
Tidak terasa, Melodi telah sampai di penghujung UAS. Mata pelajaran pertama yang akan diuji adalah Bahasa Inggris. Seperti biasa sebelum Melodi mengerjakan soal, Melodi membaca doa terlebih dahulu agar ia dimudahkan. Terlihat penghuni di sebelahnya juga melakukan hal yang sama. Mulutnya komat kamit seperti sedang melafalkan sesuatu.
Dua jam waktu yang diberikan berlalu dengan cepat. Tepat jarum panjang menunjuk angka dua belas, lembar jawaban siswa telah tersimpan rapi di atas meja guru. Bagi yang terlambat mengumpulkan akan dianggap tidak mengikuti UAS.
Melodi merenggangkan kedua tangannya. Menggerakkan lehernya ke kiri dan kanan. Entah kenapa, Melodi merasa tubuhnya pegal sekali. Sambil menunggu mata pelajaran UAS selanjutnya, Melodi membuka kotak bekalnya. Mengambil sepotong cheese cake dan melahapnya. It's so delicious.
"Ehem ehem." Melodi mendengar suara dari meja sebelah.
"Hm?" Sahutnya tanpa menengokkan kepala.
"Kelihatannya enak tuh." Mata Gema mengerjap-ngerjap, sementara lidahnya membasahi bibir.
"Emang enak." Kata Melodi sambil melahap sepotong cheese cake tepat di depan wajah Gema.
"Bagi dong." Gema tergiur dengan cheese cake yang Melodi makan.
"Mau? Nih." Melodi mencoba menyuapkannya pada Gema, namun urung. Alhasil, potongan itu mendarat di mulutnya.
Gema menghentak-hentakkan kakinya. Dia sangat kesal dengan sikap Melodi. Sementara Melodi hanya tertawa jenaka melihat tingkah pacarnya. Sesaat kemudian, cewek itu mengeluarkan satu kotak bekal lagi. Kali ini ia memberikannya pada Gema. Mata Gema berbinar-binar, dia senang mendapat sekotak penuh cheese cake dari Melodi.
"Mel, sejak kapan lo pakai gelang?" Tanya Gema dengan mulut penuh dengan cheese cake.
"Oh ini. Sebenarnya ini pemberian teman kecil gue." Kata Melodi sambil memegangi gelang tersebut.
"Teman kecil?" Tanya Gema kembali. Kali ini dia sudah menelan makanannya.
"Iya. Jadi waktu itu dia pernah bilang ke gue kalau gambar gue bagus. Dan katanya, dia mau digambar wajahnya saat dia dewasa. Terus dia ngasih gelang ini. Katanya, supaya dia mudah menemukan gue saat dewasa." Jelas cewek itu pada Gema.
"Coba biar gue lihat." Gema menarik tangan Melodi. Dia mulai menyelidiki gelang yang dipakai pacarnya. "Yah, inisial di liontinnya udah pudar. Kalau aja inisialnya G, gue pasti langsung minta lo menggambarkan wajah gue saat ini juga." Kata Gema kemudian menyimpan tangan Melodi kembali ke tempat semula.
__ADS_1
"Huh! Emangnya inisial G selalu berkaitan dengan Gema?"
"Bisa aja kan Gara." Sahut Gara dari belakang Melodi.
"In your dream!" Pekik Gema.
Waktu yang Melodi tunggu akhirnya tiba. UAS selesai tepat saat bel pulang berbunyi. Melodi bersorak kegirangan. Libur semester telah menanti. Dengan semangat Melodi mengemas barangnya dan memasukkannya ke dalam ransel. Selanjutnya, ia melenggang pergi sambil mengucapkan kata selamat tinggal pada kelasnya.
Langkahnya terhenti ketika melihat sepasang kekasih yang akan rujuk kembali sudah berada di balik pintu. Rendi si cowok keras kepala dan Bianca si cewek genit. Mereka berdua sama-sama melipatkan kedua tangan di depan dada. Melodi memasang tampang bodoh walaupun ia tidak pandai dalam melakukannya.
"Bianca bilang, dia mau ngajak kita ke villanya." Sambar Rendi.
"Kita siapa?" Tanya Melodi keheranan.
"Anggota kelompok belajar." Ucap Bianca.
"Waaaah, dalam rangka apa seorang Bianca ngajak kita ke villanya?" Melodi menggoda Bianca.
"Wih, makan-makan dong." Gema yang baru saja datang langsung menyambar.
"Iya, tenang aja." Bianca sedikit melengkungkan senyuman.
Villa milik Bianca letaknya sangat jauh dari sekolah. Jika menggunakan mobil, bisa menghabiskan waktu satu jam. Mengingat penatnya jalanan Kota Jakarta siang ini. Untung saja, Bianca menunjukkan rute tercepat. Sehingga, mereka tidak perlu merasakan kemacetan yang luar biasa.
Mobil melewati sebuah hutan buatan yang digunakan sebagai tempat wisata. Tidak jauh dari sana, terlihat sebuah villa sederhana dengan bangunan kayu. Halaman di depan villa begitu asri. Ditumbuhi dengan berbagai macam tanaman. Di belakang villa sendiri, terdapat rumah pohon. Di sisinya ada dua buah ayunan. Sedangkan dari arah utara rumah pohon, ada sebuah lapangan kecil untuk bermain basket.
Para cewek mulai mempersiapkan peralatan untuk memasak. Kali ini mereka akan membuat sate aneka daging, jagung bakar dan bakso bakar. Sementara para cowok kecuali Gara, memilih untuk bermain basket. Gara sedang malas bermain basket. Sehingga dia memilih untuk membantu mengipas-ngipas makanan di atas tungku.
"Jadi satu lawan satu nih?" Kata Rendi.
__ADS_1
"Kenapa? Lo takut gue kalahin?" Jawab Gema.
"Hhh. Jangan dulu meremehkan. Kita lihat siapa yang akan menang."
Rendi mulai mendribble bola. Membawa bola tersebut ke arah ring lawan. Gema mengejar Rendi, tangannya siap merebut bola. Namun gerakan lincah Rendi membuat Gema kesulitan mengambil bola dari tangan Rendi. Dan, shoot. Dua poin untuk Rendi.
***
"Mel, gue minta maaf ya kalau selama ini gue suka kasar ke lo.." Ucap Bianca sambil memotong-motong daging.
"Gue udah maafin kok bi, santai aja." Jawab Melodi dengan tulus.
"Makasih ya." Bianca melemparkan senyuman pada Melodi. Baru kali ini Melodi melihat Bianca tersenyum seperti itu padanya.
"Oh ya Mel, jagungnya udah lo kupas semua?" Tanya Nisa yang tengah membuat bumbu sate.
"Udah. Langsung gue kasih ke Gara aja ya." Melodi menyimpan beberapa jagung dalam mangkuk besar dan memberikannya kepada Gara untuk dibakar.
Sementara, Gema dan Rendi begitu heboh karena pertandingan basket yang sedang dimainkannya. Teriakan mereka terdengar begitu jelas ke telinga kami. Terakhir Melodi dengar, Rendi unggul mencetak poin. Tidak heran, Rendi memang pialanya ekstrakurikuler basket.
"Mel, gue haus." Gema tergopoh-gopoh berjalan menghampiri pacarnya. Melodi memberikannya segelas air mineral dan mengelap keringatnya.
"Lo juga mau Ren?" Tanya Melodi pada Rendi.
"Boleh." Jawab Rendi singkat.
Gema tertidur di pangkuan Melodi. Melodi mengelap wajah Gema yang penuh dengan keringat. Namun tiba-tiba, Melodi melihat hidung Gema mengeluarkan cairan berwarna merah. Melodi panik dan spontan menggoyangkan tubuh Gema agar dia terbangun.
"Gema, lo baik-baik aja? Hidung lo berdarah." Kata Melodi dengan wajah panik.
__ADS_1
"Oh ini. Tenang aja, kalau gue kecapekan gue suka kayak gini." Sahut Gema santai. Dia menyeka darah yang keluar dari hidungnya. Kemudian membersihkannya dengan air.