
Kina meletakkan keningnya dimeja sebuah restoran ayam goreng cepat saji. Dia sedang menangis, meratapi sikap ayahnya padanya. Nasi dan ayam goreng didepannya, tak ia hiraukan.
Okky yang duduk disebelah kiri Kina mengulurkan lengan kanannya sebagai bantalan kening Kina, ia meletakkan kepalanya dengan posisi miring dan menatap wajah Kina dari samping.
"Sudah dong cantik, jangan nangis lagi. Nanti dikira aku jahatin kamu lho" bujuknya. Kina menolehkan wajahnya dan mendapati Okky yang sedang tersenyum.
"Kenapa ayah jahat sama aku, aku merasa seperti dijual kalau begini" tanyanya lirih
Okky mencubit hidung Kina dengan gemas. "Hei, tapi aku nggak menganggap uang itu sebagai akad jual beli, aku anggap sebagai sedekah"
"Tapi---"
Okky meletakkan telunjuknya dibibir Kina, "Sttt…jangankan sepuluh juta, seratus ribu dolar juga akan aku berikan kalau itu membuatku bisa menikahi kamu" gombalnya.
Kina tertawa dalam tangisnya, "Bohong, yang kemarin saja bapak enggak kasih kok"
"Yang mana ya, aku kok nggak ingat ya?"
"Inisialnya E R I K A!"
"Bedalah, kalau dia seratus ribu rupiah aja rasanya nggak ikhlas" Kina tertawa. "Nah gitu dong, ketawa sambil nangis, biar kaya orang gila" ledeknya. Membuat Kina semakin terbahak.
"Sekarang kamu tau kan, kenapa aku minta kamu mengganti semua yang kamu pakai tadi?" Okky mengangguk. "Bayangkan saja, jika kita datang mengendarai mobil kamu dengan penampilan kamu seperti biasa, berapa uang yang akan diminta tante Rani. Kemungkinan terparah, dia nggak akan membiarkan ayah menikahkan kita"
"Kenapa?"
"Dia pernah bilang, nggak suka lihat aku bahagia. Entah apa alasannya. Tapi dia pernah bilang membenciku karena saat melihatku dia seperti melihat ibu, dia benci ibu meski ibu tak pernah sekalipun menganggu kehidupan mereka"
"Membenci tanpa sebab, bisa jadi hanya sebuah kedok. Dia ingin menutupi rasa bersalahnya kerana telah menyakiti ibu dan kamu"
"Aku rasa juga begitu, entahlah, terserah dia saja"
Dari kejauhan, Nila yang baru saja membeli paket nasi ayam untuk adiknya dirumah, melihat kemesraan yang Okky dan Kina lakukan. Sayangnya, dari tempatnya berdiri, ia hanya bisa melihat wajah Okky, tidak dengan si perempuan. Nila mengeluarkan ponselnya dan diam-diam memotret, momen yang tertangkap layar ponselnya pas sekali. Saat Okky membelai kepala gadis itu, memandangnya penuh cinta dengan senyuman menghiasi bibirnya.
uhhh…pak bos sweet juga ternyata, jadi baper!
Sesungguhnya saat itu tidak ada kata romantis yang Okky ucapkan, "Makan dulu yuk, nanti mati lho" begitulah ucapnya.
"Mayan, dapat bahan gibahan. Mila sama Dinda pasti bakalan tertarik dengan berita ini, hihi…" ia bermonolog. Setelah puas dengan aksi paparazi dadakannya, Nila meninggalkan tempat itu.
……
Tring!
Ponsel Dinda, Mila, Satria, Kevin dan Ali berbunyi. Notifikasi grup chat, khusus divisi mereka, berisi foto kiriman Nila.
Nila: Lihat gaes, bos kita lagi bucin
Dinda: Dasar palyboy cap nugget
__ADS_1
Kevin: Baguslah, kesempatanku untuk mendekati Kina semakin terbuka lebar
Mila: Kok mirip mbak Kina ya dari belakang?
Nila: Yeah, mungkin satria dipekaein jilbab juga kaya mbak Kina dari belakang 😂
Satria: Kenapa aku?
Dinda: Aku yakin cewek itu bukan mbak Kina, kemarin aja si bos masih maksa-maksa aku buat kasih info dimana mbak Kina ngumpet.
Dinda: Bisa-bisanya sekarang udah mesra-mesraan sama cewek lain
Dinda: Pake gaya-gayaan nawarin mobil, uang, rumah buat imbalan
Satria: Darah tinggi kumat buk
Mila: Really?
Dinda: Yeah
Nila: Terus kamu tolak tawaran semenarik itu? Padahal kamu kan tahu dimana mbak Kina sekarang
Kevin: Bagus Din, kamu emang benar-benar sahabat sejati
Dinda: Iyalah, meskipun akhirnya aku nyesel udah melewatkan tawaran itu 😁
Dinda: Bubar jalan!!
Hening, tak ada yang mengirimkan pesan kegrub chat lagi. Mereka takut pada sebuah huruf P.
"Jangan kebiasaan ghibah. Meskipun cuma chat tapi dosanya tetap sama" kata seorang laki-laki yang baru saja masuk kekamar Dinda.
Dinda meletakkan ponselnya dan menggeser tubuhnya, memberi ruang untuk laki-laki itu. "Iya, maaf… Nila yang mancing duluan"
"Ghibah itu seperti kamu memakan daging saudaramu yang sudah mati. Memangnya kamu mau?"
"Enggak, nggak lagi deh janji. Tapi peluk!" Dinda merentangkan tangannya dengan manja.
"Iya" laki-laki itu merebahkan tubuhnya disamping dinda dan memeluknya, lalu mengusap perut Dinda sejenak. Tak lupa memberi bonus, ciuman di pucuk kepala Dinda.
……
Masjid besar di area ponpes Al iman sedang ramai hari ini, beberapa orang nampak mempersiapkan meja, pengeras suara dan keperluan lainnya. Kiyai abdullah memantau dari teras masjid.
Sementara itu, Okky sedang mematut penampilannya dicermin. Hari ini ia mengenakan kemeja putih, jas putih, celana bahan putih dan dasi kupu-kupu berwarna putih. Tak lupa sepatu berwarna senada melengkapi penampilannya.
Jam tangan mewah melingkar dipergelangan tangan kirinya, Rambutnya pun sudah disisir rapi, harum parfumnya menyeruak diseluruh sudut kamarnya.
Tok
__ADS_1
tok
tok
"Mas Okky, sudah siap?" suara Ammar terdengar dibalik pintu.
"Sudah mar, sedikit lagi"
"Kami tunggu didepan ya mas, barang-barang sudah masuk mobil"
"Oke, thanks mar"
Sepuluh menit kemudian Okky turun dengan gagahnya. Ibu Suri menatapnya dengan senyum bahagia. Meskipun hanya acara ijab qabul dan makan-makan sederhana, tapi Okky ingin tampil dengan sempurna dihari bahagianya.
Di kediaman Kina, pagi-pagi sekali tiga orang MUA sudah mengetuk pintu rumahnya untuk mengerjakan tugas mereka, merias mempelai wanita. Kina awalnya agak bingung karena tidak diberi tahu lebih dulu. Namun, saat menelfon calon suaminya, laki-laki itu berkata "Surprise!"
Semalam, setelah pulang dari rumah ayahnya, pegawai butik Rumaisha, mengantarkan gaun muslimah berwarna putih yang simple namun elegan, dan pastinya mahal. Kina pikir akan mengenakan gaun itu dan merias dirinya sendiri, dia tak menyangka jika akan didatangkan MUA profesional.
Sang MUA mulai merias sesuai permintaan Kina, make up tipis, dengan warna-warna natural, tanpa cukur alis. Kina tak ingin terlihat mencolok apalagi terlihat seperti bukan dirinya.
Beberapa tetangga Kina menemani gadis itu saat dirias, mereka tahu Kina tak punya keluarga yang mendampingi. Kina merasa senang dengan kehadiran mereka. Setidaknya sedikit mengobati kesedihan Kina, dihari bahagianya satu-satunya keluarga yang ia punya, tak peduli sama sekali.
Sebuah mobil mewah berwarna hitam menjemput Kina, meskipun rumahnya dekat dengan Ponpes Al Iman, tapi tidak lucu rasanya jika calon mempelai wanita berjalan kaki dengan gaun cantiknya.
"Mbak Kina, suaminya kaya ya? Mobilnya bagus banget, joknya empuk mbak" tanya salah satu tetangga yang duduk dijok belakang menemani Kina.
"Enggak, ini taksi online kok mbak. Iyakan, pak?" canda Kina. Supir pribadi Okky mengangguk.
"Bohong banget, mana ada taksi online pake mobil limited edition. Rugi mbak" jawab satu tetangga Kina yang duduk disamping supir.
"Nggak tahu itu si bapak" kata Kina.
"Nggak rugi kok ibu-ibu, ini bahan bakarnya pakai air"
"Bohong, nggak percaya aku"
"Eh tapi kamu pernah lihat calonnya mbak Kina, belum? Hhmm…guanteng pollllll"
"Masak sih, emang kapan datang? Nggak pernah lihat cowok main kerumah mbak Kina"
"Kemarin, sekalinya datang bawa keluarganya, langsung ngajak nikah. Iyakan mbak Kina?"
"Iya dong" jawab Kina, malu-malu.
"Itu yang namanya gentle, laki-laki harusnya begitu. Suka halalin kalau nggak yakin, tinggalin, jangan digantung. Macam kita jemuran" keluh si embak yang duduk disamping Kina.
"Pengalaman kayanya ini?"
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
__ADS_1