
Deon sudah pergi meninggalkan Melodi dan Gema beberapa menit yang lalu. Tetapi, Gema masih geram dengan ucapan Deon tadi. Bisa-bisanya Deon berkata seperti itu tanpa memikirkan perasaan Gema. Biar bagaimanapun, seorang Gema juga tidak terima jika direndahkan begitu.
Ditambah lagi, Melodi diam ketika melihat keduanya adu mulut. Seolah-olah Melodi membenarkan ucapan Deon, juga bersedia menjadi anggota kelompoknya.
"Jadi lo mau sekelompok sama dia?" Tanya Gema dengan intens.
Melodi tidak merespon sama sekali. Ia malah memainkan jari jemarinya.
"Gue.. mau pikir-pikir dulu." Jawabnya kemudian setelah sekian lama ia membungkam mulut, membuat pacarnya kesal dengan sikapnya.
"Kita lanjut makan aja yuk! Masalah kelompok nanti aja bahasnya lagi." Ajak Melodi. Karena mereka terpaksa menunda makan siang akibat kehadiran Deon.
Gema sudah tidak berselera untuk makan. Berkali-kali ia berdecak, mengepal tangannya keras-keras. Gema tahu, kalau Deon masih mencintai Melodi. Walau Deon tidak pernah menampakkan perasaannya, tapi Gema bisa merasakan bagaimana sikap Deon terhadap Melodi. Matanya saja jelas-jelas mengatakan kalau Deon masih memendam rasa yang belum terbalaskan itu.
"Gema, lo marah ya sama gue?"
Kini, keadaan berbalik. Gema memilih untuk diam. Sejujurnya, ia juga tidak mau merecoki kehidupan sekolah Melodi, karena itu terkesan egois. Tapi kenapa dari sekian murid di kelas harus Deon yang merekrut Melodi? Itu yang membuat Gema sangat kesal.
"Setelah gue pikir-pikir, gue nggak akan.."
"Gue bolehin lo sekelompok sama Deon." Cetus Gema.
"Loh? Bukannya lo.."
"Gue nggak mau jadi pacar yang egois. Gue juga nggak mau terlalu ikut campur sama kehidupan lo. Gue harus bisa menyesuaikan diri, dimana gue berada. Gue harus tahu kondisi. Kapan gue jadi temen, keluarga, atau pacar lo. Dan gue percaya, lo nggak akan kecewain gue."
Melodi meraih tangan Gema, menggenggamnya cukup erat. Sungguh, ia merasa beruntung memiliki pacar seperti Gema.
"Gema, makasih ya. Lo emang selalu ngertiin gue. Gue janji, gue nggak akan pernah kecewain lo. I love you so much."
***
Buku-buku pelajaran dan lainnya berderet di sepanjang rak besar. Sepulang dari kantin, Melodi memilih untuk pergi ke perpustakaan sekolah. Sementara, Gema langsung pergi ke kelas.
Melodi mencari referensi buku yang akan menjadi tugas wirausahanya nanti. Sejujurnya, ia juga belum mempunyai ide akan membuat apa.
Langkahnya sampai di sebuah rak yang berisi resep-resep makanan. Merasa tertarik dengan buku tersebut, tangannya mengulur ke atas, mencoba mengambilnya. Letak buku yang berada lebih tinggi di atas kepalanya, mengharuskan ia berjinjit. Hingga akhirnya, sebuah tangan besar membantunya mengambil buku itu.
__ADS_1
"Terimakasih." Melodi mengambil buku itu dari tangan cowok itu. Ia menundukkan kepalanya dengan sopan.
"Jadi gimana?"
Suara yang sangat Melodi kenal, memaksanya untuk mendongakkan kepala, melihat siapa pemilik suara itu.
"D-deon?" Melodi sedikit kaget. Sementara, Deon hanya tersenyum mendapati keterkejutan Melodi.
"Gimana? Udah lo pikirin lagi?"
"Ehm, iya. Gue bisa kok sekelompok sama lo."
Terdengar jeritan kecil dari mulut Deon, disusul dengan kedua tangan yang mengepal, seperti isyarat bahwa dia berhasil menaklukkan Melodi kali ini. Tanpa sadar, ia mengacak-acak rambut Melodi.
"Nah, gitu dong. Besok pulang sekolah bareng sama gue ya. Kita bahas tugasnya di rumah gue." Deon mengedipkan mata pada cewek itu.
Tidak ada yang tahu, kalau perbincangan keduanya rupanya disaksikan oleh Rendi. Dari balik celah rak, Rendi melihat Melodi dan Deon, bahkan mendengar apa yang mereka bicarakan. Tanpa sadar, ia membuka ponsel, kemudian mengetikkan pesan kepada adiknya.
***
Deon memasuki kelasnya dengan perasaan bangga. Senyumannya saja bahkan belum pudar sama sekali. Membuat seisi kelas terheran-heran dengan sikapnya. Tidak biasanya ia seperti itu, kecuali kalau ia tengah dilanda kebahagiaan.
Terlihat, Gema sedang tertidur dengan lipatan tangan di atas meja. Dari sudut matanya, Gema juga melihat kalau Deon tengah berjalan ke arahnya. Gema langsung berasumsi kalau Deon pasti akan melontarkan sejuta pertanyaan yang membuatnya sedikit cemburu. Gema menghela napas, mengontrol dirinya agar tidak terbawa emosi.
"Thank's ya. Gue salut sama lo. Lo ternyata bisa pilih jalan yang benar." Deon menepuk-nepuk pundak Gema.
"Nggak usah sok asyik sama gue. Gue lakuin ini semua bukan karena lo, tapi karena Melodi. Dan gue harap, lo juga bisa konsisten. Lo sama dia cuma rekan kelompok, kerjain aja sesuai tugasnya, nggak usah nyerempet ke yang lain." Tegas Gema.
Deon bertepuk tangan, seraya berkata, "Santai aja, gue nggak akan lakuin hal itu kok." Ucap Deon. "..tapi gue nggak janji." Katanya dalam hati.
Setelah merasa puas, Deon kembali ke tempat duduknya. Tak lama kemudian, Melodi datang dan langsung duduk di bangkunya. Melodi menoleh ke bangku sebelahnya, dalam sejenak keduanya saling bertatapan, tapi Gema langsung memalingkan wajah. Entah kenapa, rasanya Gema tidak mau melihat wajah itu. Padahal jelas-jelas, Gema sendiri yang menyetujuinya. Ditambah lagi, pesan dari Rendi yang membuatnya semakin kesal.
Gema, lo nggak boleh kayak gini. Melodi cuma sekelompok sama Deon, bukan jadi pacarnya. Batin Gema.
Merasa mendapat respon kurang baik, Melodi bertanya-tanya dalam hati. Apa Gema belum rela kalau dirinya satu kelompok dengan Deon? Ah, bodoh sekali memang. Siapa juga orang yang mau melihat pacarnya bersama dengan orang yang menyukai pacarnya. Seharusnya Melodi menolak saja tadi.
"Oke teman-teman, sekarang gue ambil ya data nama kelompok buat tugas wirausaha. Kalian udah dapat kelompok semua kan?" Tanya Tio pada seisi kelas. Serempak semuanya menganggukkan kepala, terkecuali Gema. Ia malah mengangkat tangan kanannya.
__ADS_1
"Gue belum dapat. Ada yang bersedia sekelompok sama gue?" Gema mengutarakan pertanyaannya.
"Lo bisa sekelompok sama gue, kebetulan gue juga belum punya kelompok." Sahut teman sebangku Melodi, Neta. Gema langsung menganggukkan kepalanya. Kemudian Neta menulis namanya dan Gema, lalu menyerahkannya pada Tio.
"Oke, jangan lupa ya teman-teman. Deadlinenya itu hari Rabu depan. Jadi, kita masih ada waktu sekitar satu minggu buat cari referensi. Jangan lupa juga siapin presentasi kalian mengenai makanan atau minuman yang kalian buat."
"Iya Tio.." Ucap teman-teman sekelas dengan serempak.
***
Sudah tak terhitung jumlahnya Gema mendribble bola basket. Tidak ada niat untuk membawa bola itu ke ring sama sekali. Rendi saja sampai kesal dibuatnya.
Pulang sekolah tadi, Gema bertanya pada Rendi dimana posisi dia sekarang. Rendi menjawab kalau dirinya tengah ada di lapangan indoor sekolah. Rendi sedang bermain dengan Sammy, murid kelas XI IPA 5 dan juga menjabat sebagai wakil kapten tim basket sekolahnya.
Ketika sedang asyik bermain, tiba-tiba saja Gema datang dan langsung merebut bola itu dari tangan Rendi. Rendi kebingungan sekaligus kesal. Ia bertanya apa yang membuatnya demikian, namun Gema tidak menjawab sama sekali. Hanya umpatan kecil saja yang terdengar oleh telinga Rendi.
"Woy! Mau sampai kapan lo dribble bola terus? Lama-lama lantainya retak kali gara-gara lo." Teriak Rendi dari kejauhan. Karena tidak bisa menguasai lapangan, akhirnya Rendi memilih untuk duduk di tribun penonton bersama Sammy.
Gema tidak menghiraukan perkataan Rendi, ia terus mendribble bola basket keras-keras. Pantulannya saja sampai memekakkan telinga.
"Dia kenapa Ren?" Tanya Sammy, penasaran dengan sikap Gema.
"Tau tuh." Rendi meneguk air mineral yang tersisa setengah botol, seraya menghabiskannya.
"Lagi patah hati dia?" Tanya Sammy semakin penasaran.
Rendi menjentikkan jarinya, ia baru teringat sesuatu. Apalagi yang membuat Gema kesal kalau bukan pesan yang tadi dikirimkannya pada Gema. "Oh iya, gue baru ingat. Kayaknya si Gema kesal gara-gara Melodi sekelompok sama Deon."
"Deon? Maksud lo Deon yang dulu nyatain perasaannya ke Melodi waktu pacaran sama lo?"
Rendi menganggukkan kepalanya.
"Wah, dia nggak ada kapok-kapoknya ya. Tahu gitu dari dulu gue musnahin aja tuh si Deon." Sammy menjadi geram karena perkataan Rendi tadi. Sementara, Rendi malah tergelak.
"Kok lo ketawa?" Tanya Sammy keheranan.
"Habis kalau gue pikir-pikir lagi ya, kita tuh lucu banget tau. Lo pernah jadi mantan Melodi, terus dekat sama gue yang juga berstatus mantan Melodi. Dan dia yang disana, pacarnya Melodi, yang jelas-jelas adik gue. Authornya bisa ya mempertemukan kita kayak gini."
__ADS_1
"Haha, benar juga. Gue baru kepikiran loh. Harusnya judul novelnya 'empat cowok yang berjuang merebut hati Melodi'."
Seketika, keduanya tertawa terbahak-bahak, mengabaikan Gema yang bingung karena reaksi Rendi dan Sammy yang berubah tiba-tiba.