A Romantic Badboy

A Romantic Badboy
Part 54


__ADS_3

Rendi mengatakan pada Gema bahwa dirinya pasti selesai dalam waktu sepuluh menit. Tapi nyatanya, sudah setengah jam Gema menunggu di depan rumah, batang hidung Rendi belum muncul sama sekali. Mengapa ia lama sekali? Rutuk Gema dalam hati.


Seharusnya Gema tidak seutuhnya percaya pada Rendi. Karena sudah berkali-kali Rendi mengatakan itu, dan hasilnya selalu sama. Pernah waktu itu, saat Gema hendak bertemu teman lamanya, Rendi meminta padanya untuk ikut. Alasannya ia bosan sendirian di rumah. Tentu saja Gema tidak tega melihat abangnya seperti itu. Terpaksa, Gema menuruti keinginannya.


Rendi berkata bahwa dirinya pasti selesai dalam waktu lima menit. Gema hanya mengiyakan saja ucapan abangnya itu. Hingga akhirnya, Gema yang sudah bersiap pergi, hampir saja terlelap karena perbuatan Rendi. Tentu saja Gema kesal. Waktu bersama temannya terbuang beberapa jam.


Dan sekarang, Rendi kembali melakukan hal sama. Gema bisa saja meninggalkan Rendi daritadi sebenarnya, kalau saja dia siap menerima segala resikonya. Salah satu alasan terbesarnya adalah, Rendi selalu membantunya mengerjakan PR. Dan Gema tidak mau kehilangan kesempatan berharga itu.


Gema sesekali melihat jam tangan hitam yang melingkar di tangannya. Sesekali juga melihat ke arah pintu depan rumahnya. Tepat jarum jam menunjukkan angka sembilan, Rendi keluar dengan senyum sumringah. Jauh berbeda dari raut wajah Gema yang semrawut.


Rendi berjalan menuju kediaman Gema. Mengambil helm, lalu mengenakannya. "Kenapa lo? Kok cemberut gitu?" Tanya Rendi.


"Lo masih tanya kenapa gue begini bang?" Gema melipat kedua tangan di depan dada, bibirnya dibuat secemberut mungkin.


"Yee... gue nanya benar-benar juga. Kenapa sih? Gue salah apa? Orang gue selesai tepat waktu." Jawabnya dengan bangga.


Apa yang Rendi katakan tadi? Selesai tepat waktu? Dari mana ia mendapat jawaban menyebalkan itu. Jelas-jelas Rendi telat dua puluh menit.


"Abang tahu nggak sih, gue udah nunggu setengah jam disini."


Rendi mengerutkan kening, "Tunggu, tunggu. Setengah jam kata lo? Lo salah kali. Tadi jam dinding di kamar gue masih jam setengah sembilan kok. Artinya gue tepat waktu dong."


"Ya ampun, abang..."Gema menggertakkan giginya. "Lo lihat deh sekarang jam berapa di ponsel lo atau jam tangan lo."


Rendi langsung melihat jam tangan coklat yang melingkar di tangannya. Seketika matanya melebar, kaget dengan fakta yang terjadi. "Tunggu bentar! Gema, kayaknya lo mesti bawa gue ke dokter dulu deh."


Gema naik ke atas motor, kemudian menoleh sejenak ke Rendi yang masih berdiri di samping motornya. "Loh? Ngapain?"


Rendi menangkup wajah Gema, "Mata gue bermasalah Gema, mata gue nggak bisa baca angka di jam ini. Jelas-jelas tadi gue lihat jam dinding di kamar gue masih jam setengah sembilan." Nada bicaranya sedikit khawatir.


Gema menepis kedua tangan Rendi yang ada di wajahnya, lalu memegang kedua bahu Rendi. "Dengar ya abang gue tersayang.. Yang bermasalah itu bukan mata lo, tapi jam dinding di kamar lo." Gema tersenyum penuh paksaan.


"Maksudnya?"


"Jam dinding lo habis baterainya bang, kenapa sih lo nggak ngerti?"


"Emang?" Rendi meragukan ucapan Gema. "Ya ampun! Kemarin kan gue minta lo buat beliin baterainya ya. Tapi belum gue ganti." Rendi menepuk dahinya, memasang wajah polos yang membuat Gema ingin menerkamnya detik ini juga.

__ADS_1


"Bang, lo tuh sebenernya pintar, tapi pelupa lo akut banget." Sindir Gema.


"Apa lo bilang?"


Gema buru-buru mengalihkan pembicaraan, "Maksud gue, lo buruan cepatan naik kalau nggak mau gue tinggal."


Baiklah, Gema tidak boleh membuat Rendi kesal hari ini. Karena Gema membutuhkan Rendi untuk mengerjakan tugas wirausahanya.


***


"Gimana? Gue udah cantik belum?" Melodi meminta Nisa dan Sammy menilai penampilan Melodi. Cewek itu mengenakan pakaian santainya, kaos putih polos dan celana jeans panjang. Wajahnya sendiri hanya dipoles dengan makeup natural.


Nisa mengacungkan jempolnya, "Cantik banget Mel, cantik banget. Lo kan pakai dresscode apa aja kelihatan cantik." Nisa memuji.


"Kalau menurut lo?" Melodi bertanya pada Sammy, karena dia hanya memasang tampang datar saja.


"Biasa aja." Celoteh Sammy. "Masih bagusan juga penampilan Nisa."


Melodi langsung melempar tatapan tajam pada Sammy, "Jadi maksud lo, gue nggak cantik gitu?" Melodi balik bertanya.


Sammy menganggukkan kepala dengan mantap.


"Apanya yang benar?"


"Kalau cowok itu munafik!" Jawab Melodi tepat di telinga Sammy.


***


Sampai di rumah Melodi, Rendi langsung menghembuskan napas dengan kasar. Rendi merasa menyesal sudah menjejakkan kaki ke rumah Melodi. Seharusnya, tadi ia memanjakan dirinya saja di rumah. Daripada ia harus melihat pemandangan menyebalkan di depannya sekarang.


Gema dan Melodi, memilih untuk bermain playstation di ruang keluarga. Rendi juga bingung, sejak kapan mantan pacarnya itu suka bermain PS? Padahal waktu Melodi bersamanya, cewek itu anti sekali dengan game. Dan dia melarang Rendi bermain PS terlalu berlebihan. Alasannya cukup simple. Melodi tidak suka diabaikan oleh Rendi karena game.


Kemudian ada Sammy dan Nisa. Rendi juga tidak tahu kalau ternyata cowok itu mengunjungi pacarnya weekend ini. Dan mereka tengah asyik mengobrol di ruang tamu, entah apa yang mereka bicarakan. Tapi, suara tawa mereka terdengar sampai keluar rumah. Mungkin Sammy sedang mengeluarkan jiwa humorisnya.


Sementara Rendi? Dia tersingkirkan begitu saja. Dia duduk seorang diri di kursi teras rumah. Menatap jalanan yang cukup ramai.


"Ah! Mestinya gue nggak ikut kesini! Bodoh banget sih lo Rendi!" Rutuknya dalam hati.

__ADS_1


Melodi masih asyik bermain PS bersama Gema, hingga akhirnya perutnya berbunyi nyaring, membuat cowok di sebelahnya tertawa.


"Itu pasti suara perut lo kan?"


Melodi nyengir, seraya mengelus perut keroncongannya. "Gue lapar, makan yuk!" Ajak Melodi.


Gema mematikan alat tersebut, kemudian berjalan menghampiri Melodi yang sudah duduk di sofa ruang keluarga.


"Mau makan apa? Order aja ya!" Gema membuka ponselnya, kemudian mencari aplikasi tempat memesan makanan.


"Mau apa nih?" Gema menggeser layar ke bawah, mencari menu yang akan mereka makan.


Belum juga Melodi menjawab pertanyaan Gema, suara Nisa tiba-tiba saja membuat keduanya memfokuskan pendengaran.


"Mel... kita challenge yuk!"


Sejurus kemudian, Nisa menghampiri Gema dan Melodi. Diikuti dengan Sammy di belakangnya.


"Challenge apaan?" Tanya Melodi pada Nisa. Cewek itu tengah duduk di karpet sambil menikmati keripik kesukaannya. Sedangkan Sammy duduk di sofa sambil menyandarkan kepalanya ke punggung sofa.


Nisa mendongak, "Samyang challenge! Gimana?" Nisa kembali mengunyah keripiknya.


Gema langsung menolak mentah-mentah tantangan dari Nisa. Pasalnya, Gema benci hot food. Perutnya bisa bergejolak jika ia nekad memakannya. "Nggak, nggak. Yang wajar-wajar aja kalau challenge tuh."


Sammy duduk tegak, "Kenapa lo? Takut?"


"Bukan gitu, gue nggak bisa makan hot food."


Nisa membelalakkan mata, ia menelan cepat keripik yang hampir menyangkut di tenggorokannya. "Serius? Wah, bagus kalau gitu."


"Bagus apanya?"


"Bagus lah, karena lo pasti kalah di challenge ini." Nisa terbahak.


Gema melempar bantal yang ada di atas pahanya pada Nisa. "Sialan lo! Emang apaan sih hadiahnya kalau menang?"


"Tiket pesawat ke Jepang!" Celetuk Rendi tiba-tiba. Entah sejak kapan cowok itu berdiri di sana.

__ADS_1


Keempat manusia itu langsung menoleh ke sumber suara. Dalam sekejap mereka serempak menganggukkan kepala, tanda setuju dengan challenge kali ini.


__ADS_2