
Coki terbangun dari pingsan lamanya. Dia mengerjapkan mata, melihat sekeliling ruangan. Ini rumahnya. Dia mencoba mengingat kejadian semalam. Apakah itu mimpi? Yang masih terekam jelas dalam ingatannya adalah tiga hantu yang memintanya untuk meminta maaf pada Nisa. Coki beranjak dari sofa, bergegas untuk mandi dan pergi ke sekolah.
Melodi, dan ketiga cowok konyol sedang duduk di depan perpustakaan. Menceritakan kejadian semalam yang membuat mereka tertawa terbahak-bahak. Tidak menyangka, seorang Coki yang terkenal dengan kenakalannya ternyata memiliki nyali lemah. Bagaimana tidak? Disuguhi tiga hantu konyol saja dia pingsan dengan menyisakan bau tidak sedap di celananya. Ketika tengah asyik berbincang, tiba-tiba Coki datang menghampiri.
"Rendi, lo baik-baik aja kan?" Coki menepuk pipi Rendi sampai mencubitinya. Rendi merasa risih dengan perlakuannya, dia melepaskan dengan paksa tangan Coki yang ada di pipinya.
"Gue baik-baik aja kok, lo lihat kan?" Rendi berdiri, memperlihatkan bahwa kondisinya sehat sentosa.
"Tapi, seseorang bilang..." Coki menoleh pada Gema yang kini ada di samping Rendi. "Lo bilang sama gue kalau tidak ada yang akan kembali lagi jika mereka sudah masuk ke dalam hutan terlarang itu. Dan katanya, mereka dimakan binatang buas atau diculik penghuni disitu." Coki berkata panjang lebar. Rendi yang ada di sampingnya, seperti ingin memukul Gema detik itu juga karena bualannya yang konyol itu.
"Gue nggak pernah bilang itu ke lo. Lagian, gue baru pertama kali lihat lo." Ucap Gema santai, mencoba untuk tidak terlihat mencolok di depan Coki.
"Tapi gue masih ingat, jelas banget Rendi datang ke rumah gue, minta gue buat temenin dia nonton. Terus Rendi berhentiin mobilnya di dekat warung yang udah tutup, Terus dia pergi ninggalin gue. Terus datang mas ini, Terus..." Coki menggantungkan perkataannya. Sepertinya dia lupa alur ceritanya.
"Terus?" Tanya Melodi pada Coki.
__ADS_1
"Lo kayak tukang parkir aja terus terusan mulu." Ucap Gema pada Coki.
"Gue nggak ingat lagi. Tapi emang benar, Rendi dan mas ini ada." Coki bersikukuh dengan perkataannya.
"Coki, dengar. Semalam gue nggak pergi kemana-mana. Gue milih buat nonton film transformer. Kalau lo nggak percaya, coba aja lo tanya sama bibi di rumah." Rendi memegang bahu Coki, mencoba memberi penjelasan.
"Lo mimpi kali semalam." Celetuk Gara.
"Kalau itu mimpi, artinya itu pertanda buruk buat gue. Gue mesti cepat-cepat temuin Nisa." Coki sontak meninggalkan mereka, yang masih menahan tawa karena tingkahnya.
"Nis." Ucap Coki takut-takut.
"Apa?" Sahut nisa dengan ketus. Tanpa melihat wajah Coki.
"Gue minta maaf. Harusnya gue nggak ngelakuin hal itu ke lo." Coki berlutut di hadapan Nisa.
__ADS_1
"Atas dasar apa lo minta maaf ke gue? Gue nggak yakin lo sepenuhnya tulus ngomong gitu." Nisa membalikkan badannya, kini dia menatap wajah Coki.
"Gue emang salah Nis. Hukum aja gue. Tampar aja gue. Pukul aja gue. Bunuh aja gue." Coki mengatakannya dengan pasrah.
Nisa iba melihat kondisi Coki. Dia memegang tangan Coki, membantunya untuk berdiri. Biar bagaimanapun, Coki sempat mengukir senyum di wajahnya walau hanya sebentar.
"Gue udah maafin semua kesalahan lo. Dan, gue cuma pengen lo ubah pola pikir lo. Kalau lo menginginkan sesuatu, maka lo harus berusaha. Bukan mengambil hak orang lain. Itu pesan gue buat lo. Selain itu, lo harus janji sama gue nggak akan sakitin cewek lain lagi. Cukup gue aja yang disakitin sama lo." Nisa mengatakannya dengan air mata yang mengalir di pipinya. Dada Melodi sesak. Ia seperti merasakan bagaimana sakit hatinya seorang Nisa.
"Makasih Nis, lo emang baik banget. Lo nggak pantas dapat cowok pengecut kayak gue. Gue harap lo dapat cowok yang senantiasa berlaku baik ke lo. Dan, gue bakal ingat terus pesan lo." Perkataan Coki begitu tulus, membuat Nisa semakin terisak.
Coki mengusap air mata Nisa seraya berkata, "Sekali lagi gue minta maaf Nis. Maafkan karena gue telah hadir sebagai duri dalam kehidupan lo. Mulai sekarang, gue akan pergi menjauh dari lo. Besok gue mau pindah ke Tokyo. Orangtua gue dipindah kerja kesana, jadi gue harus ikut."
Coki hendak pergi sebelum Nisa mengatakan, "Kapan pesawat lo take off?"
"Pukul lima sore." Ucap Coki, lalu dia kembali ke tempat duduknya.
__ADS_1
Melodi melihat Nisa yang kini diam terpaku. Sepertinya Nisa sangat terpukul mengingat orang yang selama ini dia cintai akan pergi jauh ke negeri orang. Walaupun Nisa kesal dengan sikap Coki, Melodi masih melihat manik mata bahagia Nisa ketika bersama Coki. Tak dapat dipungkiri, insan yang sudah jatuh cinta tak mudah melupakan orang yang dicintainya dalam waktu sekejap. Begitupun dengan Nisa. Melodi berharap, Nisa dapat menemukan cowok terbaik yang akan mengisi kehidupannya.