30 Hari Menjemput Jodoh

30 Hari Menjemput Jodoh
Bebas


__ADS_3

Okky tersenyum puas, melihat foto-foto dan video yang dikirim adik iparnya. Ballroom mewah dengan hiasan super glamour, dengan dominan warna gold, kini sedang dijadikan arena bermain anak-anak dari beberapa panti asuhan.


Kina yang sedang makan malam diatas bednya, mengernyit melihat bos yang kini terlihat seperti perawat pribadinya, terlihat bahagia malam ini.


"Pak" panggilnya pelan.


"Ya, udah habis makannya?" tanya Okky, tanpa melihat Kina. Matanya masih fokus pada layar ponselnya, senyum-senyum sendiri.


"Belum"


Okky menoleh, "Kenapa, minta disuapin?" tanyanya. Lalu menaikkan satu alisnya.


"Eh, enggak, bukan begitu. Saya cuma---"


"Nggak usah malu-malu, mumpung saya lagi bahagia ini" potong Okky, kepedean.


"Bahagia? Bahagia kenapa?"


Okky mendekat ke tempat tidur Kina dan memperlihatkan video anak-anak yang sedang asik dengan kegiatan masing-masing. Ada yang kerjar-kejaran, ada yang tiduran dilantai, ada yang mencoba meraih hiasan-hiasan yang tergantung, ada yang sedang koprol dan banyak lagi tingkah lucu mereka. Namanya juga anak-anak. Kalau ibu-ibu, pasti lain kegiatannya, selfie.


Kina melirik Okky sekilas, lalu tersenyum tipis. Lucu sekaligus miris, pesta pernikahan mewah berubah menjadi acara doa bersama dan makan-makan untuk anak-anak panti asuhan. Meskipun dekorasi dan acara tidak sesuai, tapi tetap saja anak-anak terlihat bahagia dan menikmati acaranya.


"Ide siapa pak?" tanya Kina, matanya masih menatap layar ponsel yang sedang memutar Video kiriman Ammar dengan durasi yang cukup panjang.


"Saya dong" Okky menjawab dengan bangga.


"Eh, itu Tasya ya?" mata Kina berbinar saat video menampilkan anak-anak asuh bu Laras.


"Iya, lucu banget ya dia" wajah Okky mendadak berubah sendu. "Dia masih marah sama saya nggak ya Ki, saya benar-benar merasa bersalah sudah membuat gadis kecil itu sedih"


"Emm…semoga saja Tasya sudah melupakan kejadian waktu itu. Nanti kalau ada kesempatan bertemu, Bapak minta maaf saja"


"Saya tu kaya nggak punya muka lagi datang kepanti asuhan bu Laras. Bunda bikin ulah, Erika bikin ulah. Saya yang jadi serba salah sekarang" keluhnya.


"Bu Laras dan yang lain pasti ngerti kok pak. Mereka nggak mungkin menyalahkan bapak atas kesalahan orang lain, mereka tidak seburuk itu" Okky hanya mengangguk sebagai jawaban.

__ADS_1


……


Di ballroom sebuah hotel bintang 5, Ammar sedang bercengkrama dengan para pengurus panti asuhan. Anak-anak sedang asik bermain dan menikmati makanan yang tersedia. Okta menatap anak-anak yang berlalu lalang dihadapannya dengan senyum bahagia. Mbok Rah dan mbak Surti, turut membantu Ammar dan Okta menjamu anak-anak lucu itu. Ibu Suri tidak ikut, katanya tidak enak badan, tapi wajahnya segar-segar saja. Suara mengomelnya juga masih nyaring.


Tasya mendekati Okta yang sedang mengelus perut bulatnya, kekenyangan. "Tante, itu didalam ada baby ya?" tanyanya.


"Iya cantik, nama kamu siapa?" Okta menowel pipi Tasya, gemas.


"Taca…umul Taca segini" Tasya menunjukkan sepuluh jarinya. "Taca udah cekolah loh, tapi belum bisa baca" gadis itu nyengir dengan wajah lucu. Okta tertawa, gemas sekali melihat Tasya. Hanya ditanya nama, tapi gadis itu malah memaparkan biodatanya. Dan, apa dia bilang, umurnya sepuluh, anak itu pasti ngarang.


"Taca putrinya siapa?" Okta salah mengira, dia fikir namanya benar-benar Taca, padahal Tasya.


"Bunda Lalas"


"Owh…Taca nyari siapa, nyari bunda?"


"No, Taca cari kakak Okky. Kata mbak Dela ini pestanya kak Okky, tapi mana kak Okkynya, tak ada pun?" Tansya mengangkat kedua telapak kesamping tubuhnya, mengangkat bahunya sedikit.


"Kamu kenal sama kakaknya tante? " Tasya mengangguk. "Kok panggil kakak, diakan sudah tua. Pantasnya kamu panggil pak dhe" Okta cekikikan setelah mengatakan itu. Kalau saja kakaknya dengar, dia pasti sudah dipelototi dan di jitak habis-habisan.


"Oh…kakak Oki cewek itu maksud kamu kak Kina?"


"He'em" jawab Tasya disertai anggukan. "Eh, tante, itu tulican dicana, bacanya apa ya?" Tasya menunjuk kearah pintu masuk.


"Okky dan Erika"


Mata Tasya membulat, "Haaaa… hantu mata becal?" gumamnya.


"Hantu mata besar?" gumam Okta, mengulang kata-kata Tasya.


"Iya, tante yang cantik, tapi cuka malah-malah. Kalau malah, matanya gini…" Tasya melotot, menirukan Erika saat memarahinya waktu itu. Bukannya seram, wajah Tasya malah jadi lucu. Okta tertawa, sampe perutnya terasa kram.


……


Tiga minggu sudah Kina dirawat dirumah sakit. Hari ini, seperti hari kebebasan untuknya. Dokter sudah mengijinkannya pulang. Tentu saja Kina merasa gembira. Tiga minggu menjalani perawatan dirumah sakit, ditunggui laki-laki yang bukan siapa-siapanya, dan itu adalah atasannya diakntor, sungguh membuat hari-hari Kina terasa canggung dan sungkan. Ya, meskipun itu seratus persen keinginan Okky sendiri.

__ADS_1


"Jadi dua rampok kemarin sudah masuk sel, pak?" tanya Kina, tangannya sibuk memasukkan barang-barang pribadinya kedalam ransel kecilnya.


"Sudah, tinggal menunggu persidangan saja. Saya pastikan mereka mendapat hukuman semaksimal mungkin"


"Kasian ya, tapi mereka jahat. Gimana dong?"


Bibir Okkya mencebik, "Setiap perbuatan selalu ada konsekuensinya. Ini bukan masalah kasian atau tidak, sudah sepantasnya yang berbuat salah harus dihukum" ujarnya dengan berapi-api, sedikit meluapkan emosinya, mengingat kedua orang itu bukan murni rampok, mereka ingin balas dendam untuk adikn tersayangnya.


Saat orang terdekat kita berbuat keliru, harusnya kita menasehatinya, tanpa menyinggung perasaannya. Bukan malah mendukukngnya dan membalaskan dendam. Jika seperti ini, maka masalahnya tidak akan pernah selesai, malah makin panjang.


"Setuju sih, tapi, kasihan aja gitu"


"Kamu pulang kemana?"


"Kerumah lah pak, kemana lagi?"


"Emmm…gimana kalau sementara tinggal dirumah saya. Biar mbak Nur bisa jagain kamu" usul Okky ragu-ragu.


"Enggak pak, saya nggak mau. Takut menimbulkan fitnah"


"Lho, kan tinggalnya nggak sama saya, saya mau pulang kerumah bunda"


"Gimana ya. Tapi kalau ketahuan ibu gimana pak? Pasti akan jadi masalah"


"Enggak akan ketahuan. Selama aku pulang kerumah bunda, buat apa bunda datang kerumahku" Kina terlihat menimbang-nimbang tawaran Okky.


Akhirnya Kina setuju untuk pulang kerumah Okky, dengan sedikit paksaan. Mbak Nur menyambut mereka dengan wajah bingung. Apalagi melihat kondisi Kina dengan beberapa luka tertutup kain kasa ditubuhnya. Jalannya juga sedikit terpincang-pincang.


"Mbak Kina, kenapa?" Mbak Nur lekas menggandeng lengan Kina yang terlihat kesusahan berjalan.


"Kecelakaan mbak"


"Maklumlah mbak Nur, super hero gagal" ledek Okky yang berjalan didepan, menenteng barang bawaan Kina.


"Ih, jahatnya si bapak" mbak Nur tertawa, tapi hatinya masih bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi. Apalagi majikannya, sudah tiga minggu tidak pulang.

__ADS_1


__ADS_2