30 Hari Menjemput Jodoh

30 Hari Menjemput Jodoh
Insiden


__ADS_3

Ali muncul dari balik pintu dengan senyum menawan diwajah tampannya. Jika kaum hawa yang melihatnya, mungkin akan meleleh bahkan mencair atau menyublim. Tapi Okky justru sangat kesal, sudah susah-susah mengatur degub jantung, ternyata ekspektasi tak sesuai realita.


"Selamat pagi pak" sapa Ali dengan ramah


"Hmmm…" jawabnya tanpa berniat melirik manusia tampan didepannya sedikitpun.


"Saya mau mengantarkan beberapa laporan yang harus saya selesaikan sebelum dikembalikan ke tim marketing" Ali melangkah mendekat ke meja kerja Okky.


"Hmmm…"


Ali menyodorkan beberapa lembar kertas dengan posisi berdiri, karena pemilik ruangan tak mempersilahkan duduk. Bahkan menatap Ali dengan wajah ogah-ogahan.


"Assalamu'alaikum" terdengar suara gadis yang sedari tadi berkeliaran difikiran Okky. Kompak, Ali dan Okky melemparkan tatapan pada pemilik suara indah itu. Kina tersenyum manis kearaha keduanya.


"Hmm…" lagi-lagi hanya itu yang keluar dari mulut Okky. Untung dia bos, kalau tidak, mungkin seseorang sudah melemparkan sesuatu kekepalanya.


"Saya cuma mau mengantar teh hangat pesanan bapak, dan ini kembaliannya" Kina meletakkan cup kertas tertutup rapat berisi teh hangat dengan setengah sendok gula. Dia masih hafal kebiasaan bosnya. Lalu meletakkan beberapa lembar uang berbagai warna dan nominal.


"Ambil aja kembaliannya. Ucapan terima kasih"


"Baik, terima kasih" Kina meraup uang itu kembali dan berlalu pergi. Lumayan kan, rejeki tak boleh ditolak.


Okky berdecak lagi, Gara-gara Ali datang, gagal sudah rencananya untuk sedikit mencuri waktu mengobrol dengan Kina. Ali yang menyadari perubahan sikap atasannya hanya bisa merapalkan doa dalam hati, semoga dia tidak dijadikan pelampiasan kekesalan bosnya.


Ali bernafas lega, walaupun berkali-kali mendengus, tapi Okky tak memarahinya atau mencari-cari kesalahannya. Dia sudah tak tahan dengan aura mendung yang ditampilkan Okky, ingin rasanya kabur dari ruangan itu.


……


Pukul Tujuh lewat sepuluh menit, Okky telah sampai ditoko perhiasan Margaret. Ia sengaja tak mengajak Erika, karena Erika tak menghubunginya, jadi dia juga tak akan menghubungi Erika. Okky masih kesal dengan mahar seratus ribu dolar yang diminta Erika.


Saat mengobrol dengan Margaret, Erika tiba-tiba datang menghampiri mereka. Mungkin Margaret yang memberi tahunya. Gadis cantik itu tersenyum manis, karena disana ada Margaret. Coba hanya ada Okky, pasti dia sudah mengeluarkan tanduknya.

__ADS_1


"Hai…nyusul nih ceritanya?" sapa Margaret sambil bercipika cipiki.


"Iya dong tante. Aku kan udah nggak sabar pengen lihat cincinnya"


"Bentar ya, lagi diambilin" seorang pegawai datang dengan membawa kotak cincin transparan. Terlihat sebuah cincin yang begitu indah dan berkilau didalamnya. Mata Erika berbinar.


"Nah …ini dia" Margaret menyodorkan kotak cincin pada Erika. Erika menerimanya dengan antusias.


"Ini bagus banget tante, cantik" pujinya


"Udah sini biar aku simpan" kata Okky, membuyarkan Erika yang sedang mengagumi keindahan cincin pernikahan mereka.


"Sebentar kenapa sih" ketusnya seraya berkerut kening.


Margaret hanya terseyum melihat pertikaian keduanya. Dia sudah biasa melihat calon pengantin berdebat ditokonya. Mata Margaret menangkap sepasang pria dan wanita yang masuk kedalam toko sambil berbincang.


"Kin kin…itu sekretaris kamu kan Ki? Wah sekarang berhijab, tambah cantik" pujinya. Margaret menyukai kepribadian Kina yang ceria.


Kina dan Ali tersenyum dan mengangguk untuk menyapa atasan mereka, meskipun wanita disampingnya terlihat tidak suka pada mereka.


"Tante kenal sama pelakor kegatelan itu?" tanya Erika dibalik punggung Margaret yang kini membelakanginya.


"Pelakor? Kamu salah paham mungkin, dia inikan sekretaris Okky"


"Sudah deh Er, nggak usah menebar fitnah. Tante Margaret tahu dan kenal siapa Kina" ucap Okky. Erika hanya memutar bola matanya.


Sebenarnya hati Okky mendidih saat melihat Kina datang ketoko perhiasan bersama Ali. Fikiran Okky berkelana kemana-mana. Bahkan terlintas diotaknya, jangan-jangan kedua karyawannya itu sedang mencari cincin pernikahan juga. Mengingat keduanya single dan sama-sama tidak berminat pacaran.


Kina memilih menyelamatkan diri dengan mengajak Ali ke etalase cincin, sesuai tujuan mereka kesana. Aroma permusuhan sudah tercium sejak kedatangan mereka, wajah Erika seolah ingin menerkam Kina.


Okkypun menyadari itu, dia memilih mengajak Erika pulang sebelum wanita arogan itu berbuat onar ditoko orang. Sekaligus menenangkan hatinya sendiri yang serasa diremas-remas.

__ADS_1


"Sini biar aku pegang dulu!" Erika merampas paper bag berisi cincin pernikahan mereka. Okky tak mau ribut, dia memilih diam dan membiarkan Erika membawa cincin berlian super mahal itu. Erika berjalan kesisi mobil yang lain, tepatnya disamping pintu penumpang bagian depan.


Mereka tak menyadari, dua orang laki laki diatas motor dua tak sedang mengintai dari jarak beberapa meter. Erika dan Okky menoleh saat Kina keluar dari dalam toko, sepertinya mengambil sesuatu dimotornya.


Saat keduanya lengah, kedua pengendara motor menjalankan aksinya. Salah satu dari mereka berjalan mendekati Erika dan merampas paper bag berisi cincin berlian dari tangan Erika. Erika yang tak fokus, tak mampu mempertahankan benda mewah yang baru saja dirampas dari tangannya. Apalagi semua terjadi begitu cepat.


"Rampooookkk!!" pekiknya. Okky yang sudah setengah badan masuk kedalam mobil, panik bukan main. Kepalanya sampai terbentur bagian atas pintu mobil.


"Cepetan kejar! Kalau sampai cincinya hilang, pernikahan kita batal dan semua salah kamu!!" bentak Erika.


Okky menggeram, "Jelas-jelas kamu yang teledor, kenapa aku yang salah?" jawabnya tak kalah emosi.


"CEREWET!!!"


Tanpa mereka sadari, Kina melaju kencang. Mengejar motor berknalpot berisik yang dikendarai dua perampok tadi. Lalu lintas yang lumayan padat, membuat kedua perampok kesulitan melajukan motornya. Saat jarak mereka semakin dekat, Kina menarik gas dalam dalam dan menabrakkan motornya, kemotor perampok tadi.


Okky terpaku saat melihat Kina memacu kendaraan roda duanya. Jantungnya berdetak tak karuan, rasa takut dan terkejut menguasainya.


Brrrrakkkk…!!


Suara benturan terdengar sangat keras, karena kedua motor dalam posisi sama sama ngebut. Ketiganya terpental kearah berbeda dan mendarat diatas aspal. Pengguna jalan lain seketika menghentikan laju kendaraan mereka. Lalu lintas menjadi kacau.


Orang-orang berduyun-duyun mendatangi tempat kejadian. Ada yang berniat menolong, ada yang sekedar mencari informasi, ada yang sibuk memotret dan merekam untuk dibagikan keakun sosial media. Okky berlari kalang kabut saat mendengar suara benturan yang keras. Dia meninggalkan Erika yang sedari tadi masih mengomel tak jelas.


Orang-orang berkerumun di beberapa titik, karena ketiganya terkapar ditempat berbeda. Paling banyak mengerubungi Kina, mungkin karena dia wanita, jadi lebih banyak yang bersimpati. Okky menghampiri Kina yang sudah terkulai tak berdaya dengan bersimbah darah, nafas Okky terengah.


Tubuhnya gemetaran melihat kondisi Kina. Air matanya tak terbendung, dia bersimpuh di dekat tubuh Kina. Tangannya terulur mengangkat setengah tubuh Kina dan meletakkan dipangkuannya. Dia meraung-raung, tak menghiraukan orang-orang disekitarnya yang menatap iba dan mencoba menenangkannya.


"Kinaaa…ya Allah, kenapa kamu nekat begini. Astaghfirullahaladzim…aku nggak akan maafin diriku sendiri kalau kamu sampai kenapa-kenapa Kiii. Bangun! Buka mata kamu, Kinaaa…" Isaknya. Tangannya membelai pipi gadis itu, berusaha membangunkannya. Kemudian mengecek nafas dihidung Kina. Masih ada.


Sabar, sabar, dan sabar. Itulah kata-kata yang diucapkan orang-orang disekitar Okky, dengan nada prihatin. Bahkan beberapa turut menitikkan air mata, melihat laki-laki itu terus memeluk dan menangisi gadis yang terpejam itu.

__ADS_1


__ADS_2