
Sudah tiga hari sejak insiden di taman kota, Melodi tidak pernah melihat Rendi di sekolah. Pesan yang ia kirim juga tidak dibalas. Telepon yang tersambung juga diabaikan.
"Segitu marahnya ya Rendi sama gue? Terus gue harus gimana?"
Melodi berjalan menyusuri koridor kelas XI. Entah kenapa langkah kakinya ini membawanya ke area menyeramkan ini. Bagaimana tidak? Ini kawasan trio beauty dan geng crazy. Baiklah, Melodi sudah terlanjur berada disini. Ia tidak boleh menjadi pengecut.
Melodi berjalan dengan mode cepat, berharap tidak bertemu penunggu kawasan ini. Banyak orang mengatakan, mereka lebih menyeramkan daripada hantu penunggu sekolah.
Tap. Tap. Gerakan Melodi semakin cepat, berganti ke mode berlari. Sayangnya, Dewi Fortuna tidak berpihak padanya saat ini. Melodi tak sengaja menabrak seseorang dan menumpahkan minuman yang dipegang oleh cewek itu. Baju cewek itu basah karena kecerobohan Melodi.
"Maaf kak, maaf." Melodi membungkukkan badan seraya meminta maaf.
"Baju gueee.." Cewek itu begitu panik.
"Heh! Jalan tuh pakai mata, bukan pakai dengkul!" Cewek itu menjambak rambut Melodi, agar Melodi mendongakkan kepala, menunjukkan wajahnya.
"Bianca.." Kata Melodi lirih, hampir tidak terdengar sama sekali.
"Lo lagi.. lo lagi. Dasar gadis kampungan! Ngapain lo disini, hah? Oh.. lo mau coba lanjutin pertarungan kita yang waktu itu? Lo pikir kemarin gue nyerah gitu aja, nggak. Gue cuma kasih kerenggangan waktu buat lo. Dan sekarang, gue bakal bales perbuatan temen lo itu yang udah ambil hp gue dan nggak dibalikin sampai sekarang." Amarah Bianca menggebu-gebu. Suaranya persis seperti nenek sihir.
"Lepas!!" Melodi meraih tangan Bianca yang menjambak rambutnya. "Gue minta maaf karena gue nggak sengaja numpahin minuman itu ke baju lo. Terus, masalah hp lo, temen gue udah balikin kok dari kemaren."
"Mana buktinya?"
"Lo cek aja sendiri loker lo." Melodi hendak melangkah, namun cepat dicegah oleh Bianca.
"Tunggu! Lo mau pergi gitu aja? Lihat baju gue, baju gue basah gara-gara lo!"
"Gue kan udah minta maaf, gue juga nggak sengaja."
"Lo pikir dengan minta maaf masalahnya selesai?" Bianca menarik kerah baju Melodi. Dengan sigap, Melodi menampar Bianca. Melihat itu, Bianca langsung melepaskan tarikannya. Selanjutnya, terjadilah perkelahian antara kedua cewek itu.
Jika saja Bu Loli tidak menghentikan mereka, mungkin mereka sudah seperti berandal dengan pakaian mencuat keluar dan rambut yang berantakan. Mereka dibawa ke ruang kepala sekolah.
"Jadi, siapa yang memulai duluan perkelahian ini?" Pak Iman bertanya, sambil mengitari meja.
"Dia!" Mereka saling tatap, menunjuk satu sama lain.
"Bianca, apa benar kamu menjambak rambut Melodi?" Pertanyaan tertuju pada Bianca.
"Saya nggak bakal jambak dia kalau dia nggak numpahin minuman di baju saya." Elak Bianca tidak mau kalah.
__ADS_1
"Tapi saya nggak sengaja numpahinnya pak." Melodi membela diri.
"Bohong pak! Dia aja berani nampar saya." Bianca menunjukkan bekas luka karena tamparan Melodi.
"Sudah. Bapak tidak mau mendengarkan apapun dari kalian. Sekarang kalian lari sepuluh keliling mengitari lapangan. Cepat!!" Pak Iman segera mengambil keputusan, karena tidak mau melihat keributan mereka lagi.
Melodi yakin semalam ia bermimpi buruk. Tidak mungkin ia bertemu dengan nenek sihir ini jika ia bermimpi indah. Kenapa juga harus cewek ini dari sekian banyak kakak kelas cewek di kelas XI? Kenapa juga dirinya begitu bodoh sampai-sampai membuat baju Bianca basah?
Delapan putaran sudah Melodi berlari. Masih tersisa dua putaran lagi. Melodi berhenti sejenak, menyeka keringat yang mulai bercucuran. Sementara Bianca? Jika dihitung, dia baru saja berlari tiga putaran. Dasar wanita lemah. Sulit memang jika kesehariannya hanya bergelut dengan cermin.
Priiiit. Pak Guntur, guru olahraga mereka membunyikan peluit. Hukuman Melodi berakhir sudah. Tetapi tidak bagi Bianca. Dia masih harus berlari lima putaran lagi.
***
Suasana kelas Bianca sangat ramai sebelum dia masuk. Tetapi, mendadak hening ketika dia masuk. Murid kelas XI IPS 4 begitu takut pada sosok Bianca dan kawan-kawannya. Tidak terkecuali dengan Rendi dan geng crazy.
"Huhuhu.. Belaaa.. Basmaa..." Bianca menghampiri meja kedua temannya yang sedang menikmati satu bungkus snack. Mereka yang menyadari situasi langsung angkat bicara.
"Ya ampun Bi, kok lo keringatan kayak gitu? Lo habis lari maraton? Terus ini lagi kenapa baju lo basah?" Bela membersihkan baju Bianca dengan sapu tangan miliknya.
"Ini semua gara-gara gadis kampungan itu!" Bianca menghentak-hentakkan kakinya ke lantai.
"Jangan pernah lo sebut lagi nama dia di depan gue, gue muak dengarnya." Bianca sok menangis, berharap Rendi melihat kondisinya. Tetapi, Rendi tidak peduli. Dia sibuk dengan laptopnya.
"Lo tahu, si gadis kampungan itu jambak rambut gue, terus nampar pipi gue. Lihat?" Bianca menunjukkan sedikit luka akibat tamparan Melodi. "Udah gitu, dia malah tuduh gue yang nggak nggak ke kepala sekolah. Jadinya gue yang kena hukuman, disuruh lari 20 keliling." Bianca mulai memanas-manasi keadaan.
Rendi, yang duduk di depan mereka tiba-tiba saja menutup laptopnya. Menghilang dari pandangan Bianca dan teman-temannya.
Notifikasi ponsel Melodi berbunyi. Terdapat satu pesan masuk. Ternyata dari Rendi.
"Kemana aja Rendi selama tiga hari ini?"
Gue tunggu lo di kebun belakang sekolah. Sekarang.
_Rendi
"Setelah menghilang tanpa kabar, Rendi minta gue buat temuin dia? Harusnya Rendi yang nemuin gue kalau dia merasa pria jantan. Tapi kira-kira, apa yang bakal dibicarain sama Rendi ya? Apa dia mau minta maaf ke gue? Semoga aja firasat gue benar."
Melodi pergi meninggalkan kelas. Gema, yang melihat Melodi begitu tergesa seperti curiga. Dia membuntuti dari belakang. Namun, Melodi sudah mengetahuinya.
Di kebun, Rendi sudah berdiri dengan melipatkan kedua tangan di depan dada. Mata Melodi mulai menyelidik. Auranya tidak bagus. Sepertinya, Rendi masih marah padanya.
__ADS_1
"Kenapa Ren?"
"Udah tiga hari nggak ketemu, cuma itu kalimat yang terlontar dari mulut lo? Bodoh!" Melodi memaki dirinya.
"Gue tahu Mel, Bianca emang benci lo. Tapi nggak pantas lo ngelakuin itu sama dia!" Rendi mendengus kesal.
"Maksud lo?" Melodi tak mengerti dengan alur pembicaraan mereka. Kenapa nama Bianca juga ikut disebut?
"Gue udah tahu semuanya! Tadi lo jambak dan nampar Bianca kan? Terus lo numpahin minuman juga ke baju Bianca. Ditambah, lo mojokin dia di depan kepala sekolah. Seolah-olah, Bianca yang salah. Padahal lo biangnya! "
"Tuduhan konyol apa itu. Jelas-jelas Bianca yang jambak gue duluan." Melodi membela diri. "Bianca bohong. Kejadiannya beda sama yang dia ceritain." Ucap Melodi, mencoba menetralisir keadaan.
"Gue lihat sendiri Mel! Pipi Bianca luka! Lo masih mau mngelak? Hah? Gue nggak nyangka, ternyata selama ini lo nggak lebih dari seorang wanita biadab! Percuma, lo pasang wajah polos kayak gitu!" Perkataan Rendi membuat hati Melodi mencelos. Bisa-bisanya Rendi mengatakan hal itu pada Melodi.
"Jaga ucapan lo ya Rendi! Lo pikir, lo lebih baik dari gue?" Ucap Melodi sangat ketus. "Lo kalau ngomong disaring dulu dong. Jangan asal tuduh orang sembarangan tanpa bukti!"
"Mel!" Rendi mengangkat tangan, hendak menampar Melodi. Namun urung dilakukan.
"Apa? Lo mau tampar gue? Tampar aja! Gue benar-benar nggak percaya, seorang Rendi bisa termakan hasutan Bianca yang licik itu. Sampai-sampai, lo nggak percaya sama pacar lo sendiri. Harusnya kemarin gue nggak pilih lo. Masa bodo sama ancaman lo, gue nggak takut." Melodi mengeluarkan seluruh isi hatinya. Semua yang telah terkumpul di pikiran, ia tumpahkan saat ini.
Melodi menghela napas, kemudian melanjutkan perkataannya kembali. "Oke fine. Gue rasa, kita udah nggak seirama lagi. Lebih baik kita akhirin aja sampai disini. Untuk apa terus mempertahankan hubungan jika sudah tidak ada rasa kepercayaan satu sama lain? Memang sejak awal, kita tidak pernah ditakdirkan untuk bersatu."
Melodi pergi, meninggalkan Rendi yang berdiri kaku disana. Mungkin Rendi menyesal karena telah mengatakan hal buruk pada Melodi. Bahkan, setelah kalimat yang Melodi lontarkan tadi, Rendi tidak berkutik sama sekali. Melodi rasa, Rendi memang sudah tidak mencintainya lagi.
Gema, yang sedang menyaksikan pertengkaran Melodi dengan Rendi sontak bersembunyi melihat Melodi berjalan mendekatinya.
"Udah, lo nggak usah ngumpet Gema." Sahut Melodi.
Gema keluar dari tempat persembunyian sambil menyeringai. "Gue nggak ada niat buat nguping Mel, serius." Dia langsung berkata.
"Lo nguping juga nggak apa. Lagian, gue udah putus sama Rendi." Melodi tersenyum hambar. Mencoba tetap tegar walaupun sebenarnya hatinya tidak mendukung.
"I'm sorry to hear that." Gema memasang mimik wajah menjijikkan.
"Ih Gema, jijik banget sih." Sekilas Melodi tertawa.
"Udah, nggak usah sedih gitu. Gimana kalau gue traktir thai tea?" Gema merangkul Melodi, mereka berjalan menuju kantin.
Entah kenapa, Melodi merasa nyaman jika bersama dengan Gema. Dia menyebalkan memang, tapi dia tidak pernah menyakiti perasaan Melodi Dia mampu membuat Melodi tertawa dengan caranya. Dan mampu membuat Melodi jengkel dengan tingkahnya. Bagi Melodi, Gema sangat berbeda dengan Rendi. Jantung Melodi berdegup cukup kencang.
"Apa gue suka Gema?"
__ADS_1