30 Hari Menjemput Jodoh

30 Hari Menjemput Jodoh
Nikah Yuk!


__ADS_3

Seperti keluarga kecil yang bahagia dengan sosok malaikat mungil didekapan sang ibu, begitulah penampakan Kina, Okky dan Ori ditaman rumah ibu Suri. Ibu Suri dan Okta jelas tak menyia-nyiakan pemandangan itu. Keduanya seperti paparazy yang mengintip dan sesekali memotret dari kejauhan.


"Okky kayanya seneng banget ya, Ta?" tanya ibu Suri, masih memandang keluarga palsu yang sedang duduk dibangku taman. Senyum tipis menghiasi bibirnya.


"Iyalah, ketemu sama lope lopenya masak kagak seneng" kata Okta yang masih sibuk zoom in zoom out bidikannya di kamera ponsel. Dia akan menggunakan foto yang ia ambil, sebagai bahan mengolok-olok Okky dan dikirimkan pada Ammar yang berada diluar kota, sebagai kabar gembira.


"Apa lope lope?" tanya Ibu Suri dengan raut wajah bingung.


Okta berdecak, "Cinta bun cinta" jawabnya. "Coba dulu nggak pake acara jodoh-jodohan, pasti mereka berdua udah bereproduksi sendiri"


"Halah, bahasamu, bereproduksi" cibir ibu Suri. "Kalau jodoh nggak akan kemana"


"Kalau nggak kemana-mana nggak akan dapat jodoh" Okta menimpali, sedikit berteriak, karena bundanya sudah melangkah, meninggalkannya yang masih kemal(kepo maksimal).


Semetara itu, dikursi taman, Kina terlihat begitu bahagia menimang Ori. Seperti tidak puas, mencium pipi dengan kulit halus dan mulus itu lagi dan lagi. Okky tersenyum, andai saja semua ini nyata, dia pasti akan merasa lebih bahagia lagi.


"Oh ya, Ori berapa bulan sih pak?" pertanyaan Kina menyadarkan Okky dari imajinasi indahnya.


"Kayanya mau tiga bulan. Kalau nggak salah. Dia lahir, beberapa hari setelah kamu menghilang. Gadis kecil ini yang membuatku mau tak mau berhenti mencari kamu. Mamanya lebih rewel dari pada anaknya"


Kina tertawa pelan, "Rewel kenapa pak?"


"Eh, saya ini bukan atasan kamu lagi lho. Kenapa masih manggil pak sih?" protes Okky.


"Dari pada bu?" Kina menjawab dengan entengnya.


Okky mendengus, "Ya maksudnya panggil mas, kakak, akang, abang atau kakanda gitu"


"Kakanda, berasa nonton serial kolosal, angling dharma?" canda Kina. Keduanya tertawa, Ori ikut tertawa, seolah mengerti apa yang dua orang dewasa itu bicarakan.


Hening!!


"Emmm…Ki, jadi---kamu tahu kalau video itu viral dimedsos?" tanya Okky ragu, setelah mereka terdiam cukup lama.


"Tahu, makanya saya memilih menenangkan diri dipesantren kiyai Abdullah. Tempat itu benar-benar cocok untuk menghindari dunia luar. Saya juga sengaja tidak menggunakan handphone, kecuali untuk hal-hal yang benar-benar penting"


"Emm…kamu serius kan, sudah memaafkan kami? Saya tahu, kesalahan kami cukup fatal, jadi wajar---"


"Mungkin, memaafkan tidak membuat kita melupakan begitu saja. Tapi setidaknya, memaafkan, menyembuhkan luka hati, dan mendendam hanya akan melukai hati kita semakin dalam" potong Kina, ia anggap permintaan maaf ibu Suri sebagai ******* dari rentetan masalah diantara mereka. Dia tak ingin membahasnya lagi.


"Saya memilih membebaskan hati saya dari dendam karena saya sangat mencintai diri saya. Saya tidak mau hidup yang tidak tahu sampai kapan ini, sia-sia hanya mengurusi masalah dendam saja" imbuhnya.


"Luar biasa" puji Okky dengan mata berbinar, Kina mengalihkan pandangannya pada Okky, lalu tersenyum.

__ADS_1


Manisnya!


"Nikah Yuk!" ajak Okky tanpa basa-basi. Kina melongo.


"Ngajak nikah kayak ngajak beli cilok" cibir Okta yang diam-diam sudah berdiri dibelakang mereka. Wajah Okky memerah, malu sekali.


Okta meraih Ori yang ada dalam dekapan Kina, "Aku nggak nguping ya, aku cuma mau ambil Ori. Ditunggu bunda diruang keluarga" ucapnya lalu terbahak-bahak. Ia puas sekali melihat wajah kakaknya panik, karena kepergok melamar wanita dengan cara yang enggak banget.


"Ori, papa kamu walaupun nggak romantis tapi nggak gitu-gitu amat. Parah euy!" sindir Okta.


Okky melirik Kina sekilas, gadis itu nampak mematung. Perasaan cemas tiba-tiba menyerangnya, ia takut Kina marah karena ajakan nikah yang dia lontarkan tadi. Tapi sudah kadung terucap.


Lanjut sajalah!


Okky memutar tubuhnya, menghadap Kina yang terlihat canggung. "Ki, saya serius soal yang tadi. Maaf kalau tidak romantis atau berkesan. Saya hanya tidak ingin kehilangan kesempatan lagi, saya takut kamu akan menghilang lagi"


"Ehem" Okky berdehem, berusaha menetralkan debar jantungnya yang menggila. Diraihnya jemari Kina.


Aaaaa…gimana ini, aku deg-degan. Jerit Kina dalam benaknya.


"Mau ya, nikah sama aku"


GUBRAKKKK!!!


Rasanya seperti terjatuh dari tempat tidur saat kamu sedang mimpi indah. Padahal Kina sudah menanti kata-kata manis yang ia kira akan meluncur dari bibir Okky. Ternyata tidak jauh beda dari lamaran yang tadi.


"Gimana? Mau ya…ya…"


"Emmm, sebelumnya saya minta maaf---"


Okky menyandarkan punggungnya, "Ditolak lagi ya? Yasudahlah, kapan-kapan saya coba lagi" ucapnya, putus asa.


Kina menggaruk pipinya, "Eh? Kan saya belum selesai"


Okky menegakkan badannya lagi, "Jadi, diterima?" tanyanya dengan antusias.


"Enggak juga"


Menyandarkan punggung lagi, "Gimana sih, ditolak enggak, diterima juga enggak" keluhnya.


Kina mendengus, "Dahlah, saya tiba-tiba bad mood, terserah bapak saja. Dari tadi mau ngomong disela terus"


"Maaf…saya terlalu grogi. Maklumin, belum pernah nembak cewek soalnya. Gimana, gimana?"

__ADS_1


"Ehemmm…intinya, saya belum bisa memberi jawaban saat ini. Boleh saya minta waktu satu minggu?"


"Lama banget" keluh Okky, "Sehari deh" tawarnya.


Dia nawar?!


"Tiga hari, deal. Kalau masih nggak mau saya tolak sekarang saja" ucap Kina dengan tegas.


"Iya iya, oke tiga hari nggak lebih!"


Tadi nawar, sekarang maksa. keluhnya dalam hati.


"Tiga hari setelah hari ini, saya akan kerumah kamu, menagih jawaban. Dan saya mau, jawabannya YA!"


"Woooii…masuk!! Cinta nggak akan bikin kalian terbebas dari masuk angin" teriak Okta dari dalam rumah.


"Isshh…mamanya Ori benar-benar menyebalkan!!"


……


Tiga hari kemudian, Okky mengajak bunda, Okta, Ammar tentu dengan si cantik Ori, berkunjung kerumah kontrakan Kina. Rumah sederhana yang bersih disebuah perkampungan, dekat dengan pesantren Al Iman. Disanalah Kina tinggal, semenjak ia menjual rumah peninggalan ibunya.


Sesuai dengan impian ibu Kina selama ini, tinggal diperkampungan yang dekat dengan pesantren. Merasakan nuansa islami yang sangat kental disana.


Ibu Suri, Ammar dan Okta berjalan dari jalan utama, memasuki gang menuju rumah Kina. Sementara Okky, datang dengan gagah, mengendarai sepeda motor berwarna merah, keluaran terbaru.


Kina keluar setelah mendengar suara motor berhenti diteras rumahnya. "Pak Okky sudah bisa naik motor" Okky hanya tersenyum bangga.


Okky turun dari motor, lalu melepaskan helmnya dan memakaikan helm berwarna merah itu dikepala Kina. Lalu mengusapnya beberapa kali. Kina hanya menanggapi dengan senyuman.


"Masuk pak, tapi salam dulu" sindir Kina.


Okky nyengir, "Assalamu'alaikum" ucapnya.


"Assalamu'alaikum" terdengar salam dari beberapa orang dibelakang mereka.


"Wa'alaikum salam"


"Pak de ini bener-bener nggak punya perasaan, nyalip-nyalip aja, tadi harusnya, kakak boncengin bunda pas masuk gang sini" protesnya pada Okky yang kurang peka.


"Eh iya, maaf bunda, lupa" Okky meraih tangan bundanya, lalu menciumi punggung tangannya beberapa kali.


"Dasar anak durhaka" cibir ibu Suri, namun dengan tersenyum.

__ADS_1


"Kutuk bun, kutuk!" Okta mengompori.


"Kutuk jadi batu ginjal" Ammar ikut menimpali. Okky mendelik kearah adik dan adik iparnya yang kurang ajar.


__ADS_2