30 Hari Menjemput Jodoh

30 Hari Menjemput Jodoh
Siap Menikah


__ADS_3

Kina penasaran melihat Ali berjalan keluar dari ruangan Direktur utama sambil mengelus ngelus dadanya, mulutnya juga sepertinya sedang beristigfar berkali kali.


"Bang Ali, kenapa sih, ada yang salah?" Kina tak mampu menahan rasa penasarannya.


"Nggak kok, mungkin pak Okky lagi bad mood aja"


"Bang Ali kena marah, laporannya ada yang kurang?"


"Bukan…bukan masalah laporan. Dia marah, katanya wajahku ini bikin karyawan perempuan dikantor ini nggak konsen kerja. Mulai besok saya disuruh pakai masker katanya"


Kina menggaruk pipinya, "Hah…aneh banget" gumamnya sambil geleng geleng kepala.


"Yasudah, saya kembali keruangan saya dulu ya, anak anak sudah menunggu. Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikum salam"


Kina mengetuk pintu ruang kerja Okky untuk mengantar berkas dan mengingatkan, ada jadwal meeting siang ini dengan pimpinan dari kantor cabang.


Beberapa kali ketukan, tak ada respon. Bahkan tirai penutup dinding kaca juga ditutup. Kina mencoba keberuntungan, memutar handle pintu perlahan. Setelah pintu terbuka sedikit, dia melihat Okky meringkuk di sofa. Kina buru buru menghampirinya.


"Pak…Bapak kenapa?" Kina membungkukkan badan meneliti wajah Bosnya yang matanya terpejam itu.


"Eemmm…" hanya itu respon dari Okky.


"Bapak sakit, bapak butuh sesuatu?"


"Berisik!" Katanya dengan kesal


"Maaf, saya hanya khawatir" Kina menegakkan badannya dan sedikit menjauh. Okky jadi merasa bersalah melampiaskan kekesalan pada Kina.


Okky membuka matanya, menatap wajah Manis Kina dari bawah, "Kamu khawatir sama saya?" tanyanya dengan lembut.


"Iya, soalnya sebentar lagi meeting dengan cabang, kalau bapak sakit siapa yang akan menggantikan. Masak iya, saya"


Okky berdecak, ada rasa kecewa mendengar jawaban Kina. "Kirain khawatir beneran, taunya…" wajahnya semakin cemberut.


Okky mengubah posisinya menjadi duduk dan meraih tangan kina, menariknya hingga duduk di sebelah Okky. Mereka duduk begitu dekat, Kina yang terkejut, mengerjapkan matanya berkali kali.


Tiba tiba Okky mengusap pipi Kina, matanya masih menatap dengan lekat. Tubuh Kina jadi kaku, tiba tiba dia lupa lagi cara bernafas. Otaknya sedang bekerja keras mengembalikan fungsi paru paru.

__ADS_1


"Habis makan kue ya?" tanya Okky. Kina memundurkan tubuhnya, mereka duduk terlalu dekat. Dia takut, setan tiba tiba menyusup diantara mereka.


"I…iya pak, cuma nyicipin sedikit. Belepotan ya?" Kina menjawab dengan tergagap gagap. Lalu meletakkan kertas yang dibawanya dimeja, mengusap wajahnya dengan sedikit kasar. Okky ingin tertawa melihat wajah grogi Kina.


"Iya…kue dari Ali?"


"Iya pak, dari uminya bang Ali. Katanya ucapan terima kasih, kue buatan sendiri. Enak banget pak, Bapak mau? Biar saya ambilkan"


"Nggak…nggak usah, saya mau kamu aja. Boleh?"


"Kan saya sudah disini pak, Bapak bercanda aja sih. Bapak lagi ada masalah?"


"Banyak, kepala saya sampai migrain," Okky memijat kepalanya yang berdenyut.


"Minum air putih yang banyak pak, mau saya buatkan sesuatu?"


"Nggak…nggak makasih, kerja yuk, kayanya kerjaan saya banyak nih. Padahal saya pengen ngerjain kamu" matanya melirik setumpuk kertas di meja. Kina hanya tersenyum tipis menanggapi candaan bosnya.


……


Keberuntungan sepertinya benar benar tak berpihak pada Okky, sudah dua minggu sejak merencanakan akan bicara dari hati ke hati dengan Kina untuk mengajaknya menikah, hal itu tak terlaksana juga.


Pabrik miliknya mengalami kendala yang cukup serius. Beberapa petinggi pabrik, melakukan kecurangan, mengganti bahan bahan berkualitas yang biasa dipakai, dengan bahan bahan kualitas jelek. Akibatnya, banyak produk yang sampai ketangan konsumen dengan kondisi kurang baik. Semuanya terbongkar, saat pemerintah melakukan sidak, karena banyaknya keluhan dari konsumen.


Fikiran Okky benar benar kacau, pontang panting kesana kemari untuk menyelamatkan perusahaan. Ada ribuan karyawan yang berlindung dibawahnya. Jika dia salah melangkah, perusahaan akan bangkrut, karyawan akan kehilangan mata pencaharian mereka.


Okky duduk di kursi kebesarannya, menopang kepala sambil memijat mijat keningnya, dia benar benar lelah, jiwa dan raganya semuanya lelah. Kina tak kalah lelahnya, tapi jelas berbeda, tanggung jawab Okky lebih besar dari pada Kina.


Kina prihatin melihat wajah pucat bosnya, "Pak…" panggilnya dengan pelan, takut mengagetkan Bosnya.


Okky mendongak, "Ya…kenapa Ki, apa pemerintah sudah memberi keputusan?"


"Saya boleh masuk?"


"Ya…ya boleh, masuklah"


Kina duduk dihadapan Okky, membawa selembar surat keputusan dari pemerintah yang dikirim via email, baru saja di print oleh Kina.


Okky meneliti wajah Kina, "Berita buruk ya Ki?"

__ADS_1


"Alhamdulillah, ijin perusahaan bapak tidak dicabut. Hanya saja, kita dapat peringatan keras, jika melanggar lagi, maka tidak ada toleransi. Kita juga kena denda pak"


"Alhamdulillah, nggak apa lah Ki, mending bayar denda dari pada pabrik ditutup. Bagaimana nasib karyawan kita nanti"


"Tapi…kepercayaan konsumen pada produk kita jadi menurun drastis pak, hal inilah yang saya takutkan sejak awal"


"Kita harus atur strategi lagi Ki, bagaimana caranya, kita bisa ambil hati Konsumen lagi. Kita harus buat mereka percaya, kalau produk kita masih yang terbaik"


"Kita berdoa dan berusaha sama sama ya pak, saya akan selalu dukung bapak dan perusahaan ini. Insya Allah semua akan kita lalui dengan hikmah yang luar biasa"


"Aamiin…"


……


Sudah dua minggu pula, Okky tak menjenguk Bunda. Mereka hanya bertukar kabar lewat telefon atau video call. Bunda dan Okta tak tahu jika perusahaan sedang bermasalah, Yang tahu hanya Ammar. Okky tak pernah mengijinkan ibu dan adiknya, ikut memikul beban perusahaan. Keduanya hanya boleh tau hal hal yang baik saja.


Okky datang dengan wajah lelahnya, tapi tak menyurutkan niat Ibu Suri untuk mengomelinya.


"Dasar anak kurang ajar, bisa bisanya dua minggu nggak nengokin Bunda. Kalau tiba tiba bunda mati, terus kita nggak bisa ketemu bagaimana?Hah……!" Dia menutup majalah yang sedang dibaca dengan kasar dan melemparnya keatas meja.


"Maaf Bunda, Okky sibuk, jangan marah ya" Okky menyandarkan kepalanya dibahu Ibu Suri dengan manja.


"Kamu ingat kan, besok, tepat tiga puluh hari perjanjian kita"


Okky mengangkat kepalanya, memandang wajah Bunda. "Masak sih bun, kok aku lupa ya?"


"Nggak ada alasan lagi"


"Oke, aku pilih menikahi Kina. Aku akan menikahi Kina secepatnya. Bunda jangan khawatir, sebentar lagi Bunda akan punya menantu dan akan segera kubuatkan cucu yang lucu untuk melawan anak Okta" kata Okky dengan semangat.


Kening Ibu Suri mengernyit, "Kina? Nggak…ibu nggak mau!" tolaknya dengan tegas.


"Lho, kan perjanjiannya kemarin begitu, kalau Okky tidak segera mendapat jodoh, maka Okky harus menikahi Kina. Iya kan?"


"Bunda nggak mau kamu menikah sama Kina.Ti…tik!"


"Tapi aku mencintai Kina Bunda" Ibu Suri melotot, dia terkejut mendengar pengakuan anaknya.


Satu ditambah satu sama dengan dua. Aku ditambah kamu sama dengan kita.

__ADS_1


^^^Okky dermawan^^^


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2