
Tiga hari lagi, pernikahan Okky dan Erika akan digelar secara megah dihotel bintang lima. Undangan dan persiapan sudah hampir seratus persen. Hanya tinggal menunggu cincin super mewah yang mereka pesan dari toko perhiasan Margaret.
Erika terus saja menyalahkan Okky karena cincin tak kunjung jadi. Padahal ia ingin sekali pamer di sosial medianya. Sebagai selebgram tanggung, dia merasa perlu mengupdate segala tentang dirinya. Dia bahagia, saat followersnya memberi Love atau komentar. Membuatnya merasa tinggi hati.
Margaret sudah mewanti wanti sejak awal, cincin akan selesai sedikit mepet dengan hari pernikahan mereka. Bukan salah Margaret juga, semua terjadi karena waktu itu Erika tiba-tiba membatalkan cincin pesanan yang sudah hampir rampung dengan cincin berlian super mahal yang saat ini sedang dalam proses finishing. Tapi karena keegoisan Erika, Okky lah yang jadi pelampiasan kekesalannya.
"Bundamu gimana sih, semua pilihan bundamu itu kerjanya nggak profesional. Mentang-mentang sama teman sendiri jadi lelet begini. Coba aku dikasih kebebasan buat milih semua sesuai keinginanku, nggak bakalan deh kaya gini. Masak iya, tiga hari lagi nikah, cincin belum siap!" dia mengomel saat duduk berhadapan dengan Okky disebuah restoran.
"Jadi kamu nyalahin bundaku? Kamu nggak ngaca?" Okky berusaha tak tersulut emosi.
"Maksud kamu apa? Aku yang salah gitu?" bentak Erika dengan suara keras. Beberapa pengunjung restoran memperhatikan keduanya. Bahkan ada yang berbisik-bisik.
"Iya…kamu lupa, cincin yang kita pesan pertama kali, udah hampir beres. Tiba-tiba kamu minta ganti seenaknya. Kalau tante Margaret memperlakukan kita seperti customer lain, dia pasti bakalan nolak pembatalan cincin itu. Bukan salah beliau kalau cincin itu belum seratus persen, coba kamu nggak pakai ganti-ganti seenaknya. Pasti cincin udah ditangan kita sekarang"
"Halah…mereka aja yang kerjanya lelet. Kita ini bayar mahal, harusnya bisa dong diprioritaskan"
"Terserah kamu!" Okky membuang nafas dengan kasar. "Kita disini mau bahas masalah mahar. Jadi, kamu maunya mahar berapa?"
"Seratus ribu dolar" jawab Erika secepat kilat.
Mata Okky melotot, "Gila, kamu mau nikah apa mau ngerampok?!"
"Lebay banget sih. Aku mau, mahar kita lebih waow dari pernikahan artis yang viral kemarin. Mereka yang cuma artis aja maharnya 72 ribu dolar. Kamu kan pengusaha, gengsi dong kalah sama artis"
"Astaghfirullahaladzim, aku nggak setuju kalau segitu. Perusahaanku lagi mengalamai banyak kerugian Er, aku udah sering bilangkan sama kamu. Lagi pula, persiapan pernikahan kita aja udah makan biaya banyak. Cincin yang kamu ributi tadi saja, sudah menguras tabunganku."
"Halah…kamu bilang gitu, biar aku nggak minta mahar banyak sama kamukan. Belum apa-apa aja udah pelit banget. Jangan-jangan seminggu jadi istri kamu, badanku tinggal kulit sama tulang, nggak kamu kasih makan"
"Aku nggak segila itu ya. Seratus ribu dolar itu banyak banget. Please, kita nggak perlu ikutan artis, mereka disorot kamera, mereka dapat endors, kita enggak. Nggak usah gengsi"
__ADS_1
Erika melipat tangannya di dada, "Kalu nggak segitu, kita batalin aja pernikahannya" ancamnya. Dia memalingkan wajahnya.
"Kalau memang mau batalin, dari awal aja. Kenapa baru sekarang?"
"Oh…gitu. Kamu senangkan kalau pernikahan ini batal. Kamu mau ngejar cinta pelakor itu kan?"
"Nggak usah bawa-bawa orang lain dalam masalah kita. Nggak ada hubungannya!"
"Pokoknya aku mau segitu, kalau nggak segitu, aku bakalan batalin pernikahan kita. Dan aku bakalan kambing hitamkan gadis itu" Erika menyeringai, seperti ingin menampilkan taringnya untuk memojokkan Okky.
"Jangan ngaco kamu. Berani kamu ganggu dia, aku akan buat perhitungan sama kamu. Jangan coba-coba sakiti dia lagi!" Okky menatap tajam Erika. Erika membalasnya dengan senyum mengejek.
Okky bangkit dari duduknya, meninggalkan Erika. Erika yang kesal melempar sendok dan garpu, hingga mengenai punggung Okky. Okky tak peduli, dia tetap melenggang. Pengunjung dan pegawai direstoran itu semakin heboh berbisik-bisik membicarakan mereka.
……
Okky termenung ditaman rumahnya, dia benar benar tak habis fikir. Gadis macam apa yang bundanya pilih untuk mendampinginya seumur hidup. Pernikahan tinggal menghitung hari, tapi Okky semakin dibuat pusing dengan sikap Erika. Permintaannya semakin hari semakin ngaco. Mahar seratus ribu dolar dengan kondisi perusahaan sedang sekarat begini, benar benar memberatkan Okky.
"Kak, akhirnya kamu pulang kantor lebih awal" Okta duduk disamping kakaknya.
"Kenapa memang, nggak mungkinkan kamu kangen aku?" sindir Okky.
Okta pura-pura muntah, "Huuweekk!"
" Kak…tiga hari lagi kan hari pernikahan kakak. Boleh nggak aku tanya tanya soal Erika. Biar aku tahu, dia itu orangnya gimana"
"Maksudnya?"
"Sifatnya Erika itu gimana sih, tersinggungan nggak. Kakak kan tau, kalau mulutku ini suka blong. Biar aku nggak salah bersikap gitu sama kakak iparku"
__ADS_1
"Gimana ya Ta, aku mau jelasin, tapi…" Okky terdiam. Ia bimbang, tak mau membuat adiknya khawatir.
"Tapi apa kak?"
"Aku nggak mau kamu berfikiran aneh-aneh dan membenci dia. Bagaimanapun sikap dan sifatnya, aku harus terima. Karena dia jodoh terbaik pilihan bunda"
"Cih…terbaik!"
"Kak…dia nggak bersikap baik ya sama kakak? Aku tau, dia cuma manis didepan bunda sama aku aja. Aku juga pernah mergoki dia marah marah sama mbok Rah." imbuhnya.
"Serius kamu? Memang mbok Rah salah apa?"
"Aku nggak tahu, tapi mbok Rah nggak mau jujur sama aku. Aku tau, mbok Rah nggak pengen kita ribut-ribut" Okta menghela nafas.
"Kak…mumpung belum terlanjur, kakak bisa batalin pernikahan kakak. Aku cuma mau kakak bahagia. Kakak sudah banyak berkorban untuk kami. Sekarang saatnya kakak bahagia"
"Kakak nggak mau ngecewai bunda Ta"
"Kak, jangan siksa diri kakak. Kejarlah cinta Kina, berjuang bersama Kina. Luluhkan hati bunda"
Okky tertunduk, wajahnya sendu. "Aku udah nggak berharap sama Kina lagi. Aku nggak mau dia terus tersakiti karena berada disekitarku. Perasaanku sama dia, hanya jadi kesialan untuknya Ta."
"Jadi kakak akan pasrah dengan pernikahan yang sama sekali tidak kakak inginkan ini"
"Iya…mau bagaimana lagi. Awalnya aku berfikir, meskipun itu bukan Kina, setidaknya bunda akan memilihkan seorang wanita yang baik dan pengertian. Nyatanya, Erika terlalu jauh dari ekspektasiku. Dia hanya cantik parasnya saja Ta" Okky tersenyum kecut.
"Pikirkan lagi kak, aku cuma bisa bantu doa. Aku kangen kakakku yang dulu. Kakakku yang mulutnya lemes kaya ibu-ibu, bukan kakakku yang yang kaya es batu gini"
Okky tersenyum tipis. Dia juga rindu, rindu tersenyum, rindu menertawakan wajah kesal adiknya, rindu kehangatan keluarganya, dan rindu seseorang tentunya.
__ADS_1
Dari kejauhan, Ibu Suri menatap kedua anaknya yang sedang berbincang. Jarang sekali dia melihat Okta dan Okky berbicara serius. Biasanya keduanya akan saling mengejek dan menertawakan. Ibu Suri bisa menebak, pasti kedua anaknya sedang membahas pernikahan Okky.
"Semoga pilihanku nggak salah" gumamnya, seolah meragukan pilihannya sendiri.