
Mobil Rendi menepi di sebuah toko kue. Letaknya tidak jauh dari alun-alun kota. Mereka keluar dari mobil, menarik gagang pintu kemudian masuk. Pelayan toko kue mempersilakan duduk setelah melihat kedatangan mereka. Kemudian memberikan menu kue yang ada di toko tersebut.
"Mel suka warna pink." Rendi mulai membolak balikkan lembar kertas menu.
"Oh gitu. Terus terus?" Tanya Gema.
"Mel juga suka bunga sakura." Jawab Rendi.
"Terus apa lagi?" Tanya Gema lagi, dia ingin mengetahui lebih mengenai Melodi.
"Boneka yang dia sukai adalah teddy bear." Sahut Rendi, kemudian tersadar dengan perkataannya. "Tunggu, ngapain gue kasih tahu tentang kesukaan Melodi ke lo?" Rendi menepuk mulutnya sendiri karena keceplosan di depan Gema.
"Haha, makasih ya Rendi. Lo emang teman gue yang paling terbaik." Gema merentangkan tangannya, mencoba memeluk Rendi. Namun Rendi langsung menghindar.
Setelah sekian lama mencari hiasan yang cocok untuk kue ulang tahun Melodi, akhirnya mereka memutuskan untuk memilih kue berbentuk love dengan hiasan bunga sakura di pinggirnya. Di tengah kue, diletakkan patung teddy bear. Kemudian, di sisi depan bawah diberi tulisan Happy Birthday Melodi.
***
Pukul tiga sore, Nisa mengemas barangnya kemudian memasukkannya ke dalam ransel. Berjalan dengan tergesa-gesa menuju kelas X IPA 2.
"Mel, antar gue ke toko buku yuk." Nisa menongolkan kepalanya di depan pintu kelas.
"Tumben banget lo minta gue antarin. Biasanya kan lo pergi sendiri." Sahut Melodi yang masih mengemasi barang-barang.
"Udahlah, kali ini gue pengen ke toko buku sama lo." Nisa berjalan masuk, menarik tangan Melodi untuk lekas pergi.
Jarak toko buku dengan sekolah mereka cukup jauh. Sehingga mereka harus menggunakan akses kendaraan untuk mencapai tujuan. Mereka memutuskan untuk menaiki angkot.
Tak lama, angkot telah sampai di depan toko buku. Nisa segera membawa Melodi masuk ke dalam. Nisa mulai menjelajahi setiap rak buku yang terpampang disana. Melodi hanya mengikutinya dari belakang. Melodi sedang tidak ingin membeli buku sekarang.
Mata Nisa tertuju pada sebuah novel yang berjudul He's my boyfriend. Dia membaca sinopsis yang terdapat di belakang novel. Nisa menyunggingkan senyum, sepertinya dia menyukai novel itu. Dan, benar saja. Dia langsung menggenggam novel itu.
Melodi kira, setelah mengambil novel itu Nisa akan mengajaknya pulang. Ternyata tidak. Dia malah berlari ke rak nomor lima yang berisi buku-buku sejarah. Nisa, sangat menyukai sejarah. Dia begitu hapal dengan sejarah Indonesia dari zaman dulu sampai sekarang. Namun, Melodi juga tidak mengerti alasan Nisa mengambil jurusan IPA itu apa.
Setelah menemukan apa yang Nisa cari, akhirnya dia membayar buku yang dibelinya di kasir. Kemudian, mereka pergi meninggalkan toko buku.
***
Melodi berjalan dengan langkah gontai memasuki halaman panti. Ia terkejut melihat panti yang begitu gelap. Memangnya malam ini ada pemadaman listrik? Tetapi rumah sebelah lampunya menyala terang. Melodi masuk ke dalam, pintu tidak terkunci. Kekhawatiran mulai merasuki dirinya. Sementara Nisa tidak mempedulikan situasi yang ganjil ini.
Tiba-tiba, seseorang menarik lengannya. Melodi sontak terkejut, mencoba melihat wajahnya tapi tidak bisa. Orang itu memakaikan kain untuk menutupi mata Melodi. Ia sempat menolak, namun orang itu memaksanya untuk mengenakannya.
Setelah mata Melodi tertutup, ia seperti melihat sedikit cahaya di dalam rumah. Mungkin listrik sudah menyala kembali, batin Melodi. Kemudian, seseorang itu membawa Melodi dengan perlahan menuju ke suatu ruangan. Mungkin kamarnya. Karena Melodi bisa merasakan aroma parfumnya yang menghiasi kamar. Seseorang itu menanggalkan pakaiannya begitu saja.
"Siapa lo?" Kata Melodi mencoba menghindar dari orang itu.
"Suuut, tenang aja. Lo bakal baik-baik aja kok." Samar-samar terdengar suaranya, seperti seseorang yang Melodi kenal.
Orang itu menggantikan pakaian Melodi dengan pakaian lain. Melodi rasa ini sebuah dress. Karena ia bisa merabanya dan menebak bahwa ini dress yang pernah diberikan Rendi padanya. Lalu, orang itu membuka sepatu Melodi, menggantinya dengan flatshoes. Perlahan orang itu beralih ke rambut, menyisir rambut Melodi dengan lembut. Kemudian memakaikan bando di atasnya. Setelahnya, orang itu mulai memberikan polesan makeup tipis di wajah Melodi. Walau dengan mata tertutup, Melodi masih bisa merasakan apa yang orang itu lakukan padanya.
Setelah selesai, orang itu membawa Melodi ke halaman belakang rumah. Dan, orang itu mulai membuka penutup mata Melodi.
"Surpriseeee." Suara mereka mengisi halaman belakang di malam hari.
Melodi mengedarkan pandangan ke sekeliling. Di sepanjang tembok halaman, dipasang lampu tumblr yang di setiap sekatnya digantung fotonya, Nisa dan trio konyol. Sementara di tengahnya, terdapat tulisan Happy Birthday Melodi dengan balon-balon di atasnya. Di dekat pintu halaman, ada sebuah panggung kecil yang sepertinya dibuat untuk acara hiburan. Semua anak panti dan trio konyol menggunakan bando dengan telinga minnie mouse.
Nilam menghampiri Melodi dengan membawa sebuah kue ulang tahun. Jadi, mereka semua merencanakan ini untuk ulang tahunnya? Bahkan Melodi juga lupa bahwa hari ini ulang tahunnya.
"Berdoa dulu sebelum meniup lilinnya." Sahut Nilam padanya.
Melodi mengucapkan beberapa harapan di dalam hatinya. Kemudian, ia meniup lilin yang berbentuk angka tujuh belas. Selanjutnya, mereka mengucapkan selamat dan harapan untuk Melodi ke depannya.
__ADS_1
"Ayo potong kuenya Mel." Ucap Nisa dari belakang punggung Melodi. Rupanya sedari tadi Nisa yang sudah mendandaninya. Bagaimana bisa Melodi tidak menyadarinya?
Melodi memotong kue menjadi beberapa bagian. Kemudian menyimpannya di piring kecil. Suapan pertama ia berikan kepada Nilam yang sudah rela merawatnya. Suapan kedua ia berikan kepada Nisa yang telah menjadi saudara sekaligus sahabat untuknya.
"Suapan ketiga buat siapa Mel?" Sahut Gara.
"Pasti buat gue." Ucap Rendi dengan percaya diri.
"Nggak usah mimpi lo. Melodi pasti bakal kasihnya ke gue." Kata Gema yang sedang duduk di sebuah kursi dengan memegang gitar.
"Suapan ketiga bakal gue kasih ke..." Sengaja Melodi mengulur waktu untuk membuat mereka penasaran. "Ya buat gue lah.." Melodi menyuapkan sepotong kue ulang tahun ke dalam mulut.
Sontak semua tergelak melihat tingkahnya. Sementara Rendi dan Gema hanya menahan malu dengan menutupi wajahnya.
Party berlangsung begitu meriah walaupun dengan tema sederhana. Semua terlihat begitu senang, begitupun Melodi. Rendi menghampiri Melodi yang kini tengah duduk di kursi.
"Selamat ulang tahun ya Mel. Semoga, semua harapan lo terwujud. Ini buat lo." Rendi memberikan sebuah kotak kecil yang sudah dibungkus dengan kertas kado.
"Terima kasih Rendi." Ucap Melodi.
Beno berlari-lari kecil menghampiri Melodi. Beno larut dalam pelukan Melodi begitu saja.
"Kak Mel, ini buat kakak dari Beno, Siska, Kak Bimo, Kak Bima, dan Kak Gery." Beno memberikan sebuah kado berukuran besar kepada Melodi. Cewek itu menerimanya dengan senang hati. Kemudian mengusap puncak kepala Beno dengan lembut.
Selanjutnya, Gara, Nisa dan Nilam juga memberi kado. Terkecuali Gema. Namun, Melodi tidak mengharapkan kado darinya. Bagi Melodi, party sederhana ini saja sudah cukup melengkapi di ulang tahunnya yang ke tujuh belas. Di atas panggung, Gema mulai berbicara.
"Cek sound. Oke semuanya, selamat malam. First, I will say happy birthday for Melodi Senja. Gue harap, semoga harapannya terwujud. Dan pada malam yang berbahagia ini, gue akan membawakan sebuah lagu yang berjudul Beautiful In White."
Petikan gitar mulai memenuhi halaman belakang rumah, diikuti dengan suara merdu Gema.
Not sure if you know this
I got so nervous I couldn't speak
In that very moment
I found the one and
My life had found its missing piece
So as long as I live I love you
Will have and hold you
You look so beautiful in white
And from now 'til my very last breath
This day I'll cherish
You look so beautiful in white
Tonight
What we have is timeless
My love is endless
And with this ring I
Say to the world
__ADS_1
You're my every reason
You're all that I believe in
With all my heart I mean every word
So as long as I live I love you
Will haven and hold you
You look so beautiful in white
And from now 'til my very last breath
This day I'll cherish
You look so beautiful in white
Tonight
You look so beautiful in white, yeah yeah
Na na na na
So beautiful…
Semua ikut terhanyut dalam lagu yang dibawakan oleh Gema. Mereka mengangkat kedua tangan ke atas seraya menikmati setiap lantunannya. Lima menit kemudian, petikan gitar berhenti beserta suara Gema. Tepuk tangan yang begitu meriah tertuju pada Gema.
Party berakhir pada pukul sepuluh malam. Gara dan Rendi berpamitan untuk pulang. Sementara Gema, dia masih sibuk dengan gitarnya. Menyanyikan beberapa lagu. Melodi duduk di samping Gema, memperhatikan cowok itu.
"Makasih ya Gema. Gue bahagia banget malam ini." Ucap Melodi pada Gema.
"Lo harusnya bilang makasih ke Nisa, soalnya dia yang merencanakan semua ini."
"Tapi kalian juga kan ikut berpartisipasi. Pokoknya, thank you so much." Kata Melodi dengan tulus.
"Oh ya, gue hampir lupa ngasih kado buat lo." Gema mengambil sesuatu di sakunya. "Ini. Sengaja gue nggak bungkus, karena gue nggak mau lihat lo kesusahan bukanya."
"Makasih Gema, berarti boleh langsung gue buka?" Melodi menerima pemberian Gema.
"Tentu saja." Gema mempersilakan Melodi untuk membuka kotak itu.
Ternyata, Gema memberinya sebuah cincin yang begitu cantik. Di dalamnya terukir inisial G❤️M. Apa maksud Gema dengan semua ini?
"Kenapa ada inisial kayak gini?" Tanya Melodi pada Gema.
"Ya, gue ngerasa kalau gue kasih inisial itu di dalam cincinnya, lo bakal merasakan semua yang gue rasakan." Gema tersenyum, berusaha memberi kode agar Melodi peka.
"Ceritanya lo nembak gue?" Selidik Melodi.
"Nggak kok. Kalau gue nembak lo, terus lo mati, ntar siapa yang bakal jadi pengisi kekosongan hati gue?"
"Ish, apaan sih."
"Jadi gimana nih? Gue masih nunggu jawabannya. Kalau lo terima gue, sodorin tangan kiri lo. Kalau nggak ya, nggak apa-apa. Gue nggak maksa kok." Ujar Gema. "Cuma, kalau lo nggak terima gue berarti lo harus siap gue pelet biar lo suka sama gue." Lanjut Gema sedikit bercanda. Melodi memukul lengan cowok itu, sementara Gema hanya terkekeh. Jujur, detik ini jantung Gema berdegup lebih cepat dari biasanya. Ia berharap, semoga Melodi bisa menerimanya. Dan, beberapa menit kemudian setelah cewek itu terdiam cukup lama, ia akhirnya memberikan keputusan. Melodi mengulurkan tangan kirinya, membuat Gema mengembangkan senyumnya.
"Sini biar gue pakaiin." Gema memasangkan cincin itu di jari manis tangan kiri Melodi.
Melodi begitu terharu dengan sikap Gema. Spontan Melodi memeluk Gema begitu erat. Malam ini, angkasa dipenuhi dengan bintang dan bulan, seakan mereka ikut bahagia karena Melodi. Namun, angkasa yang di pelukan Melodi kini bukan ikut bahagia, melainkan pemberi kebahagiaan sekaligus membuatnya jatuh hati.
"Gema Angkasa, aku mencintaimu."
__ADS_1