30 Hari Menjemput Jodoh

30 Hari Menjemput Jodoh
Sebelum insiden


__ADS_3

Okky terus mendekap tubuh Kina yang tak sadarkan diri. Beberapa menit lalu, seorang petugas POLANTAS menghampirinya dan memberi tahu, ambulans sedang menuju ke TKP.


Entah sejak kapan, Ali sudah berjongkok di belakang tubuh Okky yang duduk bersimpuh dipinggir jalan dengan dikerumuni beberapa orang. Ali menepuk bahu atasannya yang terlihat rapuh itu. Okky tak bergeming, seolah buta dan tuli, dengan kondisi sekitar.


Sirine beberapa ambulans meraung-raung, petugas medis dengan cekatan menurunkan tandu untuk mengevakuasi para korban kecelakaan. Okky memeluk erat tubuh Kina, tak mau melepaskannya.


"Pak, biarkan mereka membawa Kina kerumah sakit. Dia harus segera ditangani. Kina pasti selamat" ucap Ali setengah berbisik. Dia juga tak tega melihat rekan kerjanya seperti itu, apalagi Kina datang bersamanya. Ali merasa turut bertanggung jawab atas keselamatan gadis itu.


Okky memandang wajah Kina dengan sendu. "Ya…kamu pasti selamat. Kamu harus selamat" tuturnya dengan suara bergetar.


Beberapa saat sebelum terjadi insiden perampokan dan kecelakaan tadi. Kina hendak mengambil kunci motornya yang lupa dia cabut.


Kina menepuk-nepuk pahanya, tepat dibagian kantong celana. "Waduh bang, kunciku masih nyantol dimotor kayaknya. Aku ambil dulu ya. Bang Ali milih-milih dulu aja, Oke" Ali hanya mengangguk sebagai jawaban.


Ali dan Kina datang ke toko perhiasan Margaret untuk mencari kado, besok adalah hari ulang tahun ibu Siti, uminya Ali. Siang tadi, Ali curhat pada Kina karena kebingungan memilih hadiah untuk ibunya yang sudah tidak muda lagi itu. Cincin emas menjadi saran dari Kina, siapa sih wanita yang tak suka jika diberi perhiasan. Dan cincin mungkin salah satu perhiasan yang jadi kegemaran wanita, karena tidak terlalu menganggu jika dikenakan.


Kina merekomendasikan toko perhiasan milik Margaret, karena disana ada berbagai jenis perhiasan ber karat standar hingga berlian mahal. Modelnya juga di desain khusus oleh tim ditoko milik Margaret, jadi tidak pasaran. Sampailah keduanya ketoko itu setelah makan malam dan sholat isya' tak jauh dari kantor mereka.


Sesampainya diluar toko, Kina melihat Okky dan Erika yang hendak menaiki mobil. Keduanya menatap Kina dengan pandangan berbeda. Kina menundukkan kepalanya dan buru-buru menuju motornya.


"Rampooookkk!!" Kina menoleh dan melihat Erika yang sedang panik. Lalu matanya menangkap seorang pria memakai helm fullface berlari menghampiri temannya yang menunggu diatas motor berknalpot brong. Pria itu terlihat memegang paper bag berlogo toko perhiasan milik Margaret.


"Cepetan kejar! Kalau sampai cincinya hilang, pernikahan kita batal dan semua salah kamu!!" Kina terperangah mendengar ucapan Erika pada Okky. Entah setan atau malaikat yang merasukinya, Kina langsung melompat kejok motornya, mengenakan helm tanpa menguncinya karena buru-buru.

__ADS_1


Kina mengejar kedua rampok tadi, menarik gas motornya dalam dalam. Beruntung kondisi lalu lintas sedang padat. Jadi kedua rampok itu tak bisa melarikan diri. Semakin dekat, semakin dekat. Kina mencari cara untuk menghentikan motor berisik milik perampok itu. Berfikir cepat dengan kondisi panik sungguh tak mudah dilakukan.


Kina mengambil jalan pintas dengan cara yang membahayakan nyawanya juga. Memusatkan pandangan, mengunci target yang terlihat kesulitan menyalip mobil didepannya, Kina menabrakkan motornya ke motor para perampok dari arah belakang dan benturan hebatpun terjadi.


Ketiganya terpental kesembarang arah, Motor bagian depan milik Kina ringsek, pecahan kaca berhamburan menjadi serpihan-serpihan tajam. Tubuh Kina mendarat didepan sebuah mobil sedan yang sedang melintas, beruntung sang sopir dengan sigap menginjak rem. Hingga terdengan bunyi decitan yang menyakitkan gendang telinga. Semua terjadi begitu cepat.


Kini semua korban sudah dibawa kerumah sakit terdekat dan sedang ditangani. Okky sedang menunggu didepan ruangan, dimana Kina mendapat tindakan medis untuk menyelamatkan nyawanya.


Beberapa polisi dan warga yang ikut mengantar kerumah sakit juga ada disana untuk meminta keterangan dari para saksi dan korban nantinya setelah mereka sadarkan diri.


"Jadi, korban perempuan sengaja menabrakkan motornya untuk menghentikan dua perampok itu?" tanya seorang polisi dengan wajah tak percaya. Nekat sekali gadis itu, mungkin begitu fikirnya.


"Betul pak, saya juga terkejut. Harusnya dia biarkan saja rampok-rampok itu membawa kabur cincin ini. Saya lebih ikhlas kehilangan cincin ini dari pada lihat dia begini" Okky mengangkat paper bag berisi cincin berlian supermahal. Ingin sekali melempar benda sialan penyebab malapetaka itu. Untung otaknya masih waras.


Okky menghela nafas, "Inginnya sih begitu. Sayangnya bukan" jawabnya dengan wajah sedih. Pak Polisi hanya ber O tanpa suara. Lalu menepuk pelan pundak Okky.


Beberapa saat kemudian, seorang dokter yang menangani Kina keluar. "Maaf bapak-bapak sekalian, pasien butuh transfusi darah, beliau kehilangan banyak darah karena luka dikepalanya yang cukup parah."


"Ambil darah saya saja dokter, biar cepat. Kalau harus cari ke PMI pasti lama. Golongan darah kami sama" ya! Okky dan Kina punya golongan darah yang sama. Keduanya sama-sama tahu hal itu. Mereka memang tahu banyak tentang pribadi masing-masing. Hubungan bos dan sekretaris yang terjalin selama dua tahun ini, memang bisa dikatakan sangat dekat. Seperti rekan kerja, keluarga, sahabat, teman curhat, teman kulineran dan masih banyak lagi, paket komplit.


Okky menatap Kina yang terbaring dibrankar rumah sakit dengan beberapa luka di tubuhnya. Gadis itu masih berada dalam pengaruh obat bius, entah kapan dia akan bangun. Kondisinya cukup stabil, meski mengalami gegar otak yang cukup berat. Namun dokter sudah menanganinya, hanya saja, setelah ini Kina harus istirahat total dalam waktu yang cukup lama. Semua berkat helm mahal pemberian Okky. Helm itu sampai retak dibagian belakangnya. Meskipun tak dikunci, untungnya helm itu tak terlepas saat Kina terjatuh.


Okky merapikan jilbab berbahan kaos dikepala Kina, yang dipakaikan suster atas permintaan pria itu. Dia tak mau aurat Kina dilihat pria lain, meskipun itu dokter yang menanganinya. Uh…posesif sekali, padahal dia sendiri juga bukan Mahramnya.

__ADS_1


"Kina…Ki…lagi-lagi kamu harus jadi korban atas permasalahan hidupku. Dengan cara apa aku harus membalasnya nanti Ki, terlalu banyak luka yang nggak sengaja aku ciptakan buat kamu. Kalau aku tahu, perasaan cintaku cuma jadi kesialan dalam hidup kamu. Lebih baik aku simpan dan nggak akan aku ungkapkan. Biar Allah saja yang tahu. Semua karena kebodohan aku Ki. Maafin aku…maaf " ucapnya tanpa peduli Kina yang sedang terpejam itu mendengarnya atau tidak.


Tok…


tok…


tok…


"Masuk" ucap Okky mempersilahkan.


"Selamat malam pak……Bagaimana keadaan Kina?" mata Ali langsung melirik gadis berhijab yang nampak tenang memejamkan mata. Ali baru kembali setelah membuat laporan kekantor polisi untuk Okky.


Okky menatap Kina sejenak, "Masih dalam pengaruh obat bius, tapi kata dokter kondisinya stabil. Tidak ada luka dalam yang serius." ucapnya


"Alhamdulillah……Mungkin bapak ingin pulang untuk istirahat? Biar saya yang menjaga Kina disini" Ali mengatupkan bibirnya karena mendapat hadiah lirikan tajam setelah mengatakan itu.


"Maaf pak…maksud saya, bapak bisa makan atau ganti baju dulu, nanti kesini lagi." imbunya.


Okky menunduk, melihat kemeja dan celananya yang penuh noda darah. "Ah iya, saya mau ambil mobil saya dulu. Terus ganti baju sebentar. Kamu jaga disini, jangan macam-macam!"


"Memang orang sakit bisa di macam-macamin, pak?" tanya Ali dengan polosnya.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2