
Matahari yang terbit di ufuk timur itu, cahayanya menerobos masuk ke dalam jendela kamar, membuat penghuninya merasa silau dengan pancarannya. Belum lagi, ringtone alarm di ponsel yang volumenya keras memenuhi ruangan luas ini. Di balik selimut tebal, Melodi masih terlelap. Mengabaikan para pengganggu yang mengusik tidur nyamannya.
Semalam, Melodi tidur cukup larut. Bagaimana tidak? Drama Korea bergenre sad romance itu terdiri dari 16 episode. Masing-masing episodenya menghabiskan waktu setengah jam. Bisa dibayangkan, berapa banyak waktu tidurnya yang terbuang hanya karena drama itu. Tidak dapat dipungkiri, Melodi memang menyukai drama Korea. Tapi masih dalam batas wajar. Bukan melewati batas maksimal seperti semalam.
Jam masih menunjukkan pukul 6 pagi ketika Melodi mengintip jam weker yang tersimpan di atas nakas. Itu artinya, masih ada waktu untuk melanjutkan tidur malamnya yang tertunda. Melodi kembali menarik selimut sampai menutup kepala. Rasanya nyaman sekali. Belum pernah ia merasakan tidur senyaman ini sebelumnya. Kasur Nisa sukses membuatnya betah berlama-lama di atasnya.
Baru saja mata ini tertutup, suara khas gadis yang melengking itu memenuhi ruangan, menggantikan ringtone alarm tadi. Derap langkah kaki yang terdengar seperti menuju ke arah kasur. Dan benar saja, dia langsung menarik selimut yang menutupi tubuh Melodi. Melemparnya begitu saja ke lantai. Aish! Menyebalkan!
"Mel, ayo cepat bangun. Gue udah bikinin sarapan buat lo. Roti bakar ala chef Nisa Permata." Nisa mengerlingkan matanya, wajahnya dibuat seimut mungkin.
Mendengar kata roti bakar, lidah ini langsung tergiur. Tubuh Melodi langsung bergerak turun dari kasur, melangkah menuju ruang makan. Namun, tangan Nisa menghalangi jalannya. Matanya menatap Melodi dengan tajam, sementara mulutnya berbisik. "Mandi, siap-siap, baru sarapan. Oke?"
Tanpa peri kemanusiaan sama sekali, Nisa mendorong Melodi masuk ke dalam kamar mandi. Menutup pintunya begitu saja tanpa mempedulikan Melodi yang protes meminta sarapan. Dengan wajah kesal terpaksa Melodi memenuhi permintaannya.
Lima menit kemudian, Melodi sudah selesai membersihkan diri. Langkahnya beralih menuju meja belajar, mengambil baju yang ada di dalam tas. Setelahnya, ia bercermin sambil memoleskan makeup tipis di wajah tirusnya.
Dengan santai, Melodi berjalan menuruni tangga, menuju ke ruang makan. Di atas meja, sudah tersaji dua piring roti bakar dan dua gelas susu hangat. Melihat itu, Melodi langsung duduk di kursi dan melahapnya.
"Mel, gimana kalau kita main ke galeri?" Sahut Nisa di sela-sela makan.
"Boleh."
"Asyiiik.." Nisa kegirangan mendengar jawaban Melodi. "Tapi, kita naik apa ya kesananya?" Wajah girangnya berubah menjadi murung.
"Tenang, gue bisa minta tolong Gema kok."
"Emangnya, jam segini dia udah bangun?" Tanya Nisa curiga.
__ADS_1
Pertanyaan Nisa sontak membuat Melodi melirik arloji yang melingkar di tangannya. Benar juga. Ini masih jam setengah 7 pagi. Gema pasti belum bangun, Melodi tahu betul jadwal tidurnya. Gema baru bisa terpejam pukul 3 pagi, sementara bangun pukul 10 pagi. Itulah jadwal tidurnya selama liburan.
Melodi menyeringai lebar, menandakan bahwa pertanyaan yang Nisa lontarkan benar. Melihat reaksi Melodi, Nisa memutar bola matanya. Lalu dia mengambil ponsel di sakunya, mencari nama seseorang dan menyambungkannya.
"Halo?"
"Iya halo Nis, kenapa? Tumben pagi-pagi udah telepon. Kangen ya?"
"Ish, Gara apaan sih. Pede banget. Gue cuma mau minta tolong, antarin gue sama Melodi ke galeri bunda."
"Sensi amat sih Nis. Nanti cantiknya hilang loh. Oke baiklah, dalam waktu 10 menit gue akan sampai ke rumah lo."
Terlihat, raut wajah Nisa sedikit kesal setelah menutup telepon itu. Ada apa dengannya? Bukankah selama ini dia dekat dengan Gara? Tapi kenapa reaksinya malah seperti itu?
Ucapan yang dikatakan Gara terbukti. Kurang dari 10 menit dia sudah bertengger di depan pekarangan rumah. Menunggu para gadis menyambut kedatangannya. Dari jauh, Melodi melihat Gara mengembangkan senyum, tapi bukan untuknya. Melainkan untuk gadis di sampingnya.
***
"Nisa, kamu kok pagi-pagi kesini sih? Tumben banget. Bunda sampai kaget loh."
"Hehe, aku kan mau bikin kejutan buat bunda. Habis aku kangen banget sama bunda." Nisa mengeratkan pelukannya.
"Eh, ada Melodi juga ternyata." Bunda menatap ke arah Melodi, sepertinya dia baru menyadari keberadaan Melodi.
"Iya bun, semalam aku nginap di rumah. Katanya, Nisa takut tidur sendirian." Melodi membongkar kartu rahasia Nisa.
"Oh begitu? Mungkin Nisa belum terbiasa kali Mel."
__ADS_1
Tidak di sengaja, perbincangan santai pagi itu terjadi begitu saja. Satu persatu, Melodi mulai mengetahui sifat Riri. Ternyata, Riri ini cukup humoris orangnya. Selain itu juga, Melodi merasa tidak canggung berbicara dengannya. Padahal ia baru berinteraksi seperti ini.
Di sela perbincangan, Nisa meminta izin untuk pergi ke toilet, meninggalkan Melodi bersama Riri.
"Bun, lukisan disini bagus-bagus."
"Terimakasih atas pujiannya Melodi." Riri tertawa pelan mendengar pujian Melodi.
"Oh iya, bunda sampai lupa nggak kasih kamu minum. Sebentar ya, bunda ambilkan di kulkas. Orange juice nggak apa?" Riri beranjak dari kursi, berjalan menuju kulkas.
Tidak lama, tangannya sudah membawa nampan yang berisi 3 gelas orange juice. Sambil menunggu Nisa kembali, mereka berbincang perihal lukisan-lukisan yang terpampang di galeri. Rupanya, dari sekian lukisan tersebut salah satunya Riri yang membuat.
"Nah, yang dipajang disana juga bikinan bunda." Riri menunjuk lukisan yang terpampang di dinding samping lemari.
Melodi menoleh ke arah tunjukan tangannya, seketika matanya diam tidak berkedip, terpana akan keindahan lukisan tersebut. Sementara, bunda malah menepuk bahu Melodi, mengalihkan pandangan dari lukisan.
"Kenapa bun?"
Tetapi, bunda tidak menjawab pertanyaan Melodi sama sekali. Dia malah membawa Melodi ke dalam pelukannya. Mencium puncak kepala Melodi, mengelus rambut Melodi dengan lembut. Melodi bingung dengan sikap Riri yang tiba-tiba berubah. Ada apa ya?
"Tuhan, terimakasih telah mempertemukanku dengan anakku kembali."
"Anakku? Apa maksud bunda? Dia bilang gue anaknya? Ada apa sebenarnya?"
"Mel, kamu anak bunda sayang. Kamu anak yang selama ini bunda cari." Riri menatap wajah Melodi lekat-lekat. Melodi semakin kebingungan dengan situasi yang terjadi.
"Bunda ingat sekali, anak bunda itu punya tanda lahir di belakang telinga kanannya. Bunda pasti nggak salah. Kamu benar anakku."
__ADS_1
Melodi tidak mampu berkata-kata setelah mendengar penjelasannya. Entah benar atau tidak ucapannya, tapi Melodi sangat bahagia. Orangtua yang selama ini ia dambakan hadir di depan matanya, memperlakukan ia layaknya anak sendiri.
Perahu yang berlayar di sungai itu, telah tiba di tempat tujuan. Menurunkan penumpang yang sudah lama terombang-ambing di dalam perahu. Penumpang yang tidak mengetahui arah tujuannya namun kini telah mengetahui segalanya.