A Romantic Badboy

A Romantic Badboy
Part 57


__ADS_3

Sebelumnya aku mau minta maaf yang sebesar-besarnya buat semua readers aku. Kemaren² aku lagi sibuk UAS, engga sempet lanjutin cerita aku. Mohon maaf banget yaaa❤️


Hari ini, Melodi merasa aneh dengan sikap Neta yang sangat berbeda. Rambut cewek itu yang pendek sebahu diberi hiasan bandana pita. Tampak jauh lebih rapi dari biasanya. Wajahnya terlihat lebih cerah, mungkin dia menyapu bedak natural di wajahnya. Bukan hanya itu saja ternyata. Neta mengganti kacamata bulatnya dengan kacamata yang sesuai dengan wajahnya.


Kini, Neta terlihat begitu tergesa-gesa pergi meninggalkan kelas. Sebenarnya ada apa dengan cewek itu? Melodi benar-benar bingung melihat perubahan drastisnya.


"Lo ngerasa ada yang aneh nggak sama Neta?" Tanya Melodi pada Gema yang kebetulan ada di sebelahnya. Entah kenapa cowok itu memilih berdiam diri di kelas pada jam istirahat, tidak seperti biasanya.


Gema hanya mengedikkan bahu mendapati pertanyaan dari Melodi. Lagipula, untuk apa dia memedulikan hal itu? Lebih baik ia memedulikan cewek di sebelahnya yang jelas-jelas selalu terlihat cantik setiap harinya.


"Gue curiga deh sama dia akhir-akhir ini. Sikapnya tuh agak aneh, lo emang nggak ngerasa?" Tanya Melodi kembali karena ia merasa belum mendapatkan jawaban.


"Udahlah, nggak usah bahas si Neta. Biarin aja kali. Dia mau berubah atau nggak, kan ngga ngaruh sama hubungan kita. Ya nggak?" Gema mengedipkan matanya pada cewek di sebelahnya yang cerewetnya mirip dengan ibu-ibu kompleks perumahan.


"Ah, lo apaan sih. Kenapa jadi bawa-bawa hubungan kita?" Melodi menyembunyikan wajah bersemu merahnya dengan buku. Sudah hampir empat bulan Melodi menjalin hubungan dengan Gema, tapi tetap saja Melodi selalu merasa meleleh jika Gema melakukan hal-hal seperti itu. Lupakan kalimat dulu yang pernah Melodi katakan kalau ia tidak merasa melting di depan Gema. Pada akhirnya, ia termakan oleh ucapannya sendiri.


"Cie, blushing, cie.." Ledek Gema. "Udah, nggak usah ditutup-tutupin gitu kali. Gue suka kok lihat lo blushing kayak gitu." Gema menarik buku yang menutupi wajah Melodi agar ia bisa melihat muka menggemaskan pacarnya itu.


"Ish, nyebelin banget sih!" Desis Melodi. "Lagian lo kenapa nggak ke kantin aja jam istirahat hari ini?" Melodi mengalihkan pembicaraan.


"Kalau gue ke kantin, gue nggak bisa lihat lo blushing dong!" Goda Gema yang semakin membuat pipi Melodi merah merona.


"Gema..." Pukulan bertubi-tubi langsung mengenai lengan Gema.


***


Neta sangat yakin kalau istirahat kali ini Rendi pasti sedang berada di ruang basket, mengingat turnamen basket yang akan berlangsung tiga hari lagi. Neta berjalan sedikit cepat, menghindari orang-orang yang berbisik-bisik di sepanjang jalan karena kehadiran Neta. Wajar saja, ruang basket letaknya di ujung koridor kelas XII. Jadi, detik itu juga Neta menjadi sorotan kakak kelasnya.


Sebenarnya Neta juga tidak mau menginjakkan kaki di tempat ini kalau bukan karena hal mendesak. Neta ingin mengembalikan kalung yang Rendi jatuhkan saat di minimarket weekend kemarin. Biar bagaimanapun, Neta tidak mau menjadi cewek egois. Lagipula Neta seratus persen yakin, kalau Rendi sudah tidak mencintai Melodi.

__ADS_1


Kakinya sudah sampai di depan ruang basket. Pintu kayu itu sedikit terbuka, membuat Neta berusaha mengintip ke dalam. Ketika ia hendak menyembulkan kepala, tiba-tiba saja seseorang menepuk pundaknya dari belakang. Neta terkejut, lalu menoleh ke orang di belakangnya.


"Ngapain lo disini?" Tanya Sammy sambil berkacak pinggang. Dilihatnya penampilan cewek itu dari atas sampai bawah. Seketika Sammy mengerutkan keningnya. "Kacamata lo ganti? Terus itu di rambut lo apaan?"


"Bukan urusan lo!" Bentak Neta tidak suka. Ia sangat tahu, kalau Sammy selalu memandang rendah dirinya. Bukan hanya itu, Sammy juga selalu mengatakan Neta adalah introvert yang psikopat. Oleh karenanya, Neta begitu membenci Sammy.


"Loh malah nyolot. Gue nanya baik-baik juga." Tangannya berganti dari berkacak pinggang menjadi bersedekap. "Lo mau ketemu gue? Lo tuh harusnya sadar diri Net, gue udah pacaran sama Nisa. Lo nggak usah berharap lebih sama gue." Sammy tersenyum meremehkan.


Telapak tangan Neta mengepal, rasanya ia ingin meninju mulut cowok di depannya ini. Neta mengakui, dulu memang ia pernah tergila-gila dengan Sammy. Tapi sekarang, Neta sudah mencoret nama Sammy dari hatinya. "Cukup! Gue nggak ada perlu sama lo. Gue kesini bukan buat.."


Kalimat Neta mendadak terhenti karena kehadiran cowok berperawakan tinggi yang muncul dari arah barat. Cowok itu mengenakan setelan rapi, sama seperti hari-hari biasanya. Tangannya menenteng sebuah plastik. Sepertinya ia baru pulang dari kantin.


Rendi langsung melempar senyum pada kedua manusia di depannya. Sammy merasa biasa saja. Tapi Neta, detik itu juga jantungnya berdegup kencang. Jangan lupakan pipi tirusnya yang berubah kemerahan.


"Eh Neta. Lagi ngapain disini?" Tanya Rendi pada cewek itu. Sama halnya seperti temannya yang lain, Rendi juga merasakan keanehan yang ada di diri Neta. "Lo, ganti kacamata ya?" Rendi berjalan mendekat ke arah Neta.


Jantung Neta terus memompa, berdenyut tidak konstan. Neta rasa jantungnya sudah tidak bisa dikendalikan lagi. Dari jarak sekitar lima sentimeter, Neta terdiam kaku seperti patung.


Apa tadi yang Rendi bilang? Neta tidak salah dengar kan? Ah, rasanya Neta ingin berkata pada dunia detik ini juga. Kalau dirinya merasa sangat bahagia.


"Udah drama speechlessnya?" Sammy kembali memperkeruh suasana. Detik selanjutnya, ia masuk ke dalam diikuti oleh Neta di belakangnya.


"Ngapain lo ngikutin gue?"


"Gue nggak ngikutin lo. Gue cuma mau kasih ini ke Kak Rendi." Neta menyimpan kalung perak milik Rendi di atas meja.


Rendi lekas meraih benda itu, kemudian berkata pada Neta. "Kok kalung ini ada sama lo?"


"Maaf kak, kemarin waktu kita ketemu di minimarket kakak nggak sengaja jatuhin kalung itu."

__ADS_1


"Oh gitu, pantesan kemarin gue cari-cari nggak ada. Tapi, makasih loh udah balikin ini ke gue." Rendi kembali melemparkan senyum pada Neta.


"I.. iya sama-sama ka. Kalau gitu, gue balik ke kelas ya kak." Neta berbalik, berlalu menuju pintu. Tidak lupa juga ia menutup pintu rapat. Belum sempat ia pergi, Neta mendengar sedikit pembicaraan Sammy dan Rendi.


"Kalung apaan tuh?" Sammy mengambil paksa kalung tersebut dari tangan Rendi.


"Pelan-pelang dong Sam, nanti kalungnya putus."


"Emang ini kalung apaan sih? Kayak buat cewek." Sammy mengamati kalung tersebut. Karena penasaran, Sammy membuka liontin kalung itu. "Ini foto Melodi kan?"


"Iya, kenapa?"


"Lo masih belum move on juga dari dia?" Sammy menatap Rendi dengan tatapan tidak percaya.


Rendi mengelak, "Bukan gitu. Gue cuma mau kasih ini ke dia. Emangnya salah ya." Rendi merebut kalung itu dari tangan Sammy.


"Ya jelas salah lah. Itu berarti di lubuk hati lo yang terdalam lo masih suka sama dia. Gue kirain lo bercanda kalau lo masih suka sama dia pas kita ngobrol di kantin beberapa hari yang lalu."


Rendi menghela napas kasar, "Yah, gue juga nggak ngerti sama perasaan gue sendiri. Kadang, gue anggap Melodi itu adik ipar gue sendiri. Kadang juga, gue ngerasa kalau Melodi itu orang istimewa di hidup gue."


"Dengarin gue. Melodi itu udah jadi pacar adik lo. Lo nggak seharusnya kayak gini Ren. Mulai sekarang, lo kubur kisah cinta lo yang dulu sama Melodi. Sekarang lo buka lembaran baru lagi. Gue yakin, di luar sana masih banyak cewek yang mau sama lo."


Rendi hanya menggangguk pasrah mendapat ceramah ekstra dari Sammy.


"Gimana kalau gue kenalin sama sepupu gue? Dijamin lo bakal suka deh sama dia. Dia baru balik dari Australia kemarin. Gue kenalin ya."


"Sam, lo tahu kan gue nggak suka dicomblangin? Udah ah, gue mau makan siang. Laper!"


"Lo yakin Ren, dia cantik tahu. Pintar, baik, ah pokoknya idaman para cowok deh. Kalau gue bukan sepupunya udah gue sikat itu cewek."

__ADS_1


Rendi memilih mengabaikan perkataan Sammy. Baginya, makanan di hadapannya jauh lebih menarik daripada perkataan Sammy yang tidak bermanfaat.


__ADS_2