
"Begini pak Kiyai, saya ini kan mau menikah sebentar lagi. Tapi…semakin dekat dengan hari pernikahan, kenapa hati saya semakin ragu ya pak?"
"Oh…itu biasa, ujian menjelang pernikahan. Ragu kenapa ini mas Okky, tapi cintanya nggak ragu, kan?"
"Terus terang, perasaan itu belum ada sampai sekarang pak. Saya dijodohkan sama Bunda" senyum kecutpun menghiasi bibir Okky. Kiyai abdullah mengangguk.
"Boleh saya tahu" Kiyai Abdullah melihat wajah Okky sejenak, "Mas Okky Ihklas atau tidak menjalaninya?" Okky tertunduk dan menggeleng lemah. Kiyai abdullah tersenyum dan menepuk bahunya, memberinya semangat.
"Mas Okky kenapa tidak menolak kalau memang tidak srek dihati?" tanyanya lagi.
"Bunda saya tidak menerima penolakan, dan saya tidak ingin beliau kecewa. Saya hanya ingin menunjukkan bakti saya sebagai anak, tidak apa saya tidak bahagia yang penting bunda saya bahagia"
"Masya Allah, mas Okky ini luar biasa. Anak yang berbakti. Lalu apa yang membuat hati mas Okky ragu? Apa kurang cantik? " Kiyai Abdullah terkekeh setelah mengatakan itu
"Cantik pak kiyai, banget malahan" Okky cengengesan saat mengatakan itu.
"Tapi…perangai dan tutur katanya yang membuat saya tidak srek" imbuhnya. Kiya abdullah mengangguk-anggukan kepala sambil mengelus jenggotnya.
"Berserah sama Allah, sampaikan semua pada Allah apa yang mas Okky rasakan. Meskipun sebenarya Allah sudah tahu, karena Allah mahamengetahui "
"Saya sudah beberapa kali shalat istikharah, tapi setiap hari pula Allah menunujukkan bagaimana sifat asli calon istri saya dan hati saya semakin ragu. Padahal hari pernikahan saya kurang dari dua minggu lagi "
"Jangan putus asa, terus meminta dan berdoa. Kuncinya sabar dan tawakal. Belum ada petunjuk, bukan berarti tidak ada kan? Jangan putus dalam beribadah dan berdoa, mintakan pada-NYA ,serahkan semua pada-NYA"
“La tahzan innallaha ma’ana. Don’t be sad, Allah is with us." itulah kata terakhir kiyai Abdulla sebelum pergi, karena santri yang mengantarkan beliau terlihat sudah menguap berkali kali.
__ADS_1
Okky merenungkan kata kata Kiyai abdullah. Kini pasrah yang dia rasakan berbeda dengan kemarin. Pasrah dalam artian, memasrahkan semua takdir pada Allah azza wajala. Bukan pasrah dalam keputus asaan.
……
Tiga hari Kina tak masuk kerja, tiga hari pula Okky uring uringan tak jelas. Ali dikembalikan pada timnya untuk membantu Kina nantinya jika sudah kembali bekerja. Sementara Okky memilih tak memakai sekretaris.
Saat masuk keruang merketing Okky malah disuguhi pemandangan romantis. Ali sedang menepuk nepuk punggung Dinda. Dinda meletakkan keningnya dibahu Ali, tapi mereka tak berpelukan. Mengingatkan Okky, saat dia menangis dibahu Kina tempo hari. Ah, jadi kangen senderan kan.
"Ehem…" suara deheman bos besar sungguh terasa dahsyat mengguncang jiwa para karyawan diruangan itu. Seketika semua bediri dengan kaku, termasuk Ali dan Dinda.
"Pagi pak" sapa semua dengan serempak
"Pagi…kalian sedang apa?" mata Okky menatap Ali dan Dinda bergantian.
"Maaf pak, ini tidak seperti yang bapak fikirkan" jawab Ali dengan wajah gugup.
"Patah ha…ti, pak.hhuaaa......" Dinda menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Dia tak bisa menahan tangisnya, walaupun dihadapan bos. Begitulah manusia bucin bernama Dinda kalau patah hati, sedihnya tak tahu tempat. Sudah dua hari dia bermuram durja dirumah, karena setelah insiden pingsan itu, dirinya juga ijin tak masuk kantor dua hari. Ini hari pertamanya masuk.
Okky terperanjat, "Astaghfirullah…tenang Din, sabar, ini ujian. Saya juga patah hati tapi nggak galau begitu" tuturnya sok kuat.
"Berarti bapak cintanya setengah setengah sama mbak Kina" ucap Dinda yang sepertinya otaknya sedikit geser karena patah hati.
Okky mencibir, "Sok tahu! Li, Kina belum masuk?" tanya Okky, mengalihkan pembicaraan. Tidak tahu saja mereka, kalau dirinya juga menangis. Hanya Allah dan Kina yang melihat.
"Kan ijinnya tiga hari pak, ini hari ketiga. Mungkin besok pak masuknya" Ali sebenarnya agak kesal dengan pertanyaan atasannya.
__ADS_1
Sejak hari pertama Kina tidak masuk kantor, setiap hari Okky menanyakan hal yang sama pada Ali. Padahal dirinya sudah diberi tahu Ali, kalau Kina ijin tidak masuk kerja selama tiga hari.
Kina menghubungi bagian HRD dengan meminjam ponsel tetangga. Semua barang barangnya tertinggal di meja kerja saat dia dibawa paksa oleh Dinda ketukang urut, termasuk ponselnya. Jadi Kina menghubungi nomor telepon kantor dan minta disambungkan pada bagian HRD untuk minta ijin tidak masuk selama tiga hari.
……
Ibu Suri tersenyum lega, saat menatap list persiapan pernikahan Okky yang telah dibuatnya semenjak Okky menetujui perjodohan dengan Erika dibawah ancamannya saat itu. Semua sudah tercentang, artinya persiapan sudah hampir rampung. Namun ada yang dia lupakan, lupa bertanya berapa mahar yang Erika inginkan. Untuk perhiasan sudah ada, tinggal uangnya saja.
Pernikahannya ini benar-benar menguras tabungan Okky. Bundanya sering membeli perlengkapan pesta tanpa bertanya padanya terlebih dahulu. Bunda juga tak segan merogoh kocek dalam dalam untuk sebuah benda. Contohnya, ibu Suri membelikan satu set tas dan dompet seharga puluhan juta dengan brand ternama dunia, untuk seserahan. Bahkan set dalaman untuk seserahannya pun harganya tak kalah membuat mata Okky melotot. Dia tahu semuanya lewat SMS M-banking diponselnya, untuk bertanya pada Ibu Suri dia enggan. Ibu Suri pernah berkata padanya untuk tak bertanya macam macam kalau memang tak mau mengurusi pernikahannya sendiri. Dia harus terima semua pilihan ibunya.
Ibu Suri juga memilih souvenir pernikahan ekslusif, berupa parfum keluaran brand ternama. Entah siapa yang memberi ide pada ibunya, Okky tak menyangka bundanya akan seroyal itu pada calon menantunya. Padahal selama ini yang Okky tahu, Ibu Suri bukan tipe wanita kaya dengan gengsi selangit. Beliau memang punya koleksi tas dan sepatu mahal, tapi hanya beberapa dan tidak setiap ada keluaran baru akan dibelinya. Ibu Suri akan beli kalau benar benar suka saja dengan model dan motifnya.
"Ta…baju seragam kita udah jadi belum ya, coba tanyain Rum dong" tanya Ibu Suri pada anak bungsunya yang sedang memilih cemilan di dalam lemari khusus makanan didapur.
"Ntar sore diantar sama mbak Rum, katanya sekalian mampir. Kangen bunda" Okta tersenyum saat menemukan cemilan yang sedari tadi diinginkannya. Mendekapnya erat erat, seperti anak kecil.
Ibu Suri tersenyum lebar. "Serius? Asikk…bunda juga kangen Rum, udah lama nggak ketemu"
"Lebay…" cibir ibu hamil itu, dia melirik sinis catatan yang dipegang bundanya yang sedang duduk disofa ruang keluarga.
"Sewot banget sih sama bunda"
"Biarin…Okta mau keatas. Kalau mbak Rum datang, tolong suruh mbak Surti bangunin Okta"
"Iya…iya…tidur terus. Jalan jalan, banyakin gerak" Ibu Suri setengah berteriak saat mengucapkan itu, karena si ibu hamil melenggang pergi. Hanya melambaikan tangan sekilas.
__ADS_1
Okta masih kesal dengan semua orang rumah, terutama ibunya. Ammar sudah berkali-kali mengingatkan agar tidak ketus pada ibunya. Tapi istrinya itu hanya iya iya dimulut saja. Buktinya dia selalu bersungut sungut dengan wajah cemberut saat ngobrol dengan bundanya. Apalagi jika menyinggung pernikahan kakaknya, ibu hamil itu sering menangis tanpa sebab. Sebenarnya keinginan Okta hanya satu, kakaknya menikah dengan orang yang dicintainya. Okta hanya ingin kakak tersayangnya bahagia, kembali menjadi Okky yang dulu. Yang bawel, jahil dan hangat. Buka Okky yang dingin dan irit bicara seperti saat ini.