
Sore itu, Rumaisha, kakak kandung Ammar datang berkunjung sambil mengantarkan pesanan baju Ibu Suri. Okta benar-benar tak peduli dengan segala hal yang berhubungan dengan pernikahan Okky. Baju untuknya dia serahkan seratus persen pada kakak iparnya.
"Assalamu'alaikum" sapa Rum, saat sampai diruang keluarga. Dia diantar mbak Surti yang menyambutnya didepan untuk membawakan barang barangnya.
"Wa'alaikum salam, eh…ada desainer cantik kebangaan bunda. Apa kabar Rum?" Ibu Suri mencium pipi kiri dan kanan Rumaisha.
"Alhamdulillah, baik bunda. Okta mana bunda?"
Ibu Suri mencebik, "Biasalah, rebahan. Kerjaannya ya gitu, makan sama rebahan. Untung adik kamu sabar dan nggak suka nuntut" kata Ibu Suri dengan nada kesal. Pasalnya si ibu hamil susah sekali disuruh bergerak, semakin besar perutnya, semakin mager(malas gerak).
Rum tertawa, "Ini mau Rum ajak jalan jalan Kok bun. Kemarin malam udah janjian lewat chat. Katanya minta ditemenin cari jajanan di dekat taman"
"Tuh kan, makanan lagi. Lama-lama lebarnya saingan sama lapangan sepak bola"
"Sembarangan! Kata mas Ammar aku seksi kok kalau gendutan, tambah cantik" ujar Okta penuh percaya diri, dia kesal karena di sandingkan dengan lapangan sepak bola oleh ibunya.
"Halah…itu bisa-bisanya Ammar aja biar kamu nggak ngambek. Tiap hari suaminya di musuhin sama dia Rum" Ibu Suri mengadu.
Rum kembali tertawa menanggapi perdebatan ibu dan anak itu. "Namanya juga ibu hamil bun, suka sensitif perasaannya" jawab Rum, membuat hati Okta bersorak. Kakak iparnya memang yang terbaik.
"Tuh dengerin, mbak Rum sama mas Ammar emang manusia paling sempurna dimata Okta. Bunda sempurna, tapi sayang……" Okta diam sejenak. "Ah…nggak jadilah, nanti moodku rusak" tambahnya.
"Bunda, eh…lagi pada ngumpul" Erika datang dengan senyum manis. Okta memutar bola matanya. Sungguh dimata Okta, sikap Erika selama ini terlihat dibuat buat. Okky tak pernah bercerita buruk tentang sikap Erika, hanya saja, insting Okta mengatakan begitu.
Ibu Suri mencium pipi kiri dan kanannya, "Hai sayang, calon mantu bunda yang cantik. Iya ini… Rum lagi anterin baju seragam buat bunda, Okta sama Ammar"
"Hai kak Rum, apa kabar?" sapa Erika dengan senyum lebar dan ramah. Rumaisha merasa aneh, berbeda sekali dengan Erika yang datang kebutiknya waktu itu. Tapi dia tak mau suudzon.
"Alhamdulillah baik" jawabnya dengan ramah.
"Ayo mbak Rum, kita jalan sekarang!" ajak Okta sambil menggandeng lengan kakak iparnya.
__ADS_1
"Kalian mau pergi, kemana ta?" tanya Erika
"Cari angin" Okta yang malas, menjawab dengan ogah-ogahan.
"Bunda, Erika, aku sama Okta pergi dulu ya. Assalamu'alaikum" pamit Rumaisha, dia melihat gelagat aneh dari adik iparnya.
"Wa'alaikum salam"
"Hati-hati dijalan"
……
Hubungan Okta dan Rumaisha memang sangat dekat. Bahkan dengan semua keluarga suaminya, Okta merasa sangat nyaman. Kedua mertuanya, kakak iparnya dan suaminya itu setipe. Sabar, lembut dan penuh kasih sayang. Mungkin benar kata pepatah, buah jatuh tak jauh dari pohonnya.
Keduanya sedang duduk bersisian dibangku taman, dengan berbagai macam camilan dan minuman.
"Ta, jangan kebanyakan makan manis ya, nanti kalau si baby terlalu besar, kamu juga yang bakalan susah. Bagaimanapun inikan pengalaman pertama kamu melahirkan" tutur Rumaisha seraya mengelus perut buncit Okta dengan lembut.
"Tadi harusnya bunda sama Erika kita ajak kesini, kan seru, tambah ramai" usul Rumaisha.
"Bisa hilang nafsu makan aku kak"
"Huss…nggak boleh begitu. Memang kenapa, Erika baik, kan?"
"Feeling aku ni ya kak…… feeling aku dia itu baiknya palsu. Kakak tahu, semenjak kak Okky dipaksa nikah sama tu orang, dia sekarang jadi dingin dan irit ngomong. Pasti ada sesuatu yang kak Okky sembunyiin " wajah Okta persis seperti ibu ibu yang sedang bergosip diwarung saat mengatakan itu.
"Jangan suudzon, lebih baik kamu tanyakan dulu sama kakak kamu. Biar kamu nggak terus terusan benci sama calon kakak iparmu sendiri hanya karena prasangka yang belum tentu benar. Bagaimanapun, kalian akan jadi satu keluarga. Kalau sampai hubungan kalian tidak baik, sedikit banyak akan berpengaruh juga sama rumah tangga kakak kamu." Rumaisha begitu lembut dan bijaksana saat memberi nasehat. Membuat Okta tak merasa digurui.
"Begitu ya kak? Oke nanti kalau kak Okky pulang aku bakalan introgasi dia, tanpa sepengetahuan Permaisuri"
"Husss…itu bunda kamu lho" Okta meringis, tapi itu panggilan kesukaannya dan Okky kalau sedang kesal pada ibunya.
__ADS_1
"Kesan pertama kak Rum waktu ketemu Erika gimana sih?" tanya Okta tiba-tiba.
Rum berfikir sejenak, dia tak mau salah berucap dan memperkeruh keadaan. "Maaf ni ya, beda aja sama yang tadi. Tapi kakak maklum sih, mungkin ketemunya juga disuasana yang berbeda. Waktu itu dia lagi kesel sama pegawai aku, jadi kaya agak ketus gitu sih" jawabnya dengan hati-hati.
"Tau nggak kak, kenapa aku bisa curiga kalau dia cuma pura pura baik?" Okta menyipitkan matanya.
"Kenapa?"
"Aku pernah nggak sengaja mergoki dia lagi marah-marah sama mbok Rah, tapi suaranya kaya dia tahan gitu. Kak Rum ngerti kan maksud aku?"
"Menggeram gitu?"
"Ah…iya, betul. Nggak tau masalah apa, cuma nggak sopan aja. Biarpun ART mbok Rah itu orang tua lho, dari dulu, ayah sama bunda nggak ngijinin kita buat nyuruh-nyuruh mbok Rah seenaknya, apalagi marah marah sama beliau. Sesalah apapun, kan bisa negur baik baik. Kayak yang…mbok Rah maling uangnya dia aja" Okta masih kesal jika mengingat hal itu. Saat itu wajah tua mbok Rah terlihat sangat tertekan, benar-benar kasihan.
"Kamu nggak tanya sama mbok Rah?"
"Udahlah…mana tahan bibir ini nggak kepo" Okta nyengir sejenak. "Tapi, ya itu…mbok Rah bilangnya enggak dimarahin, nggak ada apa-apa. Aku tahu mbok Rah cuma nggak mau kita ribut-ribut aja, karena beliau."
"Tapi kamu yakin, waktu itu dia marah marah? Kamu salah sangka kali"
"Yaqqiiinnn…orang mukanya gini" Okta memperagakan ekspresi Erika saat itu, alis bertaut, mata melotot tajam, gigi rapat, namun bibirnya bergerak tertahan saat berbicara. Mirip seperti dirinya saat diam-diam mengumpat, saat kena omelan ibu atau ayahnya dulu. Rumaisha tidak bisa untuk tidak tertawa.
"Duh…gimana ya Ta. Mbak cuma bisa doa'in ajalah, gimana yang terbaik buat Okky dan kalian semua. Okky itu laki-laki baik dan bertanggung jawab, siapapun jodohnya, mbak harap itu yang terbaik yang dipilihkan Allah. "
"Aamiin…" Okta mengusapkan kedua telapak tangannya yang baru saja dia tengadahkan, kewajahnya. "Andai aja bunda restuin kak Okky sama Kina, pasti kak Okky udah bahagia sekarang"
"Kina? Kina sekretarisnya?" Okta mengangguk, "Sudah kuduga…, ternyata aku berbakat jadi paranormal"
"Iya…pas itu, nama bekennya Mbak Rum" Rumaisha terkekeh.
Setelah menghabiskan bermacam-macam jajanan kaki lima, Rumaisha mengajak Okta pulang. Karena ia harus menjemput anak semata wayangnya disekolah.
__ADS_1