
Okky duduk di sofa ruang tamu rumah Kina dengan gelisah. Entah sudah berapa kali ia melongokkan kepala kearah dalam rumah. Entah berapa kali juga, ibu suri menggerutu, melihat sikap tidak sabaran anaknya. Sementara Okta dan Ammar malah asik sendiri dengan Ori.
Ibu Suri memukul punggung Okky yang kini membelakanginya, "Ck, sabar sedikit kenapa sih? Dari tadi ngintipin kedalam terus, namanya bikin minum ya butuh waktu"
"Awas bintitan!" ledek Okta
Okky menempelkan jarinya kebibir, "Sssttt…berisik" ucapnya dengan kesal.
"Bun, ini kalau sampai ditolak, siap-siap aja pesan kamar di RSJ"
"Enggak, aku yakin diterima" kata Okky dengan percaya diri.
Ibu Suri menghela nafas sejenak, lalu meraih jemari Okky dan menepuk-nepuknya dengan lembut. "Optimis boleh, tapi kamu tetap harus mempersiapkan hati kamu untuk kemungkinan terburuk. Kadang ekspektasi kitalah yang melukai hati kita sendiri" tutur ibu Suri dengan bijaksana.
Melihat semangat Okky yang menggebu-gebu, justru membuatnya takut. Takut Okky akan terpuruk jika Kina menolak lamarannya. Bagaimanapun kemungkinan itu tetap harus dipertimbangkan.
"Kok bunda ngomongnya gitu sih?" tanya Okky dengan wajah sendu.
"Bunda hanya menasehati. Biar bagaimanapun, bunda pasti mendoakan yang terbaik buat kamu. Kalau lamaran kamu diterima, bunda akan jadi orang paling bahagia"
"Terima kasih bunda" Okky memeluk bundanya dengan erat.
Kina sudah berdiri di dapur rumahnya hampir sepuluh menit. Empat cangkir teh sudah siap diatas nampan. Tapi sepertinya si pembuat teh itu yang belum siap. Berulang kali mencoba menenangkan jantungnya yang berdebar-debar tidak karuan, namun selalu gagal. Sudah empat kali ia mengangkat nampan berisi cangkir-cangkir teh hangat dan sepiring brownis kukus buatannya, namun saat ia hampir melangkah, debaran itu datang lagi. Ia letakkan nampan dan menarik nafas dalam-dalam.
Percobaan keenam, akhirnya membuatnya memaksakan diri untuk melawan kegugupannya. Ia merasa sungkan, sudah membiarkan tamunya menunggu terlalu lama.
Kemunculan Kina membuat Okky bernafas lega. Okky berdiri, meraih nampan dan meletakkannya diatas meja kaca. "Tangan kamu gemeteran" bisiknya. Kina tak menanggapi, ia mendudukan dirinya di sofa single.
Ibu Suri tersenyum melihat wajah gugup Kina, "Nah, yang ditinggu akhirnya keluar. Langsung saja ya, Kina?" ucapnya.
"Emmm…silahkan diminum dulu"
"Nanti aja, jadi---"
"Dasar nggak sabaran!" cibir Okta.
"Jadi saya dan keluarga datang kemari, untuk meminta jawaban atas lamaran saya tiga hari lalu. Sesuai janji kamu, kamu akan memberi jawabannya sekarang" Baru saja Kina akan membuka mulut, Okky sudah menyela lagi. "Dan jangan lupa, kamu sudah berjanji akan menjawab YA!" katanya dengan tak tahu malu.
__ADS_1
Okta mencebik, "Dih, maksa"
Ammar geleng-geleng kepala, "Mas, lebih baik kita dengarkan jawaban Kina dulu. Biarkan dia memutuskan, sesuai hatinya tanpa paksaan" usul Ammar.
"Nggak bisa, pokoknya harus YA!" sejujurnya dia takut ditolak.
"Mas, bebaskan Kina memilih, pernikahan itu ibadah terpanjang, Insya Allah dijalani seumur hidup. Jadi tidak baik jika diawali dengan paksaan"
"Baiklah" Okky menarik nafas dalam, "Kina, maukah kamu menerima lamaran saya dan menikah dengan saya?"
Hening!!
Semua menahan nafas, menanti kata apa yang akan keluar dari bibir Kina. Kina semakin gugup saat semua mata memandang kearahnya.
Satu detik
Dua detik
Lima detik, dan
"Alhamdulillah" Ucap semuanya. Aura canggung kini berubah dengan suasana bahagia.
Okky memeluk ibu Suri dan menciumi pipinya berkali-kali, ibu Suri yang kesal menjepit bibir Okky dengan jarinya. "Oke, besok kita ijab qabul ya, kamu maunya dimana?"
"Emmm, tapi ada yang ingin saya sampaikan. Ini soal ayah saya" Kina mengedarkan pandangan sejenak, "Seperti yang pak Okky ketahui, ayah kandung saya masih hidup dan sudah bahagia dengan keluarga barunya. Sebagai anak perempuan, tentunya saya membutuhkan beliau sebagai wali nikah. Jadi…"
"Kamu tahu dimana rumah ayah kamu?" potong Okky.
"Tahu, di kota sebelah"
"Mari kita temui beliau, saya akan minta restu dan memintanya menjadi wali nikah kita"
"Sekarang?"
"Ya, sekarang"
"Baiklah, memang lebih baik disegerakan sebelum Kina berubah fikiran" kata Ammar, disertai tawa. "Kalian selesaikanlah urusan dengan ayah Kina, kita akan pulang lebih dulu dan menunggu kabar baik dirumah"
__ADS_1
"Ya, semoga semuanya berjalan lancar. Bunda akan doakan dari rumah, bunda tunggu kabar baiknya, ya!"
……
Kini tinggal Kina dan Okky didalam rumah itu, keduanya baru saja mengantar keluarga Okky menuju tempat dimana mobil Ammar diparkirkan.
Kina bisa melihat dengan jelas aura kebahagiaan yang meliputi Okky. "Pak" panggilnya.
"Saya bukan bapak kamu, KINA!"
"Iiihhh…baru diterima lamarannya sudah galak"
"Ya habisnya saya kesel, dimana sih ada orang yang manggil calon suaminya pak, cuma kamu kayanya"
"Ya maaf, namanya juga kebiasaan"
"Yaudahlah, berangkat sekarang yuk. Kamu nggak telfon ayah dulu kalau mau kesana. Takutnya beliau sedang pergi"
"Ayah selalu dirumah, beliau punya usaha travel dan rental mobil dirumah"
"Jadi sebelum kita berangkat, saya akan memberikan gambaran, bagaimana hubungan kami" Kina menghela nafas, "Hubungan kami selama ini tidak begitu baik, semakin parah semenjak beberapa bulan lalu, saat ayah ingin meminjam uang pada saya dengan jumlah yang cukup banyak untuk anak kesayangannya jalan-jalan kekorea. Tapi karena saya tidak punya uang sebanyak yang beliau minta, saya hanya mentransfer empat juta dan itu membuat ayah murka dan tidak mau berhubungan dengan saya lagi" tutut Kina dengan wajah sedih.
"Maaf ya Ki, tapi ayah kamu keterlaluan sekali. Setahu saya, bukankah kamu sudah hidup mandiri tanpa bantuan ayah sejak ibu kamu meninggal?"
"Untuk masalah itu saya tidak bisa menceritakannya sekarang. Saya akan menceritakan setelah pak Okky sah menjadi suami saya"
"Oh ya pak, saya ada permintaan. Kita kesana naik motor saja ya, terus penampilan pak Okky jangan seperti itu. Kita ambil kaos dulu kerumah bapak, ya?" pinta Kina.
"Ini didalamnya saya pakai kaos kok, tinggal buka kemejanya saja"
"Oke, bapak tunggu disini sebentar ya, saya mau beli sesuatu kewarung"
……
Kina menatap tampilan Okky dengan puas. Kaos oblong dipadukan jaket hadiah motor, celana jeans dan sendal jepit bertali oranye. Cukup menyamarkan Okky agar tak terlihat sebagai pengusaha, meskipun wajah dan kulit bersih laki-laki itu tak bisa menipu. Setidaknya bisa sedikit mengelabui ibu tirinya.
Kina takut, jika Okky datang dengan baju branded dan mobil mewahnya, ibu tirinya pasti akan memerasnya. Bukannya suudzon, hanya saja Kina terlalu hafal watak ibu dan adik tirinya. Meski mereka hidup berkecukupan sebagai pengusaha travel dan rental, tapi mereka sering sekali merecoki uang Kina, semenjak gadis itu mulai bekerja di perusahaan Okky. Apalagi setelah mereka tahu jabatan Kina dikantor, mereka semakin gencar meminta uang pada Kina.
__ADS_1