa jelaskan pada saya bagian mana saja yang mau dirubah, nanti saya buatkan sketsanya"


"Bisa, saya bisa buat gaun apa saja, hanya saat ini mengkhususkan diri untuk gaun muslimah"


"Oh…yaudah ayo, buruan. Setelah ini kami harus ketoko perhiasan, aku nggak mau waktuku cuma habis disini"


"Mari, silahkan" Rumaisa mempersilahkan dengan begitu sopan.


Okky kembali dibuat geleng-geleng kepala melihat tingkah Erika. Padahal dia sudah tahu siapa Rumaisa, tapi tak mengubah intonasi bicaranya sedikitpun. Harusnya dia lebih sopan karena Rumaisa ini lebih tua darinya, bahkan dari Okky juga. Untung saja ibu satu anak itu mirip seperti adiknya, Ammar, sabar dan bijaksana.


Urusan gaun dan jas sudah beres. Untuk kebaya akad dia sudah memesan bersama Ibu Suri kemarin. Sekarang mereka sedang perjalanan menuju toko perhiasan milik Margaret.


"Aku lapar, berhenti di resto depan!" kata Erika. Terdengar seperti memerintah.


Okky meliriknya sekilas, "Iya…apa kamu tidak terbiasa berkata tolong?"

__ADS_1


"Untuk apa?"


"Ya untuk minta tolong. Supaya terdengar lebih sopan, apalagi dengan yang lebih tua"


"Oh…" jawabnya dengan singkat.


Okky menghela nafas, sepertinya dia harus banyak-banyak bersabar menghadapi sikap Erika yang terkena sindrom 'Tuan Putri' itu. Sesampainya di restoran, Erika langsung memesan beberapa menu tanpa bertanya pada Okky.Okky menelan ludah saat melihat semua pesanan Erika bercita rasa pedas.


"Makan mas, kenapa dilihatin aja. Ini aku yang bayar, jangan kuatir"


"Bukan begitu, tapi aku nggak bisa makan pedas"


Erika tertawa lebar, "Kamu itu laki laki dewasa mas, apa nggak malu, makan pedes dikit aja nggak bisa. Ini nggak pedes pedes banget kok, cobain dulu. Laki-laki itu nggak jantan kalau nggak doyan pedes" Erika mulai memakan makanannya dengan lahap. "Mas kamu itu harus menyesuaikan diri sama aku, aku itu pecinta pedas. Aku nggak bisa makan kalau nggak pedas, nggak selera" imbuhnya.


Okky yang kesal dan kelaparan, mau tak mau menyantap makanan didepannya. Dia memilih yang tidak terlalu pedas. Setelah makan, benar saja perutnya merasa tidak nyaman. Tapi dia masih bisa menahannya.


Mereka melanjutkan perjalanan, menuju toko perhiasan. Seperti biasa, Margaret menyambut mereka dengan ramah. Margaret memperhatikan wajah Okky yang terlihat gelisah.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Margaret, dia khawatir.


"Iya tante, aku nggak pa-pa kok" Okky tersenyum agar Margaret tak khawatir padanya.


"Kamu duduk saja kalau memang nggak enak badan, biar tante yang temani Erika"


"Iya, makasih ya tante" Margaret hanya tersenyum lalu menepuk lengan Okky dengan lembut.


Setelah hampir dua jam, Erika menghampiri Okky yang sedang duduk. Okky berkali kali menyeka keringat di keningnya. Padahal ruangan itu ber AC, tapi keringatnya tak henti hentinya menetes.


Erika duduk di sebelahnya dengan cuek, sibuk memposting sesuatu di sosial medianya yang punya banyak follower itu. Margaret menghampiri mereka dan melihat wajah Okky yang pucat, lalu melirik Erika yang terlihat tak peduli.


"Ini sudah deal ya, calon istri kamu pilih yang ini? Udah nggak boleh tukar tukar lagi. Yang kemarin sebenarnya udah jadi, berhubung sama anaknya Suri aja aku bolehin tukar"


"Iya tante, maaf ya udah ngrepotin" kata Okky merasa tak enak.

__ADS_1


"It's oke, ini notanya, mau dibayar kapan terserah kamu. Waktu ambil barangnya sekalian juga boleh" Mata Okky terbelalak melihat harga yang tertera di nota, harganya berkali kali lipat lebih mahal dari yang kemarin dipilih Erika.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2