
Kina membuka matanya saat sayup-sayup mendengar adzan subuh dikumandangkan. Dia meringis, badannya terasa remuk. Ngilu dan perih mendominasi. Luka lecet cukup lebar ada disekujur tubuhnya, terutama kaki dan tangan. Saat hendak mengubah posisi tubuhnya, kepalanya mendadak berputar-putar. Perutnya mual, karena tak tahan, Kina memuntahkan isi perutnya.
Okky yang tidur disofa, terperanjat saat mendengar suara orang muntah. Kesadarannya terkumpul penuh saat melihat Kina merintih sambil memegangi kepalanya.
"Kina, kamu sudah sadar, kamu muntah, kepala kamu sakit?" tanya Okky dengan wajah panik.
"Iya pak, maaf saya nggak tahan, perut saya mual sekali" Kina kembali merebahkan kepalanya dan memejamkan matanya.
Okky bangkit dan hendak mendekati brankar, untuk memencet tombol nurse call. "Stop pak!! disini ada muntahan saya, bapak jangan mendekat" ucapnya saat mendengar langkah kaki berjalan kearahnya. Dia tidak enak kalau atasannya harus melihat muntahannya yang menjijikkan.
"Saya kira kenapa" jawab Okky dengan santai dan tetap mendekat, lalu memencet tombol itu.
Okky duduk disamping Kina yang sudah diperiksa dokter dan dibersihkan oleh perawat. Meneliti wajah Kina, nampak pucat dan kesakitan.
"Maaf ya Ki, gara-gara saya kamu jadi begini" ucapnya dengan penuh penyesalan.
"Terus malingnya gimana pak, nggak mati kan? Saya bakalan merasa berdosa kalau mereka sampai mati"
"Kenapa kamu jadi mikirin mereka sih, aneh kamu ini" omel Okky mendengar pertanyaan Kina.
Kina hanya cengengesan menanggapi omelan Okky. "Oh ya, cincinnya selamat kan pak?" Okky mengangguk sebagai jawaban.
"Saya akan jaga kamu disini sampai sembuh, kamu ada keluarga yang harus dikabari nggak? Saya nggak mau mereka khawatir"
"Nggak ada pak" Kina tertunduk lesu. Memang siapa yang akan khawatir padanya. Ayahnya tak akan peduli apapun yang terjadi padanya.
"Yasudah, biar saya yang menjaga dan merawat kamu sampai pulih. Atau kalau kamu mau, seumur hidup kamu juga boleh"
"Ck, mode gombal aktif" Okky terbahak mendengar kata-kata Kina.
…
Sementara itu, kepanikan sedang terjadi dikediaman ibu Suri. Besok adalah hari pernikahan Okky, tapi anak sulungnya malah menghilang dan tak bisa dihubungi.
Tak ada seorangpun yang tahu dimana Okky. Karena Okky sudah berpesan pada Margaret dan Ali, untuk merahasiakan masalah ini pada bundanya. Okky yakin, bundanya akan memaksanya pulang dan meninggalkan Kina sendiri di rumah sakit. Margaret yang sudah dijelaskan sedetail-detailnya permasalahan Okky, bersedia tutup mulut.
"Okta, Ammar, gimana, Okky masih nggak bisa dihubungi? Erika juga ikut-ikutan nggak bisa dihubungi lagi" keluh Ibu Suri, mondar mandir seperti setrikaan sambil mencoba menelfon anak sulungnya.
__ADS_1
"Samperin kerumahnya ajalah bun dari pada pusing" usul Okta
"Yasudah, Ammar nanti sore antar bunda kerumah Erika sama kerumah Okky ya"
"Iya bunda"
Ibu Suri memijit pelipisnya. "Kakak kamu benar-benar keterlaluan, bisa-bisanya menghilang menjelang hari pernikahannya sendiri. Apa coba maunya anak itu?"
"Mas Okky pasti punya alasan kuat bun, bunda tahukan, mas Okky itu laki-laki bertanggung jawab. Nggak mungkin dia begini tanpa alasan" jawab Ammar, istrinya mengangguk setuju.
"Bunda sih, sukanya maksa-maksa" imbuh Okta.
"Sayang!!" Ammar memperingatkan Okta.
"Iya…iya"
"Jadi semua salah bunda?" tanya Ibu Suri tiba-tiba.
Okta memutar bola matanya malas. "Enggak…salah anak aku yang ada disini" menunjuk perut buncitnya.
"Sayang!!" lagi-lagi Ammar mengingatkan.
…
Sebenarnya Kina merasa sungkan, tapi apalah daya. Kondisi tubuhnya membuatnya tak bisa bergerak bebas. Apalagi gegar otaknya, mengharuskan dia tak banyak beraktifitas, atau dia akan pusing dan muntah lagi. Jadi, mau tak mau, dia memang membutuhkan bantuan orang lain.
"Satu lagi, Aaa…mmm, pinternya anak papa" Kina mengunyah makananya dengan wajah cemberut. Sungguh memalukan disuapi atasannya. Apalagi Okky terus saja menggodanya.
"Sekarang mimik obatnya dulu ya sayang. Minum sendiri apa diminumin papanya?" Okky berbicara, seolah sedang berhadapan dengan anaknya. Kina tak bisa menahan tawa. Dia terbahak, merasa geli dengan kelakuan bosnya.
Kina memegang kepalanya, "Aduh…" Kina mendadak pusing karena terlalu banyak tertawa.
"Sudah dong pak, jangan bikin saya ketawa terus, kepala saya sakit ini" rengeknya, sambil sesekali meringis merasakan sakit.
"Kan kata orang, kalau ingin membuat seseorang jatuh cinta, maka sering-seringlah membuatnya tertawa" tutur Okky dengan enteng.
Kina diam, tak menanggapi kata-kata Okky yang sepertinya memang tak perlu ditanggapi. Bagaimana bisa, calon suami orang mengatakan hal semacam itu padanya.
__ADS_1
…
Sorenya, Ibu Suri, Ammar dan Okta mendatangi rumah pribadi Okky. Disana ada asisten rumah tangga bernama Mbak Nur.
"Nur, Okky ada pulang kerumah nggak kemarin?" tanya Ibu Suri saat Nur menyajikan teh buatannya untuk mereka.
"Ada bu, cuma mandi, ganti baju, terus pergi lagi"
"Bawa koper nggak?" tanya Ibu Suri lagi.
"Enggak kayanya bu, cuma bawa tas gendong aja. Tapi saya nggak tahu isinya apa. Tapi bu, yang saya heran, bajunya mas Okky yang dipakai kemarin itu banyak darahnya, celananya juga"
"Hah…serius?" tanya Ibu Suri, Ammar dan Okta dengan serempak.
"Tigarius bu, mbak, mas" Nur menatap majikannya satu persatu.
"Dia kelihatan ada luka-luka gitu nggak mbak Nur?" tanya Okta.
"Enggak mbak, waktu kedapur ambil minum saya lihat nggak ada yang lecet sedikitpun. Tapi darah yang nempel dibaju lumayan banyak lho. Apa jangan-jangan mas Okky habis bunuh orang?" tanya mbak Nur dengan polos.
"Huss…ngaco kamu, nggak mungkin anak saya sejahat itu" sangkal Ibu Suri. Namun, didalam hatinya sebenarnya juga memiliki kecurigaan yang sama dengan Nur. Ibu Suri mencoba menepis fikiran jeleknya terhadap anak sendiri.
Ketiganya melanjutkan kunjungan kerumah Erika. Namun, kehadiran mereka ditolak mentah-mentah oleh keluarga Erika. Mereka tak memberi alasan apapun. Hanya memberi pesan pada asisten rumah tangga yang menemui kedatangan keluarga calon besannya, mereka membatalkan pernikahan secara sepihak.
Ibu Suri mendadak lemas, dia menyandarkan punggungnya dijok belakang mobil. Semuanya berantakan hanya dalam waktu satu hari. Anaknya hilang dengan tanda tanya besar dibenaknya. Pernikahan megah yang sudah dirancang dalam satu bulan, harus gagal tanpa alasan yang jelas. Hubungan dengan calon besanpun ikut berantakan.
Ammar dan Okta turut diam, memberi waktu pada Ibu Suri untuk menenangkan diri. Meskipun sebenarnya Okta merasa senang dengan gagalnya pernikahan Okky, tapi dia juga sedih melihat Ibunya murung.
Trringg…!!
Pesan dari nomor asing masuk ke handphone Ammar.
Titip bunda, Okta dan perusahaan, aku akan kembali setelah urusanku selesai. Tolong undang anak-anak panti asuhan sebagai ganti acara pesta pernikahan yang batal. Anggap saja syukuran untuk perusahaan kita. Jangan katakan pada Bunda, jika aku menghubungi kamu. Besok malam aku akan telfo dengan nomor ini. Kakak ipar tampanmu, Okky.
Ammar geleng-geleng kepala setelah membaca pesan dari kakak iparnya, lalu menunjukkan pada Okta dan memberi kode agar istrinya diam.
"Ck, sinting!" umpat Okta setelah membaca pesan kakaknya. Tapi hatinya lega, setidaknya Okky baik-baik saja. Dia percaya kakaknya tak akan berbuat kriminal.
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻