
Ibu Suri menatap Okky yang tertunduk, lalu mengusap kepalannya, "Maafin Bunda ya…" tuturnya, lalu menatap anak sulungnya dengan mata berkaca kaca.
Okky hanya mengangguk tanpa mengangkat kepalanya.
"Kamu nggak suka sama Erika, apa selama ini dia baik sama kamu?" tanya Bunda, tangannya masih mengelus kepala Okky.
Okky mendongak, "Mmm…dimata Bunda, bagaimana sikap Erika?" dia menjawab pertanyaan dengan pertanyaan.
"Dia baik, perhatian dan lembut. Makanya bunda suka sama dia. Bunda yakin, dia akan membuat kamu melupakan Kina, pelan pelan saja" ucap Ibu Suri.
Okky menghela nafas, pantas saja bundanya sangat menyukai Erika. Ternyata Erika bersikap berbeda didepannya dan didepan Bundanya. Kalau Okky berkata jujur, pasti bundanya akan mengira dia mengada-ada untuk membatalkan pernikahan.
"Semoga…" Okky tersenyum hambar. "Bun…emm…boleh tahu nggak, kenapa Bunda nggak suka sama Kina? Apa hanya gara gara masalah dengan Dela itu?" tanyanya dengan hati hati. Takut membuat bundanya marah.
"Iya…harusnya dia nggak melakukan itu, bunda kesal. Gara-gara dia, kamu jadi gagal dapat calon istri. Bunda itu merasa, Kina sengaja menghalang-halangi kamu mendapatkan jodoh. Bunda juga cemburu, sepertinya Kina lebih penting buat kamu. Apapun yang dia katakan, kamu pasti menurut. Padahal bunda ini ibu kamu. Bunda takut, lama-lama kamu akan lupa sama bunda dan ninggalin bunda" bulir bulir air mata mulai mengalir dipipi Ibu Suri
Okky menyekanya, "Maaf, aku terlalu lupa diri dan menyerahkan hatiku untuknya seluruhnya. Aku salah, tidak memikirkan perasaan bunda. Aku sedang mencoba melepaskan dia. Berikan aku waktu, ya!" janjinya pada bunda, walaupun sebenarnya hatinya ingin sekali menjerit.
Ibu Suri diam, dia melihat sorot mata anaknya, ada luka disana. Tapi rasa takut akan dilupakan anaknya sendiri, membuatnya menepis rasa kasihan dalam hatinya. Dia fikir, Erika berbeda dengan Kina. Setidaknya, Erika bukan orang yang dicintai Okky, jadi tak mungkin Okky terlalu fokus pada Erika nantinya. Dia pasti akan banyak waktu untuk dirinya.
Sungguh pemikiran yang aneh dan tidak masuk akal. Harusnya seorang ibu tak boleh mengikat anaknya terlalu kuat, atau anaknya akan tercekik oleh ikatannya itu.
……
Kina mengernyit saat melihat helm ungu tergantung dispion motornya. Helm mahal yang pernah Okky beli, saat hendak membonceng motornya waktu itu. Tapi anehnya, helm kesayangan Kina hilang.
Kina meraih helm dan ada secarik kertas didalamnya. Tulisannya singkat, tapi menyentuh hati.
Untuk Kina,
Biarkan helm ini melindungimu, karena aku tak mampu melakukannya.
__ADS_1
Kina menghela nafas, lalu menyimpan kertas kedalam saku jaketnya. Mengenakan helm itu dan melaju dijalanan seperti biasa.
Ternyata Okky mengawasinya dari dalam mobil. Mengikuti gadis itu, sayangnya dia terjebak macet hingga kehilangan jejak. Sepertinya Allah benar benar tak mengijinkannya tahu tempat tinggal baru gadis itu. Okky memutar balik mobilnya, memilih pulang kerumah.
……
Keesokan harinya, saat berpapasan dengan Kina, Okky hanya melirik dengan wajah dingin. Seperti saat dirinya melihat karyawan kantor yang lain. Kina yang tersenyum dan hendak menyapa, ingin mengucapkan terima kasih untuk helm mahal yang dia terima. Mengatupkan kembali bibirnya karena Okky melenggang pergi dengan acuh.
Jihan yang selalu menganggap Kina musuh bebuyutan, tertawa lebar sesaat setelah Okky masuk kedalam lift. Dia merasa sangat senang, melihat Kina yang di acuhkan atasan mereka.
"Kin…kin…" Jihan menepuk pundak Kina. "Kasihan banget sih dicuekin, makanya ingat, dunia itu berputar seperti roda. Sombong sih kamu, waktu masih nempel nempel sama si bos. Gimana…gimana, dicuekin enak nggak?" ejeknya lalu tertawa lagi dengan wajah puas.
"Tertawanya nggak usah lebar lebar mbak, gigi mbak yang bolong jadi kelihatan tuh" kata Kina dengan ekspresi datar. Jihan seketika mengatupkan mulutnya, hidungnya kembang kempis.
"Sialan!! Dasar penjilat, ingat karma!" hardiknya. Hingga beberapa karyawan yang melintas menengok kearah mereka.
Kina memilih pergi dari pada meladeni Jihan yang tak ada habisnya. Tak perlu menjelaskan siapa diri kita. karena, orang yang tak menyukaimu tak akan mempercayai itu.
Saat sedang sibuk bekerja diruangannya, Kina mendengar suara ribut ribut di luar. Ternyata prajuritnya sedang heboh dengan undangan pernikahan bos besar.
"Hei…hei…kerja, jangan ribut terus!" Kina menepuk-nepukan tangannya untuk menarik perhatian timnya. Tim mereka memang terkenal paling heboh dan berisik dibanding divisi lain.
"Mbak!" Nila memanggil
"Mbak Kina" Mila juga memanggil
"Mbaaaakkkkkk……" kini Dinda yang memanggil. Ketiganya menampilkan wajah sedih saat mamanggil Kina.
Kina menggaruk pipinya, "Apa sihhhh?" tanyanya dengan wajah bingung.
Dinda mengangkat undangan mewah tanpa foto bertuliskan nama Okky dan Erika. "Ini…oh…ya Allah, tabahkan hati mbakku ini. Jadi ingat lagu, Aku bukan jodohnya" dia mendekap undangan dengan ekspresi sedih yang sangat berlebihan.
__ADS_1
Kina tertawa, "Lebay…. Kenapa kamu yang termehek-mehek sih?" Kina mencibir.
"Mbak Kina kalau mau nangis, ini ada bahu kosong" Kevin mengangkat dan menepuk satu bahunya. Semua memutar bola mata dengan mulut komat kamit, kecuali Kina yang tertawa kecil.
"Ada yang lebih butuh bahu kamu pin, noh bapak siomay didepan. Yang dagangnya masih dipikul" kata Mila dengan sewot.
"Eh, itu langganan aku" ucap Dinda sambil nyengir.
"Yang kita suka beli sore sore itu ya Din?" Imbuh Satria. Dinda mengangguk.
"Kenapa jadi bahas kang siomay sih, gara gara bahu kamu ini pin" sembur Nila pada Kevin. Kevin hanya mengedikkan bahu.
"Udah nggak usah ribut, setelah ini kita meeting. Membahas progam Nice food go to school. Oke " tutur Kina mengalihkan permasalahan kang somay yang jualannya dipikul itu.
"Siap kapten!" seru semuanya dengan serempak.
Lalu mereka kembali kemeja masing masing dan mulai mengerjakan tugas masing masing. Hening…tapi hanya sejenak. Saat Kina sudah mengenggam handle pintu ruangannya,
"Cewek itu nggak butuh janji, butuhnya cincin melingkar dijari…asek…" Dinda mulai menggila.
"Cowok itu nggak butuh rayuan, butuhnya goyangan…asek…" Satria yang sama gilanya menimpali.
Suara tawa menggema di ruangan marketing yang memang terkenal paling berisik sekantor itu. Bagaimana tidak berisik, enam jiwa muda dengan semangat membara, disatukan dalam satu tim. Berbeda dengan divisi lain, yang kebanyakan berisi karyawan senior walaupun ada karyawan magang dan karyawan muda juga.
Bahkan divisi marketing tidak mengenal kata manager, seperti divisi lain. Mereka menjuluki atasan mereka dengan Kapten dan mereka sebagai prajurit.
Okky tersenyum tipis, tadi dia pura pura berhenti sambil mengecek handphone didepan ruangan divisi aneh itu. Dia senang mendengar suara tawa Kina. Artinya gadis itu baik baik saja.
Kina menutup mulut dengan telapak tangan saat dia tertawa, gadis itu tak pernah tertawa dengan mulut yang lebar, suara tawanya juga tidak keras. Pipinya akan memerah dan dia akan menitikkan air mata kalau terlalu lama tertawa. Okky mengingat itu dengan sempurna di memorinya.
Setelah suara tawa mulai reda, Okky memilih melanjutkan perjalanannya menuju ruang kerja. Ali yang tak sengaja melihat atasannya melamun sambil memegang ponsel didepan ruang divisi marketing, hanya memandangnya dengan tatapan iba.
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻