
Libur semester kedua telah berakhir. Waktunya bagi para pelajar kembali ke sekolah. Suatu aktivitas yang membuat mereka malas dan jenuh. Karena apa? Tugas-tugas sekolah pastinya akan datang menghampiri, ditambah lagi mata pelajaran yang semakin rumit.
Namun, itu semua tidak berlaku bagi Melodi. Buktinya saja, ia sudah bertengger di depan cermin. Merapikan dasinya yang sedikit miring, juga menyisir rambutnya yang berantakan. Ia merasa harus tampil sempurna, karena ini adalah hari pertamanya di kelas XI.
Setelah siap dengan segalanya, Melodi turun menuju ruang makan. Disana sudah ada Riri, Nisa dan asisten rumah tangganya yang baru saja bekerja beberapa hari lalu.
"Ciee, yang sekarang udah kelas XI." Ledek Riri pada kedua anaknya. Mereka hanya tersenyum mendapati ledekan dari Riri.
"Sebenarnya gue masih pengen liburan.." Keluh Nisa sambil memainkan sendok di piringnya.
"Udah, liburannya nunggu 6 bulan lagi aja ya."
"6 bulan berarti masih lama ya Bun?" Tanya Nisa dengan polosnya.
"Eh Nis, lo mau tau caranya biar bisa liburan lagi?" Celetuk Melodi.
"Gimana?"
"Pakai alat Doraemon aja, yang pintu kemana saja." Melodi seketika tergelak, begitu juga Riri. Sementara Nisa hanya cemberut karena telah dijaili oleh Melodi.
***
Berita mengenai penculikan Melodi pekan lalu rupanya sampai ke telinga teman-teman sekelasnya. Entah siapa yang menyebarkannya. Saat Melodi datang, teman-temannya langsung melontarkan pertanyaan bertubi-tubi. Tidak jarang juga yang mengucapkan bela sungkawa atas kejadian yang sudah menimpa Melodi. Bahkan, seorang Cindy yang terkenal tidak peduli dengan temannya rupanya mempunyai sedikit simpati.
"Mel, lo baik-baik aja kan? Lo nggak diapa-apain kan sama si Gara? Benar-benar, dia tuh jahat banget ya. Gue juga udah curiga dari awal kalau dia tuh pasti punya niat nggak bagus." Cerocos Cindy di depan Melodi. Sungguh, telinga Melodi rasanya sakit sekali mendengar suara nyaring milik Cindy.
"Iya, gue baik-baik aja kok."
"Serius?" Cindy mengecek seluruh tubuh Melodi dari atas sampai bawah.
Melodi mengganggukkan kepalanya. Tak lama, Gema datang, ia langsung menghampiri ke tempat keributan.
__ADS_1
"Minggir, minggir. Ada apaan nih?" Gema menerobos masuk ke dalam kerumunan. "Woy! Cindy! Lo ngapain pacar gue?" Gema menyingkirkan Cindy dari hadapan Melodi.
"Gue cuma khawatir sama dia aja kok. Jangan salah paham deh."
"Widiiih, sejak kapan seorang Cindy bisa khawatir?" Cibir Gema.
Dan, perdebatan terjadi antara Gema dan Cindy. Melodi hanya menggelengkan kepala melihat tingkah keduanya.
Beruntungnya, Pak Darma peka terhadap situasi. Lima menit Gema dan Cindy berdebat, Pak Darma datang ke kelas dengan senyum sumringah khasnya. Di belakang punggung Pak Darma, ada Tio yang dinobatkan sebagai asisten wali kelas XI IPA 2. Di tangannya, sudah ada beberapa rapor milik murid kelas XI IPA 2.
"Anak-anak, duduk di tempat masing-masing." Pak Darma mengambil alih kelas.
Semua murid langsung duduk tertib di bangkunya masing-masing sambil mendengarkan penjelasan dari Pak Darma.
"Hari ini bapak akan membagikan hasil perjuangan kalian selama satu semester kemarin. Yang namanya disebut tolong maju ya. Bapak akan menyebutkan siswa berprestasi di kelas ini dulu."
"Oke, langsung saja. Untuk peringkat pertama diraih oleh Tio Prakasa, peringkat kedua diraih oleh Melodi Senja dan peringkat ketiga diraih oleh Deon Adirama. Yang namanya disebut silakan maju ke depan."
"Bapak ucapkan selamat untuk kalian bertiga ya. Semoga kalian bisa mempertahankan prestasi kalian dan meningkatkannya di semester depan. Dan untuk yang belum mendapatkan peringkat, jangan berkecil hati. Tetap semangat dan pantang menyerah."
Pak Darma memberikan sebuah rapor, sertifikat, beserta piala kepada ketiga muridnya. Melodi, Tio dan Deon menyalami Pak Darma, lalu membungkukkan badan kepada murid-murid kelasnya.
"Mel, selamat ya." Deon berbisik di telinga Melodi. Ia hanya membalasnya dengan senyuman.
***
Semenjak perkemahan saat libur semester kemarin, grup G-Namica semakin akrab. Mereka sering sekali nongkrong di kantin bareng atau di lapangan outdoor sekolah. Hanya bedanya, personilnya berkurang satu. Siapa lagi kalau bukan Gara.
"Mel, sorry ya pas kejadian kemarin gue nggak ke rumah lo. Soalnya posisi gue lagi di luar kota." Ucap Bianca.
"Iya, santai aja kali Bi. Yang terpenting, gue selamat."
__ADS_1
"Ih, tapi asli deh. Gue nggak nyangka si Gara bisa berbuat kayak gitu ke lo." Bianca menyilangkan kedua tangan di depan dada.
"Udah ah, jangan dibahas. Gue jadi ngeri kalau ingat-ingat lagi hal itu."
"Iya Bi, jangan ungkit-ungkit masalah itu lagi. Kasihan Melodinya." Rendi membela Melodi.
"Eh, daripada ngomongin hal yang nggak penting gimana kalau kita isi kekosongan ini dengan sebuah permainan?" Celetuk Gema tiba-tiba. "Truth or dare yuk!"
"Nggak ada yang lebih berfaedah dikit apa dari permainan itu?" Sahut Nisa.
"Ah, bilang aja lo takut." Ledek Gema.
"Yeee, siapa yang takut. Ayo buruan!"
Gema mulai memutar pulpen di permukaan meja. Teknisnya, jika pulpen berhenti dan tutupnya mengarah ke pemain, maka pemain tersebut harus memilih truth atau dare dari pemain lainnya. Putaran pertama berakhir di Rendi.
"Truth or dare?" Tanya Nisa.
"Hm, dare deh."
"Tembak Bianca sekarang." Ucap Gema.
"Ih, kok gitu? Nggak ah. Yang lain, yang lain." Elak Rendi.
"Nggak bisa lah, ayo Ren cuma permainan ini." Ucap Melodi.
"Bianca, gue suka sama lo. Lo mau nggak jadi pacar gue?"
"Mauuu..." Jerit Bianca. "Kita fix jadian ya." Bianca menggandeng lengan Rendi dengan manja, namun Rendi segera menepisnya.
"Nggak, nggak bisa. Lo nggak bisa jadi pacar gue. Hancur sekolah ini kalau gue pacaran sama lo." Rendi bergidik ngeri, perlahan ia bangun dari duduknya meninggalkan mereka yang tergelak karena tingkah Bianca dan Rendi.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak readers♥️