
Sepulang kerja, Okky mengajak Kina makan direstoran, untuk membahas soal Mika dan perjodohan Okky. Kina berusaha menyembunyikan kesedihannya, pura pura tegar sudah jadi hobinya sejak kecil.
Menatap hamparan seafood dimeja, mata Kina berbinar. "Makan besar nih, dalam rangka apa pak?"
"Ulang tahun ikan ****** saya" jawab Okky dengan ekspresi datar.
"Haha, ada ada aja, dulu cupangnya lahir normal apa sesar pak?"
"Normal, di pacu dengan metode pencet. Saya pencet perut ibunya sampai bayi cupangnya keluar"
Kina terbahak, "Gugur dong pak ibunya si ******, semoga diterima amal ibadahnya"
"Aamiin. Makan, kayanya penyakit gila kamu kambuh" cibir Okky. Bersama Kina memang selalu membuatnya jadi diri sendiri.
Menikmati seafood berdua, mereka terlihat seperti sepasang kekasih. Apalagi Okky selalu memberi perhatian perhatian kecil pada Kina, seperti membantunya memecahkan cangkang kepiting, membukakan kerang yang masih mengatup, membuka botol minum untuk Kina.
Tujuan Okky mengajak Kina makan malam, untuk sedikit menghibur hati Kina. Dia tak mau Kina berlarut larut memikirkan kata kata Mika yang pasti melukai hatinya. Walaupun dia sadar, sudah cukup terlambat menghibur Kina sekarang.
"Ki, kejadian di video itu, waktu saya ngadain acara makan siang itu ya?" Kina mengangguk, "Kok kamu nggak cerita sama saya?"
"Sudahlah, nggak penting, saya baik baik saja kok pak. Terima kasih atas perhatiannya ya, saya bersyukur punya atasan sebaik bapak" Kina mengacungkan dua jempol berlumuran bumbu seafood.
"Setidaknya saya harus tahu, itu kan terjadi dikantor saya ki" protesnya, dia merasa Kina tidak mau membagi bebannya. Padahal Okky suka sekali berkeluh kesah padanya.
"Maaf deh, sebenarnya saya diam karena tidak ingin masalah ini berlarut larut, saya juga tidak menyangka kalau ada yang merekam kejadian itu"
"Tapi setelah kejadian itu, apa Mika pernah menyerang kamu lagi?" Kina menggeleng.
Tapi temannya yang lain yang menyerang, ungkapnya dalam hati. Kina berharap, kejadian dikantin tak ada yang merekam. Dia tak ingin di cap banyak musuh di kantor.
"Sekarang soal perjodohan, kemarin bunda ngamuk ngamuk, gara gara sepupu saya yang lebih muda dari saya mau nikah, mau nggak mau saya harus mengikuti kemauan bunda soal perjodohan. Saya nggak mau, bunda terus terusan menyalahkan kamu"
"Bagaimana perasaan bapak?"
Mata Okky terbelalak, "Perasaan saya ke kamu? Kenapa tiba tiba ingin tahu?" katanya, dia jadi salah tingkah sendiri.
"Bukan…, perasaan bapak menjalani perjodohan. Kenapa jadi perasaan bapak kesaya?" Okky merasa bodoh, bisa bisanya dia salah paham dengan pertanyaan Kina.
"Oh, ya…seperti kata kamu, akan saya coba dulu, kalau jodoh ya nikah, kalau enggak ya datang kenikahannya"
__ADS_1
"Haha, bisa bisa"
"Tapi, saya ingin kamu selalu dampingi saya disetiap prosesnya ya Ki, saya butuh kamu"
Kina mengerjapkan matanya berkali kali. Rasanya terharu sekali, ada seseorang yang menganggapnya penting. Kina terlalu sering diabaikan orang orang disekitarnya, bahkan ayahnya sendiri, tak pernah peduli padanya.
Kina Mengangguk dan tersenyum, menahan air matanya yang siap meluncur. Okky tersenyum hambar, hatinya serasa dicubit, melihat Kina bahagia dan bersemangat membantunya mencari pendamping.
……
Pagi ini, Okky akan menjalankan misi pertamanya. Menemukan pendamping hidup, yang diinginkan Bunda. Seperti kata Kina, Okky ingin menunjukkan baktinya pada Bunda, orang tua yang kini tinggal satu satunya.
Dari dulu, kebahagiaan Bunda dan Okta prioritas utama untuk Okky, dia rela bekerja keras, siang malam, mengurus perusahaan sendiri, semenjak kepergian ayahnya kepangkuan ilahi. Mengemban beban sebagai kepala keluarga, saat teman teman seusianya masih sibuk nongkrong dan bersenang senang menikmati uang orang tua mereka.
"Ki, bukannya ini pondok pesantren ya?" menunjukkan titik lokasi yang baru saja di kirim bunda lewat aplikasi chat.
"Al Iman?! iya deh kayanya pak"
"Aduh, bunda gimana sih, jangan jangan ini yang dimaksud anaknya pak kiyai lagi" Okky memijit pangkal hidungnya.
"Siapa tau santriwati disana Pak, coba datangi dulu saja"
"Ki, apa pantas laki laki yang jauh dari Tuhan kaya gini dijodohkan dengan penghuni pondok pesantren, sekalipun dia cuma santriwati disana. Nggak jadi aja deh" Okky mulai gusar, berkali kali mengesah.
"Yakin nih, kesana?"
"In sha Allah"
Sepulang kerja, Okky dan Kina menuju alamat yang diberikan Bunda. Saat sudah sampai dititik lokasi yang dimaksud, Okky terlihat frustasi. Benar saja, pondok pesantren yang cukup besar ada didepan mata mereka.
Kina keluar dari mobil, matanya menatap gerbang Pondok Pesantren Al Iman dengan mata berkaca kaca. Tempat ini mengingatkan Kina pada Ibunya.
"Ki, kamu kenapa? kok sedih?"
"Ini…tempat ini, dulu setiap minggu pagi, setelah sholat subuh, ibu rutin mengajak saya kesini. Mengikuti pengajian umum" air mata Kina tak tertahan lagi, Kina menutup wajahnya "Ibuuu, Kina kangen" tangisnyapun pecah.
Kina menangis tersedu sedu. Okky mengajaknya masuk kemobil lagi, mendekap Kina yang sedang menumpahkan kesedihannya. Mengusap punggung gadis itu, Okky ikut menitikan air mata. Ternyata sekertarisnya yang selalu memamerkan senyum itu, menyimpan banyak luka sendirian.
"Kita pulang saja ya, saya nggak mau lihat kamu sedih sedih begini"
__ADS_1
Kina mengangkat wajahnya, menatap bosnya , "Jangan…saya ingin masuk kedalam, saya rindu suasana dipesantren ini. Ibu sangat suka berlama lama disini. Usai pengajian, ibu akan mengajak saya duduk diteras masjid, memperhatikan para santri dan santriwati berlalu lalang. Mendengarkan lantunan ayat ayat Al Qur'an, ibu suka sekali, katanya suara mereka merdu, menentramkan hati. Tapi, menurut saya ibu salah" kata Kina, kepalanya tertunduk lagi.
"Kenapa?"
"Suara mengaji paling merdu, ya suara ibu" mata Kina menerawang, mengingat saat saat masih bersama ibu, satu satunya orang yang melimpahinya dengan kasih sayang.
Lagi lagi air mata Kina bercucuran, dadanya terasa sesak, rindunya pada Ibu entah sudah sebesar apa. Okky mengelus kepala Kina dengan lembut. Membiarkan Kina menumpahkan semua kesedihannya.
"Sudah?" Okky menatap Kina yang sibuk menghapus air matanya dengan tisu "Yakin, mau masuk?" Kina mengangguk dengan yakin.
"Saya ingin melihat seseorang, siapa tahu beliau ada didalam"
Okky mengangkat satu alisnya, "Siapa?" tanyanya.
"Seseorang yang sangat saya kagumi, semoga saja Allah mempertemukan kami. Pasti sekarang beliau sudah dewasa"
"Pasti cowok idaman kamu, cinta monyet"
"Bukan…" tiba tiba Kina memegang kepalanya, "Astagfirullah, saya nggak bawa jilbab" katanya dengan wajah panik.
"Memang wajib ya, kalau masuk kesini harus pakai jilbab?"
"Enggak…untuk bapak, iya untuk saya" Okky mendengus mendengar jawaban Kina.
"Kata ibu saya disini tempat orang orang sholeh, tempat menimba ilmu agama, jangan nodai mata mereka dengan aurat kita. Jika masuk kesini setidaknya tutup aurat dan tundukkan pandangan. begitu pesan ibu pada saya"
"Itu ada toko jilbab, beli disana aja yuk" Okky menarik tangan Kina, menuju toko jilbab diseberang jalan.
Okky berkali kali melirik Kina yang terlihat berbeda dengan jilbabnya. Mereka berdua memasuki area ponpes dengan berjalan kaki, meninggalkan mobil dipinggir jalan.
"Assalamu'alaikum mbak, boleh tanya?" sapa Kina saat melihat seorang santriwati.
"Iya kak, boleh"
"Kalau mbak Almeera, tinggalnya disebelah mana ya?"
"Oh, ning meera, mari saya antar"
"Boleh, makasih ya"
__ADS_1
Mereka mengikuti santriwati tadi, hingga sampailah kesebuah rumah sederhana tapi cukup luas terbuat dari kayu jati. Santriwati tadi mengetuk pintu, dan keluarlah seorang bapak bapak yang Kina kenali sebagai Kiyai abdullah, pemilik ponpes.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻