30 Hari Menjemput Jodoh

30 Hari Menjemput Jodoh
Pencuri Uang Perusahaan


__ADS_3

Ibu Suri menatap Kina dengan nyalang, "Dapat uang dari mana kamu?" tanyanya ketus.


"Maaf Ibu, itu rahasia, yang pasti halal" Kina berbicara selembut mungkin, agar tak menyinggung perasaan ibu Suri.


"Kamu ikut saya" katanya tegas, lalu keluar dari panti asuhan tanpa berpamitan pada siapapun.


"Bu Laras, mbak Dela saya permisi dulu, salam buat adik adik" Kina tersenyum, menunjukkan bahwa dirinya akan baik baik saja. Dia tak ingin Dela dan Ibunya khawatir.


"Iya nak Kina, kami sangat berterima kasih. Semoga Allah membalas kebaikan nak Kina. Aamiin…" Bu Laras ******* ***** tangannya sendiri. Dia takut terjadi hal buruk pada Kina. Apalagi melihat temannya, Suri, terlihat marah pada sekretaris anaknya itu.


"Amin…Mbak Kina, terima kasih, Kami berhutang budi pada mbak Kina, terima kasih" kata Dela dengan wajah yang sama khawatirnya dengan Bu Laras.


Kina tersenyum, lalu menepuk lengan Dela dengan lembut. "Sama sama, sudah ya, nanti Nyonya marah. Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikum salam" jawab Dela dan Ibunya kompak, lalu sama sama merapalkan doa untuk Kina dalam hati masing masing.


Kina dan Ibu Suri, duduk dibangku taman, tak jauh dari panti asuhan. Ibu Suri masih diam saja, Kina juga diam dan menunduk. Setelah beberapa menit, ibu Suri melirik Kina dengan sinis.


"Kamu sengaja menggagalkan rencana saya?"


"Maaf, rencana yang mana Ibu, saya tidak mengerti"


"Rencana perjodohan Dela dan Okky. Kamu pasti sengaja kan, membayar tuntutan ipar Laras, agar mereka membatalkan perjodohan. Dapat dari mana kamu uang sebanyak itu?Hah…!" bentaknya.


"Itu, uang saya sendiri Ibu"


"Kamu fikir saya percaya? Jangan jangan kamu korupsi uang perusahaan"


"Astagfirullah haladzim, demi Allah, saya tidak mencuri uang perusahaan"


"Okky terlalu percaya sama kamu. Saya akan telfon dia. Kalau sampai kamu terbukti korupsi, saya yang akan menjebloskan kamu ke penjara. Anak saya terlalu menyayangi sekretaris liciknya, dia pasti akan melepaskan kamu"


Kina diam, tak menyahut, fikirannya sedang kacau. Kalau begini, semua akan terbongkar, padahal dia ingin menutupi apa yang sebenarnya terjadi. Agar Okky tak mengetahui, bahwa ibunya manfaatkan kesusahan keluarga bu Laras dan anak anak asuhnya, untuk mendapatkan jodoh anaknya.

__ADS_1


Ibu Suri meninggalkan Kina duduk sendiri di kursi taman. Dia memilih menunggu di dalam mobilnya yang nyaman. Setengah jam menunggu, Okky lari tergopoh gopoh, menghampiri sekretarisnya yang duduk dengan tenang.


"Ki, mana Bunda, apa yang terjadi?" tanyanya dengan nafas terengah engah.


Kina menarik nafas panjang, "Biar Ibu yang jelaskan. Sebelumnya saya minta maaf sudah membuat kekacauan ini" katanya lirih.


Ibu Suri menghampiri keduanya dengan wajah sinis, "Makanya kalau sama karyawan jangan terlalu baik, jangan terlalu percaya. Kelihatannya saja polos" cibirnya, melirik Kina dengan tajam. Kina diam, wajahnya datar datar saja. Dia tak pernah menunjukkan apa yang dia rasakan selama ada orang lain dihadapannya.


"Bunda, cukup!" kata Okky tegas


"Belain saja terus sekretaris kebanggaan kamu ini"


"Jadi, apa yang terjadi?" menatap Kina dan Bundanya bergantian.


"Dia mencuri uang perusahaan kita!" jawab Ibu Suri, dengan suara lantang. Membuat orang orang yang ada ditaman, menoleh kearah mereka bertiga. Kina masih diam, tak menunjukkan ekspresi apa apa.


Okky terkejut, kenapa tiba tiba ibunya menuduh Kina begitu. Karena yang dibicarakan ternyata hal sensitif, Okky mengajak keduanya, menyelesaikan masalah ini dirumah Ibu Suri. Tak enak juga kalau didengar orang orang yang ada ditaman itu.


"Siapa yang mau menjelaskan duduk permasalahannya?" kata Okky, memulai pembicaraan.


"Silahkan ibu saja" kata Kina dengan sopan


"Sekeretaris kamu ini, sok pahlawan. Dia membayarkan tuntutan iparnya laras atas panti asuhan mereka, sebesar seratus juta. Ibu yakin, dia mencuri uang perusahaan untuk bergaya didepan orang orang, agar dianggap baik" tuduhnya begitu yakin, atas apa yang diucapkan.


Okky menatap Kina, "Ki, benar kamu membantu panti asuhan membayarkan tuntutan sebanyak itu?" tanyanya dengan hati-hati. Jujur saja, dia tak yakin Kina melakukan apa yang dituduhkan Bundanya.


"Benar pak" kepala Kina masih menunduk, dia yakin, semua orang sedang menatapnya saat ini.


"Dengar itu, lalu dari mana karyawan seperti dia punya uang sebanyak itu kalau tidak mencuri uang perusahaan, kamu itu terlalu baik dengannya" emosi Ibu Suri mulai naik, nada bicaranya meninggi.


Okky menatap wajah Kina yang tertunduk, "Dari mana uang itu ki?" tanyanya dengan pelan.


"Maaf…,bolehkah saya tetap merahasiakannya?"

__ADS_1


"Kina, saran saya, kamu katakan saja. Agar masalah ini tidak berlarut larut. Saya percaya, kamu tidak melakukan hal buruk untuk mendapatkan uang itu" tutur Ammar menasehati, jika Kina tidak menjelaskan dari mana uangnya berasal, pasti ibu mertuanya akan bertindak semakin brutal.


"Iya Kina, supaya semua jelas" tambah Okta, yang ikut gugup. Sedari tadi menggenggam tangan suaminya.


Ibu Suri berdiri, menunjuk nunjuk Kina. "Sudah jelaskan!! dia tidak mau buka mulut. Apalagi yang membuat kalian percaya sama dia"


Kedua asisten rumah tangga yang bersembunyi dibalik tembok hanya bisa saling menggenggam tangan. Ikut larut dalam ketegangan. Mereka sangat menyayangi Kina, keduanya sudah pernah merasakan kebaikan Kina. Mbok Rah, pernah diberi uang yang cukup banyak, saat kampungnya di landa banjir bandang. Untuk keluarga mbok Rah yang turut menjadi korban selamat.


Mbak Surti, sering diberi uang, katanya untuk tambahan uang sekolah anak Mbak Surti. Anak mbak Surti ada empat dan masih sekolah semua. Dan, semua dilakukan Kina tanpa sepengetahuan siapapun, termasuk Okky. Dia juga melarang keduanya, bercerita pada siapapun.


"Ki, katakan dengan jujur, dari mana uang itu?" kini kata kata Okky, terdengar seperti perintah yang tak mau dibantah.


Kina menghela nafas, "Maaf Pak, saya…menjual rumah peninggalan ibu"


Semua terkejut mendengar penuturan Kina, termasuk Ibu Suri, yang sedari tadi menatap Kina dengan tajam. Kini tatapannya melemah, ada rasa bersalah disana. Namun segera ditepisnya, masalah sebenarnya bukan itu. Beliau marah, karena secara tidak langsung, Kina menjadi penyebab gagalnya perjodohan Dela dan Okky yang dia rencanakan.


"Apa? tapi kenapa? nanti dimana kamu akan tinggal?" Okky mengusap wajahnya, dia tak habis fikir Kina akan senekat itu.


"Karena saya tidak ingin melihat adik adik panti terusir dari rumah mereka. Saya bisa tinggal dimana saja, pak"


"BUNDA! Astagfirullah haladzim… kenapa Bunda menuduh Kina sembarangan?" Okky menggeram, menahan emosinya.


"Pak!! Sudah, Ibu tidak tahu, wajar kalau beliau ingin tahu" Kina menatap Okky, seolah memberi kode agar tak memarahi Ibunya.


Okta berdecak, "Bunda gimana sih" . Ia merasa kecewa pada Bundanya, yang diam saja.


Ammar mengelus punggung Istrinya,agar wanita itu tak ikut ikutan emosi. "Kina, maafkan kami ya" mengatupkan kedua tangannya didepan dada.


Kina mengangguk, "Tidak apa pak Ammar, mbak Okta" lalu tersenyum tulus.


Okky benar benar merasa berdosa pada Kina, atas apa yang telah Bundanya tuduhkan. Apalagi melihat ibunya tak kunjung berucap maaf. Disisi lain, laki laki itu juga memikirkan nasib Kina kedepannya. Sekretarisnya tak punya rumah sekarang, akan tinggal dimana gadis itu setelah ini.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2