
Karyawan PT.Nice Food sedikit terkejut melihat kedatangan direktur utama mereka, yang sudah menghilang selama beberapa minggu. Beredar desas desus diantara karyawan kantor pusat, jika Okky sudah menikah siri dengan Kina, mantan sekretarisnya yang juga tiba-tiba menghilang. Entah dari mana datangnya kabar Hoax tersebut, yang pasti beritanya menyebar begitu cepat seperti hembusan angin.
Mila melongokkan kepala, mengintip dari sela pintu ruang divisi mereka yang sengaja dibuka setengah, terlihat Okky melintas dengan gagahnya. "Gaes, itu si bapak sudah muncul. Kok kapten kita belum ya, menurut kalian bener nggak sih gosip yang beredar selama ini?" tanyanya pada teman-teman satu tim.
"Berat deh, tapi kalaupun iya, mbak Kina nekat juga ya orangnya" jawab Satria.
"Aku sih yakin, itu hanya kabar burung. Aku percaya mbak Kina bukan perempuan licik" Dinda turut menimpali percakapan.
"Setuju, pasti ada sesuatu yang terjadi, yang nggak kita tahu" Nila turut bersuara. Mereka percaya, tak mungkin Kina menjadi penyebab gagalnya pernikahan atasan mereka, seperti kabar yang beredar dikantor. Kina yang mereka kenal adalah gadis baik-baik yang kadang terlalu baik pada semua orang.
"Satu-satunya orang dikantor ini yang tahu semuanya cuma satu, dan kita nggak akan pernah bisa membuka mulutnya. Dia terlalu suci untuk bergibah bersama kita" ucap Dinda, pelan. Takut orang yang dimaksud mendengarnya. Sayangnya orang itu sudah berdiri dengan gagah dibelakangnya. Dan, teman-teman penghianatnya, diam saja.
"Saya?" tanyanya, membuat Dinda terperanjat. Dinda mendongak, menatap Ali dengan cengiran.
Ali menatap Dinda dengan datar, "Kina saat ini baik-baik saja, mungkin dalam waktu dekat dia akan kembali bekerja. Dia mengalami sedikit cidera, jadi kalian sebisa mungkin jangan menyusahkannya, kalian harus lebih banyak membantunya nanti" tuturnya dengan bijaksana.
"Cidera? Apa yang terjadi?" tanya Dinda, mewakili isi hati kawan-kawannya.
"Bukan hakku untuk menceritakan pada kalian, nanti kalian tanyakan pada Kina sendiri. Yang pasti, semua gosip yang kalian dengar tidak benar. Kalian mengenalnya dengan baik, bukan?" Ali mengedarkan pandangannya dan semua mengangguk. "Setelah ini, dia akan mendapat situasi yang berat dikantor, kalian sebagai teman terdekat, berikan dukungan semampu kalian. Lindungi dia sebisa mungkin" imbuhnya.
"Aku akan melindunginya dengan seluruh jiwa ragaku" kata Kevin dengan mantap. Semua mecebikkan bibir, kecuali Ali.
"Hilih"
"Modus"
"Sok"
"Lebay"
……
"Gimana keadaan Kina mas?" tanya Ammar. Ia mengunjungi kakak iparnya kekantor, setelah Okky mengabari hari ini sudah mulai bekerja seperti biasa.
"Alhamdulillah sudah lebih baik. Sekarang dia ada dirumahku. Aku nggak bisa ninggalin dia sendiri dirumahnya, biar mbak Nur yang menemaninya" Ammar manggut-manggut.
"Jadi, kondisi perusahaan sudah berangsur membaik?" tanyanya lagi.
__ADS_1
"Alhamdulillah, meskipun masih jauh dari target, tapi sudah ada peningkatan penjualan. Ya…meskipun cuma beberapa persen" lagi-lagi Ammar manggut-manggut. Lama-lama dia mirip boneka per yang ada didashboard mobil.
"Alhamdulillah…sudah ketemu bunda?"
"Belum, tadi aku kerumah, kata Okta bunda sedang keacara ulang tahun sahabatnya. Nanti, sepulang dari kantor, aku akan bicara empat mata sama bunda. Semoga bunda mengampuniku" Okky menarik nafas panjang, setelah mengucapkan itu.
"Oh ya, anak kamu, kapan perkiraan lahirnya?" tanya Okky. Dia tak mau bertanya pada Okta, karena adiknya itu pasti akan menagih hadiah untuk anaknya, bukannya memberi tahu kapan anaknya lahir kedunia.
"Dalam waktu dekat ini, mas lihatkan, perut Okta seperti mau meledak begitu" Ammar selalu berbinar saat menceritakan tentang kehamilan istrinya. Okky sebenarnya merasa iri, tapi ia yakin, suatu saat akan merasakan kebahagiaan yang Ammar rasakan saat ini. Mungkin sekarang belum saatnya.
"Gimana nggak segede itu, istri kamu ngemilnya aja nasi padang, daging rendang, ayam goreng" Keduanya tertawa, membayangkan Okta yang doyan makan semenjak hamil.
……
Ibu Suri sampai dirumah dengan wajah masam. Okta yang melihatnya, mencoba bertanya.
"Bun, kenapa?" tanya Okta, sedetik setelah bundanya menghempaskan tubuhnya di sofa ruang keluarga.
"Nggak pa-pa" jawabnya singkat, "Sur, teh anget dong!" pintanya pada Surti.
"Siap, bu" jawab Surti dari arah dapur.
Ibu Suri menatap Okta sejenak, "Siapa?" tanyanya. Sebenarnya dia lega mendengar anaknya pulang, hanya saja saat ini hatinya masih panas, gara-gara cerita Erika tadi.
Okta mencebik, "Rio dewanto. Ya, kak Okky dermawan anaknya pak Dermawan sama ibu Suri Rahmawati, lah. Masak belum ada sebulan nggak pulang, bunda udah lupa sama kak Okky?"
"Pulang sama siapa?"
"Anak, istrinya" jawab Okta asal. Mata ibu Suri membola.
"Anak istri?" gumam ibu Suri
"Ya sendiri dong bundaaaa. Anak bunda itukan jomblo abadi"
"Biarinlah, bunda males. Terserah dia mau pulang atau enggak. Kamu tahu selama ini dia kemana? Dia kabur sama mantan sekretarisnya, mereka nekat nikah siri dibelakang bunda" omel ibu Suri dengan kesal.
Okta tertawa, "Kata siapa? Enggak ada yang kaya gitu bunda. Bunda dengar dari mana kak Okky nikah siri sama Kina? Jangan ngarang deh"
__ADS_1
"Terserah, terserah kamu mau percaya atau enggak. Bunda capek ngurusin kakak kamu, bunda udah nggak peduli lagi, silahkan kalau kamu mau mendukung kakak kamu itu" ibu Suri beranjak, dia ingin berdiam diri dikamarnya. Fikirannya benar-benar kacau saat ini.
"Apaan sih bunda, siapa coba ya yang ngarang cerita kaya gitu ke bunda" gerutu Okta.
Mbak Surti yang membawa secangkir teh hangat diatas nampan, celingak celinguk mencari majikannya yang memesan teh tadi. "Tadi benerkan mbak, ibu minta dibuatin teh?" tanyanya pada Okta yang asik menikmati camilannya, sambil menonton animasi spongebob square pants favoritnya.
"Enggak mbak Sur, bunda belum pulang kok " kata Okta dengan wajah seserius mungkin.
"Masak sih mbak, beneran tadi saya dengar suara ibu minta teh anget"
"Hantu kali mbak"
"Ibu kan masih hidup mbak, nggak mungkin jadi hantu" ucap Surti dengan polosnya. Okta berusaha keras untuk tidak tertawa atau tersenyum.
"Pakunya copot kali"
"ih, mbak Okta ada-ada aja. Tapi tadi---"
"Surti, saya dikamar" ucapan mbak Surti terpotong, saat suara teriakan Ibu Suri terdengar dari dalam kamarnya.
"Nahkan, mbak Okta ini, bikin jantungan aja" mbak Surti menggerutu sambil berjalan menuju kamar ibu Suri. Okta terbahak-bahak, dia sangat menikmati wajah panik mbak Surti setiap dia kerjai, seperti tadi.
"Bahagia banget" tanya Ammar yang baru saja tiba dirumah. Ammar duduk disebelah Okta, lalu mengambil toples yang bertengger diperut buncit istrinya, untuk diletakkan dimeja.
"Habis ngerjain mbak Surti. Gimana, udah ketemu kak Okky?"
"Udah sayang, katanya kondisi perusahaan sudah ada peningkatan, ya…meskipun cuma sedikit" jawabnya, sambil mengusap sekitar mulut istrinya dari sisa biskuit.
"Alhamdulillah, aku nggak mau anakku lahir dalam keadaan bangkrut.hehe…"
"Makanya berdoa yang baik-baik. Mas Okky sudah berusaha keras menjaga perusahaan untuk kalian"
"Iya sayang, akan aku balas dengan sesuatu yang paling berharga didunia ini"
"Apa itu?"
"Doa" Ammar tertawa, lalu menyandarkan kepala Okta didadanya dan mengecupnya berkali-kali.
__ADS_1
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸