30 Hari Menjemput Jodoh

30 Hari Menjemput Jodoh
Tiga macam cinta


__ADS_3

"Assalamu'alaikum…" satria mengucap salam dengan suara keras. Dia datang bersama kevin. "Syafaaaa…hap…py…" satria terdiam saat melihat Okky disana. Padahal tadi sudah semangat akan mengeluarkan suara emasnya, dengan menyanyikan lagu happy birthday to you, untuk syafa.


"Lanjut sat…!" kata Kina, menggoda Satria.


"Sukurin" bisik Kevin dibelakang Satria.


Satria menggaruk kepalanya, tersenyum dengan kikuk. Apalagi Okky terus menatapnya dengan ekspresi datar.


"Masuk…masuk" Ibu Siti mempersilhakan kedua tamunya.


Ali datang dari dalam rumah dan membawa karpet bulu, Dia membentang karpet karena sofa ruang tamu tak akan muat untuk semua tamunya.


Mila, Nila dan Dinda langsung melompat kekarpet, Dinda menarik tangan Syafa untuk duduk disampingnya. Kina duduk disamping Mila, Okky dengan cepat duduk disamping Kina. Lalu yang lain duduk ditempat yang masih kosong.


"Umi, duduk diatas aja, nanti kakinya sakit" kata Kina, memperingati Ibu Siti yang akan kesusahan jika memaksa duduk dilantai.


"Nggak pa-pa ni? Maaf ya pak Okky, saya duduk diatas, atau pak Okky juga duduk di sofa aja, biar mereka mereka yang duduk dibawah" tutur ibu Siti, merasa sungkan pada atasan anaknya itu.


"Nggak apa Ibu, saya nyaman disini kok" jawabnya sambil menarik narik lengan baju Kina. Kina melotot, memberi kode untuk tidak berbuat aneh aneh.


Ali memimpin doa untuk adiknya yang sedang berulang tahun, semua menyimak dan mengamini dengan khusyuk. Setelah doa selesai, semua dipersilahkan menikmati hidangan yang sudah terhampar di hadapan mereka.


Semua sibuk mengambil nasi dan lauk pauk, mereka sudah kelaparan sehabis bekerja seharian. Kina mengambil nasi dan lauk yang tidak pedas.


"Bu Oki, pake sambal ini, sambalnya umi paling enak" kata Dinda sambil menyendok sambal dan hendak menaruhnya di piring Kina.


"Jangan!! ini buat anak kecil, nggak bisa makan pedes" ujarnya, lalu menyerahkan piring pada Okky yang terlihat kesal. Kina tersenyum, menaik turunkan alisnya, meledek Okky.


"Jahat banget sih buk ngledekin bapak terus" giliran Dinda yang menggoda Kina, memanggil mereka dengan sebutan bapak Ibu, seolah keduanya sepasang suami istri. Kina yang gemas mencubit pipi Dinda. Okky diam diam tersenyum tipis.


Setelah makan mereka shalat maghrib dirumah Ali, lalu lanjut dengan mengobrol santai sambil ngemil kue ulang tahun. Mila, Nila, Dinda dan Satria tak berani segila biasanya. Mereka sungkan karena ada Okky.

__ADS_1


"Umi…umi tahu cinta nggak?" tanya syafa tiba tiba


"Cinta pacarnya rangga?" tanya Dinda dengan mulut penuh kue, bibirnya pun belepotan. Satria yang gemas menyeka mulut Dinda menggunakan tisu dengan kasar, Dinda berdecak.


"Bukan…bukan kak dinda, cinta yang disini" menunjuk dadanya dengan jari.


Ibu siti tertawa, "Kok syafa tiba tiba nanya soal cinta, memang kenapa nak?"


"Emm…disini ada tiga cinta umi. Cinta, em…cinta sejati, Cinta diam diam, stttt......." Syafa menempelkan jari telunjuk didepan bibirnya. "Sama,cinta…pura pura. Banyak ya umi?" Lalu dia terdiam lagi, sambil memejamkan mata.


"Apa sih maksudnya nak, umi nggak paham, tumben tumbenan syafa ngomongin cinta cintaan. Syafa habis nonton sinetron ya tadi?" tuduh Umi, bermaksud bercanda.


"Enggak, itu lihat diwajah… Abang, kakak kevin, sama bapak yang kasih boneka besar" Syafa menunjuk mereka yang disebut satu persatu.


"Menarik" Dinda berbisik pada Mila dan Nila. Ketiganya menyimak dengan jiwa kepo yang menyala nyala, menunggu apa yang akan dikatakan Syafa lagi. Mereka sudah tahu, kalau syafa yang memiliki kekurangan itu, juga punya kelebihan istimewa. Dia seperti bisa membaca isi hati orang lain, tapi hanya saat tertentu saja. Tak bisa diperintah, semau Syafa.


Ali yang sudah tahu bagaimana adiknya yang tidak bisa memilah apa yang perlu dan tidak perlu disampaikan, jadi gelisah sendiri. Apalagi namanya ikut disebut.


Kina mengernyit, "Kok kakak sih dek?" tanyanya. Syafa hanya tertawa kecil. Lalu mengambil sepotong kue dan sibuk memakannya. Ketiga pria yang disebutkan saling melirik, entah apa yang ketiganya fikirkan. Satria menyenggol lengan kevin, kevin pura pura cuek.


Dinda, Mila dan Nila cemberut, "Yaaahh…kok udahan sih dek" kata ketiganya serempak dengan wajah kecewa.


Kumandang adzan isya' menghentikan aktifitas ngobrol mereka. Bersama sama, berjalan kaki menuju masjid terdekat. Setelah ikut shalat berjamaah, Okky menahan Kina agar berjalan terpisah dengan yang lain.


Mila, Nila, Dinda, Ali, Kevin dan Satria yang berjalan didepan mulai bergosip. Semua mulai curiga dengan hubungan OKky dan Kina, kecuali Ali yang sudah tahu.


"Bang, Pak Okky katanya mau nikah ya?" tanya Dinda dengan suara pelan, takut terdengar Okky.


"Sama mbak Kina?" tanya Nila


"Bukan, kamu ingat mbak mbak tinggi cantik yang pernah keluar kantor bareng pak Okky nggak?" tanya Mila pada Nila, Nila mengangguk. "Gosipnya sih sama mbak itu" imbuhnya.

__ADS_1


Dinda menutup mulutnya, "Bener itu bang? Ihh…Pak Okky mepetin mbak Kina terus, tapi nikahnya sama yang lain. Dasar PHP!" cibir Dinda.


"Bukan begitu, pak Okky nggak bermaksud PHP kok" sanggah Ali yang sedikit tahu kisah cinta Okky.


"Terus, nanti kalau mbak Kina baper gimana? Udah baper ditinggal nikah, kan sakit hati adek bang" ujar Dinda, dengan wajah sedih yang lebay.


"Kina nggak baperan kayak kamu" Ali menoyor kepala Dinda yang dari tadi geleng geleng tak jelas itu.


"Masih ada aku" tutur Kevin, singkat, padat dan modus.


"Halah…kamu ngomong aja males. Mana mau mbak Kina sama kamu, serasa pacaran sama tembok. diem diem bae" ledek Dinda pada Kevin. Kevin hanya mendengus.


Beberapa meter dibelakang mereka, Okky dan Kina juga sedang mengobrol sambil melangkahkan kaki dengan santai.


"Ki, kamu pindah kemana?"


"Em…ada deh, hehe"


Okky berdecak, "Serius ki, saya hanya ingin tahu. Apa tidak boleh?"


Kina menarik nafas sejenak, berhenti melangkah, Okky ikut berhenti. Kina mendongak, menatap wajah tampan Okky, yang lebih tinggi darinya. "Maaf pak, sepertinya saya tidak bisa memberi tahu. Lebih baik bapak menjauhi saya, supaya bapak lebih mudah menghilangkan perasaan bapak terhadap saya. Mari kita jalani takdir kita masing masing" tuturnya dengan nada selembut mungkin, agar tak menyinggung perasaan Okky.


"Apa maksud kamu? Kenapa saya harus menghilangkan perasaan saya?" tanya Okky dengan wajah sendu. Hatinya sakit mendengar Kina seolah tak ingin bertemu dengannya lagi.


Kina menghela nafas, "Karena itu salah pak. Belajarlah mencintai calon istri bapak" imbuhnya.


Okky mengacak rambutnya, "Bagaimana caranya, sedangkan dia tak pernah peduli padaku. Dia nggak peduli apa aku makan dengan baik atau tidak, aku lelah atau tidak, aku sibuk atau tidak. Dia hanya ingin uangku, bukan aku. Dia bohong bilang cinta pada pandangan pertama, omong kosong" Okky mulai emosi.


"Pak…jangan berprasangka buruk, dia jodoh pilihan Ibu anda. Dia yang terbaik untuk bapak"


"Bundaku itu manusia Ki, dia bisa saja salah memilih. Kamu tahu, setiap hari bukan semakin ikhlas yang aku rasa, tapi aku semakin menyesal. Kalaupun itu bukan kamu, setidaknya seorang wanita yang peduli, sedikit saja padaku" suaranya bergetar.

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2