30 Hari Menjemput Jodoh

30 Hari Menjemput Jodoh
Rumus mencari Jodoh


__ADS_3

Ibu Suri sedang arisan bersama komunitasnya. Wanita wanita dari kalangan atas, berkumpul menjadi satu. Semua berdandan heboh, seolah ingin memamerkan kekayaan masing masing.


Seorang gadis cantik menarik perhatiannya. Dia datang untuk menemani ibunya. Ibu Suri mendekatinya dan menyapa dengan ramah.


"Hai, kamu cantik sekali, putrinya jeng Diana ya?" gadis itu menyalimi ibu Suri, mencium tangannya dan mereka saling menempelkan pipi, cipika cipiki.


Tersenyum manis, "Iya tante, nama saya Erika, senang berkenalan dengan tante" dia berucap dengan begitu lembut dan elegan.


"Saya tante Suri, kok baru kali ini ikut Diana kumpul kumpul?"


"Saya baru pulang dari jerman tante, menyelesaikan S2 disana"


"Wah, sempurna…cantik, sopan, berpendidikan. Ngomong ngomong sudah punya pacar apa belum?" pertanyaan Ibu Suri mulai menjurus.


"Belum tante, belum ketemu yang klik dihati" jawabnya malu malu.


Ibu Suri tersenyum lebar, "Kebetulan sekali, bagaimana kalau saya kenalkan dengan anak saya. Dia direktur utama diperusahaan keluarga kami, PT. Nice Food, kamu taukan?" tuturnya dengan antusias, memamerkan jabatan anaknya, untuk menarik perhatian Erika.


"Tau…tau tante, itukan perusahaan terkenal. Wah, saya mana berani berkenalan dengan orang sehebat anak tante, pimpinan perusahaan besar. Saya cukup tau diri tante" katanya, merendah.


Setelah berbincang cukup lama. Akhirnya Ibu Diana, selaku mamanya Erika, menyetujui rencana Ibu Suri, untuk mengenalkan anak anak mereka. Ibu Suri terlihat bersemangat, menyusun rencana untuk menjodohkan anaknya.


Dia tak mau gagal lagi kali ini. Apalagi Erika ini gadis yang istimewa. Cantik, Tinggi, Anggun, Sopan dan Pandai. Benar benar wanita idaman. Ibu Suri yakin rencananya akan berhasil kali ini. Apalagi Erika langsung memuji ketampanan Okky, saat melihat foto pria itu diponsel ibu Suri.


……


Kina duduk bersebelahan dengan Okky, melakukan zoom meeting dengan tim pemasaran yang sedang bertugas di berbagai kota besar di indonesia.


Masing masing tim sedang memaparkan laporannya. Semua terlihat serius, tak ada yang berani bercanda. Apalagi dihadapan direktur utama yang setahu mereka sangat serius dan tegas. Andai mereka tahu sifat pimpinan mereka yang sesungguhnya. Kurang lebih tiga puluh menit, zoom meeting diakhiri oleh Okky, selaku pimpinan mereka.


Kina mencatat poin poin yang disampaikan masing masing tim, apa saja kendala yang dialami tiap tiap daerah dan bagaimana minat masyarakat disana dengan produk produk perusahaan mereka, terutama Pok Pok Chicken sebagai pendatang baru.

__ADS_1


"Ki, jadi secara tidak langsung, tim promosi yang good looking juga jadi salah satu alasan beberapa orang mau membeli produk kita ya?" tanya Okky pada sekretarisnya yang kini duduk berhadapan dengannya, di depan meja kerja direktur utama.


Kina yang sibuk menulis, menganggukkan kepala. "Bisa dibilang begitu pak, tapi good speaking juga tak kalah penting, good looking tapi tidak bisa berkomunikasi dengan konsumen sama saja bohong" tuturnya tanpa melihat bosnya. Masih sibuk dengan urusan tulis menulis.


"Begitu ya?"


"Mungkin" Kina mengedikkan bahu.


"Kalau menurut kamu, good looking itu penting nggak sih Ki?"


"Dalam hal apa dulu, kalau dalam hal pekerjaan, bisa dibilang penting tapi tidak selalu penting. Tergantung bidang pekerjaannya juga. Perusahaan jaman sekarang, selalu melampirkan syarat 'berpenampilan menarik', saat memasang lowongan kerja. Tapi, apa iya, perusahaan mau, menerima gadis yang cantik dan seksi tapi menyentuh keyboard komputer saja seperti menyentuh ubi madu yang masih panas?" Kini dia menatap lawan bicaranya, merasa pertanyaan Okky cukup menarik.


Okky tertawa, "emang nyentuh ubi panas gimana sih Ki?" Kina mempraktekan dengan jarinya, gerakan saat seseorang ragu ragu ingin menyentu benda panas, dengan telunjuknya. Membuat Okky tak bisa menahan tawanya.


"Kalau untuk hal lain, perlu nggak good looking itu?" tanya Okky lagi. Entah menjurus kemana arah pertanyaanya.


"Contohnya?"


Kina terlihat berfikir, "Emm…perlu, tapi bukan yang utama, bonus. Saya pernah dengar, ceramah salah satu ustadz di televisi. Memilih pendamping itu ada rumusnya"


"Jika dia shaleh atau shalehah maka berikan dia nilai 1, jika dia kaya maka tambahkan 0 dibelakangnya, nilainya jadi 10. Ternyata dia juga rupawan, tambahkan 0 lagi, maka nilainya 100. Dan dia datang dari keluarga baik baik, tambahkan 0 lagi. Maka nilainya jadi 1000. Tapi bayangkan, jika poin pertama dia tidak punya, maka semuanya tak ada nilainya " tuturnya panjang lebar.


Okky menatapnya dengan lekat, "Jadi, menurut kamu, saya tidak ada nilainya?"


"Ada, kan sekarang Bapak rajin shalat lima waktu, jadi nilai bapak seribu. Shaleh, ganteng, kaya, dari keluarga baik baik" Kina berbicara sambil mengabsen jarinya.


"Lalu, apa yang membuat kamu tidak menginginkan saya?"


Kina mengangkat satu alisnya, "Memang saya pernah bilang begitu? Saya bukan tidak menginginkan bapak atau laki laki manapun. Saya hanya sedang menunggu jodoh yang dikirim Allah untuk saya, siapapun itu"


"Kalau itu saya, bagaimana?"

__ADS_1


"Ya…saya terima dengan ikhlas. Jangan jangan, bapak habis ngintip jodoh saya di lauhul mahfuz ya?" candanya, dia sama sekali tidak terlihat Baper dengan pertanyaan Bosnya yang terdengar menjurus itu.


"Ngaco kamu!" cibir Okky, melempar Kina dengan bolpoin, tapi sengaja tidak diarahkan pada sekretarisnya.


Kina sungguh tak mudah ditebak, dia berbeda. Sepertinya dalam hidupnya tak mengenal kata Baper, meleleh dan Tersipu malu, seperti kebanyakan perempuan.


Bahkan gadis itu, bisa memuji Okky dengan gamblang, tanpa malu malu. Entah sudah berapa kali dia membuat Bosnya Baper dan salah tingkah, karena pujian darinya.


……


Sepulang kerja, Kina mengendarai motornya, menuju panti asuhan. Dia sudah ada janji temu dengan adik ipar Bu Laras. Dia ingin hari ini semua selesai, dan penghuni panti asuhan bisa menjalani hari harinya dengan tenang.


Adik ipar Bu laras, yang bernama Pak Joko dan istrinya, Bu Ani, sudah menanti kedatangan Kina. Lebih tepatnya, menunggu uang Kina. Tak mau berlama lama, Kina menyodorkan surat perjanjian, berkas balik nama sertifikat dan kwitansi yang harus mereka tanda tangani.


"Surat apa Ini?" tanya Pak Joko, menatap lembaran lembaran kertas diatas meja.


"Silahkan dibaca, Bapak, Ibu!" kata Kina dengan sopan.


"Bisa dijelaskan saja, biar langsung transaksi, kami tidak punya banyak waktu"


"Hem…tidak sabar ternyata, intinya ini surat perjanjian bahwa Bapak dan Ibu sekeluarga, menyatakan rumah ini milik Mbak Dela, selaku ahli waris ayahnya. Bapak dan Ibu tidak akan menuntut apapun lagi, atas rumah ini dikemudian hari. Yang lain, hanya kwitansi pembayaran seratus juta dari saya dan berkas balik nama sertifikat rumah, menjadi atas nama Mbak Dela" tutur Kina. Pak Joko mendengus, melirik Kina dengan sinis.


"Sini…sini biar saya tanda tangani, biar cepet, memang kenapa harus pakai perjanjian segala sih, Mbak Laras curiga kalau kita bakalan nuntut macam macam" ucapnya dengan ketus, tangannya sibuk membubuhkan tanda tangan sesuai arahan Kina.


"Antisipasi Bapak, Ibu" jawab Kina


Semua sudah beres, uang sudah masuk kerekening Pak Joko. Bu Laras merasa lega, begitu juga dengan Dela dan Kina. Kina tak mau memberi tahu, asal uang yang dia bayarkan pada Pak Joko, dia hanya meyakinkan jika itu uang halal.


Ibu Suri tiba tiba masuk dengan wajah kesal, terutama pada Kina. Semua terdiam, tak ada yang berani buka suara. Mereka tak tahu, apa saja yang diketahui Ibu Suri.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2