30 Hari Menjemput Jodoh

30 Hari Menjemput Jodoh
Misi 1 gagal


__ADS_3

"Assalamu'alaikum pak Kiyai, ini ada tamu yang mencari ning meera"


"Assalamu'alaikum pak kiyai" Kina mengatupkan tangannya didepan dada, Okky malah mengikutinya, bukan menyalami pak kiyai. Ingin sekali rasanya memukul kepala bosnya, tapi Kina masih butuh uang untuk hidup.


"Wa'alaikum salam warahmatullah, temannya meera?" tanya Pak kiyai.


"Pak Okky, ngomong" Kina menyenggol lengan Okky yang dari tadi bengong. Dia tak tahu, betapa kacaunya fikiran Okky saat ini.


"Eh, itu, anu, em…aduh gimana ya ngomongnya" Okky garuk garuk kepala, Kina gemas sekali pada bosnya yang tiba tiba nampak bodoh itu. Aura kepemimpinanya menguap entah kemana.


"Maaf, saya permisi dulu ya, Assalamu'alaikum" kata santriwati yang mengantar mereka tadi.


"Wa'alaikum salam"


"Mari masuk dulu, meera ada didalam" Pak Kiyai membuka pintu lebar lebar. Mempersilahkan kedua tamunya duduk.


"Kalau umi Husna, ada juga pak kiyai?" tanya Okky ragu ragu.


Dahi pak Kiyai mengernyit, "Lho, tadi katanya cari meera, kok sekarang cari istri saya, wah ada apa ini?" tanyanya wajah serius.


"Itu pak…sa…saya" Okky tergagap, merasa sungkan, nyalinya tiba tiba menciut.


Pak Kiyai menatap Okky, ekspresinya sama sekali tak terbaca. Semakin membuat Okky gugup dan gelisah.


Kiyai abdullah tertawa, "Santai saja nak, saya ini makan nasi, nggak makan manusia. Kenapa tegang begitu?"


Kina semakin gemas pada atasannya yang sepertinya hari ini sedang menjadi Okky gagap. "Perkenalkan, saya Kina, ini atasan saya namanya Okky dermawan, beliau ini putra ibu Suri, yang ingin berkenalan dengan mbak Almeera yang ternyata putri pak kiyai"


"O…putranya ibu Suri. Iya, iya, beliau jamaah pengajian istri saya, sebentar saya panggilkan anak dan istri saya"


Beberapa saat kemudian, Kiyai abdullah datang bersama dua wanita bercadar, yang tua sudah pasti istrinya dan yang muda pasti yang bernama almeera. Okky ingin lari saat itu juga, bundanya benar benar konyol. Memilihkan jodoh seorang anak kiyai untuk anaknya yang buta agama.

__ADS_1


Setelah memberi salam dan berbasa basi sebentar, Umi memberikan kertas yang sedari tadi digenggamnya, pada suaminya. Pak kiyai menatap kertas dan Okky bergantian.


"Jadi, nak Okky, ingin berta'aruf dengan putri kami?" tanya Pak Kiyai pelan, takut menyinggung perasaan Okky.


Okky melirik Kina, Kina melirik Okky juga, "Maaf pak kiyai, bukan bermaksud menyinggung perasaan bapak dan keluarga, tapi sepertinya Bunda saya melakukan kesalahan. Saya tidak tahu, kalau mbak meera ini, anak kiyai, wanita sholeha yang menutup aurat dengan sempurna. Saya, mewakili Bunda, mohon maaf atas kelancangan ini, tapi saya tidak berani meneruskan rencana bunda, menjodohkan saya dengan mbak meera. Rasanya sungguh tidak pantas pak kiyai" kata Okky dengan wajah tertunduk malu.Kina merasa prihatin melihat wajah bosnya.


Kadang harta dan kekuasaan yang kita punya, menjadi tak berguna saat menghadapi orang orang shaleh. Kita nampak tak memiliki apa apa dihadapan mereka. Karena kita mengejar dua hal yang berbeda, kita mengejar dunia, sedangkan orang shaleh mengejar akhirat.


Untung saja keluarga pak Kiyai tidak mempermasalhkannya. Mereka menerima kedatangan Okky dan Kina dengan tangan terbuka, dan menerima keputusan Okky membatalkan rencana perjodohan dari Bundanya.


Setelah menyelesaikan perihal perjodohan yang gagal, Okky dan Kina ditemani Meera berkeliling ponpes, atas permintaan Kina. Meera menjelaskan dengan ramah apa saja yang ditanyakan Kina dengan antusias. Okky hanya mengekori kedua gadis itu, kemanapun mereka melangkah.


"Mbak meera, em…apa mbak meera dulu yang sering menemani pak kiyai mengisi pengajian umum setiap minggu pagi?" tanya Kina, saat mereka duduk di bangku kayu, dibawah pohon mangga.


"Iya, kok kamu tahu, kamu pernah ikut pengajian disini?"


Kina menatap meera dan tersenyum, "Dulu, setiap minggu pagi, saat ibu masih ada" Kina terdiam sejenak, "ibu suka sekali suasana pondok pesantren" sambungnya, matanya menatap langit sore.


"Asik, benar ya? Mbak meera tahu nggak, saya ini fans berat mbak meera. Setiap melihat mbak meera kecil, saya merasa iri, mbak meera terlihat anggun, cantik dan lembut. Saya selalu ingin meniru cara bicara, cara tersenyum dan semua gerak gerik mbak meera saat itu, tapi malah jadi kelihatan aneh, terlihat dibuat buat" Kina meringis, menggaruk pipinya.


"Semua orang punya gayanya masing masing, jadi diri kamu sendiri saja, Allah menciptakan kita dengan kelebihan dan kekurangan. Tapi kamu terlihat cerdas dan cekatan menurut saya" Kina yang senang dipuji idolanya, memeluk Meera dari samping, menempelkan kepalanya dengan manja dibahu Meera. Meera menepuk nepuk pahan Kina, terseyum dibalik cadarnya.


Kina menengok jam ditangannya, "Pak Okky, kita pulang sekarang?" menatap Okky yang wajahnya terlihat suram.


"Inginnya dari tadi" gumam Okky, dia hanya mengangguk.


"Mbak meera, terima kasih banyak waktunya. Maaf sudah mengganggu waktu mbak meera dan keluarga, sampaikan salam kami untuk Pak Kiyai dan Umi hasna"


"Nanti saya sampaikan, jangan ragu jika ingin berkunjung, hubungi saya"


"Siap ning meera" Kina memberi hormat, "Pak Okky ngomong, diam saja, pamitan dulu"

__ADS_1


"Iya, ih bawel, saya pamit ya mbak meera, salam untuk pak kiyai" Meera hanya mengangguk.


Keduanya meninggalkan pondok pesantren dengan perasaan berbeda. Kina terlihat gembira sedangkan Okky terlihat merana. Okky diam saja selama perjalanan pulang.


Sesampainya dirumah, Okky masuk dengan bersungut sungut, mencari bundanya. Kina mengejar dan mencoba menenangkannya agar tak memarahi Bunda. Semua harus diselesaikan dengan kepala dingin.


Kina menyodorkan segelas air putih dingin pada Okky yang duduk diruang makan, "Minum pak" Okky menerimanya dan langsung meneguknya hingga habis.


Okky melirik tajam pada bundanya yang sedang menuruni tangga, bunda mempercepat langkah saat melihat anak laki lakinya sudah pulang.


"Bagaimana hasilnya? Lanjut nggak?" tanya Ibu Suri dengan antusias.


"Bunda tega banget sih, bunda mau mempermalukan anak bunda sendiri, bunda sadar nggak sih keluarga umi Hasna itu siapa?"


"Sadar, keluarga Pak Kiyai abdullah, pemilik pondok pesantren Al iman"


"Terus, anak bunda ini siapa?"


"Maksud kamu? kamu nggak percaya diri sama keluarga kiyai Abdullah? Kamu itu direktur, pemilik perusahaan, kurang apa lagi sih?"


"Bunda, Okky ini disuruh baca Al fatihah saja, mungkin tajwidnya masih banyak yang keliru, lalu bunda dengan percaya diri, menyodorkan almeera, wanita bercadar, anak kiyai, pengajar dipondok pesantren. Aduh, mau ditaruh mana muka Okky"


"Pak, tahan emosi bapak, maksud Ibu Suri baik"


"Iya, tapi…ah nggak taulah" keluh Okky dengan wajah frustasi.


"Berarti gagal nih?" tanya Bunda dengan wajah lemas "Kandidat lain deh, besok Bunda atur pertemuan lagi"


"Terserah!"


Okky meninggalkan Kina dan Bundanya begitu saja. Dia ingin menenangkan diri dikamar. Kina memilih pulang untuk beristirahat. Hatinya sedang berbunga bunga, senang sekali bisa dekat dengan sosok Almeera yang selalu diidolakannya sejak kecil.

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2