
Kina menatap undangan yang tergeletak di meja kerjanya. Dia bukan bersedih atau kecewa, apalagi patah hati karena ditinggal nikah. Dia kecewa karena Okky tidak memberinya undangan secara pribadi. Undangan yang ada ditangannya ditujukan untuk timnya.
Bahkan beberapa hari belakangan ini, Okky berlaku seolah olah tak pernah akrab dengan mantan sekretarisnya itu. Dia sangat dingin dan cuek pada Kina.
Kina menepis segala fikiran negatifnya. Dia menyadarkan dirinya, yang dilakukan Okky benar. Dirinya hanya pegawai dikantor itu, sama dengan pegawai yang lain. Status mereka berbeda, tak seharusnga Kina ngelunjak, ingin beramah tamah dengan pemilik perusahaan.
Kina juga mensugesti dirinya, semua keakraban dahulu karena berlandas profesionalitas kerja, tidak lebih. Untuk perasaan Okky padanya dan status mantan sehari, dia kubur itu dalam dalam. Anggap saja hiburan semata.
Begitulah Kina, dia bukan tipe orang yang suka menyiksa hatinya sendiri. Terkadang yang membuat manusia kecewa itu bukan orang lain, tapi ekspektasi yang terlalu tinggi.
……
Okky benar benar stress menghadapi hari harinya akhir-akhir ini. Hari pernikahannya semakin dekat, namun kondisi perusahaan tak kunjung membaik. Pengurangan pegawai secara besar besaran, terutama di pabriknya sudah dilakukan. Untuk staf cabang dan pusat juga sudah dilakukan pengurangan dibeberapa divisi.
Kina membawa laporan kegiatan dari tim marketing cabang dan pusat, dia ingin melaporkan hasil evaluasi program Nice Food Go To School.
Kina masuk setelah mengetuk pintu dan dipersilahkan. Dia tersenyum dan menganggukkan kepala saat Okky menatapnya sekilas.
"Silahkan duduk" Okky mempersilahkan tanpa menatap wajah Kina.
"Terima kasih, pak. Bisa kita mulai laporannya?"
"Ya"
"Baik, Jadi untuk program baru kita ini bisa dibilang belum terlalu berhasil. Banyak yang mengkritik, kalau sample yang kita berikan saat acara dibuat lebih baik dari pada produk aslinya. Jadi, kesimpulan yang dapat saya tarik, masyarakat masih belum memberikan kepercayaan pada kualitas produk kita." tutur Kina menjelaskan.
"Aduh…pusing kepala saya" Okky memijat pangkal hidungnya. Sesungguhnya dia sedang mencoba mencari perhatian, sayangnya gadis didepannya tak merespon.
"Terus, apa program selanjutnya?" tanyanya.
"Bazar dan panggung rakyat di area parkir kantor. Tapi saya ragu, karena akan menelan biaya cukup banyak. Kalau tidak berhasil akan semakin merugikan perusahaan"
"Kapan itu jadwalnya?"
"Emm…setelah pesta pernikahan bapak"
"Apa ada program lain dari tim kamu?"
__ADS_1
"Ada pak, sedang diramu bersama sama. Kami ingin program yang tidak perlu membuang banyak dana tapi menguntungkan perusahaan"
Keduanya berdiskusi cukup lama, hingga jam makan siang. Erika datang karena sudah janji akan makan siang dengan calon suaminya. Dengan tujuan khusus tentunya.
Dia terkejut saat melihat Kina keluar dari lift, Kina tak sadar karena sibuk merapikan buku jurnalnya.
"Kamu…pelakor yang dipanti asuhan kan?" tanyanya dengan suara keras. Kina terkejut dan menoleh kekanan dan kiri. Orang orang memperhatiakan mereka. Apalagi ini jam istirahat, ramailah orang berlalu lalang disekitar lift.
"Saya?" tanyanya sambil menunjuk dirinya sendiri
"Ya kamulah, siapa lagi. Masak iya pintu lift ini. Sinting!" kesal Erika pada Kina yang dianggapnya sok polos itu.
"Maaf, ibu salah paham, saya sama calon suami ibu tidak ada hubungan apa-apa. Mohon jangan terlalu dimasukkan kehati perkataan adik adik tempo hari" ucapnya dengan nada halus.
Erika tersenyum mengejek, "Hei…anak kecil kalau nggak kamu racuni sama mulut busuk kamu yang manis itu, nggak mungkin paham nikah nikahan begitu"
"Saya mohon maaf atas ketidak nyamanan yang ibu rasakan" Kina membungkukkan sedikit badannya.
"Sok suci lo!" hardik Erika. Lalu mendorong keras tubuh kecil Kina hingga terpentok pintu lift yang tertutup. Tiba tiba pintu lift terbuka, hampir saja dia terjengkang, untung Okky menangkapnya dari dalam lift.
"Kamu kenapa?" tanya Okky, panik
Okky menatap punggung Kina yang semakin menjauh. Gadis itu terlihat kesakitan. "Erika, jangan berulah dikantor. Jaga nama baik saya dan kamu juga" kata Okky dengan nada selembut mungkin. Dia sedang mempelajari sifat gadis dua puluh delapan tahun yang sebentar lagi akan dinikahinya itu. Okky belum menemukan cara menasehati Erika dengan tepat.
Kina masuk keruang divisi marketing dengan wajah kesakitan. Punggungnya benar benar nyeri, dia terpentok pintu lift yang terbuat dari besi itu cukup keras. Dinda yang baru saja membeli makanan mengernyit melihat Kina yang duduk di kursinya sambil meringis
"Kapten, kamu kenapa? Dianiaya pak Okky?" tanya Dinda yang otaknya memang sedikit geser itu.
"Huss…sembarangan. Tadi kepentok, sakit banget" keluh Kina sambil berusaha menekan punggungnya.
"Kok bisa? Apa jangan jangan, yang digosipin ribut sama calonnya pak Okky tadi, mbak Kina ya?"
"Sssttt…" Kina berusaha meraih punggungnya tapi tak bisa. Punggungnya semakin nyeri.
Dinda meletakkan makanannya dimeja, lalu menyingkap blouse longgar Kina bagian belakang, Dinda melotot saat melihat punggung Kina memar cukup lebar.
"Mbak Ini agak parah, ayo aku antar ketukang urut langgananku" kata Kina. Dia memang sering diurut dulu saat masih aktif ikut bela diri.
__ADS_1
"Nggak, pasti sakit"
"Iiihhh…mbak mau sembuh nggak? Ayolah, nanti aku kabari yang lain supaya mintain ijin buat mbak Kina kebagian HRD"
Dinda memapah Kina dengan paksa. Kina yang merasakan nyeri dipunggungnya, mau tak mau menurut saja. Dia juga tak ingin sakitnya bertambah parah.
Ali masuk keruangan Divisi marketing mencari Kina, untuk menyerahkan laporan yang sudah ditanda tangani Okky. Dia lewat sekalian akan keruang divisi lain. Tapi dia tak menemukan Kina. Satria baru saja tiba dari makan siang.
"Sat, kamu keluar sama Kina nggak?"
"Mbak Kina sakit bang, tadi ijin pulang, diantar Dinda. Katanya sih mau ngurut"
"Hah…ngurut? Emang habis jatuh?"
"Nggak tahu juga bang, tadi Dinda telfon kaya panik gitu, mbak Kinanya teriak teriak, jadi aku nggak nanya banyak banyak bang. Nanti Dinda balik kantor kok"
"Oh, yaudah. Ini nitip taruh di meja Kina ya!"
"Siap bang"
Saat mengantri foto kopi, Ali tak sengaja mendengar dua karyawan wanita sedang membicarakan Kina. Mereka tak tahu kalau Ali dibelakangnya.
"Kasihan mantan sekretarisnya pak Okky, kepentok pintu lift, mana kenceng banget lagi"
"Tadi ceritanya gimana sih kok mereka sampe berantem?"
"Enggak tahu, aku nggak lihat dari awal, tahu tahu calon bu bos bentak bentak terus dorong dia kenceng banget"
"Astaga, serem amat calon bu bos kita. Kalau tadi kepalanya yang kepentok, terus meninggoy gimana tuh. Bisa bisa jadi hantu penunggu pintu lift."
"Taulah, cantik cantik kasar. Cemburu kali, makanya sekretarisnya diganti abang ganteng" keduanya cekikikan saat mengucapkan kata abang ganteng.
Saat keduanya berbalik, mereka menelan saliva. Ali si abang ganteng, sedang menatap mereka dengan datar.
"Permisi abang…" ucap salah satu dari mereka. Kedua gadis itu tersenyum malu-malu.
"Ya, silahkan!" jawab Ali, menggeser tubuhnya sedikit agar tak bersenggolan.
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻