A Romantic Badboy

A Romantic Badboy
Part 60


__ADS_3

"Gem, bisa nggak kalau kita ngerjain tugasnya di rumah gue aja?" Cegah Neta saat Gema akan masuk ke dalam mobil. Seketika cowok itu menautkan kedua alisnya.


"Maksud lo? Terus kita ngerjainnya di rumah lo, gitu? Kan gue udah bilang, gue nggak bisa datang ke rumah cewek selain pacar gue sendiri. Udah buruan masuk! Lo kan janji cuma sampai jam 5."


"Tapi.."


Pada akhirnya, Neta tidak bisa memberi penjelasan pada Gema bahwa ada sesuatu yang sedang dia khawatirkan. Atau mungkin ada sekumpulan orang yang tengah mengintainya. Apapun itu, Neta berdoa agar tidak terjadi apa-apa.


Sepanjang perjalanan, mobil yang mereka tumpangi hanya diisi oleh alunan musik rock kesukaan Gema. Tidak ada pembicaraan di antara mereka. Sebenarnya Gema ingin sekali menanyakan tentang kondisi Neta, tapi kenapa lidahnya terasa kelu. Ditambah lagi, Neta berubah menjadi pemurung, kembali ke sifat awalnya. Tatapannya lurus ke depan, seperti rumah kosong tak berpenghuni. Apa yang terjadi padanya?


"Ehm, Net. Lo kalau ada sesuatu yang mengganjal, cerita aja sama gue. Kali aja gue bisa bantu lo keluar dari masalahnya. Soalnya gue perhatiin, lo jadi diam banget hari ini. Nggak kayak Neta seminggu ke belakang." Baiklah, rasanya ini waktu yang tepat untuk membahas persoalan Neta. Setelah sekian lama, lidah Gema akhirnya bisa diajak kompromi.


Seakan tuli, Neta tidak menjawab perkataan Gema. Ia terlalu sibuk berpikir hal buruk yang akan terjadi padanya jika ia menceritakan kejadian yang sesungguhnya.


"Net, lo baik-baik aja kan? Kok muka lo jadi pucat gitu?" Gema sedikit khawatir dengan kondisi Neta. Tidak mungkin Gema membawa Neta ke rumahnya dalam kondisi seperti ini. Apa yang akan dikatakan oleh keluarganya? Terlebih mamanya yang terkenal cerewet. Pasti dia akan berpikir yang tidak-tidak. Dan abangnya? Tentu dia akan menghasut mamanya agar semakin memojokkan Gema.


Gema menghela napas kasar, "Gini Net. Gue nggak bisa bawa lo ke rumah dalam kondisi kayak gini. Gue nggak mau bikin seisi rumah nanya yang nggak-nggak ke gue. Gimana kalau misalkan..." Gema berhenti sejenak, lalu melanjutkan perkataannya. "Kita ngerjain tugasnya di Panti Cendana tempat Melodi tinggal dulu. Tenang aja, gue udah kenal kok sama pemilik pantinya. Jadi, selain lo bisa ngerjain tugas, lo juga bisa main sama anak-anak. Kali aja itu bisa buat lo ngerasa baikan. Gimana?"


Tanpa berpikir kembali, Neta mengangguk. Mungkin ucapan Gema benar. Selain ia bisa menghindar dari Rendi, ia juga bisa meluapkan kesedihannya dengan bermain bersama anak-anak panti.


***


"Deon, lo bisa tungguin dulu nggak? Itu gue lagi goreng nugget pisangnya, gue mau ke toilet sebentar." Teriak Melodi memanggil nama Deon, karena cowok itu tengah menyusun bahan presentasi mereka di ruang makan. Sekat dinding yang menghalangi terpaksa membuat Melodi sedikit mengeraskan suaranya.


"Iya Mel, gue kesitu."

__ADS_1


Deon menghentikan tugasnya sejenak, lalu beralih ke dapur. Ia langsung bertengger di depan kompor, memperhatikan nugget pisang yang tengah digoreng. Terdengar kembali suara Melodi yang berteriak dari dalam toilet.


"Deon, kalau warnanya udah kecoklatan langsung angkat aja, nanti gosong kalau nggak buru-buru diangkat."


"Iya Mel, siap."


Deon mengambil saringan minyak yang tergantung di dinding. Lalu dengan hati-hati, satu persatu nugget pisang ia simpan di dalam saringan menggunakan spatula. Tidak lupa juga mematikan kompornya.


Setelah menyimpan nugget pisang tersebut di piring, Deon kembali ke aktivitasnya yang sempat tertunda. Namun, langkahnya mendadak terhenti. Tiba-tiba saja hidungnya mengeluarkan darah begitu banyak, sampai menetes ke lantai dengan keramik putih. Dengan cepat ia mengambil tisu yang tersimpan di atas meja makan, kemudian membersihkan darah yang terus mengalir.


"Deon, lo nggak boleh terlihat lemah di depan Melodi. Kenapa penyakit lo mesti kambuh sekarang sih?"


Berlembar tisu sudah habis terpakai. Tapi darah di dalam hidung Deon semakin bercucuran. Sepertinya Deon harus membersihkan darahnya menggunakan air. Namun, karena tubuhnya yang mendadak lemas dan kepalanya yang pening, Deon tidak kuasa untuk melangkah kembali. Akhirnya, tubuhnya jatuh tersungkur ke lantai dengan darah yang terus-menerus mengalir di hidungnya.


"Deon, lo udah beres kan bikin bahan presentasinya. Soalnya gue.." Kalimat Melodi terhenti selepas melihat Deon yang terbujur kaku di lantai. Sontak Melodi berteriak sekencang-kencangnya, memanggil para pekerja di rumah Deon.


"Nggak tau, saya nggak tau. Tadi saya tinggal sebentar ke toilet, pas saya balik lagi Deon udah kayak gini." Kata Melodi begitu panik.


"Pak Kasman, cepat bawa Den Deon ke rumah sakit." Pinta Bi Munah, asisten rumah tangga di rumah Deon.


Pak Kasman dan Pak Tatang (tukang kebun) segera membopong tubuh lunglai Deon menuju ke dalam mobil. Diikuti dengan Melodi dan Bi Munah di belakangnya.


***


Rumah Sakit Kencana. Di sanalah Deon dirawat. Ia langsung dibawa ke ruang IGD dan ditangani oleh para dokter. Tak henti-hentinya Bi Munah menangis, menatap Deon yang terbaring lemah di atas bangsal lewat kaca ruang tersebut.

__ADS_1


"Ini salah bibi non, ini salah bibi." Kalimat yang sudah berulang kali ia katakan dari semenjak perjalanan sampai sekarang. "Kalau bibi cerita sama nyonya, Den Deon nggak akan menderita kayak gini."


Melodi mencoba menenangkan Bi Munah, diusapnya dengan lembut punggung wanita itu. "Memangnya Deon kenapa bi? Kenapa bibi bisa salahin diri bibi sendiri?"


"Deon menderita leukeumia stadium akhir non, dan nyonya nggak tahu soal ini. Den Deon cuma berani cerita ke bibi masalah penyakitnya, karena Den Deon nggak mau bikin nyonya sedih. Jadi dia selama ini menyembunyikan penyakitnya dari mamanya." Bu Munah semakin menitikkan air mata. Baginya, Deon sudah seperti anaknya sendiri. Ia sudah bekerja di rumah Deon sejak Deon masih kecil. Karena kesibukan orangtuanya, Deon lebih sering berinteraksi dengan para pekerja di rumahnya daripada orangtuanya.


Melodi sontak terkejut mendengar penuturan Bi Munah. Bagaimana bisa Deon menyembunyikan hal penting seperti ini dari orangtuanya? Bagaimana bisa ia menyembunyikan rasa sakitnya di depan banyak orang? Termasuk di depan Melodi. Di mata Melodi, Deon seperti orang sehat yang selalu ceria setiap harinya. Tapi, jauh di dalamnya ternyata ia memiliki kesakitan yang orang lain tidak tahu.


Suara hentakan heels membentur lantai rumah sakit terdengar menuju ke arah ruang IGD. Wanita paruh baya dengan air mata yang sudah membanjiri wajahnya menghampiri Bi Munah dan langsung memeluknya. Kedua wanita itu larut dalam kesedihannya.


"Bi, kondisi Deon gimana bi? Dokter bilang apa? Bi, jawab bi!" Lia, mama Deon menggoyangkan tubuh Bi Munah, tetapi wanita itu tidak bisa memberi penjelasan apa-apa. Sampai seorang dokter keluar dari ruang IGD, Lia langsung memberondong pertanyaan.


"Gimana kondisi anak saya dok? Dia nggak apa-apa kan?"


"Anak ibu harus segera melakukan operasi sumsum tulang belakang. Saya juga tidak bisa memberi jaminan bahwa operasi ini akan berhasil, karena saya hanya bisa berusaha, sisanya saya serahkan kepada Tuhan. Tolong ibu pikirkan lagi, jika sudah mendapat jawabannya, silakan ibu ke pihak administrasi untuk menyelesaikan pembayarannya dan menandatangani perjanjiannya."


Tubuh Lia mendadak lemas, rasanya ia tidak sanggup untuk menjejakkan kaki kembali di bumi ini. Lia bisa membayangkan bagaimana rapuhnya dia dahulu ketika ditinggal oleh putri kesayangannya, dan sekarang Lia tidak mau ditinggal juga oleh putra kesayangannya.


"Jika ada yang ingin melihat kondisinya, silakan masuk. Cukup satu orang saja."


Dengan langkah gontai Lia masuk ke dalam ruang IGD. Betapa sakit hatinya melihat putranya terbaring lemah di atas bangsal dengan alat-alat yang dipasang di tubuhnya sebagai penopang hidup. Lia memegang lembut tangan Deon, mencium keningnya.


"Deon sayang, bangun nak. Ini mama.." Katanya di sela tangis. "Deon janji kan sama mama kalau Deon bakal terus jagain mama, Deon nggak bakal tinggalin mama. Tapi kenapa Deon malah terbaring disini? Deon lupa sama janji kita?"


"Deon, mama janji. Kalau Deon sembuh, mama pasti meluangkan waktu yang banyak buat Deon. Mama akan memprioritaskan Deon. Jadi, bangun ya sayang. Mama kangen sama Deon."

__ADS_1


Hening, tidak ada jawaban sama sekali. Hanya suara mesin pendeteksi detak jantung yang menemani kesedihan Lia. Sampai pada akhirnya, jari-jari Deon bergerak, disusul dengan kedua mata yang berkedip-kedip.


__ADS_2