
Ditinggal pulang sebentar untuk mandi dan ganti baju saja, Okky sudah cemberut. Apalagi kalau Kina menolak menemaninya dirumah sakit. Bisa bisa dia kabur dari rumah sakit.
Mereka sedang bercerita hal hal ringan, sambil menonton film kartun di aplikasi. Okky seolah lupa dengan segala masalah hidupnya saat bersama Kina. Bahkan ia tak mengeluh dengan sakitnya. Dia berfikir, Tuhan sedang memberinya kesempatan untuk sedikit berbahagia hari ini.
Mengurusi Okky bukan hal baru untuk Kina, tak perlu banyak bertanya, dia sudah hafal apa yang Okky suka dan tidak.
Ponsel Okky berdering saat Kina sedang menyuapinya makan. Panggilan dari Bunda, perasaannya sudah tidak enak. Kalau tak diangkat, pasti Bunda akan menerornya dengan pesan suara.
"Assalam……" belum juga salam diucapkan dengan sempurna, Ibu Suri sudah menyemburnya dengan omelan.
"Okky, kamu benar benar ya. Dimana tata krama kamu, menurunkan calon istri didepan rumahnya begitu saja. Bunda malu, untung Erika nggak ngadu sama orang tuanya. Kalau sampai orang tua Erika tersinggung bagaimana. Kamu mau batal nikah?"
"Mau…"
"OKKY! Sembarangan ya kamu kalau ngomong. Kamu harusnya bersukur, Erika yang cantik menerima kamu dengan tulus. Apalagi yang kamu cari?"
"Iya, aku bersyukur Bunda. Aku beruntung, dia tidak"
"Bukan begitu maksud Bunda, kalian sama sama beruntung. Belajarlah memperlakukan Erika dengan baik, dia yang akan menemani hidup kamu kedepannya"
"Ya, dan menghabiskan uangku" Okky mengakhiri panggilan sepihak.
Ia melihat Kina yang menunduk dengan wajah sendu. "Kenapa kamu, Ki?"
"Hmm…enggak pak, nggak pa-pa" Kina mengangkat wajahnya dan tersenyum tipis, "Makannya diterusin lagi yuk anak pinternya Bunda" tuturnya, seperti sedang berbicara pada anaknya. Okky tersenyum lebar, lalu mencubit pipi Kina dengan gemas.
Saat kunjungan dokter, Okky memaksa untuk pulang besok pagi, karena siangnya ada meeting penting yang tak bisa ditunda. Dokterpun mengijinkannya.
Setelah dokter pergi, mereka berdua berbincang di sofa bed yang disediakan untuk penunggu pasien. Duduk bersisian dengan menyelonjorkan kaki, Okky merasa sangat nyaman.
"Emm…Ki, wajar nggak sih, kalau semakin dekat dengan hari pernikahan seseorang merasa semakin ragu?" tanya Okky sambil menatap wajah manis Kina dari samping.
Kina tersenyum, "Wajar, wajar sekali pak. Itu juga salah satu bentuk ujian dari Allah untuk calon pengantin" jawabnya.
__ADS_1
"Terus, bagaimana cara menyikapinya?"
"Kalau kata ning meera, mantannya bapak…" Kina terkikik setelah mengatakan itu.
Okky berdecak, "Malu saya ki, kalau ingat Almeera. Bisa bisanya saya dijodohkan sama anak kiyai" ujarnya dengan gelengan kepala.
"Udahlah pak, lupain aja, ning meera juga nggak pernah mempermasalahkan kok"
"Kamu sepertinya sekarang dekat sama Almeera ya?"
Kina mengangguk mantap, "Iya, saya sering sharing sama beliau. Tanya tanya seputar agama, belajar ngaji juga"
"Kembali ke pertanyaan saya tadi, jadi bagaimana cara menyikapinya?"
"Shalat istikharah, minta petunjuk Allah. Katanya Allah akan memberi petunjuk dengan berbagai cara. Allah selalu punya cara unik untuk menjawab doa doa kita" tutur Kina.
"Begitu ya?" Kina hanya mengangguk sebagai jawaban. Dia juga bingung sebenarnya, karena belum pernah merasakan kegalauan yang Okky rasakan.
"Mungkin Allah sedang cemburu. Bapak terlalu berharap pada manusia. Allah ingin menunjukkan pada Bapak, betapa pedihnya berharap pada selain Allah. Hingga bapak sadar dan kembali berharap hanya kepada Allah"
Okky merenungkan ucapan Kina. Kina benar, selama ini dia menggantungkan semua harapannya bahkan hidupnya pada Kina. Bahkan dia mau shalat lima waktu juga karena Kina. Harusnya semua yang dia kerjakan karena mengharap ridha Allah, dia akui dia salah.
Okky ingin tertawa, melihat Kina yang terus terusan menguap tapi berusaha untuk tetap terjaga. Okky sengaja mendiamkannya, dia menyibukkan diri berkirim pesan dengan Ali, membahas persiapan meeting besok.
Baru lima menit didiamkan, Kina sudah tertidur pulas. Okky memiringkan tubuhnya, tapi kesusahan karena terganggu selang infus. Dia nekat melepas infusnya sendiri, menekan bekas infus yang dicabutnya dengan tisu karena mengeluarkan sedikit darah.
Okky merebahkan tubuhnya disamping Kina, Kina tiba tiba bergerak, memiringkan tubuhnya mengahadap Okky. Okky menahan nafasnya, kalau Kina bangun dan melihatnya tidur disebelahnya, Kina pasti akan marah. Dia tak mau kehilangan kesempatan langka.
Okky tak bermaksud kurang ajar, dia hanya ingin melihat wajah manis Kina sebelum dirinya benar benar menjadi suami orang lain. Lama kelamaan, matanya ikut terpejam disamping Kina. Mereka tidur berhadap hadapan dengan sedikit berjarak.
……
Kina merasa ada hembusan nafas diatas kepalanya yang tertutup hijab. Saat membuka mata, dada laki laki yang tertutup baju pasien jadi pemandangan pertamanya. Kepala Kina dengan tak tahu malunya menyusup dibawah dagu Okky. Wajahnya berada tepat didepan dada pria itu. Untung tubuh mereka tak ikut menepel.
__ADS_1
Kina bangun dengan wajah cemberut. Okky ingkar janji, tadi malam saat hendak mengobrol, Okky berjanji akan kembali ke ranjang pasien saat akan tidur.
Kina memutuskan untuk mandi dan berwudhu, kemudian melaksanakan shalat subuh sendiri. Setelahnya dia membangunkan Okky untuk shalat.
"Pak…pak Okky, bangun, shalat dulu pak!" panggilnya dengan lembut.
"Hmmm…jam berapa ini? Jam lima kurang sepuluh menit. Saya mau mandi dulu, dari kemarin belum mandi" Okky menatap wajah Kina, lalu tersenyum. Rasanya seperti dibangunkan istri sendiri.
"Tapi bapak nggak bawa baju ganti lho, saya nggak sempet ambilin kemarin. Ada yang rewel kalau ditinggal tinggal" sindir Kina
"Mintain baju pasien lagi aja Ki, saya mau sholat soalnya. Masak pake baju kotor"
"Ya" jawab Kina dengan wajah cemberut, lalu melenggang keluar, untuk meminta baju pasien pada perawat yang berjaga. Okky cekikikan saat Kina sudah melewati pintu, dia tahu mengapa gadis itu kesal padanya.
Setelah mandi dan berwudhu, Okky segera melaksanakan shalat subuh, sebelum matahari mulai mengintip dari ufuk timur.
Setelah shalat mereka mulai berkemas, Kina mendelik saat menyadari infus ditangan Okky sudah terlepas. Dia menatap atasannya yang akhir akhir ini sangat manja itu dengan wajah garang.
"Siapa yang lepasin infus bapak?" Kina menatap infus yang masih setengah botol, tergantung ditiangnya dengan selang yang digulung gulung tak beraturan.
"Tangan saya" jawab Okky dengan santai
"Ck, bisa bisanya dilepas sendiri, untung darahnya nggak bocor kemana mana"
"Kasih pembalut biar nggak bocor" Kina mendengus mendengar jawaban Okky yang sangat tidak masuk akal itu.
Ingin sekali melempar atasannya dengan sepatu kerjanya, tapi dia tak punya keberanian sebesar itu. Dia masih betah kerja di perusahaan Okky.
Ali datang menjemput Okky pukul delapan pagi. Kina sudah pergi dulu, karena dia tak mau terlambat kekantor. Okky pulang kerumah Bundanya untuk berganti baju dan meletakkan barang barangnya.
Okta terkejut saat melihat kakaknya pulang dengan baju pasien rumah sakit langganan keluarga mereka.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1