
Sammy mengangkat tangan kanannya seraya melambai-lambai selepas Nisa keluar dari mobilnya. Walau sebenarnya Nisa tidak menoleh sama sekali, memilih untuk berlari tergesa-gesa menuju rumah besarnya. Entah apa yang sedang dikhawatirkan cewek itu.
Dari balik kaca, Sammy bisa melihat tubuh Nisa perlahan menghilang. Setelah dirasa Nisa sampai dengan selamat, Sammy melajukan mobilnya meninggalkan kompleks perumahan. Jujur saja, Sammy sempat khawatir Nisa terjatuh saat berlari, mengingat Nisa baru pulih dari pingsannya.
"Surpriseee...."
Suara dua orang berteriak diikuti ledakan party popper memenuhi ruang tamu rumah Nisa setelah ia masuk ke dalam dengan raut wajah penuh kepanikan. Hal pertama yang Nisa lihat adalah bundanya tidak pingsan seperti yang dikatakan Melodi. Bundanya baik-baik saja.
Setelah memastikan bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Nisa baru teringat sesuatu. Ditambah kue dengan lilin menunjukkan angka tujuh belas, dan balon-balon yang terpampang di dinding ruang tamu. Ini hari ulang tahunnya, bagaimana bisa ia lupa?
"Mau diam disitu aja? Ini lilinnya keburu habis loh kebakar sama apinya." Ujar Riri, karena Nisa masih berdiri terpaku di depan pintu, tidak berkutik sama sekali. Yang berubah hanyalah raut wajahnya, dari khawatir menjadi senyum bahagia.
Sejurus kemudian, Nisa berlari ke arah Riri, memeluk erat wanita yang sudah membuat jantungnya lenyap. Air matanya keluar begitu saja tatkala Riri membalas pelukannya dengan hangat.
"Maafin gue ya.." Melodi nyengir, karena pesta kejutan ini sejujurnya Melodi yang rencanakan. Bunda hanya sebatas memeriahkan acaranya.
__ADS_1
"Ah, gue mau marah juga gimana." Nisa mengusap bulir-bulir air mata yang membasahi wajahnya. "Tapi asli, lo bikin gue panik banget Mel."
"Haha, iya dong. Gue gitu loh. Pintar dalam bersandiwara." Melodi menyombongkan diri.
"Udah ah peluk-pelukannya, sekarang gimana kalo kamu tiup lilinnya. Tapi sebelumnya, make a wish dulu."
Nisa memejamkan mata, seraya memanjatkan beberapa harapan yang ia inginkan. Setelah dirasa cukup, ia meniup lilin tersebut.
"Selamat ulang tahun ya anak bunda." Riri mengecup kening Nisa.
Nisa langsung memeluk keduanya, betapa bersyukurnya ia bisa dipertemukan dengan dua wanita ini.
***
Sepanjang perjalanan pulang, Sammy masih memikirkan kejadian saat di cafe tadi. Sammy merasa, kalau dirinya tidak asing dengan cowok yang baru saja ditemuinya. Sammy seperti pernah melihat cowok itu, tapi dimana.
__ADS_1
Mobil sport hitam itu memasuki pekarangan rumahnya. Rumah yang begitu besar dan mewah namun menyimpan banyak kepedihan. Bukan karena orangtuanya yang tidak akur, tapi karena adik kesayangannya pergi meninggalkannya. Memori buruk empat tahun lalu rupanya belum hilang sepenuhnya.
Masih terekam jelas di benak Sammy, bagaimana histerisnya orangtuanya ketika mendapat kabar bahwa putri kandungnya mengalami kecelakaan dan tewas di tempat kejadian. Ibunya yang memiliki riwayat penyakit jantung hampir saja kehilangan nyawa.
Semakin mengingat hal itu, semakin sulit juga Sammy untuk melupakannya. Apalagi memaafkan orang yang sudah mencelakai adiknya. Luka lama yang ditanam oleh pelaku, seperti tidak pernah layu, tetapi semakin tumbuh.
Sammy mengambil sebuah album yang tersimpan rapi di rak buku. Disana terpampang potret dirinya bersama adiknya. Terlihat jelas kebahagiaan tercipta saat itu.
Sammy membuka lembar demi lembar, foto mereka dari masih bayi sampai terakhir beranjak remaja terpampang disana. Tanpa sadar, air mata berjatuhan begitu saja.
Sammy tidak sanggup melihat potret adiknya lagi. Ia memilih untuk menutup album, menyimpan kembali benda itu.
Ketika menyimpan album, Sammy melihat sebuah koran lusuh yang diapit oleh beberapa buku. Sammy mengambil koran itu, dan betapa terkejutnya ia saat melihat isi koran tersebut.
"Ini, dia kan?"
__ADS_1