
Direktur utama PT. Nice Food yang biasanya berjalan dengan cool, pagi ini datang dengan wajah lesu. Semalam dia tak bisa tidur, mengharap petunjuk dari Allah atas keresahannya.
Sekretarisnya sedang sibuk dengan komputer dimejanya. Okky duduk dan menempelkan keningnya dimeja kerja Kina. kina mencoba mengintip wajah bosnya.
"Pak… Bapak baik baik saja?" Okky hanya mengangguk lemah, sama sekali tak mengangkat kepalanya.
"Bapak ada masalah? Coba cerita sama saya" Kina menghentikan aktifitasnya.
Okky mengajak sekretarisnya duduk di sofa ruangannya, agar lebih nyaman bercerita. Duduk bersebelahan, tanpa aba aba, Okky menjatuhkan keningnya di pundak Kina. Kina tiba tiba lupa cara bernafas, untung hanya beberapa detik saja.
"Ki…kamu bohong ya?" dia berbicara lirih masih dengan meletakkan keningnya dipundak Kina.
Kina melirik sekilas, kepala bosnya dekat sekali dengan wajahnya. "Bo…bohong, bohong kenapa?" tanyanya gugup.
Mengesah, "Katamu, kalau ada masalah curhat sama Allah diatas sajadah, tapi semalaman saya ngelakuin itu, cuma dapat ngantuk" keluhnya.
Alis Kina bertaut, "Memang Bapak ada masalah apa?" tanyanya dengan lembut.
Okky mengangkat kepalanya, meninggalkan kenyamanan pundak gadis muda disebelahnya. "Kamu tahu nggak, kandidat dari bunda berikutnya siapa?" Kina pura pura menggeleng, padahal dia tahu. "Dela, ki" sambunya dengan wajah sedih.
"Oh ya? Kenapa sedih? Mbak Dela cantik dan baik, jiwa sosialnya tinggi. Apalagi yang kurang?" Kina pura pura kaget.
"Nggak tahu" ucapnya ketus.
"Pak Okky…, kita curhat dengan seseorang karena kita yakin dan percaya sama orang itu, iya kan Pak?" Okky mengangguk "Jadi, kalau bapak curhat sama Allah, Bapak juga harus yakin dan percaya sepenuhnya, Allah akan memberi solusi terbaik untuk Bapak, dengan cara yang tidak disangka sangka"
Suara ponsel Kina mengalihkan perhatian keduanya. Tertera nama 'Ayah' dilayar ponselnya. Kina menatap ponsel diatas meja, hatinya ragu untuk menerima panggilan. Tapi tak ingin menghindari ayahnya, karena akan menambah masalah.
__ADS_1
Kina ijin keluar dari ruangan Okky, tak mau bosnya itu mendengar pembicaraannya dengan sang Ayah. Okky memperhatikan dari dalam ruangan yang terbuat dari kaca itu. Kina terlihat mengusap air matanya. Wajahnya terlihat tegang bercampur sedih. Berkali kali mendongak, sepertinya menahan air mata agar tak menetes..
Setelah mengakhiri panggilan, Kina duduk kembali. Menutup wajahnya dengan kedua tangan. Okky masih menatapnya sendu. Ingin sekali mendekap gadis itu, menyalurkan sedikit kekuatan. Entah apa yang terjadi pada gadis itu, tapi hatinya ikut sakit, melihat Kina bersedih.
……
Okky datang ke panti asuhan dengan Bundanya setelah shalat isya'. Kina absen menemaninya kali ini. Sekretarisnya itu berkata ada urusan penting yang harus dia selesaikan.
Mereka disambut dengan ramah oleh Dela dan Ibunya, yang membuat Ibu Suri bingung, ada seorang laki laki yang terlihat perhatian pada Dela dan ibunya.
"Laras, kami datang kemari ingin menanyakan jawaban Dela, soal perjodohan kemarin" tanya Ibu Suri, tanpa basa basi.
"aku dan Dela, berterima kasih sekali atas permintaan kamu, ingin menjodohkan anak anak. Kami sungguh tersanjung. Tapi…aku mohon maaf yang seluas luasnya, anakku, Dela, memutuskan untuk menolak perjodohan ini atas ijinku" jawab Ibunya Dela sehalus mungkin.
Raut wajah kecewa, tak mampu disembunyikan Ibu Suri. Berbeda dengan Okky yang terlihat lega. Dia merasa berdosa, sudah berprasangka buruk pada Allah. Lagi lagi, kata kata Kina benar. Allah memberinya solusi dengan cara yang tidak disangka sangka.
"Tidak apa, Ibu dan Dela tidak perlu meminta maaf, tidak ada yang salah disini. Semua sudah kehendak Allah" katanya sok bijak. Padahal dalam hatinya bersorak.
"Tapi Laras, bagaimana dengan nasib panti ini, kalau kamu menolak tawaranku?" kata Ibu Suri, Okky mengerutkan keningnnya.
Apa maksud Bunda, apa hubungannya perjodohan ini dengan nasib panti asuhan? tanyanya dalam hati.
Bu Laras tersenyum tipis, "Maaf Suri, tapi sudah ada yang memberi bantuan kepada kami" jawabnya hati hati, takut menyinggung perasaan Ibu Suri.
"Boleh aku tahu, siapa orang baik itu?"
"Maaf, beliau bilang ingin identitasnya dirahasiakan. Sekali lagi kami mohon maaf" Bu Laras berbicara sesuai permintaan Kina, yang tak mau siapapun tahu, bahwa dia yang telah menyelamatkan nasib penghuni panti.
__ADS_1
Setelah berbincang sebentar, Mereka pulang dengan perasaan bertolak belakang. Ibu Suri, semakin sedih, saat tahu laki laki yang sedari tadi diperhatikannya, ternyata calon suami Dela. Sebentar lagi keduanya akan melaksanakan pernikahan. Hilang sudah kesempatannya menjadikan Dela menantu.
Berbeda dengan Okky yang tak henti mengucap hamdalah dalam hati. Dia senang, tak harus melakukan apapun untuk menggagalkan perjodohan ini. Allah memudahkan jalannya, keluar dari perjodohan yang tak diharapkannya sama sekali.
……
Kina menatap rumah sederhananya dengan wajah sedih tapi juga senang. Dia akan meninggalkan rumah peninggalan ibunya yang penuh kenangan. Merelakan rumah itu untuk menyelamatkan tempat tinggal adik adik panti.
Kina menjual rumahnya, untuk membayar tuntutan dari adik ipar Bu Laras, yang merasa memiliki hak atas rumah peninggalan almarhum suami bu Laras. Sialnya, rumah itu masih atas nama mertua Bu Laras. Belum ada biaya untuk mengurus balik nama sertifikat rumah tersebut. Seingatnya, anak anak mertuanya sudah mendapat bagian warisan masing masing.
Adik ipar bu laras menuntut pembayaran seratus juta, jika tidak, dia akan mengajukan tuntutan ke pengadilan. Ibu Suri, yang kebetulan sedang berkunjung dan memang berniat menawarkan perjodohan, seperti mendapat angin segar. Memanfaatkan kesusahan temannya, dengan dalih mau membantu, asal Dela mau menikah dengan Okky.
Sayangnya, Kina datang bagai malaikat penyelamat. Semua doa orang orang yang sedang resah, dikabulkan Tuhan, lewat ketulusan dan keikhlasan Kina. Tanpa dia tahu, gadis itu menyelamatkan banyak orang dengan mengorbankan dirinya.
Dia harus merelakan rumahnya dan hubungannya dengan ayahnya. Ayahnya memakinya habis habisan, karena ia memberi pinjaman dengan jumlah yang tak sesuai dengan yang ayahnya minta. Tak apa, toh hubungannya dengan Ayah memang sudah renggang sejak lama.
Kina sedang melakukan transaksi jual beli dengan tetangganya sendiri, beliau sudah lama ingin membeli rumah Kina, yang ada disebelah rumahnya, Untuk memperluas rumahnya.
"Deal ya mbak Kina, saya sudah transfer uangnya kerekening mbak Kina, sesuai kesepakatan. Nanti surat suratnya saya akan urus secepatnya"
"Iya, Pak Alex, terima kasih sudah membantu" mereka bersalaman, tanda kesepakatan sudah terjadi.
"Mbak Kina ini, luar biasa sekali. Kalau membantu orang tidak setengah setengah" puji Pak Alex, karena Kina berkata jujur tujuannya menjual rumah. Agar tetangganya tak berfikiran aneh aneh padanya.
"Terima kasih pujiannya pak. Saya ingin uang ini jadi amal jariyah untuk almarhumah Ibu, supaya pahalanya mengalir terus" Pak Alex tersenyum, menatap Kina dengan bangga. Sungguh anak muda yang luar biasa, fikirnya.
Selangkah lagi, dia akan menuntaskan masalah yang terjadi di panti asuhan. Harapan Kina sederhana, ingin melihat adik adik panti hidup dengan tenang, hidup mereka sudah cukup sulit karena tak pernah merasakan kasih sayang orang tua mereka, tak perlulah menambah beban hidup mereka lagi.
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻