A Romantic Badboy

A Romantic Badboy
Part 17


__ADS_3

"Hei, gue perlu bantuan kalian." Nisa datang menghampiri meja trio konyol di kantin.


"Ada apa Nis?" Sambar Gara.


"Mel mana?" Rendi mengalihkan pembicaraan.


Nisa mengacuhkan perkataan Rendi.


"Hellooo." Rendi tersadar bahwa dirinya sedang diabaikan.


"Berisik lo!" Gema mendekap mulut Rendi.


"Jadi begini, besok Mel ulang tahun. Kalian mau nggak bantu gue menyiapkan pesta kecil-kecilan buat dia?" Nisa mulai berbicara kembali setelah Rendi tidak membuka mulut.


"Tentu dong, gue siap bantu." Gema berkata dengan semangat.


"Oh iya ya, besok Mel ulang tahun. Kok gue bisa lupa?" Rendi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Ah, mantan macam apa lo nggak ingat tanggal ulang tahun mantan sendiri?" Gema menggeplak kepala Rendi cukup keras, membuat Rendi meringis kesakitan.


"Emangnya ada ya, mantan yang ingat tanggal ulang tahun mantannya? Setahu gue, boro-boro ingat tanggal ulang tahun, ketemu sama orangnya aja males kayaknya." Sindir Gara, membuat Rendi melempar tatapan tajam padanya.


"Haha, Rendi kan beda Gara." Timpal Nisa.

__ADS_1


Kemudian, mereka mulai menyusun rencana untuk party Melodi besok. Dari mulai dekorasi, kue ulang tahun, hingga pengisi acara. Party Melodi besok tidak boleh gagal seperti sebelumnya. Maka, Nisa memperingatkan kepada trio konyol untuk tidak membocorkan party ini.


"Gue bersedia jadi bagian dekorasi sekaligus dokumentasi buat party Melodi." Gara menawarkan diri.


"Bagus, party akan diadakan di halaman belakang panti." Nisa menjelaskan kembali.


"Kalau gitu, gue bakal beli lampu tumblr, tulisan happy birthday, balon, terus apa lagi?" Gara menulis alat dan bahan untuk dekorasi party.


"Ah, gimana kalau lo cetak foto kita berlima. Nggak usah banyak-banyak, sepuluh buah aja. Terus nanti lo gantungin di setiap lampu tumblr." Rendi memberi usul.


"Ide bagus. Oke gue tulis." Gara mencatat kembali keperluan lainnya.


"Gue bakal beli kue ulang tahun buat Mel. Karena, gue lebih tahu kesukaan Mel daripada Gema." Rendi melirikkan matanya pada Gema. Kali ini, Gema mengalah karena perkataan Rendi memang benar.


"Oke deh, jangan lupa. Besok kalian datang aja ke panti jam empat sore pulang sekolah. Jangan sampai telat. Besok gue bakal ngajak Melodi ke toko buku untuk mengalihkan suasana." Cetus Nisa.


Perbincangan mereka berakhir setelah bel tanda masuk berbunyi. Mereka kembali ke kelasnya masing-masing.


Sepulang sekolah, mereka mulai menjalani aksinya. Gara mulai mencari alat dan bahan untuk dekorasi party ditemani oleh Nisa. Mereka pergi ke toko pernak-pernik dekat sekolah. Disana memang dijual beraneka macam pernak-pernik lucu terutama untuk dekorasi ulang tahun. Selain itu, harga yang terbilang sesuai dengan kantung pelajar membuat mereka singgah di tempat itu.


"Gar, Gar, gimana kalau kita beli bando-bando ini? Jadi topi ulang tahunnya diganti aja sama ini." Nisa mengambil sebuah bando dengan telinga minnie mouse. Kemudian memakaikan di kepala. "Gimana, lucu nggak?" Tanya Nisa pada Gara.


"Lo kelihatan manis banget pakai gituan." Gara tidak sadar dengan ucapannya.

__ADS_1


"Maksud lo?" Nisa tidak mengerti dengan ucapan Gara.


"Ma, ma, maksud gue, anak-anak panti pasti bakal kelihatan manis kalau pakai bando itu." Gara menetralisir detak jantungnya yang berdetak tidak karuan.


"Oh, gitu. Gue kira apa." Nisa memukul lengan Gara. Gara hanya tersenyum melihat tingkah Nisa.


Mereka menjelajahi toko pernak-pernik. Mencari alat dan bahan apa yang belum dibeli. Setelah dirasa cukup, mereka pergi menuju kasir untuk membayar semuanya.


Sementara, Rendi dan Gema mencari toko kue ulang tahun. Perdebatan tidak pernah luput diantara mereka. Bagai pinang dibelah dua, mirip tapi tidak pernah akur.


"Biar gue aja yang nyetir mobil." Ucap Gema seraya meminta kunci mobil.


"Emangnya lo tahu tempat jual kue ulang tahun favorit Mel?" Ucap Rendi.


"Ya, lo kan tinggal bilang aja dimana lokasinya." Gema membela diri.


"Ah ribet. Mending gue aja yang nyetir. Lo cuma tinggal duduk santai aja." Rendi masuk ke kursi pengemudi.


"Gimana kalau kita suit?" Gema memberi usul.


"Oke kalau gitu. Yang menang berarti yang nyetir. Sementara yang kalah, harus bayar kue ulang tahunnya." Rendi menambahkan usulan Gema.


Setelah perdebatan itu, mereka mulai melakukan suit cina. Berkali-kali mereka melakukannya, karena hasilnya selalu seri. Hingga akhirnya, setelah sekian lama melakukan suit, diperolehlah pemenangnya. Kali ini, Rendi yang memenangkan suit tersebut. Dengan terpaksa, Gema duduk di kursi penumpang.

__ADS_1


__ADS_2