
Setelah membayar, pesanan akhirnya sampai di tangan mereka. Gara harus merelakan uang saku untuk besok begitupun dengan Melodi. Setelah berhenti berjualan pecel, Melodi lebih berhemat daripada sebelumnya. Entahlah, Melodi hanya merasa bahwa akan ada sesuatu yang terjadi sehingga ia membutuhkan banyak uang.
Mereka kembali ke paviliun setelah para cowok membersihkan diri. Duduk melingkar dengan dua box pizza, sepuluh potong spicy chicken, satu loyang brownies, tiga kaleng cola dan tiga cup mango juice yang berada di tengah-tengah mereka. Hidangan yang ada di hadapan Melodi memang membuatnya begitu tergiur. Ia berkali-kali menelan ludah, berharap menyantap semuanya dengan segera.
"Rendi lama banget sih." Gara mendengus kesal. Pasalnya, Rendi belum kembali dari kamar mandi sejak sepuluh menit yang lalu.
"Namanya juga Rendi, dia senang lama-lama di kamar mandi. Nggak usah heran kalau kulitnya kayak oppa-oppa Korea." Kata Melodi pada Gara yang sedang mengelus perut keroncongannya.
"Lo pasti nyesal kan udah putus dari dia?" Sahut Bianca. Mulut frontalnya memang perlu diberikan kursus tata cara berbicara sopan santun kepada orang lain.
"Ya jelas nggak dong. Kan ada gue. Ya nggak?" Gema refleks mendorong bahu Melodi agar mendekat dengannya.
"Mel, lo sama Gema pacaran?" Nisa kaget dengan perlakuan Gema terhadap Melodi.
"Ya, bisa dibilang gitu." Jawab Gema dengan santai.
Prang!!! Jam tangan yang akan dipakai Rendi jatuh ke tanah. Hancur berkeping-keping seperti hati Rendi saat ini. Rendi menatap Melodi sendu, seperti tersirat makna bahwa dia terluka. Rendi pergi meninggalkan teman-temannya begitu saja. Melodi hendak mengejarnya, namun Bianca mencegah. Melodi tahu, kehadirannya pasti akan membuat kesedihannya semakin bertambah. Oleh karenanya, Melodi mengizinkan Bianca untuk menyusul Rendi.
Entah kenapa, Melodi merasa begitu bersalah terhadap Rendi. Melodi terlalu egois, lebih mementingkan perasaannya. Sementara di sisi lain, Rendi sedang membutuhkan sosok dirinya. Tidak ada lagi orang yang dia miliki selain Melodi. Tetapi Melodi malah pergi meninggalkannya. Tuhan, apa yang harus Melodi lakukan? Apa Melodi salah membiarkan Rendi menghadapinya sendirian? Pertanyaan itu mendadak berputar-putar dalam pikiran Melodi.
Setelah kejadian itu, Rendi dan Bianca pergi tanpa berpamitan kepada mereka. Sementara yang lain, masih berkutat dengan makanan dan minumannya masing-masing. Melodi memilih untuk pergi ke tepi kolam. Ia tidak berselera makan. Gema menghampiri Melodi, mencoba menghibur.
"Mel, lo marah ya sama gue?" Gema duduk di samping Melodi, kakinya sengaja dimasukkan ke dalam air.
"Gue nggak marah sama lo Gema. Gue marah sama diri gue sendiri." Kata Melodi dengan suara serak. "Gema, gue egois ya? Gue salah ya ninggalin Rendi yang kesepian? Sementara Rendi lagi butuh gue. Gue jahat ya Gema?" Melodi melontarkan pertanyaan bertubi-tubi pada Gema. Melodi tidak bisa menahan air matanya, hingga tangisannya pecah seketika.
__ADS_1
Gema membawa Melodi ke dalam pelukannya. Mengelus punggung Melodi dengan lembut. Dia mencoba memberikan ketenangan pada Melodi. Perlahan, Melodi mulai berhenti menangis. Gema mengusap sisa air mata di wajah Melodi.
"Dengar Melodi. Lo nggak boleh menyalahkan diri lo sendiri. Lo emang udah putus sama dia, tapi bukan berarti lo nggak bisa berteman sama dia kan? Kalau lo nggak bisa menemaninya sebagai kekasih, maka lo bisa menemaninya sebagai teman. Percayalah, suatu saat nanti Rendi pasti akan mengerti. Lo cuma perlu pelan-pelan bicara ke dia." Tutur Gema panjang lebar. Melodi tidak menyangka, ternyata Gema bisa memberikan nasihat bermanfaat seperti itu.
Melodi hanya membalas dengan senyuman. Perkataan Gema memang benar. Tidak selamanya kekasih memberikan kebahagiaan. Terkadang, kamu perlu berlari ke arah temanmu untuk mendapatkan kebahagiaan itu. Hingga akhirnya, kamu menyadari bahwa kebahagiaan tercipta bukan dari satu sisi saja. Melainkan, ada banyak sisi yang akan mendatangkan kebahagiaan untukmu.
***
Pukul delapan malam, Nisa dan Gara berpamitan untuk pulang. Tetapi tidak dengan Melodi. Ia memilih untuk duduk di kursi serambi depan memandangi langit malam. Melodi sangat kalut, wajahnya begitu kacau. Kondisinya membuatnya enggan pulang ke panti.
Dari kejauhan, terlihat mobil Honda Jazz memasuki halaman rumah Gema. Pengemudinya keluar dari dalam mobil. Seorang wanita paruh baya berumur sekitar empat puluh tahun. Dia berjalan menuju ke arah Melodi dan Gema.
"Loh Gema, ini siapa?" Pertanyaan wanita itu spontan membuat Melodi berdiri, memberi salam.
"Halo, Tante. Saya Melodi Senja, teman Gema." Melodi menyapa Gina, Mama Gema.
Keduanya duduk di sofa ruang tamu bermotif polos. Menunggu Gema menyiapkan minuman untuk mereka. Tak lama, dia datang dengan membawa nampan berisi tiga gelas hot lemon. Kemudian, dia menyimpannya di atas meja dan duduk di samping Melodi.
"Gema banyak cerita soal kamu loh." Gina memulai pembicaraan kembali.
"Oh, gitu ya Tante." Hanya kata itu yang terlontar dari mulut Melodi.
"Eh, jangan panggil Tante dong. Panggil aja mama, biar lebih akrab." Ucap Gina, lalu **** senyum.
"Oh iya tan, maksudnya ma." Kata Melodi sedikit canggung.
__ADS_1
"Jadi, gimana Gema selama di sekolah? Dia nggak nakal kan? Nggak aneh-aneh kan?" Gina melemparkan pertanyaan bertubi-tubi, membuat Melodi bingung harus menjawab apa.
"Gema anaknya baik kok ma."
"Mama titip Gema ya sama kamu Melodi, ajari dia biar rajin belajar. Dia tuh paling susah kalau disuruh belajar sama mama. Jadi tolong ya Melodi, mama percayakan Gema sama kamu." Gina menitipkan pesan pada Melodi.
"Mama apaan sih, berlebihan banget." Gema merasa tersindir dengan ucapan mamanya.
"Melodi, kamu baik-baik aja kan? Mama lihat mukamu pucat banget daritadi." Gina menatap wajah Melodi lekat-lekat.
"Aku baik-baik aja ma. Aku cuma pusing sedikit." Melodi terpaksa berbohong karena tidak mau membuat Gina cemas.
"Benar? Atau gini aja. Melodi nginap malam ini disini. Nanti biar mama yang hubungin ibu kamu." Raut wajah Gina berubah menjadi khawatir.
"Nggak usah ma. Aku bisa kok pulang diantar Gema." Melodi berusaha bangkit dari kursi. Namun, pusing di kepalanya malah semakin menyerbu. Ia tak kuasa untuk berjalan. Hingga akhirnya, Gema membantunya.
"Mendingan lo ikuti saran mama Mel." Gema memegang kedua lengan Melodi. Terlihat, Gema juga tampak khawatir.
Akhirnya, Melodi menuruti saran Gina. Gema membantu Melodi berjalan ke kamar tamu. Melodi berbaring di atas kasur king size. Gema menyelimuti seluruh tubuh Melodi. Kemudian, dia mengecek suhu tubuh cewek itu.
"Mel, kayaknya lo demam. Tunggu sebentar ya, gue bawain kompres air hangat sama obat penurun demam buat lo." Gema bergegas keluar, mencari benda yang dia sebutkan tadi.
Tak lama, dia masuk kembali ke kamar tamu.
"Ini, minum obatnya dulu." Gema membantu Melodi untuk duduk, agar Melodi bisa meminum obat. Setelah selesai, Melodi berbaring kembali dan Gema mulai mengompres dahi Melodi dengan air hangat.
__ADS_1
Sepanjang malam, Melodi merasa terjaga karena Gema tertidur di sampingnya dengan posisi duduk. Gema rela melakukan segalanya untuk Melodi. Melodi memandangi setiap lekuk wajah Gema. Melodi senang melihat pacarnya tertidur nyenyak seperti ini. Perlahan, Melodi bangun dan memberikan kecupan manis di pipi Gema.