30 Hari Menjemput Jodoh

30 Hari Menjemput Jodoh
Bukan Ilusi


__ADS_3

"Woiii…pak de, gendongin si baby bentarlah. Kebelet pup ini mamanya" ucap Okta.


Okky mencebik, "Pak de, pak de, Ish jorok" keluhnya.


"Memang pak de nggak pernah pup, pupnya juga di WC, enggak disini kok. Jorok dari mana?"


"Iya udah, berisik, siniin. Baby…baby" Okky meraih bayi berusia dua bulan, dan mendekapnya. "Nama aku Oriana Qaindra, mama gendut, bukan baby. Dan ini daddy aku bukan pak de. Dasar mama ndeso!" ucap Okky, menirukan suara anak kecil, kecuali dibagian umpatan 'dasar mama ndeso'.


Okta mendelik, "Daddy? Dedi corbuzer apa Dedi dukun? Jangan ajarin body shaming anak bayi ya. Dasar pak de tak ber bu de" Okta lalu berjalan cepat kearah kamar mandi belakang. Mulas diperutnya, membuat ia tak berniat menanggapi ledekan kakaknya lagi.


Okky tertawa, lalu menciumi pipi Ori, "Mama gendut ngambek. Masak daddy dibilang pak de tak ber bu de. Nanti daddy bawa mommy yang lebih cantik dari mama kamu ya" ucapnya lalu tertawa lagi, dan mendaratkan ciuman berkali-kali dipipi Ori dengan gemas.


Ibu Suri memandang Okky dengan perasaan campur aduk. Andai saja nasib percintaan Okky tak seburuk ini, mungkin anak laki-lakinya sudah mengendong anaknya sendiri sekarang. Lagi-lagi semua sudah digariskan, kini ibu Suri lebih lapang dada dalam menerima takdir yang harus ia jalani. Memaksakan sesuatu bukanlah hal yang baik, terbukti, hidup anaknya sempat kacau karena ia memaksakan kehendak padanya.


"Jangan diciumi terus, bisa basah pipinya Ori"


"Eh, ada Oma ternyata" ucap Okky yang sedari tadi asik tertawa-tawa dengan Ori, hingga tidak menghiraukan ibunya yang duduk disebelahnya.


"Dasar!" gerutu ibu Suri, sambil memukul punggung Okky


……


Pernikahan anak seorang kiyai sekaligus pemilik pondok pesantren, yang cukup disegani dan dihormati, tentulah akan kedatangan banyak tamu. Terbukti di acara pernikahan Meera dan suami yang sama-sama menyandang status, anak kiyai.


Ibu Suri menggandeng lengan Okky. Saat hendak menyapa tuan rumah, Okky seperti melihat sosok gadis yang selama ini dirindukannya. Gadis berpakaian serba putih itu, terlihat mirip sekali dengan Kina. Tapi wajahnya sedikit berbeda, sepertinya efek make up. Sayangnya gadis itu berjalan dengan tergesa dan menghilang diantara tamu-tamu yang datang.


"Assalamu'alaikum warahmatullah" salam dari kiyai Abdullah, mengalihkan perhatian Okky.


"Eh, wa'alaikum salam warahmatullah. Pak Kiyai, apa kabar?" keduanya berjabat tangan. Kiyai Abdullah menepuk bahu Okky beberapa kali.


"Alhamdulillah sehat" jawabnya.


Lalu keduanya hanyut dalam obrolan ringan. Tak lama kemudian, ibu Suri mengajaknya pulang karena merasa lelah. Seperti yakin tak yakin, tapi gadis yang dilihatnya tadi sangat mirip dengan Kina. Ingin bertanya pada kiyai Abdullah, tapi Okky merasa sungkan. Celingak-celinguk kesana kemari pun tak menuai hasil apapun.


……

__ADS_1


"Ayolah Dinda, berbaik hatilah sedikiiittt saja" pinta Okky dengan penuh harap. Memohon pada Dinda agar bermurah hati, memberi sedikit informasi soal keberadaan Kina.


"Tapi saya benar-benar tidak tahu dimana mbak Kina sekarang, pak. Kami memang pernah bertemu sekali, itu juga janjian di cafe"


"Harusnya ajak saya dong, ah…kamu tidak peka" protesnya.


Apa-apaan dia .keluh Dinda dalam hati.


"Lah, bagaimana ceritanya saya ngajak bapak. Nanti orang pikir saya selingkuh sama bapak. Apa kata dunia?"


"Berarti kamu tahu nomor telfonnya yang baru dong, itu tadi bisa janjian"


Dinda mulai frustasi, bosnya ini ngotot sekali. "Nomor telfonnya masih yang lama pak, sumpah!" ucapnya. Dia sebenarnya sudah tak tahan, perutnya bergejolak sejak ia duduk berhadapan dengan Okky.


"Apa saya diblokir sama dia?" gumamnya.


"Bukan diblokir, tapi memang ponselnya jarang aktif. Salah bapak sendiri kasih pesangon banyak-banyak. Dia jadi makin nyaman ngumpetnya, coba kasih pesangonnya dikit aja. Begitu kehabisan uang, dia pasti keluar sarang, cari kerjaan baru" ucapnya, menahan kesal. Kalau bukan atasannya, mungkin Dinda sudah pergi dari hadapan pria itu.


"Gitu ya, berarti saya salah dong?"


"Iya…gitu" tiba-tiba Dinda membekap mulutnya sendiri, "Hhhmmmp......." lalu dia berlari menuju toilet diruangan Okky tanpa meminta ijin "Hhooweeekkk"


"Enggak tahu…pak. Mual, parfum pak Okky bau banget. Minggir…minggir, saya mau keluar" perintahnya dengan nafas terengah-engah, mengibas-ngibaskan tangannya. Okky mundur beberapa langka. Dinda berlari keluar sambil menjepit hidungnya yang tidak mancung itu, sebelum perutnya kembali mual.


Okky mengendus ketiaknya bergantian, Dinda berhasil membuatnya insecure. "Apaan dia, enak aja bau. Eh, tapi kok kaya Okta pas awal-awal hamil. Apa dia hamil? Tapi Dinda kan belum nikah------Ngobrol berduaan nggak mungkin bikin hamil, kan?" tanyanya pada diri sendiri.


"Apa sih, aku ini. Megang juga enggak ngapain harus khawatir"


……


Tiga hari kemudian, setelah menyusun strategi, Okky memberanikan diri, datang kepondok pesantren Al Iman. Dia ingin membuktikan, benar atau tidaknya, Kina berada disana. Dia cukup yakin, yang dilihatnya saat itu memang Kina.


Dia akan beralasan ingin menunaikan shalat maghrib di sana, menikmati suasana pondok pesantren dikala sore hari. Aneh sih, tapi dia tak punya alasan lain jika kiyai Abdullah menanyainya. Tapi dia berharap tidak bertemu dengan Kiyai Abdullah agar tak perlu beralasan.


Okky duduk dipelataran masjid, sambil memperhatikan setiap orang yang melintas dihadapannya, memindainya satu persatu. Harapannya begitu besar akan bertemu dengan Kina disini.

__ADS_1


Okky tiba-tiba membayangkan, bagaimana pertemuan kembali mereka setelah tak berjumpa beberapa bulan dengan masalah yang masih menggantung, belum terselesaikan sepenuhnya. Mungkinkah Kina akan mengacuhkannya, karena gadis itu masih belum memaafkan kesalahnnya dan ibu Suri.


Atau mungkin Kina akan melemparnya dengan sandal, seperti yang dilakukan ibu Suri padanya waktu itu. Bisa jadi Kina akan memperlakukan Okky, seperti makhluk astral tak kasat mata. Atau dia akan berkata, 'maaf siapa ya? kenal?' dengan wajah mengejek.


Ahh…Okky akan terima, semua itu pantas dia dapatkan.


Dan, yang paling tidak mungkin namun paling diharapkan, Kina akan menyapanya, memanggil namanya dan tersenyum padanya.


"Pak Okky"


"Pak"


"Bapak melamun?"


"Assalamu'alaikum, hallo…"


Okky terpaku menatap wajah berhias senyuman paling manis sedunia, versi Okky dermawan.


"Pak!"


Tangan kecil itu, melambai-lambai didepan wajahnya.


Apa aku ketiduran, kok bisa mimpi gini? tanyanya dalam hati.


Kina menarik-narik lengan kemeja panjang yang Okky kenakan, gadis itu tertawa melihat wajah aneh mantan atasannya.


"Kamu Kina?" tanya Okky dengan bodohnya.


"Bukan, saya laudya cintya bela, pak" gadis itu tertawa lagi.


"Kamu ketawa? Ini beneran Kina?" Okky masih mempertahankan wajah bodohnya. Terlalu terkejut, membuat dia tidak bisa mengontrol diri.


"Enggak pak, saya lagi senam bibir. Eh, salah ngomong. Maksud saya bukan itu"


Aduh, semoga pak Okky nggak mikir kemana-mana. batinnya.

__ADS_1


"Ini beneran Kina? Ini asli kan, bukan ilusi?"


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


__ADS_2